Ayah Untuk Anak Kembarku

Ayah Untuk Anak Kembarku
#72


__ADS_3

"Aa..." ucap Azam, seraya menyuapkan nasi soto ayam kepada Silvira. Silvira dengan lahap memakannya dari suapan Azam. Mereka tengah duduk di ruang makan, ya.. setelah sebulan Azam menjalani terapi, saat ini Azam sudah sembuh dan sehat, bisa bicara maupun bergerak dengan leluasa, rambut botaknya pun sudah mulai tumbuh rambut lagi. Kini ia bisa menjadi suami siaga lagi bagi Silvira.


"Enak Beib?" tanya Azam, karena kali ini ia sendiri yang memasak untuk istri dan anaknya, karena memang hari itu akhir pekan, jadi Azam ada di rumah sepanjang hari.


"Hmm enak Mas, ma syaa Allah suamiku jago masak juga ternyata," puji Silvira.


"Tadi masaknya dipandu ibu lewat panggilan video sayang. Hihihi... yah walaupun cuma sebulan lagi aku temani kehamilan mu, aku ingin lakukan yang terbaik untukmu dan calon bayi kita ini," ucap Azam sembari mengelus perut Silvira yang kian membesar karena sudah masuk kehamilan 35 pekan.


"Hmm iya, Mas, sebulan lagi in syaa Allah aku melahirkan, aku pengen Mas ada di samping aku ya," pinta Silvira.


"Iya Beib, kalau memungkinkan dan kalau diizinkan sama dokter, aku pasti temani kamu melahirkan bayi kita, aku ingin menemanimu berjuang melahirkannya," sahut Azam.


"Iya Mas, nanti kita tanya dokter Rina pas kontrol pekan depan," ucap Silvira.


"Eh iya, kamu belum beli perlengkapan bayi Beib?" tanya Azam, sambil terus menyuapi Silvira.


"Iya Mas, belum sempat, kan kita juga baru kembali kemarin lusa," sahut Silvira.


"Iya, malam nanti in syaa Allah kita beli ya, mana tadi Fahri Farhan?" tanya Azam sambil menengok ke sekeliling rumah. Karena sejak dari dapur tadi rumah nampak sepi.


"Tadi main di tenda, ketiduran paling," sahut Silvira.


Selesai menyuapi Silvira, Azam segera berdiri hendak membereskan meja. Namun dicegah Silvira.


"Aku aja Mas yang beresin, Mas tengok anak-anak aja, kalau gak ketiduran, ajak mereka makan sekalian, Mas juga belum makan kan," ucap Silvira.


"Baik sayang," sahut Azam kemudian berjalan menuju ruang keluarga, dimana mainan tenda itu didirikan.


Azam menengok ke dalam tenda, rupanya dua bocah kembar itu tengah tertidur, entah karena kecapekan mungkin. Azam menyusul ke dalamnya, karena tenda itu memang cukup luas, bahkan bisa untuk orang dewasa. Azam merebahkan tubuhnya di tengah kedua anak itu, dan memang nyaman sekali di situ. Semilir angin dari pendingin udara di luar tenda membuat mata mengantuk, dan akhirnya Azam ikut terlelap di dalam sana.


Silvira mencuci piring di dapur, dan membereskan dapur bekas masak Azam tadi. Bu Wati sedang libur hari ini, jadi mereka beres-beres sendiri.

__ADS_1


Karena tidak ada suara dari ruang tengah, Silvira menyusul ke sana, dan benar saja sesuai dugaannya, si kembar ketiduran dan abati nya ikut-ikutan tidur.


Silvira tersenyum melihat pemandangan itu, Azam tidur memeluk Farhan, dan Fahri memeluk Azam dari belakang. Ketiga lelaki yang amat dicintainya saling berpelukan dalam tidurnya. Tak ingin mengganggu, Silvira segera naik ke kamarnya dan beristirahat.


Tiga puluh menit kemudian Silvira tidak enak hati, karena suami dan kedua anaknya belum makan siang, ia segera bangkit dan segera turun. Namun sebelum beranjak dari tempat tidur, Azam memasuki kamar mereka.


"Lho Mas, mau aku bangunin," ucap Silvira sambil menguncir rambut panjangnya.


