
"Iya, oh iya Bu, semalam aku sudah bicara sama Ayah, kalau Ibu tidak keberatan, untuk sementara Ayah dan Ibu tinggal sama kami ya, ya dek, biar Ibu dan Ayah temani kamu pas Mas tinggal kerja,"
"Baiklah, dengan senang hati Ibu akan tinggal, kamu tidak keberatan kan Nduk?"
"Tentu saja Bu, dengan senang hati, kami juga ingin dekat dengan Ayah dan Ibu," ucap Silvira.
"Siplah kalau begitu," sahut Azam kemudian menuju kamar mandi untuk mandi dan bersiap ke kantor.
Ibu segera menyuapi Silvira sarapan setelah petugas gizi datang mengantar makanan.
"Ibu, biar saya makan sendiri," ucap Silvira yang masih sungkan dengan perhatian ibu mertuanya.
"Sudahlah, makan saja, Ibu hanya ingin menyuapi anak perempuan Ibu kok," ucap Ibu Azam.
Azam selesai mandi dan sudah rapi. Dia mendekati ibunya yang sedang menyuapi istrinya.
"Biar aku saja Bu yang suapin," ucap Azam.
"Sudah, kamu sarapan sana, nanti telat ke kantor," sahut Ibu yang tetap bersikukuh. Tidak punya pilihan lain, Azam menuruti Ibunya. Azam menyantap nasi kuning yang dia beli tadi, sebungkus untuknya, sebungkus lagi untuk ibunya.
"Mas," panggil Silvira. Azam segera menoleh padanya.
"Maaf ya, aku belum bisa siapkan sarapan dan keperluanmu," ucap Silvira.
"It's okay, lihat kamu makan dengan lahap saja Mas sudah senang," ucap Azam.
Ibu tersenyum mendengar pembicaraan mereka, rasanya senang sekali putra bungsunya pernikahannya terlihat bahagia.
"Assalamualaikum," sapa dokter Rina bersama seorang bidan yang mendampinginya.
"Waalaikumusalam, Dok, sarapan," ucap Azam yang buru-buru menutup bungkusan nasi kuningnya.
"Lho kenapa ditutup, dilanjutkan saja Pak, memang saya yang kepagian visitnya, karena habis ini ada acara operasi, jadi saya lihat Bu Silvira dulu," ucap Dokter Rina yang mulai memeriksa dan melihat jahitan bekas operasi Silvira.
"Jahitannya bagus, alhamdulillah. Ada keluhan Ibu?" tanya dokter Rina.
"Gak ada sih Dok, pengen pulang aja," ucap Silvira.
"Iya, kalau sudah membaik in syaa Allah besok bisa pulang, nanti coba dibuat latihan berdiri ya, pelan-pelan, kalau pusing duduk lagi, kalau tidak coba jalan pelan-pelan," sahut dokter Rina.
"Baik Dok, ehm apa saya masih bisa hamil normal lagi Dok?" tanya Silvira berterus terang.
"In syaa Allah bisa, tapi istirahat dulu y rahimnya, paling gak tiga bulan baru boleh hamil lagi," jawab Dokter Rina.
__ADS_1
"Berarti selama tiga bulan tidak boleh dipakai berhubungan Dok?" tanya Azam yang membuat Silvira memerah pipinya. Apaan sih Mas... batinnya.
"Boleh, cuma ditunda hamilnya dulu," jawab Dokter Rina.
"Oh, kirain..."
***
Azam sampai di kantor, hari ini dia menyetir sendiri. Kakinya sudah lumayan membaik.
"Gimana Silvira bro?" tanya Ammar.
"Alhamdulillah sudah baikan, kalau tidak ada keluhan lagi besok atau lusa sudah boleh pulang," jawab Azam.
"Alhamdulillah, aku senang dengarnya, semoga Silvi cepat membaik dan kalian bisa segera punya bayi lagi," ucap Ammar.
"Aamiin," Azam mengamininya.
"Eh iya Mar, nanti sore aku jemput si kembar ya, Silvi sudah kangen banget sama mereka," ucap Azam kemudian.
"Iya, oke, aku mau tugas luar dulu, ada penyuluhan bibit baru, aku pergi dulu ya, Assalamualaikum," ucap Ammar seraya pergi keluar.
"Waalaikumusalam," jawab Azam.
"Hmm Ammar tuh baik banget ya," ucap Benny teman se ruangan mereka yang juga teman kuliah Ammar.
