Ayah Untuk Anak Kembarku

Ayah Untuk Anak Kembarku
#17


__ADS_3

"Mas, bukannya baru enam bulan kita bercerai, bagaimana Mas sudah menikah dengan wanita yang Mas cintai, Mas juga selingkuh dariku?" tanya Karin dengan emosi.


"Jangan salah paham, kami memang baru menikah, tapi aku sudah jatuh cinta padanya, kalau gak percaya tanya saja pada Ammar, dia yang mengenalkan kami bulan lalu, dan alhamdulillah Jumat kemarin kami menikah," jawab Azam dengan tenang.


Karin meradang mendengarkan jawaban Azam itu, harapannya untuk kembali dengan Azam berubah menjadi dendam, dendam untuk merebut Azam kembali padanya. Kalaupun dia tidak bisa kembali, wanita itupun tidak boleh memiliki Azam.


🚗🚗🚗


Pukul setengah empat sore, Azam berjalan keluar kantornya. Mobilnya belum selesai di bengkel, sehingga sesuai kesepakatan tadi, Silvira yang menjemputnya.


"Mas, es degan satu ya, seperti biasa gak pake gula," ucap Azam sambil duduk di bangku warung es degan di depan kantornya itu.


"Iya Pak Azam," ucap penjual es degan itu yang sudah kenal baik dengan pegawai kantor Azam.


"Kok tumben, sore belinya, biasanya pas jam makan siang," ucap penjual es degan itu sambil memberikan pesanan Azam tadi.


"Iya Mas, sambil nunggu istri saya jemput, mobil saya lagi diservis," jawab Azam kemudian menikmati es degannya. Tak lama kemudian Mercy Silvira berhenti di sebelah warung es degan itu, warung itu memang terbuka sehingga orang dari luar bisa melihatnya, Silvira segera turun dan menghampiri suaminya itu.


"Assalamualaikum Mas, sudah lama nunggu?" ucap Silvi.


"Waalaikumusalam, baru saja Dik, kamu mau juga? Aku pesenin ya,"


"Boleh," ucap Silvira sambil duduk di sebelah Azam.


Di seberang jalan, di dalam mobil rupanya Karin dan ibunya mengintai tanpa sepengetahuan Azam.


"Rupanya benar wanita itu Ma yang Mas Azam nikahi, yang aku lihat di mall waktu itu," ucap Karin kepada ibunya.


"Tapi siapa dia? Kamu kenal?" tanya ibunya.


"Mukanya ditutup cadar gitu Ma, gimana bisa tahu," jawab Karin.


"Eh mereka masuk mobil, kita ikutin aja," ucap ibu Karin. Karin langsung tancap gas mengikuti mobil Azam.

__ADS_1


Azam dan Silvira kembali ke klinik kecantikan milik Silvira lagi, karena Silvira lupa membawa sesuatu tadi.


"Mereka ke klinik kecantikan, da Silva, kita tunggu dulu Ma, eh tapi Mas Azam gak ikut turun, mungkin mereka cuma sebentar, kita tunggu," ucap Karin. Tak lama kemudian Silvira keluar dari klinik dan kembali masuk mobil.


"Ma, Mama coba masuk ke klinik, cari tahu siapa wanita itu, aku mau ikuti mereka lagi, nanti Mama aku jemput lagi," ucap Karin dan ibunya hanya menuruti. Karin segera mengikuti mobil Azam lagi dan ibunya segera masuk ke klinik.


Ketika di dalam klinik, ibunya Karin disambut ramah oleh pegawai customer service.


"Ada yang bisa kami bantu Bu?" Tanya mbak cs itu.


"Iya Mba, saya mau lihat-lihat dulu, untuk anak saya, baru pulang dari luar negeri, pengen cari perawatan kulit, boleh saya lihat paket perawatannya?" tanya ibunya Karin basa-basi.


Kemudian mbak cs itu menjelaskan beberapa paket perawatan sambil menunjukkan pamflet mereka.


"Oh jadi begitu Mba, boleh saya bawa pamfletnya, biar saya tunjukkan ke anak saya,"


"Iya Bu, silahkan,"


"Eh iya, Mba pas mau masuk ke sini tadi, saya lihat wanita bercadar pakai baju warna ungu gelap, itu pelanggan di sini juga ya, walau gak kelihatan wajahnya, tapi dari matanya wanita itu sepertinya sangat cantik ya," ucap ibunya Karin mulai mencari tahu.


