
Seperti yang direncanakan, pagi itu Azam dan Silvira work out bersama. Mereka melakukan peregangan dan latihan ringan dengan berpasangan, itu membuat mereka semakin dekat dan bahagia.
Setelah work out, mereka turun ke bawah menuju dapur. Silvira masih memakai pakaian olahraganya, yaitu crop top dan celana kaos selutut, sedangkan Azam masih betah bertelanjang dada dan memakai celana pendek kaos.
Azam membuat jus sayur dan buah, sementara Silvira memasak sarapan request anak-anak yang sudah duduk di kursi bar dapur itu.
"Umma jadi bikin ayam katsu?" tanya Farhan.
"Iya sayang," jawab Silvi sambil menggoreng ayam.
"Yes!!" ucap si kembar yang pasti kegirangan bila bertemu hidangan ayam.
"Minum jusnya dulu ya," ucap Azam sambil menuang jus itu ke dalam gelas-gelas.
"Kok warnanya hijau Abati," kata Farhan terheran, Fahri hanya memandangi gelas di depannya.
"Iya, itu ada brokolinya, udah diminum, enak deh, buatan Abati khusus buat kalian,"sahut Azam.
"Bismillah," ucap mereka, sambil manyun namun tetap mau minum.
"Gimana?" tanya Azam.
"Enak Abati," jawab Fahri.
"Iya enak ternyata jus buatan Abati, besok mau dibikinin lagi," sahut Farhan.
"Baik boys, in syaa Allah besok Abati bikinkan lagi jus spesialnya," ucap Azam.
"Yuk sarapan, ayam katsu kalian sudah siap," ucap Silvira sambil membawa piring-piring berisi menu sarapan mereka ke meja makan.
"Yeay!!" mereka berseru dan mengikuti Silvira ke meja makan.
"Bismillah," ucap mereka sebelum makan.
"Hmmm enak Ma," ucap Farhan.
" Jangan sampai bilang gak enak, besok Umma gak masak lagi," sahut Silvi. Dan mereka semua tertawa.
"Abati kok gak pake baju sih," tukas Farhan.
"Gerah sayang, habis olah raga sama Umma," jawab Azam.
"Abati suka olah raga?" tanya Fahri.
"Iya dong, apalagi olahraga malam," jawab Azam sekenanya. Silvi membulatkan matanya dan menatap Azam, Azam malah tersenyum nakal.
"Habis sarapan kalian mandi ya, siap-siap kita mau ke kajian," ucap Silvira.
"Iya Umma," jawab keduanya.
__ADS_1
Selesai makan, si kembar segera ke atas untuk mandi, Azam membantu Silvira membereskan dapur. Setelah dapur rapi dan kinclong, keduanya berdiri berhadapan.
"Mas," ucap Silvi.
"Apa? Mau olahraga lagi?"
"Bukan itu,"
"Terus apa?"
"Makasih ya sudah bantuin aku siapin sarapan dan beres-beres dapur," ucap Silvira.
Maa syaa Allah Mas, gemes banget sama roti sobek di perutmu, pengen nyowel tapi kamu tuh disentuh dikit aja, bawaannya langsung pengen makan aku.. Batin Silvira.
Yang punya roti sobek ngeh dia dilihatin.
"Lihat apa? Jangan cuma dilihat,"
"Aku gak mau lihat," ucap Silvira sambil berlari namun tangan Azam lebih cepat menangkap tubuh langsingnya, dan mendudukkan Silvi di meja dapur dan Azam berdiri di hadapannya.
"Mas mau apa? Nanti kita terlambat ke kajian,"
"Hey, emang kamu mau diapain, pikiranmu itu,"
"Terus kenapa Mas taruh aku di atas meja?"
"Gini dengerin, berterimakasih itu boleh saja, tapi apa tidak lebih baik kita mendoakan yang telah membantu atau menolong kita,"
"Ucapkan Jazaakallaahu khayran, artinya semoga Allah membalasmu dengan kebaikan," jawab Azam.
"Oh gitu, Jazaakallaahu khayran Mas," ucap Silvi kemudian.
"Aamin, waiyyaki," jawab Azam.
"Apa itu Mas?"
"Artinya, aamiin untukmu juga," jawab Azam
"Oh..." Silvi hanya ber oh ria.
"Dan penempatan untuk laki-laki, perempuan, orang banyak, itu nanti berbeda-beda, kapan-kapan aku ajari lagi," ucap Azam.
