
"Mas, Allah masih sayang kita, Diandra ada di klinik cabang sini, yuk kita ke sana,"
"Ngapain dia di sana?" tanya Azam.
"Katanya Nida, dia bawa surat kuasa yang aku tanda tangani buat minta uang klinik, padahal aku gak pernah buat surat kuasa itu," jawab Silvira.
"Wah semakin menjadi dia, mungkin dia belum tahu kalau kita sudah bergerak," sahut Amir.
"Iya mungkin, tapi alhamdulillah Nida ada kecurigaan, karena Diandra melarangnya meneleponku dengan alasan suamiku lagi sakit, tapi Nida tetap meneleponku dengan sembunyi di kamar mandi, kita segera ke sana saja," ucap Silvira.
"Bagaimana kalau menggunakan mobilku, kalau pakai mobilmu dia pasti mengenali dan bisa-bisa dia kabur lagi," ujar Faraz.
"Iya Mas, baiklah," ucap Azam menyetujuinya.
Mereka naik mobil Faraz menuju klinik kecantikan milik Silvira itu.
Sesampainya di sana, di parkiran tidak ada mobil mobilio seperti yang diceritakan, hanya ada dua mobil xenia dan satu mobil brio. Silvira bersama pasukannya masuk ke dalam.
"Maaf Bu, Mba Diandra barusan mendapat telepon dan pergi, katanya dia akan kembali lagi sebentar lagi," ucap Nida.
"Iya Mba Nida, gimana ini Mas.." ucap Silvira sedih.
"Begini saja, kita sembunyi saja, kita tunggu wanita itu kembali ke sini," sahut Faraz.
"Iya sudah, kita tunggu di ruanganmu saja Mba Nida, nanti kalau dia datang, ajak dia ke ruanganmu, bilang uangnya ada di sana," ucap Silvira.
"Baik Bu, silakan mari saya antar," ucap Nida dan membawa mereka ke ruangannya di belakang ruang facial.
Silvira, Azam, Faraz, dan Amir bersembunyi di dalam ruangan Nida, mereka duduk di sofa yang terletak di belakang pintu, sehingga tidak terlihat ketika pintu di buka. Sedangkan Nida kembali ke depan lagi.
Sudah satu jam berlalu, namun Diandra belum muncul juga, kekhawatiran mulai menyelimuti hati Silvira.
"Mas, kalau dia gak kembali bagaimana?" ucap Silvira cemas.
__ADS_1
"Hmmh," Azam menghela napas.
"Gak papa, berarti bukan rezeki kita, kamu sudah berusaha, kamu sudah bekerja dengan baik, kita sudah berusaha semaksimal mungkin, bahkan sampai meminta nasihat pengacara handal seperti Mas Faraz, serahkan semua pada Allah, kalaupun tidak ketemu, gak papa, uang kamu masih banyak, hehehehe," ucap Azam menghibur Silvira.
"Iya Mas, aku tahu uang bukan segalanya, yang aku sesalkan, mengapa dia menghianatiku," lirih Silvira.
"Ceklekk..." pintu dibuka.
"Silakan masuk Mba Diandra," ucap Nida. Silvira dan semuanya segera diam agar Diandra tidak curiga. Diandra kemudian masuk ke ruangan itu tanpa curiga sedikitpun. Dia terkejut melihat Silvira duduk di sofa. Amir segera berlari menutup dan mengunci pintu lalu mencabut kuncinya agar Diandra tidak bisa kabur.
"Eee.. Bu.. Bu Silvi," ucap Diandra terbata.
"Assalamualaikum Ndra," sapa Silvira.
"Wa wa waalaikumusalam," jawabnya.
"Silakan duduk Mba Diandra," ucap Nida. Diandra pun duduk di kursi seperti terdakwa.
Nida menyerahkan surat kuasa palsu yang diberikan Diandra tadi kepada Silvira.
"Aku tanya lagi, apa yang kamu lakukan dengan klinikku?" tanya Silvira. Diandra tetap tertunduk.
"Bicaralah, biar kami tahu alasanmu melakukan ini semua,"
"Aku hanya iri melihatmu bahagia, kamu janda yang ditinggali suamimu harta melimpah dan usaha yang sukses, dan kamu menikah lagi dengan orang kaya lagi tampan, sedangkan aku, bekerja pagi sampai sore, hingga tidak ada waktu menjalin hubungan, dan sampai kapanpun, sekeras apapun bekerja, gak akan bisa menyamai kekayaanmu, makanya aku melakukan ini semua," kata Diandra.
