
Silvira yang mendengar ribut-ribut di depan kamar, segera meraih jilbabnya dan ikut keluar.
"Ada apa sih Mas?" tanya Silvi.
"Oh ini perempuan yang disembunyikan Mas Azam di dalam kamar, baru mandi, habis ngapain aja lu? Mesum pasti kan?" kata Vina ketus.
"Mba Vina, jangan gitu kalau ngomong, dia itu istri saya," ucap Azam mencoba melindungi Silvira.
"Istri apaan, mana buktinya kalau kalian suami istri?" Bentak Vina. Teriakan Vina itu membuat penghuni kost yang lain juga ikut keluar kamar melihat mereka.
"Sebentar saya ambilkan buktinya," ucap Silvira sambil masuk ke kamar mengambil tasnya. Lalu mencari sesuatu di dalam sana.
"Ini buktinya, kami adalah pasangan suami istri yang sah," ucap Silvira sambil memperlihatkan buku nikah mereka. Ibu kost meraihnya dan melihat visinya, dan memang benar di situ ada foto Azam dan Silvira.
"Iya ini asli," ucap Ibu kost sambil menyerahkan buku nikah itu kembali kepada Silvira.
"Maaf ya Mas Azam kita sudah buat keributan," ucap ibu kost, sedangkan Vina sudah kabur ke dalam kamarnya dan mengunci pintu rapat-rapat karena malu, karena terbakar api cemburu dan hatinya yang tak terbalas oleh Azam dia jadi berulah.
"Tidak Bu, kami yang minta maaf, tidak konfirmasi sebelumnya, ini tadi niat saya pas selesai beres-beres dan mau pulang, mau ketemu Ibu sekalian memperkenalkan istri saya," ucap Azam.
"Iya Mas, itu gara-gara si Vina, saya mau nanya baik-baik dianya ikut-ikutan, malah bikin heboh, terus kabur karena malu," ucap Ibu kost.
"Iya Bu gak papa, ini uang sewa saya kan masih sampai akhir bulan ya, saya pindahnya pas akhir bulan saja ya Bu," ucap Azam.
"Iya baiklah Mas, terserah Mas Azam saja, nanti kabari saja kalau mau pindah, saya pamit dulu ya, eh semuanya bubar, ini suami istri sah," ucap Ibu kost sambil pergi dari kost itu.
Azam dan Silvira kembali ke dalam kamar. Saling pandang dan tertawa. Hadeh ada-ada saja kejadian hari ini.
"Kamu kok kepikiran bawa buku nikah Dek," ucap Azam.
"Iya Mas, gak tahu, pengen aja bawa ini di dalam tasku," ucap Silvi sambil menyimpan kembali buku nikah itu ke dalam tas.
"Aku sholat dulu Mas," ucap Silvi. Azam mengangguk, dan mengangkat barang-barang yang akan dibawanya ke dalam mobil.
Silvira selesai sholat, langsung memoles bedak tipis dan memakai kaoskaki.
"Sudah siap? Cap cuz yuk, kita belanja," ucap Azam. Mereka keluar kamar dan berjalan menuju tempat parkir, mereka menyapa tetangga kost yang ada di depan kamar.
"Kita belanja dimana?" tanya Azam.
__ADS_1
"Di mall dekat alun-alun aja Mas, gak begitu ramai, tapi barangnya bagus," jawab Silvira.
"Baiklah nyonya," ucap Azam, dan mereka segera meluncur menuju tempat yang dimaksud.
Sesampainya di supermarket, Azam tidak melepas tangan Silvira dari genggamannya. Mereka membeli buah dan sayur, juga, ayam, ikan, dan daging untuk kebutuhan selama satu pekan.
Setelah berbelanja mereka mampir ke cafe dalam mall itu. Mereka telah memesan kopi latte. Tak lama kemudian pesanan mereka datang.
"Mas suka kopi juga?" tanya Silvira.
"Suka sih, tapi gak baik kan kalau terlalu sering ngopi, jadinya aku ngopi pas di mall ini aja," jawab Azam.
