Ayah Untuk Anak Kembarku

Ayah Untuk Anak Kembarku
#56


__ADS_3

Sepulang dari rumah Bude Harti, Azam dan Silvira istirahat sebentar di rumah orang tua Azam. Siang harinya mereka kembali ke kota mereka.


Di tengah perjalanan Silvira melihat Azam yang nampak lelah. Maka dia menawarkan diri untuk menggantikannya menyetir.


"Mas," panggil Silvira.


"Iya Beib," sahut Azam.


"Aku gantiin nyetirnya ya, Mas kelihatan capek," ucap Silvira.


"Iya sih, agak capek, tapi kamu jangan nyetir, nanti ganti kamu yang capek, kalau capek semua siapa yang mijitin aku malam nanti," ucap Azam menolak tawaran Silvira.


"Trus gimana dong, kita istirahat sebentar yuk, cari kopi, eh itu ada es kelapa muda Mas, aku mau," ucap Silvira sambil menunjuk ke arah warung-warung di tepi jalan itu.


Azam menepikan mobilnya dan parkir di depan warung itu.


"Kamu mau apa aku pesenin dulu, kalian juga mau minum atau makan apa boys?" tanya Azam.


"Aku es kelapa muda aja Mas, boleh makan mie instan?" tanya Silvira.


"Hmm, kali ini boleh," ucap Azam.


"Yeay...!!" si kembar bersorak kegirangan.


"Kalau gitu aku sama mie goreng pedas Mas, abang sama kakak apa?"


"Mie goreng gak pedes aja Umma,"


"Ok," ucap Azam kemudian turun dari mobil. Ia memesan terlebih dahulu pesanan Silvira dan anak-anak. Sedangkan Silvira masih memakai cadarnya. Dan si kembar masih merapikan buku yang habis mereka baca.


Di halaman warung itu juga ada beberapa tempat makan berisi kumpulan cewek kuliahan, mungkin mereka sedang touring. Tapi.. tapi kok, lihatin Azam terus, iyalah Mas Azam cakep sih ma syaa Allah, pakai polo shirt warna burgundy, yang memperlihatkan lengannya yang kekar, dipadu dengan sirwal joger warna coksu, mana pakai kacamata hitam ray-ban lagi. Pasti klepek-klepek yang mandang.


Silvira merasa sebal melihat pemandangan itu dari dalam mobil. Segitu tampankah suamiku sampai gak kedip yang lihat. Kemudian Silvira turun dari mobil dan menghampiri Azam, bergelayut manja di lengan suaminya yang masih berdiri berbicara dengan ibu penjualnya.


Sementara kumpulan cewek itu terlihat kecewa melihat Silvira. Yes, he is mine... batin Silvira. Kemudian Fahri dan Farhan turun dari mobil juga.


"Umma, kita duduk dimana?" tanya Farhan.


"Di situ kak, dekat jendela," sahut Silvira yang masih memegang erat lengan suaminya.

__ADS_1


Azam yang merasa aneh dengan tingkah istrinya mulai bertanya.


"Beib, kamu kenapa dari tadi megangin aku kaya gini, aku ga bakal lari kok," bisik Azam.


"Habisnya cewek-cewek itu lihatin Mas dari tadi, aku kan sebel," bisik Silvira.


"Hahahaha, kamu ini ada-ada aja, yuk duduk sama si kembar," ucap Azam yang mengajak Silvira duduk.


Mereka beristirahat dan makan sekitar tiga puluh menit, Azam juga sudah lebih segar badannya. Dan mereka melanjutkan perjalanan.


Hampir ashar mereka tiba di kos kosan. Si kembar segera mandi, begitu pula Azam. Sedangkan Silvira masih sibuk membuka koper dan merapikan oleh-oleh yang diberikan ibu.


Sepulang sholat ashar dari masjid, Azam dan si kembar memakan bakso bakwan yang dibawa dari kota apel, yang sebelumnya dipanaskan dulu oleh Silvira.


"Hmm, ma syaa Allah, enak Umma," ucap Farhan.


"Iya Umma enak banget, sudah lama kita ga makan bakso," imbuh Fahri.


