
"Azam, iya ini Azam kan?" ucap seorang wanita yang menghampiri mereka.
Azam dan Silvira menoleh ke arah wanita yang datang bersama seorang anak perempuan kecil berusia sekitar lima tahun. Mereka masih belum mengenalinya.
"Haa, pasti lupa ya, aku Mira kakaknya Imran, teman kuliahmu, kamu dulu sering main ke rumah kami kan," ucap wanita itu.
"Oh iya Mba Mira, maaf aku baru ingat, sudah lama sekali ya, eh iya kenalkan ini istri saya Silvira," ucap Azam, Silvira mengulurkan tangan mengenalkan diri. Kemudian Mira duduk bergabung bersama mereka. Dan ngobrol dengan Azam tentang masa lalu mereka.
Silvi hanya terdiam mendengar mereka berbincang, karena tak tahu apa yang mereka ceritakan, dia hanya khidmat menikmati es teh manisnya.
Dalam pikirannya saat ini, dia hanya bisa bersabar, Azam memang tampan ma syaa Allah, dia orang baik, kaya, temannya banyak, dan yang paling penting Azam paham ilmu agama sehingga Silvira yakin Azam tidak akan melakukan sesuatu yang melanggar syariat agama.
Iya, semuanya hanya titipan Allah, segalanya milik Allah, seperti Allah yang telah mengambil Ayah Ibuku dan juga mas Adam kembali padaNya. Begitu juga dengan semuanya, harta, suami, anak, keluarga, bahkan diri ini sendiri sejatinya milik Allah.
Mas Azam adalah salah satu anugerah terindah yang Allah berikan, namun sepertinya aku berlebihan dan terlalu mencintainya. Melihat mas Azam akrab dengan wanita lain, harusnya aku lebih bersabar, dan percaya dia tahu batasan, dan kalaupun mas Azam menyukai wanita lain dia akan menempuh cara yang halal. Itu artinya aku akan merelakan jika mas Azam ingin menikah lagi, daripada mas Azam berselingkuh, walau aku yakin mas Azam tidak akan seperti itu.
Pasti sedih dan menyakitkan berbagi suami. Dan bersabar, itulah tugasku, sampai kapan bersabar, sampai di surga tentunya. Karena sabar itu tak terbatas.
Yaa Allah bantu aku, agar aku bisa menjadi hamba yang taat padaMu, istri yang sholiha untuk mas Azam, dan ibu yang baik untuk anak-anakku..
"Beib..." panggil Azam membuyarkan lamunan Silvira.
"Eh hem, iya," sahut Silvira agak terkejut.
"Ini Mba Mira pamit," ucap Azam.
"Saya permisi dulu Mba," ucap Mira.
"Oh iya," sahut Silvira. Kemudian Mira pergi meninggalkan mereka.
"Kamu kenapa Beib? Dari tadi aku lihat melamun aja,"
"Gak papa, aku kecapekan kali, kita pulang aja yuk," ajak Silvira.
__ADS_1
"Lho kan kita belum belanja,"
"Besok-besok aja sayang, atau kita beli online aja,"
Azam merasa aneh, dengan perubahan sikap Silvira, biasanya betah berlama-lama di mall, tapi ini masih di lantai dasar sudah minta pulang.
*
Sesampainya di rumah, ternyata bu Wati sudah pulang. Mereka berdua segera naik ke kamar.
"Mas mau mandi sekarang?" tanya Silvira yang paham betul suaminya tidak suka berkeringat, kecuali kalau benar-benar kelelahan pasti tertidur.
"Iya," ucap Azam sambil membuka bajunya dan melempar ke keranjang baju kotor. Silvira melepas cadar, jilbab, dan kaos kakinya. Kemudian hendak duduk menunggu Azam mandi, namun Azam menariknya ikut masuk ke dalam kamar mandi.
"Yuk cari pahala," bisik Azam, yang membuat pipi Silvira bersemu merah.
Setelah mandi, mereka bersantai sejenak di atas kasur sambil menunggu Maghrib.
"Kamu kenapa Beib? Tidak enak badan kah?" tanya Azam yang melihat istrinya kembali tidak bersemangat.