"Oh.."
"Kamu tuh ah oh ah oh aja kaya semalam, kelas bahasa Arab selesai, waktunya kita mandi," ucap Azam sambil berbalik badan dan menggendong Silvira di punggungnya. Silvi hanya bisa pasrah, karena tidak mungkin kuat melawan Azam. Mereka naik tangga menuju kamar.
Azam menurunkan Silvira di atas ranjang.
"Kamu mandi duluan, aku pilihkan ya baju buat kamu," ucap Azam.
__ADS_1
"Baik tuan," ucap Silvi langsung berlari ke kamar mandi sebelum Azam berubah pikiran minta yang aneh-aneh.
Azam membuka lemari, dan mencari-cari pakaian untuk Silvira.
Tak lama kemudian Silvira keluar dari kamar mandi, hanya memakai handuk kimono saja.
"Pakai ini ya, sekarang Mas yang mandi," ucap Azam sambil masuk ke kamar mandi.
Silvi memandangi gamis warna hitam pekat yang dipilihkan Azam untuknya, merasa enggan, namun dia tetap memakai baju pilihan Azam itu.
Azam selesai mandi dan keluar dengan lilitan handuk di pinggangnya. Dan memakai baju dengan baju yang telah disiapkan Silvira untuknya.
"Mas, gantinya di kamar mandi sana," ucap Silvi.
"Kamu itu, kan sudah pernah lihat, biasa aja kali,"
Silvira memoles bedak dan hendak menyemprotkan parfum.
"Stop, stop, jangan pakai parfum, pakai deodoran saja," cegah Azam.
"Kenapa sih Mas kok aneh, aku disuruh pakai baju hitam, gak boleh pakai parfum," Silvi merasa frustasi tidak tahu suaminya ini kenapa.
"Sini duduk sini," ucap Azam sambil duduk di tepi ranjang, Silvira duduk di sampingnya.
"Kamu mau tahu kenapa aku belikan kamu gamis warna hitam, karena ini tidak mencolok sayang, dan kenapa aku larang kamu memakai parfum, karena bisa tercium laki-laki lain kalau kamu lewat, dan mereka bisa tergoda, kamu milikku, aku gak mau kamu kecantikanmu dinikmati oleh mereka," ucap Azam.
"Allah dan Rasulullah melarang para wanita untuk bertabaruj, tabaruj merupakan gaya berbusana atau pun sikap wanita yang sengaja menarik perhatian orang lain ketika ia keluar dari rumahnya, dan memperlihatkan kecantikannya. Wajah, tubuh dan perhiasannya, memakai wewangian untuk mendapat pujian dari orang lain," lanjut Azam berharap semoga Silvira mengerti.
"Iya Mas, Jazaakallaahu khayran sudah dikasih tahu," ucap Silvira.
"Aamiin wa jazaakillaahu khayran sayang," jawab Azam.
"Mas manggil aku 'sayang'?" ucap Silvira.
"Iya, karena aku menyayangimu," ucap Azam seraya mengecup kening Silvira.
"Begitulah Islam memuliakan wanita, menjaga wanita dari fitnah, kenapa wanita, karena dari wanita yang baik akan lahir generasi-generasi penerus yang baik pula." lanjut Azam.
Azam memakai parfum dan deodoran, lalu menyisir rambutnya dan memakai peci.
"Aku tunggu di bawah sama anak-anak ya sayang," ucap Azam sambil keluar kamar.
"Abati!!" panggil si kembar yang sudah menunggu di depan kamar mereka dari tadi. Azam memang berpesan tidak boleh masuk ke kamar Azam dan Silvira kalau mereka berdua sedang di dalam kamar, kalau ada perlu penting sekali mereka boleh mengetuk pintu kamar.
"Kalian nunggu lama?" tanya Azam menghampiri mereka.
"Gak, baru saja kok, Umma belum selesai?" tanya Fahri.
"Belum, kita tunggu di bawah yuk," jawab Azam, merekapun menunggu Silvira di ruang tamu. Azam sedang memeriksa hp nya. Tak lama kemudian Silvira turun.
__ADS_1
"Umma.." ucap Fahri dan Farhan. Azam pun ikut menoleh melihat istrinya. Ternyata Silvira memakai jilbab hitam dan cadar bandana warna hitam yang Azam belikan.
"Ya Allah, semoga dia istiqomah," lirih Azam.