
Satu bulan berlalu..
Pagi itu di dalam kamarnya, Silvira melihat bayangannya di kaca, berputar ke kiri dan ke kanan. Terlihat perutnya sedikit membuncit.
"Beib," panggil Azam seraya memeluknya dari belakang.
"Iya Mas, perutku dah kelihatan buncit," sahutnya sambil memperlihatkan perutnya pada Azam.
"Hmm, dia sudah empat bulan kan,," ucap Azam sambil ikut meraba perut Silvira.
"Iya, nanti dia tambah besar segini, segini, dan segini," kata Silvira sambil membawa tangan Azam maju dan semakin maju ke depan.
"He hm.." sahut Azam.
"Terus nanti setelah melahirkan, berat badanku sulit kembali seperti sekarang, perutku juga tidak pelangsing kemarin, dan lenganku pasti ikut membesar, bagaimana? Masih mau sama aku?" tanya Silvira kemudian cemberut.
"Pertanyaan bodoh itu, ya jelas mau lah, pasti imut dan lucu kalau pipimu jadi chubby," jawab Azam sambil meremas kedua pipi Silvira.
"Belum kejadian bilang gitu, nanti kalau badanku gendut kaya kebo pasti pindah ke lain hati, banyak yang lebih muda, yang lebih cantik,"
"Emang aku peduli sama mereka? Di mata aku, kamu yang paling cantik, ma syaa Allah,"
"Beneran ya, awas aja kalau sampai ke lain hati, aku gigit nanti," ucap Silvira.
"Berani gigit Mas? Sini... sini.." sahut Azam sambil menggelitik pinggang Silvira.
"Aw geli.. geli Mas, ampun ampun Mas,"
.
.
.
Di kamar si kembar, mereka tampak sudah rapi dan bersiap untuk pergi. Ya hari ini juga akhir pekan, mereka akan mengunjungi kakung dan uti--orang tua Azam di kota apel.
"Kak, kita nginap di sana ya nanti?" tanya Fahri pada Farhan.
"Iya Bang, tapi bawa baju berapa ya?" Farhan balik tanya.
"Bawa tiga stel aja Kak, jangan lupa sikat gigi," sahut Fahri.
Mereka belajar menyiapkan sendiri keperluan mereka, kapan hari Azam mengajarkan mereka membersihkan kamar, cara mengambil baju supaya lemari tidak berantakan, menata rak buku dan mainan mereka. Semua itu Azam lakukan agar mereka terbiasa mandiri dan selalu menjaga kerapian dan kebersihan, karena suatu saat jika mereka sudah masuk pesantren, pasti mereka harus mandiri.
__ADS_1
"Gimana sayang? Sudah siap berangkat?" tanya Silvira yang menghampiri si kembar di kamarnya.
"Iya Umma ini, bajunya Umma periksa dulu gih, sudah pas apa masih kurang.." ucap Farhan sambil menyodorkan bawaannya, begitu pula Fahri.
Silvira segera mengecek kedua tas kembar itu.
"Hmm ini bajunya, baju dalam, sikat gigi, handuk, ok, punya abang.. baju, sikat gigi, handuk, baju dalam, ok sip," ucap Silvira.
"Yeay!!!" seru mereka, dan dengan segera menutup resleting tas mereka.
"Kalian kenapa siap-siap sendiri? Biasanya nungguin Umma berkemasnya," tanya Silvira.
"Iya Umma, Abati bilang habis ini Umma sibuk rawat adik bayi, jadi kita harus bisa mandiri, siapkan keperluan sendiri," jawab Fahri.
"Iya, Abati juga bilang kalau nanti kita masuk pesantren sudah terbiasa mandiri," imbuh Farhan.
"Oh begitu, tapi walaupun begitu, jangan kira kami tak sayang kalian ya, Umma sama Abati sayang sekali dengan kalian, dan selalu ingin yang terbaik untuk kalian, walaupun Allah berikan kecukupan rezeki, kalian tidak boleh manja ya, jadi mandiri dan jadi anak sholih," ucap Silvira.
"Walaupun adik bayi sudah lahir juga Umma sama Abati tetap sayang kita?" tanya Fahri.
