
"Mas, anak kita mau dikasih nama siapa?" tanya Silvira kepada Azam. Sore ini keduanya berada di kantor Silvira, mengecek pembukuan, dan stok barang.
"Hmm, kamu pengennya dikasih nama siapa?" Azam balik bertanya, sambil sibuk memeriksa laporan yang diberikan manager klinik tadi.
"Aku sih, pengen huruf depannya F juga sama kaya kedua kakaknya," sahut Silvira.
Azam menutup buku besar itu, karena memang sudah selesai memeriksanya.
"F, F ya," Azam berfikir sejenak, lalu dia menemukan nama yang indah untuk anaknya.
"Kalau perempuan aku kasih nama Fatimah, kalau laki-laki kamu aja yang kasih nama," sahut Azam. Silvira menghambur ke pelukan Azam yang duduk di sampingnya itu. Azam memeluk pinggang dan tangan yang lain membelai kepala Silvira yang terbungkus jilbab.
"Kamu senang?" tanya Azam.
"Iya, senang, sebentar lagi ketemu baby F, tapi..." Jawab Silvira namun terpotong.
"Why? Kenapa Beib?" tanya Azam lalu membelai lengan Silvira.
"Takut aku Mas," Silvira tertunduk sedih.
"Takut sakitnya?"
"Iya juga itu, tapi aku takut gak selamat," lirih Silvira.
"Hey, ngomong apa sih?" Azam tampak tak senang mendengar ucapan Silvira.
"Melahirkan itu bertaruh nyawa Mas, segalanya bisa terjadi atas kehendak Allah, kita berencana, tapi tetap Allah yang menentukan semuanya, takut kalau tiba-tiba ada komplikasi dan sebagainya," kata Silvira.
"Beib, aku tahu kekhawatiran mu itu, itulah kenapa kita harus banyak berdoa, biar kamu selamat, bayi kita sehat, kita rawat dia bersama, kita bikinkan adik lagi, aku mau banyak anak, kita didik mereka menjadi para penghafal Al Quran, agar kita kelak bisa dipakaikan mahkota di akhirat," ucap Azam mencoba menenangkan Silvira.
"Aamiin," Akhirnya Silvira tersenyum.
"Sudah waktunya si kembar pulang, kita jemput yuk," ajak Azam. Silvira mengangguk, kemudian ia menarik tangan Azam sebelum beranjak.
"Apa Beib?"
"Aku boleh minta sesuatu?"
"Apa itu?"
"Mas, kita makan pizza yuk, sekali ini aja," ucap Silvira dengan sedikit ragu, pasalnya suaminya itu tidak suka makanan siap saji.
"Iya, gak papa kok, aku mau, apa sih yang nggak buat kamu, hmm," sahut Azam, yang membuat pipi Silvira merona lagi.
Di dalam mobil kini ada si kembar dan Silvira di bengku belakang, Azam menemani pak Budi di depan.
"Kita mampir mall dulu Pak Budi," ucap Azam.
__ADS_1
"Iya, baik Pak Azam," sahut Pak Budi.
"Kita ke mall abati?" tanya Farhan.
"Iya, Umma pengen makan sesuatu di mall," sahut Azam.
"Ooo, eh pengen makan apa sih Umma?" tanya Fahri.
"Makanan kesukaan kalian, pizza," jawab Silvira.
"Ha, yeee!!!" kedua anak kembar itu berseru kegirangan, karena sudah lama juga mereka tidak makan pizza di mall itu.
"Pak, maaf nanti saya izin ngopi di warung dekat mall ya, saya belum ngopi seharian," ucap Pak Budi meminta izin.
"Oh iya Pak, silakan, nanti kalau kami sudah selesai makan, saya telpon ya," ucap Azam.
"Iya Pak siap," sahut Pak Budi.
"Ini buat ngopi Pak," ucap Azam sambil menyerahkan selembar lima puluh ribuan kepada Pak Budi.
"Ini kebanyakan Pak," sahut Pak Budi, yang merasa tidak enak.
"Gak papa, sisanya buat ngopi besok juga gak papa,"
"Iya Pak, baik, terima kasih," ucap Pak Budi akhirnya menerima uang itu.