"Besok pagi work out bareng yuk Mas," ajak Silvira.
"Iya sehabis subuh ya, jam sembilan ada kajian di masjid sekolah anak-anak, kita datang ya," ucap Azam.
"Baik Mas," ucap Silvira.
"Kita pulang yuk, Mas gerah pengen mandi," ucap Azam.
"Baik Mas," sahut Silvira hanya menurut. Ternyata di luar hujan deras.
"Maaf ya Mas, tadi masih ngerapihin kulkas, aku ambilkan ya, Mas mau pakai kurta yang warna apa?" tanya Silvira segera mengambil alih lemari.
"Kamu pilihin aja Dek," jawab Azam. Silvi segera mengambil kurta warna navy dan sirwal jeans serta pakaian dalam Azam.
"Ini Mas," ucapnya seraya menyerahkannya pada Azam.
"Iya, makasih, kamu ambil wudhu ya, kita sholat sama-sama," ucap Azam.
"Mas gak ke masjid?" tanya Silvira.
"Di luar hujam deras, jadi gak apa-apa sholat di rumah," jawab Azam. Silvi segera ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Dan mereka sholat Ashar berjamaah. Setelah itu Azam berangkat menjemput si kembar. Dan gantian Silvira yang mandi.
Anak-anak dan abatinya sampai di rumah ketika Silvira sedang di dapur membuat minuman jahe lemon serai untuknya dan Azam, lalu membuat coklat hangat untuk si kembar.
"Boys kalian mandi dulu ya, ini Umma bikin coklat hangat untuk kalian, sama kue putu," ucap Silvira.
Setelah mandi si kembar bercengkrama dengan abatinya di ruang keluarga, Azam duduk di atas karpet, Fahri meletakkan kepalanya di atas paha kanan Azam, sedangkan Farhan di sebelah kiri.
__ADS_1
"Wah sudah ada Abati, lupa deh sama Umma," ucap Silvira sambil membawa minuman dan kue putu yang tadi dia buat.
"Yeay minumannya datang!!" seru si kembar.
"Ayo duduk kita minum dulu, nih kue putu," ucap Silvi.
"Enak Dek, minumannya juga hangat-hangat segar," kata Azam, Silvira tersenyum bahagia mendengarnya.
🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵
Seperti biasa, selepas Isya anak-anak pergi tidur, kali ini Silvira yang menemaninya, karena Azam sedang merakit treadmill yang dia bawa dari tempat kost.
Setelah si kembar tidur, Silvira menyusul Azam di mini gym miliknya.
"Belum selesai Mas?" tanya Silvi.
"Iya, sedikit lagi, kamu sudah ngantuk?"
"Iya sih, aku tunggu di kamar ya," ucap Silvi. Kemudian dia berjalan menuju kamar untuk membersihkan diri dan berganti baju.
Azam membuka pintu kamar ketika Silvi sedang memakai krim malamnya.
"Lho belum tidur?" tanya Azam.
"Iya nungguin Mas," jawab Silvira.
"Kalau nunggu aku, gak jadi tidur lho," goda Azam sambil pergi ke kamar mandi, dan meraih celana panjang di atas kasur yang sudah disiapkan Silvira.
Silvi hanya tersenyum mendengarnya. Dia hanya berharap malam ini bisa tidur lebih awal, tapi apalah daya Azam lebih berhak atas tubuhnya.
Sejenak kemudian, Azam keluar dari kamar mandi, dan menyusul Silvira yang sedang duduk di atas kasur.
"Sini aku pijitin, kamu kelihatan capek," ucap Azam menawari Silvira.
"Hmm gak ah, pasti bayarannya mahal," Silvi menolak, dia sudah mencium modus Azam.
"Beneran, sini kakinya aku pijit,"
Akhirnya Silvira hanya menurut, diam saja dan kakinya dipijit Azam. Tapi lama-lama pijatannya berubah membuat Silvi jadi meremang.
__ADS_1
"Tuh kan Mas, jadi pijat plus-plus," lirihnya.