Ayah Untuk Anak Kembarku

Ayah Untuk Anak Kembarku
#77


__ADS_3

Silvira membuat bekal gimbap untuk Azam, gulungan nasi berisi sayur dan ikan tuna yang dibungkus nori atau lembaran rumput laut. Dia mengiris-iris gulungan gimbap yang sudah jadi, lalu menatanya di kotak bekal berukuran agak besar, dia memang membuat banyak hingga bisa dibagi dengan teman satu ruangan Azam. Dia juga membawakan buah potong pada kotak bekal lainnya. Serta satu beberapa botol jus apel untuk minumnya.


Setelah semua siap, ia memanggil pak Budi untuk mengantarkan kotak bekal itu ke kantor Azam.


"Pak Budi," panggil Silvira. Pak Budi yang sedang menjaring dedaunan yang ada di kolam renang, segera mendekat ke arah Silvira yang memanggil.


"Iya Bu," sahut Pak Budi.


"Ini saya minta tolong, antar kan kotak bekal ini ke kantor Bapak ya," pinta Silvira.


"Oh, iya Bu, ini saya serahkan siapa nanti?" tanya Pak Budi sambil menyambar kotak bekal susun dua serta tas berisi botol jus.


"Bapak masuk aja, nanti di sana bilang mau ketemu Pak Azam, gitu aja," jawab Silvira.


"Baik Bu," sahut Pak Budi kemudian pergi ke kantor Azam.


.


Setibanya di kantor Azam, pak Budi segera menjalankan misinya seperti instruksi dari Silvira tadi, dan kotak bekal itu sampai di tangan Azam.


"Hmm..." Azam tersenyum sambil membuka kotak bekalnya.


"Apa tuh Zam?" tanya Ammar.


"Gimbap, makan yuk," sahut Azam tanpa mengalihkan pandangannya, masih sangat bahagia menatap gimbap yang ditata rapi oleh istrinya itu.


"Waah, kelihatan enak Zam," Hendra dan Beni ikut nimbrung.


"Uda jam makan siang, yuk dimakan," ucap Azam, mereka berempat segera menyerbu kotak bekal itu.


"Kamu jadi beli mobil apa?" tanya Ammar.


"Ga tau, pengennya sih sama aja kaya yang dulu, tapi Silvira yang ga mau, trauma katanya, jadi pasrah aja aku ke mas Amir, dia yang urus semuanya," jawab Azam.


"Hmm, duitnya banyak sih, mau beli model gimana juga bisa," celetuk Hendra.


"Kata siapa Ndra, duitku habis buat bayar biaya rumah sakit, meski ada bpjs, tapi ga semuanya ke cover, obatnya juga banyak yang beli sendiri, tabunganku tinggal dikit buat persiapan Silvi lahiran aja," ucap Azam.


"Trus ga jadi beli mobil?" tanya Beni yang ikut penasaran.


"Ya jadi, dibelikan mas Amir dulu, aku nyicil, pake uang hasil kebun, ga tau kapan lunasnya, pokoknya ada mobil aja, habis ini kan punya bayi, perlu mobil SUV, sedannya Silvi kurang besar rasanya,"

__ADS_1


.


.


.


Sore harinya sepulang bekerja, Azam dikejutkan dengan kehadiran Amir di halaman rumahnya, di samping mobil baru.


"Assalamualaikum," sapa Azam sambil menyalami kakak satu-satunya itu.


"Waalaikumussalam, gimana Zam suka?"


"Hah.." Azam masih ternganga, melihat Land Rover Defender 130 terbaru warna hitam berdiri gagah di depannya.


"Ma syaa Allah, Mas..." Azam tak mampu berkata-kata, dia sangat senang dengan mobil pilihan kakaknya.


"Kamu kan Land Rover lover, jadi aku pilihin ini, ada delapan seat, anakmu banyak biar lega kalau mau jalan-jalan," ucap Amir.


"Mas, sudah pulang," ucap Silvira yang muncul dari dalam rumah.


"Hey, my baby, kamu senang sama mobilnya?" tanya Azam.


"Iya, senang banget," ucap Silvira.


"Masuk yuk, bersih-bersih badan dulu, ada ayah sama ibu di dalam," ajak Silvira.


"Hmm iya, masuk yuk Mas," ucap Azam seraya menggandeng lengan kakaknya di kanan dan Silvira di kirinya.


