Ayah Untuk Anak Kembarku

Ayah Untuk Anak Kembarku
#42


__ADS_3

"Assalamualaikum Mas Azam," sapa seseorang yang tiba-tiba datang menghampiri Azam.


Azam menoleh ke sumber suara, rupanya Aditya dan Silvia istrinya yang juga hendak sarapan.


"Waalaikumusalam, Mas," jawab Azam kemudian berdiri menyalami dan memeluk Aditya.


"Apa kabar Mas? Terima kasih sekali Mas Adit dan Mba sudah antar kan Silvi sampai ke sini," ucap Azam.


"Iya, Mas sama-sama, aku sampai gak tega lihat Mba Silvi seperti kosong gak ada Mas Azam, aku hanya ingin dia bahagia, sampai kapanpun aku akan anggap dia kakak perempuanku," ucap Aditya.


Azam tersenyum lebar mendengarnya, dia tahu Silvira banyak sekali yang menyayangi.


"Eh iya kenalkan ini temanku Hendra, dia temanku sekantor, dan juga teman kuliahnya Silvira, Ndra ini Mas Aditya adiknya papanya si kembar," ucap Azam mengenalkan Hendra dan Aditya, keduanya kemudian bersalaman berkenalan.


"Mba Rosa mana Mas?" tanya Silvia.


"Masih di atas, katanya sebentar lagi turun," jawab Azam.


"Oh iya kalian nanti selesai jam berapa dan naik apa? Bagaimana kalau barengan sama kita aja pulangnya, eh iya Mas maaf Mba Rosa meminta kami membawa Range Rover mu, jadi sebaiknya kita pulang sama-sama saja," kata Aditya.


"Oh iya, coba nanti aku tanyakan temanku yang satunya sudah ke atas tadi, tapi kalian gak papa nungguin kami selesai pelatihan?" tanya Azam.


"Gak papa santai aja, ini Silvia mau ke mall katanya," sahut Aditya.


"Ya udahlah nanti aku kabari ya," ucap Azam.


"Hai Assalamualaikum semuanya," sapa Silvira yang baru datang.


"Waalaikumusalam," jawab semuanya.


"Mas belum naik?" tanya Silvira.


"Iya ini bentar belum selesai makannya,"


"Ya udah Mas makan dulu, yuk Dit, Sil kita ambil sarapan," ajak Silvira, kemudian mereka bertiga mengambil sarapan, kebetulan hotel itu menyediakan berbagai macam menu prasmanan.


Azam melanjutkan makannya, dan masih ditemani Hendra.


"Ndra maaf ya, aku memang sengaja menceritakan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu aku ceritakan tadi, aku sengaja seperti itu agar Nania berhenti menempel padaku, kamu tau sendiri kan Nania seperti apa," ucap Azam.


"Hmm iya, sebenarnya kasihan juga dia, tapi salah dia juga kenapa begitu sama suami orang," sahut Hendra.


"Oh iya nanti kita pulang naik mobil saja ya," ajak Azam, Hendra mengangguk setuju.


"Aku sudah selesai makan, yuk naik ke tempat pelatihan," ucap Azam segera berdiri diikuti Hendra.


"Mas sudah mau naik," ucap Silvira yang datang membawa piring sarapannya.

__ADS_1


"Iya Beib, aku ke atas dulu, kalau kamu mau ikut Adit dan Silvia ke mall, kamu bisa pergi, ini pakai kartu debit punya Mas, belilah sesuatu yang menyenangkanmu," ucap Azam.


Silvira tersenyum bahagia mendengar penuturan suaminya, dan memandang punggung gagah suaminya yang berjalan meninggalkannya. Dia kemudian duduk dan makan bersama Aditya dan Silvia.


"Mba, kami mau ke mall, Mba Rosa mau ikut?" tanya Silvia.


"Iya, boleh kan?"


"Bolehlah Mba, itu juga pake mobil Mas Azam," ucap Aditya.


****


Selepas Dhuhur, mereka berenam check out dari hotel, Azam dan Hendra memasukkan koper mereka dan koper Nania ke dalam mobil, Silvira membuka pintu tengah dan menurunkan beberapa goody bag berisi sprei yang dia beli dari mall itu kemudian menyerahkannya ke Azam untuk di masukkan ke bagian belakang mobil.


"Beib kamu tadi belanja ini, banyak banget sprei nya buat siapa?" tanya Azam.


