
"Andini kemarin main ke sini, nyari kamu, dan dia terkejut kamu sudah menikah lagi, dia menangis dan bilang kalau mau jadi yang kedua," ucap Amir.
"Mas Amir nih kenapa sih sebenarnya? Pengen nikah lagi ya?" tanya Azam heran.
"Bukan Mas, tapi kamu, uang kamu banyak, punya pekerjaan tetap, badan kamu juga bagus, kenapa gak nikah lagi aja, punya banyak anak," sahut Amir.
Azam terkekeh mendengar perkataan kakaknya itu.
"Begini Mas, poligami itu bukan sekedar kita kaya dan mapan, tapi juga harus adil, sekarang ini aku sangat sangat mencintai Silvira sebagai istriku, dia mampu melayaniku dengan baik, pokoknya ma syaa Allah dia yang terbaik untukku, kalau soal anak, jujur aku juga menginginkan anak kandung, tapi bagiku si kembar itu juga sudah cukup, mereka anak baik dan sholih, kalau aku menikah lagi dan aku tidak bisa mencintai istri baruku seperti aku mencintai Silvira, bisa dosa aku. Dan lagi belum tentu juga wanita itu bisa memberiku anak, aku jalani dan syukuri yang Allah berikan padaku saat ini saja Mas,"
"Hmm baiklah, kalau aku ketemu Andini akan aku sampaikan, Din, maaf Azam sudah cinta mati sama istrinya... hahahaha," sahut Amir sambil tertawa diikuti Azam.
"Hah, sudahlah, aku mau nidurkan anak-anak dulu," ucap Azam.
"Habis itu kita ngobrol lagi ya," ucap Amir.
"Wah maaf Mas, aku sudah minta istriku siap-siap di kamar atas, kasian nanti dia nunggu lama," sahut Azam.
Amir tersenyum mendengar jawaban adiknya itu, ternyata setia juga dia.
Setelah menidurkan si kembar di kamar sebelah orang tuanya, Azam naik ke kamar atas, pasti Silvira sudah menunggunya.
Azam memasuki kamar, namun tidak mendapati Silvira, Azam mencari di sekeliling kamar.
"Beib.." panggil Azam, tidak ada sahutan. Azam masuk ke kamar mandi, namun kosong. Kemudian Azam membuka tirai pintu balkon, gelap sekali di luar karena lampu balkon padam dan belum diganti, Azam menajamkan penglihatannya dan mencari sekali lagi, saat hendak menutup kembali tirai itu, dia melihat sesosok yang sedang berjongkok di bawah pagar balkon. Dia segera membuka pintu kaca itu.
"Beib, kamu kenapa di sini?" tanya Azam yang lega akhirnya menemukan kekasih hatinya itu. Azam ikut berjongkok dan memeluknya.
"Badan kamu dingin banget, masuk yuk," ajak Azam. Silvira tak bergeming, malah sesenggukan menangis.
"Kok nangis," Azam semakin bingung, kemudian memaksa Silvira masuk ke kamar dengan menggendongnya. Kota apel memang terletak di pegunungan, dan suhu di sana sangat dingin terlebih di malam hari.
Azam membaringkan Silvira di tempat tidur, kemudian menutupi tubuhnya dengan selimut. Silvira masih sesenggukan, Azam sengaja membiarkannya dulu agar lebih tenang.
Setelah agak tenang, Azam mulai menanyainya.
__ADS_1
"Beib, kamu kenapa? Ada yang salah? Ceritain sama Mas, biar Mas tahu salahnya dimana,"
Silvira menarik nafas dalam dan mulai bicara.
"Mas Amir sebenci itukah sama aku? Kenapa dia nyuruh Mas Azam poligami?"
"Hah? Kamu tahu dari mana?" tanya Azam balik.
"Tuh kan bener," ucap Silvira.
"Sebentar, kamu dengar pembicaraan kami?" tanya Azam, Silvira mengangguk.
"Pasti sebagian ini dengernya, kalau sampai selesai, gak mungkin ngambek kaya gini," ucap Azam sambil tersenyum.
"Trus, Andini itu siapa? Katanya mau dijadikan istri kedua Mas,"
"Itukan maunya dia, Mas gak mau Beib, makanya tadi harusnya ikut ngobrol, biar jelas, bisa tabayun," ucap Azam sambil mencubit hidung Silvira yang sudah merah karena menangis.
