
"Mas Azam..." lirih Silvira, sambil mencari celah melihat suaminya.
Dia tidak berani mendekat karena dokter dan beberapa perawat sedang melepas beberapa alat bantu nafas dan juga selang kateter.
Setelah selesai, beberapa perawat segera pergi, tinggal seorang bersama dokter Yudha.
"Ibu, ini bapak Azam sudah sadar namun mungkin beliau masih ada keterlambatan berbicara dan mengenal sesuatu, nanti kita akan terapi, kemudian karena terlalu lama berbaring, seperti kita ketahui hampir seratus hari pak Azam tertidur, mungkin akan kesulitan berjalan, nanti kita juga bisa terapi, yang penting, untuk saat ini pak Azam sudah jauh lebih baik, sering ajak beliau mengobrol, agar syarafnya juga cepat pulih kembali," kata dokter Yudha.
"Iya Dok, alhamdulillah, apapun itu akan kami jalani demi kesembuhan suami saya, kami pasrahkan pengobatannya kepada Dokter dan tim," ucap Silvira.
"Pak Azam, ini ada yang datang, bapak kenal siapa beliau?" tanya dokter Yudha.
Dengan selang oksigen nasal di bawah lubang hidungnya, Azam menatap wanita berpakaian serba hitam, bercadar, dan perutnya terlihat membuncit, Azam cukup lama memindai wanita di depannya itu.
"Beib.." ucapnya kemudian, lirih dan terdengar lemah.
"Mas, iya ini aku, Silvi," ucap Silvira kemudian mendekati Azam dan meraih tangannya.
Dokter Yudha dan perawat itu segera meninggalkan ruang rawat Azam, hingga Silvira bisa berinteraksi dengan Azam lebih dalam lagi, namun sebelumnya ia merubah posisi bed bagian atas hingga Azam bisa setengah duduk.
Silvira sampai tak bisa berkata-kata, mata itu telah terbuka dan bisa melihatnya kembali, tangan yang ia raih juga merespon, senyum terkembang di bibir yang telah lama ia rindukan. Air mata lolos begitu saja, ya.. air mata bahagia, setelah sekian lama, setiap malam mengetuk langit dengan doa-doanya. Allah telah ijabah, Azam telah kembali, walaupun masih terus diterapi agar bisa pulih seutuhnya.
"Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah," hanya itu yang bisa Silvira ucapkan.
Azam meraih tisu yang ada di meja sampingnya, dia mencoba menghapus air mata Silvira. Silvira membuka cadarnya, agar Azam dengan mudah mengelap kedua pipinya yang basah.
"Kemari Beib," ucap Azam pelan. Silvira mendekat, dan mendarat di dada Azam, Azam memeluknya erat, semakin pecah tangisan Silvira. Azam ingin bertanya banyak tentang apa yang terjadi, namun benar yang dikatakan dokter tadi, bahwa Azam masih kesulitan bicara.
Setelah sepuluh menit, Silvira lebih tenang. Dan ia mulai bercerita kepada Azam.
"Mas, ini calon bayi kita, Mas elus gih, dia kangen banget sama abati nya," ucap Silvira sambil menuntun tangan Azam untuk menyentuh perutnya.
__ADS_1
"Sudah besar Beib, berapa lama aku tidur?" tanya Azam masih dengan terbata-bata.
"Sembilan puluh delapan hari, iya dua hari lagi genap seratus hari Mas," jawab Silvira.
"Fahri, Farhan?" tanya Azam yang mengingat kedua anak kembarnya.
"Sedang perjalanan ke sini, dia sama Ammar dan mba Arum, selama kita di sini, Ammar dan mba Arum yang merawat mereka," jawab Silvira.
"Oh," itu saja yang Azam katakan, sebenarnya dia ingin banyak bertanya, namun masih ter-delay, lidahnya masih sulit berucap.
"Maaf," ucapnya kemudian, bulir air mata jatuh di pipi Azam. Silvira segera menyekanya, dan tersenyum, ia ciumi wajah suaminya itu.
"Kenapa minta maaf? Bukan kesalahan Mas, ini sudah takdir Allah Mas, alhamdulillah kita bisa melewatinya, alhamdulillah, alhamdulillah, terima kasih sudah kembali Mas," ucap Silvira sambil tersenyum.