"Kami sudah bangun dan sudah makan, sekarang mereka beresin meja dan cuci piring," sahut Azam.


"Ehm iya Mas, mereka bertambah mandiri semenjak aku hamil,"


"Mereka kan tidak selamanya bersama kita, pada saatnya kita kirim mereka ke pesantren, biar mereka lebih siap saja, sekarang duduk sini saja, kakinya diluruskan, biar mas pijat kakimu, pasti pegal ya," ucap Azam, Silvira hanya menurut kata Azam saja.


Silvira merem melek merasakan kenyamanan yang diberikan Azam, tak pernah menyangka, lelaki di hadapannya ini pernah koma selama hampir seratus hari, sekarang dia sehat dan siap melayani ibu hamil cantik ini.


"Kenapa senyum-senyum Beib?" tanya Azam yang melihat istrinya tersenyum-senyum. Silvira kemudian melebarkan senyumnya yang memperlihatkan giginya yang putih.


"Aamiin," ucap Azam, sembari mengoleskan minyak zaitun ke kaki Silvira kemudian memijatnya.


"Oh iya, selama aku koma, gak bisa menemani kamu kontrol ke dokter kandungan, gimana waktu kontrol terakhir?" tanya Azam.


"Alhamdulillah sehat abati, kata dokter aku laki-laki," sahut Silvira seolah bicara sebagai janinnya.


"Hmm alhamdulillah ma syaa Allah, tapi kenapa ya Beib aku kok ngrasa bayi kita nanti perempuan,"


"Namanya juga perkiraan manusia Mas, bisa benar bisa salah, laki-laki atau perempuan sama saja kan, yang penting sehat," kata Silvira.


"Iya, sayangnya abati di dalam sini, baik-baik ya, sehat terus, in syaa Allah sebulan lagi kita ketemu, mau kamu laki-laki atau perempuan, abati akan tetap menyayangimu seperti kakak-kakakmu," ucap Azam sambil mengelus perut Silvira, kemudian memegang kanan kiri perut buncit itu dan mencoba mendengarkan suara di dalam sana, dan si janin merespon dengan tendangannya.


"Beib, dia merespon!!" seru Azam dengan gembira. Silvira tersenyum lebar sambil membelai kepala Azam yang ada di dekat perutnya.

__ADS_1


.


.


.


Di toko perlengkapan bayi Silvira sibuk memilih-milih apa saja yang perlu dibeli. Kali ini dia hanya ditemani Azam, sedangkan si kembar tinggal di rumah, karena rencananya memang mereka hanya belanja sebentar dan itupun dekat dari rumah mereka.


"Mas, sini Mas," panggil Silvira.


"Iya Beib, kenapa?" tanya Azam yang mendekat ke arah Silvira.


"Aku bingung mau beli yang mana? Kan belum tentu laki-laki atau perempuan bayinya," ucap Silvira.


"Kita pilih warna yang netral aja, kuning misalnya, beli seperlunya untuk persiapan dia lahir saja, kalau sudah lahir, in syaa Allah kita belanja lagi kita sesuaikan dengan jenis kelaminnya," ucap Azam memberi saran.


"Iya, baik Mas," sahut Silvira. Kemudian ia bersama Azam membeli tiga stel baju bayi, selembar handuk, tiga bedong bayi, dua set sepatu dan topi bayi, satu set bedak dan sabun bayi, sebuah bak mandi bayi, dan satu tas besar untuk memuat perlengkapan bayinya.


"Ini aja dulu ya Mas?" tanya Silvira.


"Sudah cukup?" Azam bertanya balik.


"Hmm, sudah, tapi kamar bayinya gimana?"


"Nanti kita minta katalog di toko meubel, setelah lahiran kamu pilih-pilih, nanti aku yang urus pembeliannya," ucap Azam. Silvira lega mendengarnya, pasalnya dia khawatir karena memang belum siap apapun, namun hari perkiraan lahir tinggal sebulan lagi.


"Baiklah, sepuluh," sahut Silvira.


"Sepuluh??" tanya Azam.


"Lebih dari setuju sayang, sepuluh," ucap Silvira. Membuat Azam tersenyum lebar dan mencubit hidung Silvira.

__ADS_1


__ADS_2