"Ndra, segitu bencinya kamu padaku, padahal aku sangat menghargaimu, mempercayaimu, uang bukan segalanya buatku, tapi pengkhianatan kamu itu yang melukaiku," ucap Silvira.
"Betul itu, seperti katamu tadi aku suaminya juga sangat kaya, uang yang kamu ambil tidak ada artinya jika kami kehilangan itu, tapi aku sangat marah karena kamu melukai hati istriku," ucap Azam.
"Begini saja, kami punya dua pilihan, kamu bisa pilih salah satunya, yang pertama kamu minta maaf kepada istriku, menyesali perbuatanmu, dan mengembalikan apa yang kamu curi dari kami, kemudian pergi dari kehidupan kami. Yang kedua kamu tidak perlu melakukan apa-apa, tapi kami sudah membawa pengacara handal kami yaitu Pak Faraz, yang siap membawamu ke meja hijau," ucap Azam.
Diandra terdiam mendengarkan Azam sambil berpikir.
__ADS_1
"Kalau kamu memilih opsi pertama, kami akan melupakan semua, termasuk ini," ucap Azam sambil mengangkat surat kuasa palsu itu.
"Tapi kalau kamu tidak merasa bersalah ya bisa pilih opsi kedua, namun kamu pasti tahu sendiri bagaimana hukuman memalsukan tanda tangan orang," gertak Azam yang membuat Diandra semakin gelisah.
Silvira tertegun melihat suaminya yang membelanya. Semakin membuatnya jatuh cinta kepada Azam.
Kembali lagi ke Diandra.. Dia merasa ketakutan membayangkan dirinya di balik jeruji penjara.
"Baiklah, maafkan aku Mba, rasa iri telah membutakan ku, tapi uang yang ku ambil dari klinik sudah tidak ada," ucap Diandra. Kemudian dia menyerahkan kunci mobil mobilio beserta surat-suratnya.
🍏🍏🍏🍏🍏
Sepulang dari klinik kecantikannya, Silvira tidur di kamar Azam di rumah mertuanya. Dia sangat lelah dan masih terluka hatinya dengan kejadian tadi. Azam keluar dari kamar itu agar tidak mengganggu Silvira. Kemudian dia menuju ruang tengah untuk bergabung dengan Amir dan ayahnya yang sedang berbincang sambil mengawasi si kembar dan anaknya Amir bermain di halaman samping.
"Sini Zam, duduk sini," ucap Amir sambil menunjuk sofa di sebelahnya.
"Istrimu bagaimana?" tanya ayah.
"Dia tertidur Yah, hari ini sangat berat untuknya," jawab Azam.
"Begini Zam, aku tadi berbincang dengan Ayah, ini saran saja buat kamu, kamu pakai bisa, tidak kamu pakai tidak apa-apa," ucap Amir.
"Iya Mas, bagaimana?" tanya Azam.
"Dengan kejadian yang dialami istrimu, kami jadi tahu bagaimana beratnya pekerjaannya, bagaimana kalau kamu saja yang mengelola klinik-klinik itu. Belum lagi dia harus mengurusku dan anak-anak, dan juga lagi kalau dia hamil dan memiliki bayi," ucap Amir.
"Iya Mas, aku juga merasa seperti itu, tapi aku tidak enak hati, karena usaha itu peninggalan papanya si kembar, aku takut orang mengira aku ingin menguasai atau bagaimana," ucap Azam.
"Cobalah bicarakan dengannya, siapa tahu dia mengerti maksud baikmu," ucap ayah.
"Tidak ada orang yang selamat dari omongan orang, yang penting, antarkan istrimu menjadi istri yang sholihah dan ibu yang mulia untuk anak-anakmu," imbuh ayah.
"Ayah tidak kecewa kalau aku tidak menjadi pegawai negeri lagi?" tanya Azam.
__ADS_1
"Memang menjadi pegawai negeri kata orang bisa terjamin hidupnya, dapat uang pensiun dan jaminan kesehatan. Namun kamu pasti yakin bahwa Allah lah yang memberi rezeki kita, bukan negara," ucap Ayah meyakinkan Azam.