"Oh begitu, eh sepertinya klinik da Silva ini saya pernah lihat juga di kota lain, apakah sama juga pemiliknya?"


"Iya benar ibu, memang ada empat cabang klinik kami, dan semuanya ibu Silvira pemiliknya,"


"Oh begitu, saya cuma kagum saja melihat perempuan cantik, masih muda tapi sudah sukses menjadi pengusaha, terima kasih Mba, informasinya, nanti saya tanyakan anak saya dulu mau yang bagaimana perawatannya,"


Di dalam mobil Silvira dan Azam...


"Dik, ada pesan sepertinya, tolong kamu bacakan ya, takutnya penting," ucap Azam seraya menyerahkan ponselnya kepada Silvira, dan dia kembali fokus menyetir.


"Hmm, dari Ammar Mas, katanya si kembar mau main dan nginap di rumah mereka, eh ada lagi, dia gak nanya boleh apa nggak, tapi cuma ngasih tau, eh pesan baru lagi, katanya memberi..." Silvira tidak melanjutkan membaca pesan itu, namun pipinya memerah karena malu.


"Kenapa gak dilanjutkan? Apa kata Ammar? Memberi apa katanya," tanya Azam penasaran.

__ADS_1


"Oh itu ya, memberi kesempatan pengantin baru ya, hahaha," ucap Azam.


"Au ah, nanti Mas baca sendiri, kita langsung pulang aja, pengen segera mandi, lengket semua rasanya ni badan," ucap Silvi.


"Wah, pas banget Mas juga sama, kita barengan aja ya, ya, ya," goda Azam.


"Apasih Mas,"


Dan mereka terus bercanda hingga tak terasa sudah memasuki pekarangan rumah mereka.


"Oh jadi di sini rumah mereka," gumam Karin dari dalam mobilnya, kemudian dia kembali ke klinik kecantikan tadi menjemput ibunya.


🍲🍲🍲🍲🍲


Azam dan Silvira selesai mandi, mereka segera turun ke bawah. Sambil menunggu Maghrib tiba, Silvira menyiapkan bahan untuk memasak makan malam, sedangkan Azam membaca mushaf Al quran di meja makan. Silvira merasa tenang hatinya mendengar suara Azam yang mengaji.


Tak terasa adzan Maghrib berkumandang, namun di luar hujan sangat deras sehingga Azam mengurungkan niatnya pergi ke masjid.


"Mas gak ke masjid?" tanya Silvira.


"Hujannya lebat dan angin kencang di luar Dik, kalau hujan lebat, boleh sholat di rumah, kita sholat sama-sama ya," ucap Azam, Silvira mengangguk dan segera mengambil wudhu dan mereka sholat di mushola mereka di rumah.


Selesai sholat Maghrib, Silvira memasak capjay seafood kuah dan acar untuk makan malam mereka. Azam menghangatkan susu coklat rendah gula dan lemak untuk mereka.


"Mas sudah siap, aku ganti baju dulu ya, Mas tunggu di sini dulu, aku bau bawang," ucap Silvi sambil berlari menuju kamarnya di lantai atas.


Azam tersenyum melihat istrinya itu, yang selalu berusaha tampil cantik dan harum di hadapannya. Sambil menunggu Silvi berganti pakaian, Azam mencuci peralatan dapur yang dipakai Silvi memasak tadi.


Silvira mengganti pakaiannya dengan longdress tanpa lengan dan dilapisi sweater cardigan di luarnya karena udara sangat dingin.


Dia menguncir rambutnya ke atas dan menyemprotkan parfum untuk menghilangkan bau bawang. Setelah itu dia kembali ke dapur lagi, dia terkejut melihat dapur sudah bersih dan kinclong. Rupanya Azam yang membereskannya.


"Mas kok diberesin," ucap Silvi.

__ADS_1


"Iya, gak ada salahnya membantu pekerjaan istri, makan yuk, Mas lapar,"


Kemudian mereka segera makan, malam itu mereka makan di meja dapur dan duduk di bangku bar.


__ADS_2