"Iya, in syaa Allah Umma bikinkan bakso sendiri nanti," ucap Silvira.


***


"Mas, ganti pakai ini," ucap Silvira sambil menyerahkan celana pendek kepada Azam yang sedang rebahan.


Azam terheran, namun bangkit juga dan mengganti celananya dengan celana pendek yang diberikan Silvira.


"Buat apa sih?" tanya Azam.


"Yok tengkurap sini, aku pijitin," sahut Silvira. Azam hanya menurut saja. Silvi mengoleskan minyak zaitun ke punggung dan kaki Azam. Dan mulai memijatnya.


"Aduh Mas, badan kamu keras banget, gag bisa dipijit, ini otot semua ga ada lemaknya ya," ucap Silvira.


"Hahahaha, ya udah ga usah dipijit, dielus aja,"


"Baiklah," Silvira menurut, dia hanya ingin Azam nyaman melepas lelahnya, agar besok bangun pagi bisa segar kembali. Dan benar, Azam merasa nyaman hingga ketiduran.


*****


Hari dan bulan berganti...

__ADS_1


Renovasi rumah Azam dan Silvira sudah selesai. Mereka juga sudah pindah ke rumah lagi. Namun si kembar masih berlibur di rumah orang tua Adam. Dan ini akhir pekan, jadi Azam sedang libur.


Silvira berdiri di dekat ruang makan, melihat lantai atas berubah drastis. Kamarnya tetap, namun kamar si kembar diubah menjadi kamar calon adik mereka, sedangkan ruang mini gym sekarang menjadi kamar si kembar.


Ruang keluarga lama diubah menjadi kamar tamu, dan ada bangunan baru tembus dari ruang makan, yaitu ruang keluarga baru yang lebih luas, di sebelahnya musholla, dan lantai atasnya untuk gym mereka.


Silvira tersenyum puas, dan Azam mengejutkannya dengan memeluknya dari belakang.


"Gimana Beib? Suka?" tanya Azam.


"Hmm, iya Mas, alhamdulillah rumah kita jadi lebih lega, kalau ayah ibu mau nginap sudah ada kamar tamu baru yang lebih luas," ucap Silvira.


"Dan semoga kamar tengah itu segera ada yang menempati," lanjutnya sambil melihat ke arah kamar calon bayi mereka.


"Aamiin, tapi Mas minta, kamu jangan terlalu memikirkan hal itu, nanti kamu stress, kita jalani, nikmati, syukuri aja apa yang sudah Allah berikan kepada kita, Mas sudah cukup bahagia bersamamu juga Fahri dan Farhan," ucap Azam.


Silvira berbalik badan dan menenggelamkan kepalanya ke dalam pelukan Azam. Memeluk Azam dengan erat.


"Makasih, makasih Mas, jazaakallahu khayr," ucap Silvira.


"Wa jazaakillaahu khayr Beib, makan yuk, tuh Bu Wati sudah siapkan makan siang," sahut Azam.


"Oh, iya," ucap Silvira segera melepaskan pelukannya, rupanya dia baru sadar dari tadi ada bu Wati yang melihat mereka dari dapur.


"Segera dimakan Mba Silvi, Pak Azam, keburu dingin nasinya," ucap Bu Wati sambil menuangkan air putih di meja makan.


Azam dan Silvira segera ke meja makan untuk makan siang, hari ini bu Wati yang masak karena Silvira pengen makan sayur asem jawa dan pepes ikan keranjang, juga dadar jagung.


"Maaf ya Mas, hari ini aku pengen banget makan sayur asem, jadi bu Wati aja yang masak," ucap Silvira merasa tak enak karena tidak masak untuk Azam.


"Iya gak papa Beib, aku tetap makan kok, asal kamu suka dan bahagia, ini masih masuk buat aku," sahut Azam.


"Habis ini kita ke klinik ya, waktunya lihat laporan pekanan dan ada rekanan mau ketemu," ucap Silvira.


"Baik bos, tapi rekanan apa?"


"Itu, maintenance alat aja, tapi gak enak kalau kita gak nemenin," sahut Silvira.


"Okelah, gak ada kata libur ya buat pengusaha,"

__ADS_1


__ADS_2