
"Apa mereka sudah datang?" tanya Silvira.
"Maybe.. biar aku aja yang buka pintunya," ucap Azam. Azam segera menuju pintu, dan Silvira naik ke atas untuk menyiapkan pakaian renang suami dan anak-anaknya.
Pintu terbuka, Azam terkejut dengan siapa yang datang. Bukan Ammar atau Arum, melainkan Disha putri pemilik toko alat pertanian langganan kantornya.
"Assalamualaikum Pak Azam," sapa Disha.
"Waalaikumusalam,"jawab Azam.
"Pak Azam," seru Disha yang melihat Azam masih bengong.
"Eh iya, silakan masuk," ucap Azam seraya mundur agar Disha bisa masuk. Setelah dipersilakan duduk, Disha duduk di sofa. Sambil duduk, Disha melihat sekeliling rumah itu, Disha tak melihat siapapun, hanya bu Wati yang sibuk di dapur bisa dia lihat dari sela-sela rak buku besar yang menjadi sekat antara ruang tamu dan ruang makan.
"Rumah Pak Azam gede banget," gumam Disha yang terdengar juga oleh Azam.
"Ini bukan rumah saya," sahut Azam.
"Memang rumah siapa? Rumah orang tua Pak Azam?" tanya Disha yang terheran karena rumah ini terlihat sepi.
"Rumah istri saya,"
"Hah.. Lhoh bukannya Pak Azam sudah bercerai?" tanya Disha.
"Kamu itu ketinggalan berita, saya sudah menikah, tuh istri saya," sahut Azam sambil menengok ke atas, rupanya Silvira perlahan turun dari tangga. Silvira sedikit heran, sepertinya ini perempuan yang ngobrol di klinik kapan hari. Dada Silvira terasa sesak melihat Azam dengan perempuan itu, namun dia bernapas pelan-pelan, sabar... sabar...
"Beib, sini sebentar," panggil Azam.
"Iya Mas," sahut Silvira sambil berjalan mendekat ke arah Azam.
"Ini kenalkan Disha putrinya pemilik toko alat pertanian langganan kantorku," ucap Azam.
"Silvira," ucap Silvi dengan percaya diri, seraya menyodorkan tangannya mengajak Disha bersalaman. Disha masih terbengong, karena semua itu di luar bayangannya. Pikirnya dia ke situ ingin mendekati Azam yang dia kira duren alias duda keren, ternyata sudah menikah.
"Eh.. iya Disha," ucap Disha setelah tersadar.
"Bukannya Mbak Disha ini yang ngobrol sama Mas di klinik kemarin?" tanya Silvira.
__ADS_1
" Iya Beib, kamu kok masih ingat," sahut Azam, Silvira hanya tersenyum.
"Kok Ibu bisa tahu?" tanya Disha yang semakin heran.
"Iya saya juga di sana," sahut Silvi.
"Perawatan juga?" tanya Disha.
"Ehm, istri saya ini CEO klinik kecantikan da Silva," sahut Azam.
"Oohh..." Disha hanya ber oh saja. Batinnya, Azam ini sudah tampan, istrinya cantik dan kaya juga.
"Eh iya, kamu ada perlu apa kemari?" tanya Azam, yang dari tadi masih belum tahu maksud kedatangan Disha.
"Oh, ini Pak, kakak saya buka restoran baru, menunya masakan jawa, trus papa berikan voucher kepada pelanggannya, termasuk dinas pertanian kantor pak Azam, ini Pak," jawab Disha sambil menyerahkan beberapa lembar voucher kepada Azam. Azam menerimanya.
"Kenapa gak di kantor aja ngasihnya?" tanya Azam sehingga membuat Disha sedikit kelabakan, masa iya mau bilang pengen ketemu Azam.
"Eh itu Pak, tokonya mau tutup tiga hari, papa mau keluar kota," ucap Disha.
"Oh gitu, iya terima kasih kalau gitu," ucap Azam.
"Tunggu sebentar Mba," ucap Silvira sambil berjalan ke arah console table di sudut ruang tamu itu, lalu mengambil selembar kertas kecil.
"Ini saya juga punya voucher, ada diskon dua puluh persen untuk facial treatment, berlaku untuk tiga bulan ke depan ya," ucap Silvira sambil menyerahkan lembaran kertas itu.