"Dengerin Mas ya Beib, kemarin itu Andini ke sini, dia tetangga sini, dulu kami satu sekolah, dia ngikutin Mas terus di sekolah, dari SD, SMP, SMA, dia ngikutin terus, mas sekolah di sini dia ikut, masuk sana dia ikut juga. Nah kemarin dia baru pulang kuliah S2 di luar negeri, nyariin Mas karena dia dengar Mas sudah cerai dengan Karina. Trus Mas Amir bilang kalau Mas sudah menikah lagi denganmu, eh dianya nangis, mau juga jadi istri kedua," kata Azam mencoba menjelaskan.
"Terus kenapa Mas Amir nyuruh poligami aja? Itu kan Mas Amir benci sama aku,"
"Trus Mas jawab apa?"
"Mas jawab, buat apa poligami, kan sudah punya istri yang cantik, seksi, pandai melayani suami, hmm ma syaa Allah," jawab Azam, yang membuat Silvira memerah pipinya.
"Mas gombal kali, aku sampe insecure apa karena aku belum hamil anakmu juga, makanya Mas disuruh nikah lagi,"
"Aku sudah sangat bersyukur bisa diberi kesempatan membesarkan Fahri dan Farhan, aku sangat menyayangi mereka Beib. Emangnya Andini sudah pasti bisa hamil anakku? Kan belum tahu juga, justru kamu yang sudah terbukti punya anak kembar,"
"Hmm, iya Mas,"
"Mana istri kesayanganku yang selalu percaya diri itu, hmm?"
"Hmm," Silvira akhirnya bisa tersenyum.
__ADS_1
"Yuk, sekarang buktikan, kalau aku gak butuh istri selain kamu, Hmm," ucap Azam.
***
Esoknya sebelum subuh...
Azam mengeriyipkan matanya, dia melihat Silvira masih meringkuk memeluknya di bawah ketiaknya. Dilihatnya jam di dinding menunjukkan pukul empat pagi.
"Beib, mandi yuk, sudah mau subuh ini," ucap Azam sambil membelai rambut panjang Silvira.
"Hmm, Mas," ucap Silvira sambil masih terpejam.
"Apa? Yuk bangun," ajak Azam sekali lagi.
"Hmm, makasih Mas, sudah mempercayaiku mampu menjadi satu-satunya untukmu, Mas selalu menjaga perasaanku, dan Mas dengan sabar menungguiku sampai selesai menangis. Tapi rasanya terimakasih aja gak cukup, jazaakallahu khayr, semoga Allah sendiri yang membalasmu dengan kebaikan," ucap Silvira yang akhirnya terbangun.
"Aamiin, waiyyaki," ucap Azam.
"Mas mandi dulu, aku beresin kasurnya," sahut Silvira. Azam segera melompat ke kamar mandi dan segera mandi, Silvira juga menyiapkan baju Azam selesai menata tempat tidur.
Setelah Azam keluar kamar mandi, ganti dia yang mandi. Kemudian segera turun untuk sholat subuh bersama Ibu. Selepas sholat subuh, Silvira membantu ibu memasak sarapan di dapur.
Sedangkan Azam berolah raga di halaman samping bersama anak-anak.
Ibu dan Silvira yang menyajikan makanan di meja makan, tersenyum melihat Azam yang berlarian bersama anak-anak.
"Alhamdulillah Bu, Fahri dan Farhan bertemu ayah seperti Mas Azam yang sangat menyayangi mereka," ucap Silvira.
"Hmm, iya alhamdulillah, Azam juga terlihat sangat bahagia, yuk panggil mereka sarapan," ucap Ibu. Silvira segera memanggil ketiga jagoannya itu, sedangkan ibu memanggil ayah yang menyiram bunga di depan.
Setelah mereka berkumpul, mereka sarapan bersama, hari itu Ibu membuat nasi jagung, dengan urap, rempeyek dan ikan asin, tak disangka si kembar juga lahap memakannya.
"Assalamualaikum,"
Ada suara dari depan, kemudian semakin jelas mendekat, rupanya orang itu masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Waalaikumusalam," jawab semuanya.
"Andini??" ucap Azam.