"Tentu saja, Umma dan Abati sayang kalian berdua, yuk kita turun, sarapan dulu, bu Wati sudah siapkan omelet sama sosis untuk kalian," ucap Silvira. Dan si kembar sangat bersemangat membawa tas mereka dan menuju meja makan untuk sarapan.
"Abati mana?" tanya Fahri ketika ia tidak menemukan Azam di meja makan.
"Kita susul yuk Bang," ajak Farhan.
"Yuk," Fahri setuju kemudian berlari menuju halaman depan.
Tak lama kemudian Azam bersama si kembar di gandeng kanan kirinya masuk ke ruang makan, di sana Silvira sudah duduk menunggu. Silvira berpikir jika akhir-akhir ini Azam menjadi jauuuh lebih menyayangi mereka.
"Sini duduk sini, kita sarapan yuk," ucap Silvira.
"Waah sosis," seru Farhan.
"Iya, tapi jangan terlalu sering ya sayang, enakan makan dagingnya langsung," ucap Azam.
Silvira tahu, Azam sangat membatasi mereka makan makanan olahan, yang disukai Azam adalah makanan rumahan yang sehat.
"Abati enakkah itu?" tanya Fahri yang melihat piring Azam berisi putih telur rebus dan alpukat yang diiris, juga pisang yang diiris ditaburi biji chia.
"Enak dong, mau coba?" sahut Azam. Fahri menggeleng.
Sementara Silvira yang masih mual hanya makan beberapa keping biskuit dan segelas susu.
__ADS_1
"Nanti kalau kalian sudah dewasa, sudah keluar pesantren, makanlah makanan yang sehat ya, biar tubuhnya kuat kaya abati," pesan Azam kepada si kembar. Keduanya mengangguk paham.
"Mas, aku kok pengen makan alpukat di piring Mas itu," ucap Silvira.
"Sudah gak mual?" tanya Azam sambil menggeser piringnya ke dekat Silvira.
"Sepertinya sudah enakan, aku mau alpukat," sahut Silvira sambil mencomot alpukat Azam.
"Hmm.. enak Mas," ucap Silvira.
"Ya uda, habiskan, kalau buat Umma yang lagi hamil boleh makan apapun, yang penting bisa masuk, tapi sebaiknya juga makanan sehat sih," ucap Azam.
"Nggak ah, nanti Mas kurang, biar aku minta bu Wati aja," Silvira menolak seraya mengembalikan posisi piring Azam ke tempat semula di depan Azam. Azam hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Terserah kamu Beib... batinnya.
"Bu... Bu Wati, minta tolong siapkan alpukat potong seperti ini, gak usah pake apa-apa, alpukat aja, taruh di kotak makan ya, saya makan di mobil,"
"Iya Mba," sahut bu Wati dari dapur dan dengan segera beliau siapkan permintaan majikannya itu.
Selepas sarapan mereka berpamitan dengan bu Wati untuk berangkat.
"Bu Wati nitip rumah ya, kami berangkat dulu, dan saya ucapkan terima kasih banyak bantuan Ibu kepada kami," ucap Azam.
"I..iya Pak Azam," sahut Bu Wati.
Dan si kembar sudah naik duluan. Azam meraih pinggang Silvira dan membawanya menuju mobil, membukakan pintu, membiarkan Silvi masuk dan menutup pintu kembali. Dia kemudian menuju pintu sebelah untuk mengemudi.
"Kenapa ini, sweet banget sih," gumam Silvira.
"Yuk berangkat.. berdoa dulu ya.." ucap Azam.
Jalanan ramai lancar karena weekend. Silvira sibuk memakan bekal alpukatnya, sedangkan si kembar diminta Azam murojaah hafalan mereka.
"Coba abang baca An Nazi'at, kakak Abasa," ucap Azam.
"Kok juz 30 Abati, kita kan sudah sampai juz 29 hafalannya," ucap Fahri.
"Hmm iya, abati tahu, tapi kalian juga harus murojaah juz 30, biar tidak lupa, murojaah adalah tugas setiap hari para penghafal Al Quran, sekarang Abang dulu ya," ucap Azam.
"A'udzubillaahiminassyaitonirrojiim..."
"Bruaaakk....!!!"
"Mas Azam..!!!"
__ADS_1