Azam, Silvira, dan Farhan Fahri sudah ada di restoran pizza di lantai dasar mall. Silvira memesan dua pan pizza dengan pinggiran sosis, dan salad sayur untuk Azam. Tidak lupa mereka memesan dua loyang lagi untuk dibawa pulang.
"Anak-anak sholih abati senang makan pizza?" tanya Azam yang menengok ke bangku belakang.
"Senang Abati," sahut Fahri dan Farhan.
"Sudah puas kan makan pizza nya?" tanya Azam lagi.
"Sudah, tapi tadi kok bungkus dua pizza lagi?" tanya Farhan.
"Buat kita di rumah nanti ya?" tanya Fahri.
"Katanya sudah puas? Jadi pizza nya buat berbagi ya," ucap Azam.
"Oh, iya Abati," sahut Farhan.
"Jadi kita makan secukupnya, tidak boleh berlebihan, nanti pizza nya yang satu untuk di bawa pulang bu Wati, yang satu untuk dibawa pulang pak Budi," ucap Azam kepada si kembar.
"Baik Abati," ucap Fahri.
"Gak usah repot-repot Pak, untuk mas kembar saja pizza nya," ucap Pak Budi merasa sungkan.
__ADS_1
"Gak usah sungkan Pak, ini saya lagi ngajarin anak-anak untuk bisa berbagi kebahagiaan dengan orang sekitar, jadi nanti dibawa pulang saja, bisa dimakan bersama keluarga Pak Budi," ucap Azam.
"Iya Pak, baik, terima kasih banyak Pak, Bu," sahut Pak Budi kemudian.
Sesampainya di rumah, bu Wati segera pamit pulang, tak lupa mereka memberikan sekotak pizza pada beliau.
"Terima kasih, ini cucu saya pasti senang," ucap bu Wati penuh haru. Dia sangat betah bekerja di rumah Silvira, karena memang mereka keluarga yang baik.
Pak Budi juga pamit pulang. Azam mengunci pagar dan pintu rumah kemudian mengajak Silvira dan si kembar ke atas menuju kamar masing-masing.
"Mas mandi dulu gih, aku mau siapin bajunya dulu," ucap Silvira sambil membuka cadar dan jilbab, lalu duduk untuk melepas kaos kaki.
"Iya Beib? Kamu capek?" tanya Azam.
"Hmm lumayan," ucap Silvira sambil menggosok pinggangnya yang pegal.
"Nanti malam aku pijitin in syaa Allah," ucap Azam sambil masuk ke kamar mandi.
"Pijit? Semoga gak ada plus plusnya," gumam Silvira.
Setelah Azam dan Silvira selesai mandi, mereka turun ke bawah. Azam duduk di kursi bar dapur menemani Silvira yang menyiapkan makan malam.
"Masak apa Beib?" tanya Azam.
"Ini tadi bu Wati bikin pepes tahu, tinggal manasin aja, nasi merah juga ada, Mas mau apa?" tanya Silvira balik.
"Ada ikan?" tanya Azam lagi.
"Sebentar," sahut Silvira sambil melihat isi kulkasnya.
"Hmm, ada ikan kembung Mas, mau?"
"Boleh, digoreng aja, trus sama sambel matah ya," sahut Azam.
"Okay Bos," ucap Silvira sambil menyiapkan bahan-bahan yang nanti ia masak selesai sholat maghrib.
Selesai menyiapkan bahan, dia duduk di samping Azam.
"Mas," ucap Silvira sambil bergelayut manja di bahu bidang sang suami.
"Iya Beib," sahut Azam yang tersenyum senang karena sang istri bermanja padanya.
"Makasih sudah mau nemenin kita makan pizza, makasih juga sudah mengajarkan anak-anak kebaikan setiap harinya, jazaakallaahu khayran," ucap Silvira.
"Waiyyaki, tapi kamu pasti tahu kan, bayarannya mahal lho," goda Azam.
"Hah, apaan tadi makan aku yang bayar kok, walaupun pakai kartu debit punya Mas sih," sahut Silvira.
__ADS_1
"Bukan uang Beib, kan nanti malam mau pijat plus-plus," goda Azam lagi.
"Duh mulai deh," gumam Silvira sambil menepuk keningnya.