
Silvira menarik nafas dan menghembuskan nya pendek-pendek. Keringat bercucuran dari dahinya.
Azam terlihat bingung mengapa dokter Rina belum memulainya, beliau masih duduk dan melihat saja. Sadar dengan kebingungan Azam, dokter Rina mulai bicara.
"Masih nunggu pembukaannya lengkap Pak, air ketuban juga masih utuh, kita tunggu sebentar lagi, memang istri anda sangat kesakitan, namun begitulah prosesnya ketika si bayi mencari jalan lahirnya," ucap dokter Rina.
"Baik Dok," sahut Azam.
"Sabar sayang ya, Bismillah Bismillah bisa ya, kuat ya sayang," ucap Azam yang lengannya dipegang erat oleh Silvira. Silvira hanya mengangguk kecil sambil menahan sakit.
"Ibu mau minum dulu?" tanya dokter Rina. Silvira mengangguk, seorang bidan membawa botol air sedotannya. Azam menerimanya dan membantu Silvira meminumnya.
"Sudah Mas," ucap Silvira. Dan tiba-tiba terdengar suara "Pyuuk," seperti plastik berisi air pecah.
"Aku pipis Mas," ucap Silvira.
"Hah?" Azam bertanya-tanya dan menoleh ke dokter Rina.
"Ketubannya pecah," sahut dokter Rina, mematahkan keyakinan bahwa Silvira tengah buang air kecil.
"Kita mulai ya, saat perutnya menegang, ibu mengejan ya, namun kalau tidak tegang ibu tidak boleh mengejan, istirahat dulu," ucap dokter Rina memberi instruksi. Silvira mengangguk paham.
"Sakit Dok," ucap Silvira ketika perut dan pinggangnya mulai tegang lagi.
"Baik, tarik nafas, mengejan ya, satu, dua, tiga,"
"Emmmmmmghhh..... hufh huh..."
"Sedikit lagi, lebih kuat ya,"
Silvira semakin erat mencengkeram tangan Azam.
"Emmmmmggggghhhhh...haaah"
"Iya kepalanya keluar Bu,"
Azam spontan menoleh dan melihat sendiri kepala kecil itu keluar dari jalan lahirnya, air matanya lolos begitu saja.
"Mengejan sedikit lagi bu, ini yang paling besar bagian bahunya,"
"Emmmmmggghhhh...aaah"
__ADS_1
"Owaaa....owaaa.owaaa..." makhluk mungil itu lahir.
"Bayinya perempuan Pak, selamat ya," ucap Dokter Rina, Azam hanya ternganga, masih belum percaya apa yang dilihatnya. Kini dia telah sempurna sebagai lelaki yang memiliki anak. Kemudian ia menciumi kening Silvira. Menangis di sana tak bisa mengucap sepatah katapun.
Bidan segera membersihkan bayi itu dengan handuk kecil, kemudian menengkurapkannya di dada Silvira untuk inisiasi menyusu dini.
"Assalamualaikum Fatimah, selamat datang di bumi Allah nak," ucap Silvira ketika memeluk bayinya. Azam segera mengeluarkan ponsel dari sakunya dan mengambil beberapa gambar Silvira bersama bayinya.
Sementara itu dokter Rina mengeluarkan placenta yang masih ada di dalam rahim Silvira.
Setelah menemukan ****** susu Umma nya dan dirasa sudah cukup, bidan mengambil bayi mungil itu dan membersihkannya lebih bersih lagi, kemudian diukur panjang dan ditimbang beratnya.
"48cm, 3,2kg," ucap Bidan itu dan yang lain mencatatnya.
"Silakan Pak," Ucap Bidan itu meminta agar Azam mendekat melihat bayinya. Baby Fatimah sudah rapi dengan bedong pink.
"Ma syaa Allah," ucap Azam.
"Saya akan mentahniknya, bisa minta tolong diambilkan gambarnya?" ucap Azam seraya menyerahkan ponselnya.
Azam mengeluarkan cepuk kecil dari sakunya yang berisi kurma ajwa, dia kunyah sedikit, lalu ia ambil sedikit dan dioleskan ke langit-langit mulut baby Fatimah.
Sementara itu dokter Rina masih merawat Silvira.
"Hmm sebentar saya periksa lagi,.. tidak perlu Bu, tidak ada yang robek," jawab Dokter Rina.
"Gak papa Dok tidak dijahit?" tanya Azam yang ikut mendengarkan.
