
Sepanjang perjalanan ke tempat kajian, Azam menggenggam erat tangan Silvira. Mereka hari itu menggunakan mobil Silvira. Sesampainya di tempat parkir, Azam memberikan sesuatu yang disimpannya di laci dashboard mobil itu.
"Ikatlah ilmu dengan menulis, nanti kalau ada yang penting di materi kajian Ustadz, kamu tulis di sini ya sayang," ucap Azam sambil memberikan buku agenda kecil bersampul hitam kepada Silvira. Silvira menerimanya.
"Jazaakallaahu khayran Mas," ucap Silvi.
"Wa jazaakillahu khayran," balas Azam.
"Kita turun yuk," ajak Azam.
"Sebentar Mas, ini aku semalam buat infused water lemon mint, buat minum Mas, dan ini buat dua jagoan Umma," ucap Silvira sambil memberikan botol minum untuk Azam dan dua susu kotak uht untuk si kembar.
"Jazaakillahu khayran Umma," ucap Fahri dan Farhan.
"Waiyyakum," balas Silvi. Mereka berpisah di parkiran karena memang tempat wanita ada di gedung lain, sedangkan yang laki-laki di dalam masjid.
🚗🚗🚗
Selepas Dhuhur, mereka bertemu kembali di parkiran. Mereka segera masuk ke mobil karena matahari sangat terik.
"Gimana sayang?" tanya Azam.
"Suka, tambah ilmu, tambah teman, maa syaa Allah," jawab Silvira.
"Kita tadi ketemu Salman dan Rayhan sama abinya Umma, ya kan Abati," tukas Farhan.
"Iya," sahut Azam.
"Senang deh ketemu banyak teman di sini," ucap Fahri.
"Sekarang kita kemana? Mau makan siang?" tanya Azam.
"Mau!!" seru keduanya.
"Makan apa?" tanya Silvira.
"Ayam goreng pak tua," jawab mereka kompak.
"Gimana Abati?" tanya Silvira meminta persetujuan Azam.
"Yuk cap cuuzz," ucap Azam menyetujui.
Mereka segera meluncur ke outlet ayam goreng gambar pak tua itu.
Sesampainya di sana, mereka segera duduk di bangku dengan empat kursi.
"Abang sama Kakak mau yang mana biar Umma yang pesan,"
"Yang ada mainannya Umma," jawab Farhan.
"Iya Umma yang itu saja," imbuh Fahri.
__ADS_1
"Abati mau apa?" tanya Silvira.
"Yakiniku aja sayang, yang pakai kentang ya, sama," jawab Azam.
Silvira segera memesan pesanan mereka, dan segera kembali ke meja setelah mendapat pesanan mereka. Mereka dengan lahap memakannya karena sudah sangat lapar.
"Abati," ucap Farhan sambil mengunyah makanannya.
"Iya Kak, ada apa?" sahut Azam, yang juga masih menikmati makanannya.
"Kami boleh beli lego?" tanya Farhan meminta izin.
"Pakai uang tabungan kami sendiri Abati," imbuh Fahri.
"Iya boleh, tapi hafalannya nambah satu surat lagi, nanti Abati belikan lego yang besar," jawab Azam, dia dengan senang hati membelikan apapun untuk si kembar, namun juga dia ingin mendidik mereka agar mau berusaha agar mendapatkan apa yang ingin dicapai.
"Baik Abati," ucap mereka berdua.
"Yang semangat ya hafalannya, biar cepet dibelikan sama Abati," imbuh Silvira menyemangatinya.
"Umma juga mau dibelikan sesuatu?" tanya Azam.
"Nggak Mas, alhamdulillah sudah cukup semuanya," jawab Silvira.
"Okelah habis makan kita mampir ke suatu tempat ya," ucap Azam.
"Kemana Abati?" tanya si kembar.
"Apalagi ini Mas," ucap Silvira.
Baru tiga hari menjadi istrinya, tetapi banyak sekali kebahagiaan yang dia berikan, ilmu yang dia ajarkan, dengan sabar dia mengajarkan aku dan anak-anakku ilmu agama, dia banyak memberi hadiah, walau dia sendiri pun hadiah terindah dari Allah untukku.
"Kok ngelamun malahan, sudah selesai makannya?" ucapan Azam menyadarkan Silvi dari lamunannya.
"Eh apa tadi Mas?"