Disha terlihat senang menerimanya.
"Iya terima kasih Bu," ucap Disha. Kemudian dia pamit pulang, di halaman rumah Azam, dia bertemu Ammar dan keluarganya, mereka berbincang sebentar.
Azam yang melihat kedatangan Ammar, langsung menarik Silvira masuk ke dalam dan menyembunyikannya di balik pintu.
"Apa sih Mas," ucap Silvira yang terkejut tiba-tiba saja Azam menariknya walau dengan lembut.
"Pakai cadarmu," ucap Azam.
"Kan Ammar juga sudah tahu wajahku," ucap Silvira.
__ADS_1
"Beib, kamu gak tahu ya, kalau sekarang kamu makin cantik, ma syaa Allah, aku gak mau lelaki lain melihat kecantikanmu, Hmm, apalagi kalian dulu punya cerita,"
"Iya, iya baiklah Mas," sahut Silvira akhirnya menurut. Dia mengambil cadar tali karet yang ada di saku gamisnya, kemudian memakainya.
" Nah gitu dong, yuk kita sambut tamu kita," ucap Azam kemudian menggandeng tangan Silvira untuk ke depan lagi.
"Assalamualaikum," sapa Ammar dan Arum. Mereka datang bersama Salman, Rayhan, dan Hanna serta ketiga bayi mereka yang berusia tujuh bulan, dibantu Rani pengasuhnya.
"Waalaikumusalam," jawab Azam dan Silvira.
Setelah saling menyapa mereka masuk ke dalam, anak-anak segera ke halaman belakang untuk bermain. Si kembar terlihat sangat gembira kedatangan teman sekolah mereka Salman dan Rayhan.
Sedangkan baby Ayya, Abdullah, dan Maryam, disediakan kolam karet berisi bola-bola, dan mereka bermain di dalamnya.
Sekedar mengingatkan, mungkin yang belum baca novel sebelumnya, Ammar menikah dengan Fitri memiliki dua anak, yaitu Salman dan Hanna, sedangkan Arum punya Rayhan dari pernikahan sebelumnya, Salman dan Rayhan seusia dengan Fahri dan Farhan. Ketika Fitri sakit parah selama tiga tahun, dia meminta Ammar untuk menikah dengan Arum, kemudian Ammar dan Arum memiliki bayi kembar Ayya dan Abdullah, dan di waktu yang sama Fitri melahirkan bayi perempuan bernama Maryam. Dan dia meninggal waktu melahirkan. Sehingga Arum yang merawat ketiga bayi itu.
Silvira membantu Arum menggendong si cantik Ayya, Maryam digendong Arum, dan si gembul Abdullah digendong Rani.
"Hmm seru ya punya bayi gini, aku dulu kembar dua aja, repot minta ampun, karena pure aku sendiri yang rawat,"
"Iya, seru banget apalagi kalau nangis semua, ma syaa Allah, Mba Silvi gimana sudah program hamil lagi?" tanya Arum. Sebenarnya Arum ragu bertanya, karena seseorang pasti kurang nyaman kalau diberi pertanyaan semacam, kapan nikah, kapan hamil, kapan punya adik lagi...
"Hmm alhamdulillah Mba, udah kok, udah tiga bulan usianya," sahut Silvira sambil membelai perutnya.
"Oh ma syaa Allah, aku ikut seneng Mba, semoga sehat terus sampai lahiran ya," ucap Arum.
"Aamiin, eh belum ada yang tahu lho Mba, tadi aja baru aku kasih tahu Mas Azam," ucap Silvira.
"Lho Iya kah?" tanya Arum.
Azam dan Ammar berenang bersama empat cowok kecil itu, sementara Hanna memilih menemani ketiga adiknya ketimbang berenang bersama cowok-cowok itu.
Setelah capek berenang bolak-balik ke sana kemari, Azam dan Ammar istirahat di tepi.
"Mar, kamu itu kenapa sembunyikan hal sebesar itu dari aku," ucap Azam.
Ammar yang terlihat bingung, masih belum mengerti apa yang dikatakan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Sembunyikan apa sih?" tanya Ammar.
"Kamu dan Silvira, kalian pernah pacaran kan dulu?"