"Tidak apa-apa Bapak, tidak ada robekan, Bu Silvira elastis dan pintar mengejan ma saya Allah, in syaa Allah bisa kembali seperti semula," ucap Dokter Rina menjelaskan. Azam hanya mengangguk-angguk.
"Ini ibu Silvira diseka dan diganti pakaiannya, nanti kalau sudah bersih semua bisa langsung pindah ke ruang rawat VVIP sesuai keinginan Bapak, saya tinggal dulu ya," ucap Dokter Rina berpamitan.
"Baik Dok, terima kasih," ucap Azam.
"Bapak bisa tunggu di luar dulu," ucap Bidan yang sedang menyeka Silvira.
"Iya, sebentar saya ambil foto bayi saya sekali lagi, mau saya kirimkan ke utinya," ucap Azam seraya memotret baby Fatimah sekali lagi.
"Mas bisa minta tolong kirimkan juga ke bude Harti dan Mami, pakai ponsel aku di tas," pinta Silvira.
"Iya Beib, aku tunggu di luar ya," ucap Azam yang keluar kamar bersalin seraya membawa tas tangan milik Silvira.
__ADS_1
Azam mengirim foto dan pesan bahwa anaknya telah lahir dengan sehat, kepada ibu, bude Harti, dan maminya Adam, mertua Silvira yang dulu. Bagaimanapun mereka tetap keluarga yang harus dibagi juga berita bahagia itu.
Tak lama kemudian telepon Azam berdering.
"Assalamualaikum Bu," sapa Azam.
"Waalaikumusalam, sudah lahir ya le, selamat ya arek ganteng, kamu sudah jadi bapak beneran, perempuan ya le,?" ucap Ibu fi seberang.
"Iya Bu, alhamdulillah, Ibu sudah nyampe mana ini?" tanya Azam.
"Baru masuk kota, palingan sepuluh menit lagi nyampe rumah sakit, kamu dimana sekarang?"
"Di depan ruang bersalin Bu,"
"Lho tadi kamu gak temenin istrimu melahirkan?" tanya Ibu yang kaget mengira Azam tidak menemani Silvira.
"Iya aku temani, aku barusan keluar karena Silvira masih diseka dan diganti bajunya, aku lihat sendiri Bu kepala anakku keluar," ucap Azam terkenang yang dilihatnya tadi.
...
Azam memeluk istrinya yang setengah duduk di atas bed nya, membelai kepalanya, dan bertubi-tubi menciumi wajah istrinya itu.
"Mas sudah Mas, aku gak bisa nafas," ucap Silvira yang merasa pengap.
"Hmm, makasih sayang, jazaakillaahu khairan, kamu sudah melahirkan anak kita, sakit ya, maafin aku, aku janji gak akan menyakitimu," ucap Azam.
"Waiyyak Mas, makasih juga sudah menemaniku, melihatku, mendukungku berjuang sekuat-kuatnya melahirkan anakmu, aku boleh minta sesuatu,"
"Apa sih yang gak buat kamu, minta apa coba? Kalung berlian, rumah baru, mobil baru?" tanya Azam.
"Laganya Mas, si Defender aja masih nyicil sama Mas Amir, nawarin berlian, rumah sama mobil," cebik Silvira meledek suaminya, yang tentu saja uangnya tak sebanyak dulu karena harus membayar biaya rumah sakit dulu.
"Wah ngeledek Mas nih, terus kalau Mas uda gak punya, kamu mau ninggalin Mas gitu," ucap Azam menanggapi candaan Silvira.
"Ya gak lah Mas, aku gak butuh semua itu, yang aku minta, Mas tetap menyayangiku, mencintaiku, jadi tempatku bersandar, bermanja, seperti yang kita lakukan selama ini, itu aja, meskipun nanti anak kita banyak, aku pengen Mas tetap memanjakan aku," pinta Azam.
"Hmm, iya in syaa Allah, aku tetap memanjakanmu, kita akan tetap mesra sampai tua, aduh kenapa kamu gemesin banget sih Beib," ucap Azam sambil mencubit kedua pipi Silvira.
"Ah, sakit Mas, kok dicubit, dicium dong," protes Silvira.
"Oke, sini," ucap Azam seraya menangkap kedua pipi Silvira kemudian menciumi wajah istrinya yang tampak chubby itu, saat Azam asyik menciumi Silvira tiba-tiba pintu terbuka.
__ADS_1
"Kalian lagi ngapain?"