Ayah Untuk Anak Kembarku

Ayah Untuk Anak Kembarku
#66


__ADS_3

( Flash back off )


"Mas Azam di operasi? Separah itukah Bu?" tanya Silvira masih kebingungan.


Ibu hanya mengangguk, Silvira melihat bulir-bulir air mata Ibu... Segera dia bangkit walaupun masih lemah.


"Ibu, Ibu pasti sedih," ucapnya sambil menggenggam tangan ibu mertuanya.


"Kamu juga kan, kamu harus lebih kuat, demi anak-anakmu, dan juga kandunganmu," sahut ibu sambil melihat perut menantunya yang sudah mulai membuncit.


"Oh, janinku, apa dia baik-baik saja Bu? Bagaimana kata mereka?" tetiba Silvira ingat akan kehamilannya.


"Alhamdulillah, dia baik dan sehat, sekarang apa kamu sudah kuat? Kita temui anak-anakmu," ucap Ibu.


"Iya Bu," sahut Silvira. Kemudian mereka berdua menemui si kembar yang bersama kakung nya.


"Umma.." ucap Farhan, Fahri ikut menoleh lalu mereka berdua berlari ke arah Silvira.


"Umma, Umma sudah bangun?" tanya Fahri.


"Iya sayang, jangan takut ya, ada Umma di sini," ucap Silvira menenangkan kedua anak kembarnya, padahal dia sendiri juga takut, takut terjadi sesuatu dengan Azam di ruang operasi.


"Kita ke tempat abati Umma," pinta Farhan.


"Iya sayang," sahut Silvira, kemudian mereka semua menuju ruang operasi.


Di depan ruangan itu Amir mondar-mandir tidak bisa menyembunyikan kecemasannya.


"Ah kalian sudah di sini.. bagaimana keadaanmu Sil?" tanya Amir setelah melihat mereka mendekat.


"Alhamdulillah sudah lebih baik Mas," sahut Silvira.


"Duduklah di sini, ibu dan ayah juga," ucap Amir sambil menunjuk bangku panjang di dekatnya.


Silvira membawa kedua anaknya duduk, diikuti ibu dan ayah.

__ADS_1


Si kembar masih terisak, mereka melihat bagaimana Azam terluka, dan bagaimana mereka dievakuasi. Tentu saja menimbulkan ketakutan dan trauma yang begitu dalam pada anak seusia itu.


Silvira juga tak kalah cemas dan sedihnya, namun dia harus kuat demi kedua anaknya, dan harus kuat untuk merawat Azam nanti.


"Fahri, Farhan, dengerin Umma, di dalam ruangan itu, dokter sedang berjuang menyelamatkan abati, kita di sini bantu dengan doa ya nak, kalian anak-anak yang sholih in syaa Allah, mari kita doakan semoga Allah memberi keselamatan kepada abati melalui tangan dokter yang sedang memimpin operasi abati," ucap Silvira.


"Iya Umma," jawab Farhan, sedangkan Fahri hanya mengangguk. Kemudian mereka berdoa untuk keselamatan Azam.


Tiga jam berlalu... operasi belum selesai juga, Amir pergi keluar sebentar hendak mencari sesuatu untuk dimakan mereka.


Tak lama kemudian Amir kembali membawa beberapa kotak nasi ayam goreng restoran depan rumah sakit, juga minumannya.


"Ini Ayah, Ibu, makan dulu, Fahri dan Farhan juga, Dik Silvi kamu juga makan ya, ingat kandunganmu," ucap Amir sambil menyerahkan kotak makan kepada mereka.


"Yuk, Fahri, Farhan, makan sama kakung di sana.." ucap ayah mengajak dua anak kembar itu, dan keduanya menurut mengikuti kakeknya ke bangku yang tidak jauh dari sana.


"Nduk, kamu juga harus makan," ucap Ibu.


"Ibu duluan saja, saya gak lapar," sahut Silvira.


Namun Silvira tetap bergeming, dia ingin sekali menggantikan Azam di dalam, hatinya masih sedih, pikirannya masih kacau, diam di sana menunggu kabar Azam.


"Itu lihatlah anak-anakmu, mereka masih semangat makan, karena apa, mereka ingin menguatkanmu juga, kalau kamu sampai sakit, bayangkan bagaimana sedihnya mereka, makanlah ya, yuk makan sama ibu, biar Amir tungguin di sini," ucap ibu.


