Ayah Untuk Anak Kembarku

Ayah Untuk Anak Kembarku
#55


__ADS_3

"Andini??" ucap Azam.


"Ngapain kamu ke sini," lanjut Azam.


Silvira spontan menoleh ke arah wanita itu. Dia sangat cantik dengan rambut lurus hitam legam sebahu, memakai gaun lengan pendek selutut warna silver, sepatu hak tinggi, rupanya merk ternama.


"Iya Mas, ini aku, maaf Om, Tante, pagi-pagi sudah kemari, dapat kabar kalau Mas Azam ada di sini, jadi langsung ke sini deh, aku ganggu gak?" ucap Andini tanpa basa basi.


Silvira masih sesekali meliriknya sambil menyendok makanannya, .... rupanya wanita ini anak manja, jadi aku harus tenang, jangan terpancing emosi, agar terlihat dewasa, tunjukkan kalau aku memang pantas menjadi istri satu-satunya dari Mas Azam... batin Silvira.


"Nggak kok, sini ikut sarapan nasi jagung," ucap ibu sambil menyiapkan piring untuk Andini. Sedangkan Azam terlihat cuek dan sibuk dengan sarapannya.


"Wah makasih tante, kebetulan sudah lapar ini," ucap Andini sambil duduk tepat di depan Silvira dan mengambil makanan.


"Kuliah kamu sudah selesai?" tanya Ayah.


"Sudah Om, makanya cepat-cepat pulang, pengen ketemu Mas Azam, hehehe," jawab Andini.


"Ini siapa tante?" tanya Andini sambil melirik ke arah Silvira.


"Itu.." belum selesai Ibu menjawab. Silvira memperkenalkan dirinya.


"Kenalkan saya Silvira, istrinya Mas Azam," ucap Silvira sambil tersenyum. Azam juga tersenyum melihat istrinya, wah lagi pasang badan nih.. batin Azam.


"Oh..." Andini ternganga. Dia melihat wanita cantik walau tanpa riasan tebal, setelan gamisnya juga terlihat mahal, dan perhiasan di jarinya.. berlian... hah.


"Hmm beruntungnya Mba, punya suami tampan dan kaya, tinggal duduk di rumah bisa pakai berlian dan mobil mewah," ucap Andini tanpa bisa menyaring omongannya.


"Hey, jangan salah, anak Ibu memang kaya, tapi menantu Ibu ini juga punya usaha, kamu tahu klinik kecantikan da Silva, yang di depan mall town square itu, itu milik dia, bukan hanya itu, masih ada tiga cabang klinik kecantikan lagi miliknya semua, " ucap Ibu yang tidak terima menantunya dihina.


"Oh..." Andini ber Oh lagi.


"Kamu itu ah oh aja, cepat habiskan sarapannya," ucap Azam.


"Kamu sudah selesai Beib?" tanya Azam kepada Silvira. Silvira mengangguk dan tersenyum.


"Yuk, siap-siap. Yah, Bu, kami ke atas dulu, mau siap-siap ke rumah bude Harti," ucap Azam.


"Iya," sahut Ayah.

__ADS_1


"Abang dan Kakak, lanjutkan makannya ya, habis ini kita berangkat ke Uti Harti," lanjut Azam, seraya menggandeng tangan Silvira, lalu mereka berjalan menuju kamar atas.


Andini terus memandangi mereka, ada rasa cemburu, sakit, namun ada kelegaan bahwa Azam terlihat bahagia bersama istrinya.


Setelah bersiap-siap, Azam dan Silvira serta si kembar pamit mau pergi ke rumah bude Harti.


"Mas Azam, aku pengen ngomong sebentar," ucap Andini.


"Beib, kamu bawa anak-anak ke mobil ya, aku mau selesaikan ini dulu," ucap Azam.


"Baik sayang," sahut Silvira, kemudian membawa kedua buah hatinya ke dalam Range Rover Azam. Ayah berangkat ke kebun, sedangkan ibu kembali masuk ke dalam rumah.


"Umma siapa sih tante itu?" tanya Fahri.


"Temannya abati bang," jawab Silvira.


"Kok tadi gak sopan sama Umma," sahut Farhan.


