
"Assalamualaikum Bu, ini Dik Silvi biar makan sama aku di sini ya,"
...
"Nggak, cukup kok buat kami berdua,"
...
"Iya Bu, baik,"
"Sudah, yuk makan Beib,," ucap Azam.
Silvira hanya pasrah dan menurut. Dia juga menunggu Azam membicarakan hal yang tadi dia bicarakan dengan Amir. Tapi dalam lubuk hatinya berharap kalau tadi dia salah dengar.
"Rame banget ya Mas tempat wisata ini," ucap Silvira sambil menyendok nasi dan semur ayam dari kotak makan Azam.
"Iya alhamdulillah weekend, kalau liburan sekolah, atau musim rekreasi anak SD, lebih ramai lagi," sahut Azam yang sedang mengunyah kentang dari semur ayam itu.
"Sampai berapa orang Mas hari ini?" tanya Silvira.
"Hmm paling seribuan, kalau hari biasa gak sampai lima ratus," jawab Azam.
"Kalau satu orang tiket masuknya sepuluh ribu, kali seribu, sepuluh juta Mas, banyak juga ya income- nya," ucap Silvira.
"Belum dari apelnya, yang dipetik itu dikenakan harga sepuluh ribu perkilo, kalau tiap yang masuk bawa sekilo aja, kalikan sendiri berapa, tapi biasanya sampai tiga atau lima kilo mereka bawa, karena kalau beli di luar kan dua puluh ribu sekilo,"
"Hmm, ma syaa Allah, pantesan mas Amir nyuruh Mas resign melulu,"
"Tapi aku masih senang dengan pekerjaanku sebagai abdi negara Beib," ucap Azam.
"Kenapa ayah jaga kasir sendiri? Gak ada karyawan?" tanya Silvira.
"Kasirnya lagi gak masuk, jadi ayah yang jaga sendiri," sahut Azam.
"Ehm... Kalau boleh tahu, Mas dapat berapa perbulan dari kebun ini?" tanya Silvira.
"Empat puluh persen dari laba bersih, yang enam puluh persen mas Amir, besarnya berapa tergantung sih, kalau rame banget ya, hampir seratus, kalau rata-rata delapan puluhan lah," sahut Azam.
__ADS_1
"Ma syaa Allah, banyak banget, pantesan uang belanja aku kok banyak banget,"
"Baru nyadar kalau suamimu ini kaya," ucap Azam sambil cekikikan.
"Walau masih jauh ya dari para crazy rich yang di tipi," lanjutnya.
"Bagiku yang penting kaya hati, dalam artian Mas selalu pengertian dan menjaga perasaanku, dan juga walaupun sedikit yang penting itu didapat dengan halal," ucap Silvira.
"Hmm, iya in syaa Allah Beib, klinik kecantikan kamu juga penghasilannya fantastis gitu,"
"Iya Mas, kita syukuri saja, tapi aku kadang mikir, harta gak dibawa mati, buat apa capek-capek kerja ngumpulin banyak harta, yang penting cukup aja,"
"Siapa bilang gak bisa, bisa kali, sedekahkan, itu nanti yang akan menemanimu, itu sekolah si kembar lagi bangun gedung asrama anak yang mondok belajar Al Quran, sumbangin ke sana nanti pahala anak-anak penghafal Al Quran di sana kita juga kecipratan pahalanya in syaa Allah," ucap Azam.
***
Setelah tutup tempat wisata, Azam pulang ke rumah orang tuanya di seberang jalan. Setelah bercengkrama sebentar bersama anak kembar dan keponakannya, Azam naik ke atas menuju kamarnya. Di sana Azam juga tidak menemukan istrinya, namun terdengar gemericik air dari kamar mandi. Rupanya Silvira sedang mandi.
Azam merebahkan tubuhnya di sofa, sampai ketiduran saking lelahnya. Tak lama kemudian Silvira keluar dari kamar mandi, mengenakan handuk kimono dan membungkus rambutnya yang basah dengan handuk.
Silvira tersenyum melihat suaminya yang tertidur di sofa. Ingin mendekatinya namun tak tega membangunkannya, akhirnya dia langsung berganti baju, kemudian mengeringkan rambutnya. Kemudian dia duduk di lantai di samping Azam yang sedang tidur seperti bayi.