"Ayok berangkat, kita masuk ke mall ini," ucap Azam sambil menunjuk mall yang ada di atas restoran ayam itu.
Mereka masuk ke mall yang dimaksud. Si kembar berjalan di depan sementara Abati dan Ummanya di belakangnya. Azam tidak melepaskan genggaman tangan Silvira. Silvira merasa nyaman Azam terus berada di dekatnya. Karena hari ini pertama kalinya Silvira menutup wajahnya dengan cadar. Dulunya dia pikir memakai cadar akan sesak dan gerah, tapi setelah dia kenakan sendiri, iti malah membuatnya nyaman dan merasa lebih terjaga dari pandangan lelaki ajnabi/ yang bukan mahram.
"Ini tempatnya, yuk kita masuk," ucap Azam mengajak mereka ke toko perhiasan.
"Mba, mau ambil pesanan," ucap Azam sambil menyerahkan surat invoice kepada pramuniaga di toko perhiasan itu.
"Baik Pak, saya ambilkan dulu ya," ucap mbak pramuniaga.
"Ini Pak, atas nama bapak Azam ya," kata Mba pramuniaga setelah menemukan pesanan Azam.
"Iya Mba,"
"Silakan dicek terlebih dahulu,"
__ADS_1
Azam membuka kotak kecil berisi dua cincin bulat sempurna, dengan dua ukuran besar dan sedikit kecil, dan dua warna emas dan perak. Polos tanpa hiasan, hanya ada ukiran nama di dalamnya.
Azam mengambil cincin berwarna emas dan memakaikannya di jari manis Silvira. Kemudian Silvira mengambil cincin perak yang berukuran lebih besar, dan memakaikan ke jari manis Azam.
"Gimana cincin nikah kita? Suka?" tanya Azam.
"Suka banget," jawab Silvi sambil melihat jari manisnya.
"Alhamdulillah, coba lihat tulisan di dalamnya,"
Silvi mengikuti arahan Azam dan dia melepas sejenak cincin itu untuk memeriksa tulisan yang dimaksud Azam. Di sana tertera nama Khoirul Azam. Silvi melirik ke Azam dan tersenyum. Azam membalas senyuman itu. Kemudian Silvi segera memakai cincin itu lagi.
"Jazaakallaahu khayran Mas," ucap Silvira.
"Wa jazaakillahu khayran Dek," balas Azam kemudian memeluk bahu Silvi dengan satu tangannya. Pasangan itu terlihat harmonis dan serasi, namun memicu kemarahan sepasang mata yang mengawasi mereka.
"Abati," ucap Farhan memanggil Azam.
"Iya sayang," jawab Azam.
"Boleh beli ayam pokpok?" tanyanya sambil menunjuk ke penjual ayam pokpok di dekat mereka.
"Boleh, ini uangnya, kalian beli sendiri ya, abati dan Umma tunggu di cafe yang itu," ucap Azam sambil menyerahkan selembar limapuluh ribuan kepada si kembar. Azam dan Silvira pergi ke cafe tempat Azam biasa ngopi. Dan si kembar segera berlari membeli olahan daging ayam yang digoreng dengan tepung, lalu dipotong kecil-kecil dan ditaburi bumbu itu.
"Mas, besok sudah kerja?" tanya Silvira.
"Iya, kenapa? Gak rela ya jauh-jauh dari Mas, hum," sahut Azam.
"Hehe, iya, kalau gitu besok aku izin mau ke klinik ya, biar gak kesepian di rumah sendiri, bu Wati masih libur," kata Silvira
"Iya, boleh, berangkat bareng Mas kepagian nggak?"
"Ya kepagian Mas, naik mobil sendiri saja ya, plis,"
"Iya, baiklah,"
"Mas gimana biasanya di kantor, makan siangnya mau aku bekalin? Mau dimasakin apa?"
"Boleh, apa saja masakanmu Mas pasti suka,"
"Hum, baiklah,"
Tak lama kemudian si kembar datang membawa dua bungkus ayam pokpok di tangan mereka.
"Abati ini kembaliannya," ucap Fahri sambil menyerahkan beberapa lembar uang kecil.
"Kalian simpan saja, ditabung," ucap Azam.
"Iya Abati," ucap Fahri.
"Kita pulang yuk, Umma mau nyuci," ucap Silvira.
__ADS_1
"Yuk," ucap Azam, kemudian mereka semua beranjak dari mall itu untuk pulang ke rumah.