"Buat kasur kita, yang tiap hari ganti sprei, jadi aku beli yang bagus biar awet walau harus sering dicuci," jawab Silvira.


"Wah kalian ini bener-bener ya, bikin orang pengen cepat pulang aja, ayok buruan Mas Adit, anterin saya pulang pengen cepat ketemu istri juga," ucap Hendra. Semua yang mendengar ikut tertawa.


"Ya sorry Ndra, sengaja," ucap Silvira.


Hendra kemudian masuk mobil dan naik ke bangku belakang diikuti Azam. Silvira dan Nania duduk di bangku tengah dan Silvia menemani suaminya menyetir di depan.


Di dalam perjalanan mereka banyak mengobrol agar perjalanan tidak membosankan.


"Wah ganggu aja Mas Adit ini," sahut Hendra menggoda Azam dan Silvira.


"Gak usah dengerin Hendra Dit, kalian nginap aja," ucap Silvira. Aditya dan Silvia hanya tersenyum mendengar mereka.


"Mas Azam kok gak ada suaranya? Tidur ya?" tanya Silvira.


"Iya semalam kamu apain sih, kalian gak tidur ya? Dari tadi di ruang pelatihan nguap melulu dianya," sahut Hendra.


Tak terasa mereka sampai di rumah Hendra.


"Aku turun dulu ya, makasih semuanya," ucap Hendra.


"Rumah kamu dimana? Biar kami antarkan sekalian," tanya Silvira.


"Itu Mba di jalan Diponegoro nomor 28," jawab Nania.


"Itukan dekat sama sekolahku," ucap Silvira.


"Iya Mba, sebelah rumahku SMP favorit," sahut Nania.


"Mba, kalau Mba ada waktu aku minta tolong buat ajarin aku sholat dan membaca Al quran, aku mau kok datang ke rumah Mba Silvira," ucap Nania.

__ADS_1


"Hmm, nanti dulu ya, aku bicarakan dulu dengan Mas Azam," ucap Silvira.


"Baiklah, aku tunggu kabarnya ya," ucap Nania sambil turun dari mobil.


"Makasih Mas, Mba," ucap Nania.


Azam masih belum terbangun juga. Silvira berusaha membangunkannya.


"Mas, Mas Azam, bangun Mas," ucap Silvira sambil menepuk pelan pipi Azam.


Azam mengeriyipkan matanya dan menggeliat.


"Hmm, Beib,, Hendra mana?" tanya Azam.


"Sudah turun, Nania juga sudah diantar ke rumahnya," sahut Silvira.


"Laper Beib,, nyari makan yuk," ucap Azam.


"Makan apa? Kalian mau makan apa?" tanya Silvira pada Aditya dan Silvia.


"Apa aja Mba, yang ringan aja, masih lumayan kenyang ini," sahut Aditya.


"Bakso aja ya," ucap Silvira.


"Iya Bakso aja sama es teler 57, itu di dalam mall depan itu Mas Adit," ucap Azam.


Dan mereka masuk ke dalam mall.


"Alhamdulillah, kenyang," ucap Azam.


"Mau kemana lagi kita?" tanya Silvira.


"Pulang apa gimana? Kalian ada tempat yang ingin dikunjungi?" tanya Azam pada Aditya.


"Gak Mas, pulang aja yuk, aku pengen mandi, gerah banget," jawab Aditya.


"Sama dong, kita pulang aja kalau gitu, sini biar aku yang bawa mobilnya," ucap Azam, kemudian Aditya menyerahkan kunci mobil kepada Azam.


Akhirnya mereka sampai di rumah, Azam memarkirkan mobilnya di halaman, terlihat bu Wati bersiap pulang karena hari sudah sore.


"Bu Wati mau pulang?" tanya Silvira.


"Iya Mba, ada apa? Eh ini pak Azam kok bisa barengan," tanya Bu Wati.


"Iya, kemarin saya sama Adit dan istrinya nyusul Mas Azam ke sana, ini ada bolu kukus Bu, bisa Ibu bawain buat cucunya," ucap Silvira sambil menyerahkan sekotak bolu kukus.


"Dan misal saya besok minta tolong bu Wati datang bisa? Besok banyak tamu, ada Mba Adistia sama keluarganya datang," ucap Silvira.

__ADS_1


"Iya Mba, baik," sahut bu Wati.


__ADS_2