Sesampainya di dalam ia segera menyalami kedua orang tuanya itu, kemudian pamit ke kamar untuk mandi membersihkan diri.


Ayah memandang punggung Azam yang sedang menaiki tangga, putra bungsunya itu terlihat gagah memakai pakaian dinas harian ASN berwarna khaki itu. Itulah kenapa beliau mendukung Azam tetap menjadi ASN, walaupun hasil kebun sudah sangat cukup untuk mereka.


"Udah aku isi bathub nya Mas," ucap Silvira yang keluar dari kamar mandi dan membantu Azam membuka kancing bajunya.


"Bathub? Kamu mau aku berendam?" tanya Azam.


"Iya, Mas pasti lelah bekerja sampai sore gini," ucap Silvira kemudian beralih ke lemari memilih-milih baju ganti untuk Azam.


Azam memeluk Silvira dari belakang, yang tentu saja mengejutkan Silvira. Dia menyandarkan dagunya ke bahu kanan Silvira.


"Kamu pasti capek juga nyiapin bekal makan siang ku, yuk berendam bareng, biar sama-sama segar nanti,yuk," ajak Azam.

__ADS_1


"Mulai kan," gumam Silvira.


.


.


.


Azam, Amir, dan ayah bercengkrama di ruang keluarga. Sementara ibu bersama Silvira menyiapkan makan malam, sedangkan bu Wati sudah pulang.


"Anak-anak gak dijemput?" tanya ibu pada Silvira.


"Pak Budi yang jemput Bu, kami ada sopir baru, sekalian buat ngurus halaman," jawab Silvira.


"Oh.." sahut Ibu.


"Ibu sama ayah di sini terus kan sampai saya lahiran?" tanya Silvira.


"Memangnya sudah dekat ya waktunya lahiran?" tanya ibu kembali.


"Kurang dua pekan lagi in syaa Allah," sahut Silvira.


"Kan masih dua pekan, ibu gak enak lama-lama di rumah anak, nanti aja kalau kurang sepekanan gitu ibu ke sini, jangan khawatir, ibu akan temani kamu melahirkan," ucap Ibu.


"Baik Bu, terserah ibu saja, senyaman Ibu saja bagaimana, yang jelas saya senang kalau ada Ibu, anak-anak juga pasti senang Ibu dan ayah ada di sini," ucap Silvira.


"Hmm iya Nduk," sahut Ibu sambil tersenyum kepada menantu bungsunya itu.


"Ibu, apa rahasianya supaya tetap langsing seperti ibu, saya takut habis lahiran anak kedua nanti jadi gembrot,"


"Kalau makanan gak ada pantangan, kalau diet nanti kasihan bayimu kan butuh ASI, gemuk gak papa asal tetap rapet, badannya dijaga, habis melahirkan pakai stagen di perutnya, trus pakai jarik, duduknya tegap, kakinya rapet, biar yang di dalam situ juga rapet, lelaki semua sama saja, bilang gak papa gendut, tapi dalam hati pasti pengen yang sedap dipandang mata," ucap Ibu panjang lebar.


"Semoga kamu bisa melahirkan normal ya Nduk, biar bisa pakai jarik fan stagen, ibu dengar kalau operasi, gak bisa pakai itu karena ada luka di perutnya," lanjut Ibu.


"Iya Bu, aamiin, mohon doa ibu terus buat kami," ucap Silvira. Dia senang bila dekat ibu, meskipun bukan ibu kandung, namun beliau sangat menyayanginya.


Pembicaraan mereka terhenti karena anak-anak sudah datang, begitu juga pak Budi yang langsung pamit pulang. Anak-anak menyapa uti dan kakungnya juga pakde nya, kemudian naik ke atas dan segera mandi.


Selesai mandi mereka bersiap ke masjid untuk sholat maghrib berjamaah. Silvira bersama ibu di rumah.


Selepas sholat mereka makan malam bersama. Ibu dan Silvira membuat soto ayam kampung.

__ADS_1


"Hmm, ma syaa Allah, ini kesukaan kamu Beib," ucap Azam.


"Iya Mas, ibu ingat aku suka soto waktu nemenin mas di Rumah Sakit, alhamdulillah masa itu sudah terlewati," ucap Silvira.


__ADS_2