"Maksudku dia selal?u siap bantu temannya, dia juga sering bantu aku," ucap Benny.
"He em," sahut Azam.
"Dia juga jodohkan mantan pacarnya dengan sahabatnya sampai menikah," ucap Benny.
"Hah, siapa Ben?" tanya Azam terperangah.
"Eh wait.. wait.. jangan bilang kalau kamu belum tahu kalau Silvira itu mantan pacarnya... oh no, kenapa jadi aku yang bilang, kupikir kamu sudah tahu," ucap Benny yang panik dengan ucapannya sendiri.
"Hah, apa sih? Silvira mantan pacarnya siapa?" tanya Azam mendesak Benny.
"Ammar, maaf Zam, aku gak bermaksud apapun, tapi aku kira kamu sudah tahu," ucap Benny penuh penyesalan.
"Oh, iya gak papa," sahut Azam, kemudian kembali pada pekerjaannya, namun dia sudah tidak fokus lagi, beribu macam pertanyaan hadir di benaknya. Sejak kapan mereka berpacaran? Berapa lama? Kenapa putus? Kenapa Azam menjodohkanku dengannya? Kenapa mereka tidak bilang kalau mereka dulunya adalah sepasang kekasih? Semua pertanyaan itu membuat kepalanya pening.
Azam akhirnya memutuskan pergi ke masjid untuk mendirikan sholat Dhuha. Selesai sholat, Azam menjadi lebih tenang, dia memilih diam terlebih dahulu dan memendam masalah ini, dia ingin fokus bekerja sekarang, dan menunggu hingga Silvira sehat untuk dapat membicarakan hal ini.
__ADS_1
Sore harinya, Azam menjemput Fahri dan Farhan ke sekolah. Dan membawa mereka ke rumah sakit dimana Silvira dirawat.
"Umma!!" seru si kembar sambil berlari memeluk Silvira.
"Pelan-pelan, pelan ya, perut Umma masih sakit," ucap Ibu. Si kembar pun menuruti dan memeluk Silvira dengan pelan. Ayah dan Amir yang ada di sana ikut tersenyum bahagia melihat temu kangen itu.
"Kangen Umma," ucap Fahri.
"Iya, Umma juga kangen kalian," ucap Silvira.
"Umma kapan pulang?" tanya Farhan.
"Kalau sudah gak sakit lagi, besok Umma bisa pulang," jawab Silvira.
"Yeay!!!" seru si kembar.
"Sudah dulu ya, sekarang kalian pulang sama Om Amir, Uti dan Kakung, besok kalian harus sekolah," ucap Azam.
"Tapi kami masih kangen sama Umma," ucap Fahri sambil cemberut.
"Gak kangen sama Abati nih," ucap Azam.
"Kangen dong, makanya kami mau di sini dulu sama Umma dan Abati," sahut Farhan.
"Kalian nurut dong sama Abati, kalau kalian jadi anak penurut, nanti Allah pasti senang, terus kalian jadi anak sholih," ucap Silvira.
"Baik Umma," sahut kedua anak kembar itu.
"Ibu pulang dulu ya, gerah pengen ganti baju," ucap Ibu berpamitan kepada Silvira.
"Iya Bu, saya minta maaf dan terima kasih," ucap Silvira. Ibu memeluk Silvira. Kemudian mereka semua meninggalkan Azam dan Silvira di kamar itu.
"Kamu perlu apa sayang?" tanya Azam.
"Gak ada Mas, perlu Mas aja," ucap Silvira manja.
"Oh no, jangan godain Mas ya, kita di Rumah Sakit lho, Mas mandi dulu ah gerah," ucap Azam sambil berjalan menuju kamar mandi.
Azam masih tidak karuan hatinya, tidak dipungkiri dia sangat kecewa dengan Ammar dan Silvira, namun dia berusaha sebisa mungkin menyembunyikannya. Azam mengguyurkan air dingin di atas kepalanya, berharap bisa mendinginkan pikiran dan hatinya yang kacau.
Azam keluar dari kamar mandi, aroma sabunnya yang maskulin sangat disukai Silvira.
"Mas," ucap Silvira sambil mencoba bangkit dari tempat tidurnya.
__ADS_1
"Kamu mau kemana?" ucap Azam segera menangkap Silvira. Silvira tersenyum dan memeluk Azam.
"Aku kangen banget sama kamu Mas," bisiknya.