"Gak boleh ngomong gitu sayang, mungkin tante itu belum kenal Umma, jadinya gitu, tapi ingatlah, seperti apapun perlakuan orang kepada kita, kita harus punya adab dan akhlak yang baik kepada mereka," ucap Silvira.


"Baik Umma," sahut si kembar.


"Mas Azam kok tega banget, sudah nikah lagi aja, padahal aku sudah suka sama Mas Azam dari SD, kenapa Mas nikah sama dia?" Ucap Andini.


"Memangnya apa alasan kamu suka sama Mas?" tanya Azam.


"Ehm.. apa ya, gak tahu Mas, aku suka aja sama Mas Azam, Mas Azam itu first love aku," jawab Andini.


"Tuh kan, kamu sendiri gak tau alasan suka, begitu juga aku, gak bisa kamu paksa untuk menyukaimu, dan gak ada alasan juga buat aku menyukai dia, rasa suka dan cinta itu muncul dengan sendirinya," ucap Azam.


"Apa Mas gak lihat aku sebagai wanita?" tanya Andini.


"Iya lihat, kamu wanita bukan pria," sahut Azam.


"Bukan gitu Mas, maksud aku, pernahkah Mas Azam ada rasa menyukaiku?" tanya Andini lagi.


Azam hanya menggeleng, sebisa mungkin, Azam juga tidak ingin menyakiti gadis ini.


"Hmm, walaupun begitu, aku tetap mau nikah sama Mas Azam, kan dibolehin ya dalam agama," ucap Andini.

__ADS_1


"Kamu serius dengan ucapanmu?" tanya Azam.


"Iya, aku mau jadi istri kedua Mas Azam," ucap Andini dengan jelas.


Azam semakin heran, ada aja nih anak minta dinikahin...


"Din, maaf, maaf banget, tapi aku sangat mencintai istriku Silvira. Dan poligami gak semudah itu. Misal nih ya, kita menikah, tapi aku gak bisa mencintai kamu gimana? Bukankah semakin menyakitimu? Karena aku akan selalu memilihnya, bukan kamu," ucap Azam mencoba membuat Andini mengerti.


"Aku gak papa Mas, bukankah selama ini cintaku selalu bertepuk sebelah tangan padamu? Aku rela, asalkan bisa jadi istrimu," Andini tetap ngeyel.


"Aku yang gak bisa, poligami bukan hanya terpaut hubungan satu lelaki dengan dua istri, tapi ada yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, kalau aku tidak bisa adil kepada dua istri, aku pasti berdosa," ucap Azam, yang membuat Andini menangis.


"Dan lagi kamu cantik dan pintar, pasti banyak lelaki yang menyukaimu, jadi jangan sia-siakan hidupmu untuk lelaki beristri seperti aku, ya Din, aku harap kamu bisa bahagia, bersama orang yang juga mencintaimu," lanjut Azam.


Andini yang masih sesenggukan, mengangguk.


"Maafin aku Mas, karena terobsesi denganmu, aku pulang," ucap Andini yang keluar sambil menangis.


Azam hanya melihatnya, dan masuk ke mobil menyusul istri dan anak-anak.


"Beib, maaf ya lama nunggu," ucap Azam. Dan dia melirik Fahri dan Farhan sudah asyik membaca buku cerita.


"Gak papa, Kamu apain dia sampai nangis?" tanya Silvira.


"Emang kelihatan aku ngapain dia? Aku cuma ngasih pengertian kalau aku gak bisa nikahin dia," ucap Azam sambil melajukan mobilnya.


"Ehm.. gitu, kok sepertinya dia sedih banget,"


"Iyakah? Apa enaknya aku nikahin dia aja ya?" canda Azam.


"Eh gak gak gak, badan aku sudah merah-merah semua, karena Mas, kok masih belum puas punya satu istri," ucap Silvira sambil manyun.


"Hahahaha, iya iya Beib, udah ya kita ke rumah bude Harti dulu, jalannya lewat mana ya? Kenapa tiba-tiba jadi lupa.." ucap Azam.


"Itu, alun-alun ke kanan, terus pasar besar ke kiri," sahut Silvira.


"Ehm, iya oke oke, ingat,"


"Alhamdulillah sudah sampai, yuk kita turun," ucap Azam. Silvira dan anak-anak masuk ke dalam, sedangkan Azam mengambil oleh-oleh di mobil.

__ADS_1


__ADS_2