"Nggak, kamu selalu memuaskan Beib, tapi dari mall tadi kamu yang biasanya manja mendadak jadi pendiam, Mas ngrasa ada yang lain dari kamu," kata Azam.
"Hmm, aku mulai sadar aja,"
"Sadar gimana Beib? Emang kamu pingsan selama ini?" canda Azam.
"Maaas, kok pingsan sih," ucap Silvi sambil tertawa.
"Hahaha, iya iya maaf, bercanda dengan istri juga berpahala sayang," ucap Azam.
"Jadi, mulai sadar, aku makan hati terus kalau cemburu, kan sudah resiko punya suami seperti Mas, ma syaa Allah, pasti banyak yang tertarik, jadi sebaik mungkin aku berusaha juga menarik di hadapan Mas, ehem," ucap Silvi sambil duduk dan sengaja menyibakkan rambutnya agar terlihat seksih..
"Ohhh, uluh uluh, ma syaa Allah seksinya istriku," puji Azam.
__ADS_1
"Dan lagi Mas, semua ini hanya titipan Allah, kalau Allah takdirkan Mas tidak berpaling, ya Mas tetap jadi milikku, kalau Mas berpaling, itu sudah kehendak Allah, memang menyakitkan, aku cuma bisa bersabar,"
Azam mendengar dengan serius perkataan istrinya, rupanya Silvira sudah lebih bijak lagi, ma syaa Allah.
"Jadi, kalau Mas Azam menyukai perempuan lain, menikahlah, jangan selingkuh," lanjut Silvira.
"Yes!!!" teriak Azam kegirangan.
"Akhirnya aku dapat izin nikah lagi Ya Allah," seru Azam.
"Eh tapi, ada tapinya Beib," potong Silvira.
"Hah apa?" tanya Azam.
"Kalau selama aku masih sehat, masih bisa merawat Mas dengan baik, melayani Mas dengan memuaskan, ya kalau bisa nih, kalau bisa ya jangan lah Mas nikah lagi, hihihi,"
"Yaah..." Azam pura-pura kecewa, padahal dari awal dia tidak tertarik untuk menikah lagi.
"Hmm, iya Beib, aku kan sudah pernah berjanji padamu kalau aku tidak akan menikah lagi selama kamu masih sehat dan bisa melayaniku dengan baik, kamu tau Ammar juga menikahi Arum karena Fitri sakit parah kan, maka dari itu teruslah sehat, dan selalu memanjakanku Baby," ucap Azam seraya meraih tubuh Silvira dan memeluknya.
"Kamu sudah yang terbaik yang Allah berikan untukku, memangnya kenapa kamu memilih bersabar kalau aku nikah lagi, sabar itu susah lho," tanya Azam.
"Ya iyalah Mas, sabar itu susah karena hadiahnya surga, kalau sabar itu gampang, hadiahnya roti Mas," sahut Silvira sambil merenggangkan tubuhnya dari Azam.
"Aku kenal Mba Arum, dan sempat bertemu Mba Fitri beberapa kali sebelum beliau meninggal, main ke rumah mereka, aku lihat, keduanya rukun walau tinggal satu atap, anak-anak mereka juga rukun, tapi gak tahu gimana hati mereka, pastinya mereka juga pernah bersedih, cemburu, menangis, dan mereka bisa melaluinya, kalau mereka bisa, kenapa aku tidak, in syaa Allah aku pasti bisa," lanjut Silvira.
"Wah yakin banget ya, jadi gimana nih, Mas jadi boleh nikah lagi gak?" canda Azam.
"Maas, boleh, tapi gak boleh, eh gimana sih, yah pokoknya gitulah, kalau bisa jangan, pusing nanti kalau Mas diomelin dua bini," sahut Silvira.
"Emang kamu pernah ngomelin Mas?"
"Eh, gak pernah ya, jangan ngomel deh, aku mau jadi istri penurut aja, biar Mas gak nikah lagi,"
__ADS_1
"Haah kamu itu, yuk sholat, sudah Adzan," ucap Azam seraya berdiri. Silvira juga segera berdiri menyiapkan pakaian untuk dipakai Azam sholat.
"Mas ke Masjid dulu ya," ucap Azam setelah berganti pakaian.