Silvira akhirnya menurut dan mau makan bersama ibunya, benar juga pikirnya, kalau hatinya ingin kuat maka fisiknya juga harus kuat, apalagi di dalam rahimnya sedang tumbuh buah cintanya dengan Azam, Silvira tidak mau terjadi sesuatu pada janinnya itu.


Setelah mereka makan, mereka sholat bergantian. Dan setelah lima jam dari Azam masuk ruang operasi, akhirnya dokter keluar.


Amir segera berdiri, diikuti ayah dan Silvira, sedangkan ibu tetap duduk menjaga cucu kembarnya.


"Keluarga Tuan Azam?" tanya dokter Radit.


"Iya, Dok, kami keluarganya, bagaimana keadaan adik saya Dok?" sahut Amir.


"Alhamdulillah, operasinya sudah selesai, dan pendarahan di kepala sudah berhasil dihentikan, saat ini pasien dibawa ke ruang ICU untuk observasi lebih lanjut sambil mengunggu kesadarannya, dan saya minta kita semua terus berdoa sambil menunggu Tuan Azam sadar," kata Dokter Radit menjelaskan.

__ADS_1


"Baik Dokter, kami ucapkan terima kasih banyak," ucap ayah.


"Sama-sama, kalau begitu, saya permisi dulu," sahut dokter Radit kemudian meninggalkan mereka untuk beristirahat di ruangannya.


"Kalau begitu, kita ke ruang ICU yuk," ucap Amir mengajak mereka semua. Mereka diizinkan satu-persatu bergantian menemui Azam.


Saat tiba giliran Silvira masuk... Dia menangis melihat keadaan suaminya, mata indah yang hanya Azam pakai melihat haknya, masih tertutup, dan di wajahnya terpasang alat bantu nafas, rambutnya yang hitam tebal, harus dibotakin dan masih tertutup perban, tangan lembut yang biasa membelainya masih terdiam, di atasnya terpasang infus yang selangnya bercabang, mungkin untuk memasukkan berbagai macam obat, di dadanya tertempel benda pipih yang terhubung dengan monitor yang mengecek detak jantung dan pernafasannya, di lengannya terpasang tensimeter yang terhubung juga dengan monitor. Azam tidak dipakaikan baju, hanya selimut yang menutupi perut hingga ujung kakinya, sehingga masih tampak dada bidang dan lengan kekarnya.


"Mas Azam..." panggilnya lirih. Silvi mengelus lengan dan dada Azam yang hangat.


"Aku di sini, ini dengan calon bayi kita, cepat bangun ya sayang, kami sangat merindukanmu," bisiknya kepada Azam.


"Maaf Ibu, waktu berkunjung sudah habis, anda diminta keluar," ucap seorang perawat kepada Silvira.


"Baik Mba," ucap Silvira.


"Oh iya boleh saya tahu Ibu di sini tinggal dimana?" tanya perawat.


"Di agro wisata petik apel," sahut Silvira.


"Oh, lumayan jauh juga dari sini, ehm ini saran saya Ibu cari tempat tinggal sementara untuk beristirahat, karena kalau sewaktu-waktu kami panggil bisa segera ke sini," ucap perawat itu.


"Kira-kira Mba tahu dimana tempat kost atau home stay terdekat dari sini?" tanya Silvira kepada perawat itu.


"Iya, di sekitar Rumah sakit ini banyak Bu," jawab perawat itu.


"Oh iya," sahut Silvira kemudian pergi meninggalkan ruangan Azam, setelah sebelumnya berpamitan kepada Azam.


"Kita pulang dulu yuk!" ajak Amir.


"Kalian pasti lelah, kita istirahat sebentar di rumah, nanti malam biar aku kembali lagi," ajak Amir yang merasa iba melihat ayah ibunya yang mulai lelah.


"Itu Mas Amir, tadi kata perawat aku harus cari home stay yang dekat dari sini, supaya kalau dipanggil kita cepat datang, kan rumah ayah ibu cukup jauh dari sini," ucap Silvira.


"Oh iya, baiklah, kita cari sama-sama," sahut Amir.

__ADS_1


__ADS_2