"Kamu pasti kesulitan hamil sendirian," ucap Azam. Silvira hanya tersenyum.
"Alhamdulillah, dia anak yang pintar, ma syaa Allah, aku sama sekali sudah gak mual-mual kok, dan dua hari sekali, ibu membawakan makanan untuk aku," ucap Silvira sambil mengelus perutnya, dan si janin yang ada di dalam bergerak kuat.
"Kapan kamu melahirkan?" tanya Azam.
"In syaa Allah dua bulan lagi Mas, semoga Mas sudah benar-benar pulih ya, bisa temani aku melahirkan," ucap Silvira penuh harap.
"Aamiin, in syaa Allah sayang,"
Siang harinya Azam dipindahkan ke ruang rawat biasa, bukan ICU lagi, dia pindah ke kamar VIP.
"Mukaku gak enak, mau cuci muka," ucap Azam. Silvira segera ke kamar mandi mengambil baskom dan handuk kecil. Kemudian menyeka wajah Azam.
"Kaca," ucap Azam. Silvira segera mengambil apa yang diminta suaminya itu dari tasnya.
Azam melihat bayangannya di kaca, kepalanya masih terbalut perban, kumis yang selama ini tak pernah ia tumbuhkan tiba-tiba memanjang, jenggot yang selama ini rapi, tumbuh tak karuan.
__ADS_1
Ingin sekali ia berkata.. "Beib, aku jadi botak, dan sejelek ini, kenapa kamu masih setia bersamaku?"... namun lidahnya kelu tak bisa berkata, hanya memandangi istrinya yang tersenyum di sampingnya.
"Kenapa? Kaget ya lihat penampakan sendiri?" tanya Silvira sambil tersenyum. Azam tak menjawab namun terus memandang Silvira dengan perasaan sedih.
"Tadi aku sudah pesankan ke Mas Amir pisau cukur kumis, dan jangan khawatir, rambut kepala itu pasti tumbuh lagi," ucap Silvira.
"Kamu?" tanya Azam.
"Aku? Aku kenapa?" tanya Silvira.
"Aku begini, kamu gak pengen tinggalin aku?" lirih Azam.
"Hmm, ngomong apa sih Mas, yang penting sekarang kita fokus sama pengobatan dan terapi Mas Azam, semangat lah untuk pulih lagi, hanya itu pintaku," ucap Silvira.
Senyum terkembang di bibir Azam. Bahagia dan bersyukur tentunya, dia seperti mendapat kesempatan hidup kedua.
"Aku mau sholat," ucap Azam ketika mendengar azan dhuhur berkumandang. Silvira segera membantu Azam bertayamum, kemudian duduk di sofa, agar Azam bisa sholat dengan tenang, dan ia tetap mengawasi dari sofa.
Pintu terbuka, Ayah, Ibu, dan mas Amir datang. Mereka seakan tak percaya melihat Azam yang kini tengah mendirikan sholat, ayah dan Mas Amir pamit ke masjid untuk sholat juga. Ibu duduk di dekat Silvira, sambil mendengarkan menantunya menceritakan keadaan Azam, air mata menetes juga di pipi ibu.
Selesai salam, Azam menoleh ke arah Silvira dan Ibunya.
"Ibu," panggilnya. Ibu segera bangkit untuk memeluk anaknya.
"Azam, anakku, terima kasih sudah kembali Nak," ucap Ibu, sambil menciumi kedua pipi Azam. Tak lama kemudian Ayah dan Amir datang, gantian Silvira dan Ibu yang pamit ke masjid.
Sepanjang perjalanan dari kamar rawat ke masjid dan sebaliknya, ibu tak henti-hentinya berterima kasih kepada Silvira yang telah setia mendampingi Azam, dan berharap seterusnya ia mau menemani Azam dalam masa pengobatannya.
"Tentu saja Bu, jangan khawatir, saya akan menjaga Mas Azam sampai benar-benar pulih," ucapnya, tak terasa mereka sampai ke kamar rawat Azam lagi. Dan betapa terkejutnya Silvira melihat Azam di sana.
"Mas Azam..."
__ADS_1