"Mas, Mas Azam, sayang, bangun udah mau maghrib ini," ucap Silvira sambil mengusap pipi Azam dengan lembut.
Azam membuka mata dan menggeliat.
"Hmm, my baby," ucap Azam.
"Maaf aku ketiduran, sudah lama kamu di situ? Dingin, naik sini," lanjutnya sambil duduk dan meminta Silvira duduk di sampingnya.
"Mandi sayang, pemanas airnya dah aku nyalain," ucap Silvira yang menurut saja duduk bersandar di bahu Azam.
"Hmm iya, kamu wangi banget sih, jadi pengen, nanti malam siap-siaplah," ucap Azam sambil menghirup wangi rambut Silvira.
"Mas gak capek apa, perjalanan luar kota, nyampe sini kerja sampai sore," ucap Silvira sambil menegakkan duduknya menjauhi Azam.
"Gak ada kata capek buat begituan," ucap Azam sambil berlalu menuju kamar mandi. Silvira menggeleng-gelengkan kepalanya, ada aja mas suami ini, batinnya... Kemudian dia menyiapkan baju Azam yang dia ambil dari dalam koper. Setelah itu dia memakai jilbabnya dan bersiap turun untuk sholat dan membantu ibu menyiapkan makan malam.
__ADS_1
Silvira ke dapur, terlihat ibu mertuanya sedang sibuk.
"Apa itu Bu?" tanya Silvira.
"Ini budemu kirim ayam betutu," sahut Ibu.
"Oh, tadi saya telpon bude, bilang besok mau ke sana, eh gak taunya malah dikirimin ayam betutu," ucap Silvira seraya membantu Ibu menaruh ayam betutu itu ke piring besar.
Azam turun ke bawah, dia bahagia melihat ayahnya bersama anak-anak sambungnya di ruang tengah.
Azan maghrib berkumandang, Azam, ayah, dan si kembar pergi ke masjid, sedangkan ibu sholat bersama Silvira di rumah.
Setelah itu mereka makan malam bersama, Silvira terkejut melihat Sofia istri mas Amir yang tenyata sedang mengandung, terakhir bertemu belum terlihat, tapi ini sudah agak membuncit karena sudah masuk empat bulan.
Ayah dan Ibu terlihat sumringah bisa makan bersama anak dan menantu serta cucu-cucu mereka.
Selesai makan, tepat azan isya berkumandang, mereka semua segera sholat. Selepas itu, Silvira mencuci piring, Sofia mengelap meja makan, dan ibu membereskan sisa lauk. Kemudian mereka menyiapkan teh dan kentang panggang untuk camilan.
Ayah bersama Fahri dan Farhan serta Dhana mengaji dan murojaah hafalan mereka. Sedangkan Azam dan Amir mengobrol di serambi samping rumah.
"Sudah jalan berapa bulan Mba Sofia kandungannya?" tanya Silvira kepada Sofia yang mengaduk teh.
"Jalan ke lima bulan, semoga Mba Silvi segera menyusul ya," ucap Sofia.
"Aamiin," Silvira mengamini.
"Sofia, kamu antar kan teh dan kentang untuk ayah dan anak-anak ya," pinta Ibu.
"Baik Bu," sahut Sofia, kemudian segera pergi sesuai instruksi Ibu.
Ibu kemudian merangkul lengan Silvira karena beliau tak cukup tinggi. Kemudian mengelusnya.
"Kamu yang sabar ya, dan bersyukurlah, kalian sudah dikaruniai anak kembar yang lucu dan sholih, itu berkat luar biasa," ucap Ibu yang tau kegelisahan Silvira.
"Iya Bu," ucap Silvira dan segera mengangkat nampan berisi teh dan kentang untuk Amir dan Azam.
Lagi-lagi tanpa sengaja Silvira mendengar pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Andini kemarin main ke sini, nyari kamu, dan dia terkejut kamu sudah menikah lagi, dia menangis dan bilang kalau mau jadi yang kedua," ucap Amir.
Deg.. jantung Silvira serasa berhenti. Dia meletakkan nampan di meja makan. Dan berlari ke atas menuju kamar.