
Silvira turun dari mobil dibantu Azam, baby Fatimah digendong Ibu, iya... setelah sehari di rumah sakit, mereka sudah boleh pulang.
Silvira terkejut di halaman rumahnya banyak mobil berderet.
"Ada tamu Mas?" tanya Silvira kepada Azam yang memapahnya.
"Masuk aja," ucap Azam sambil terus menuntun Silvira masuk ke dalam rumah.
"SURPRISE!!!!"
Silvira ternganga melihat isi dalam rumah, sudah didekorasi dengan warna baby pink dan abu-abu. Ada balon bertuliskan "Welcome home Umma Silvi dan Baby Fatimah". Tak hanya itu, seluruh keluarga juga hadir, bukan hanya ayah, Amir dan Sofia, namun ada budenya, bude Harti dan Mba Dita sepupunya, juga Mami Papinya Adam, Mba Adistia dan Mas Indra bersama Rafli dan Rania, juga Aditya dan Silvia bersama Salma dan Salman.
" Mas," lirih Silvira, masih tak percaya dan mencengkeram tangan Azam.
"Mas yang siapin ini semua?" bisik Silvira.
"Iya Beib, aku siapin, dan aku undang mereka semua datang untuk melihat baby Fatimah," ucap Azam.
Silvira kemudian melepaskan tautannya dengan Azam dan berjalan ke arah keluarga yang perempuan, dan semua memeluknya secara bergantian.
"Selamat ya Nduk, anakku Silvira atas kelahiran putrimu, sehat terus ya," Ucap Bude Harti pengganti Ibunya.
"Aamiin, makasih Bude," sahut Silvira.
"Selamat ya Sil, keluargamu tambah lengkap sekarang, semoga baby Fatimah jadi anak sholihah," Mba Dita memberi ucapan selamat kepada sepupunya itu.
"Iya, Aamiin Mba," ucap Silvira.
"Selamat Rosa, doa terbaik untuk kalian, Fatimah cucu Mami juga kan?" ucap Maminya Adam.
"Iya, tentu saja Ma,"
"Tahniah Rosa, sehat selalu kamu dan bayimu," ucap Mba Adistia.
"Aamiin, makasih,"
"Selamat ya, punya putri yang cantik, dan ini hadiah dari kami semua," ucap Sofia yang menggendong baby Dhea, seraya membuka pintu kamar tamu yang paling depan.
__ADS_1
Kamar itu disulap menjadi kamar bayi bernuansa pink abu-abu. Ada tempat tidur queen size untuknya dan Azam, juga baby crib, dresser yang atasnya ada kasur kecil untuk ganti popok, semua itu pilihannya waktu melihat katalog di rumah sakit kemarin, dan dia tak menyangka hari ini sudah siap semua. Di sana juga ada berbagai bingkisan dari para tamu, ada yang membawa peralatan mandi, ada set baju bayi, aneka sepatu bayi yabg cantik, puluhan boneka, bahkan car seat hingga kursi makan bayi, juga ada stroller dan baby walker.
"Ah... ma syaa Allah," ucap Silvira yang menutup wajahnya karena terkejut.
"Kenapa banyak sekali hadiahnya, ini semua dari kalian?" tanya Silvira.
"Iya, semua buat baby Fatimah Mba," ucap Silvia istrinya Aditya.
"Ya Allah, alhamdulillah, makasih semuanya, semoga Allah yang akan membalas semuanya dengan kebaikan yang berlipat," ucap Silvira.
"Aamiin," sahut semuanya.
"Sekarang kita makan dulu yuk, itu sudah disiapkan," ucap Azam mempersilahkan tamu untuk makan siang, dan mereka segera ke ruang makan yang telah siap berbagai menu prasmanan.
"Umma..." Fahri memanggil Umma nya, dia mendekat bersama Farhan.
"Iya, abang, Kakak," sahut Silvira.
"Umma masih sayang kami kan?" tanya Farhan.
"Ya tentu saja sayang, Umma akan sayang kalian sampai kaaaaapanpun juga," sahut Silvira sembari memeluk dua bujang kembarnya itu.
"Iya Uti, cantik kaya Umma, ma syaa Allah," sahut Fahri.
Hari ini rumah begitu ramai, banyak tawa dan kebahagiaan, juga doa untuk baby Fatimah. Ayah, Papi, Amir, Aditya, dan Indra mengobrol di ruang tengah. Sementara Ibu, Mami, bude Harti, Mba Dita, Mba Adistia, Sofia, dan Silvia berada di ruang tamu dengan baby Fatimah, baby Dhea, dan Salman yang masih berusia satu tahun. Si kembar bersama sepupu-sepupunya bermain di halaman belakang, bu Wati sibuk beberes di dapur. Azam dan Silvira duduk berdua di kursi bar dapur untuk makan siang.
"Mas, aku senang sekali hari ini, makasih," ucap Silvira.
"Sama-sama Beib, apapun aku lakukan untuk membuatmu bahagia," Ucap Azam.
"Tapi bagaimana kamu menyiapkan ini semua, sementara selama aku di rumah sakit Mas temani aku terus," tanya Silvira.
"Kamu itu, sekarang kan jamannya pake pesan aja, klik, semua beres," sahut Azam.
"Mas itu, so sweet deh," ucap Silvira sambil bergelayut manja di lengan Azam.
"Tapi kenapa kamar bayinya di bawah?" tanya Silvira.
__ADS_1
"Iya, biar gampang kalau perlu apa-apa, lagian untuk sementara Ibu tinggal di sini, kalau kamar bayinya di sebelah kamar kita, kan gak enak ibu naik turun tangga terus," sahut Azam.
"Emangnya kita gak tidur sama Fatimah?" tanya Silvira.
"Kalau ada Ibu, biar sama Ibu aja, kamu nemenin aku di kamar kita, kalau Ibu pulang, kita tidur di bawah sama Fatimah," sahut Azam.
"Kalau Fatimah sama Ibu di bawah, kita di atas, pas malem mau nen gimana?"
"Pakai botol aja," sahut Azam.
"Mas, aku mau Fatimah full asi," Silvira berontak.
"Iya, botolnya diisi asi kamu, tuh lihat itu, udah disiapin sterilan botol, di dalamnya ada pompa asi sama botol susunya," sahut Azam sambil menunjuk benda berbentuk tabung dengan tutup di atasnya yang berfungsi untuk men steril perlengkapan makan minum bayi.
"Tapi Mas," Silvira masih belum terima keputusan Azam.
"Udahlah Beib, nurut napa sih, katanya pengen tetap dimanja sama aku, kan kamu jadi lebih banyak waktu sama aku, aku juga pengen ambil bagian, Hmm," ucap Azam.
"Iya dah, istri sholihah nurut suami yah selama suami tidak melanggar syariat," ucap Silvira pasrah.
"Nah gitu bagus istri sholihah ku, yang cantik ma syaa Allah, habis makan, kamu pumping ya Asinya, taruh di freezer di kamar bayi, aku udah beli juga, sama penghangat Asinya juga," Ucap Azam.
"Iya, tapi Mas kok kepikiran banget ya buat nyiapin ini semua, sampai freezer sama alat pemghangat asi segala, aku aja gak sampe kepikiran ke sana Mas," Silvira masih terheran.
"Setelah aku bangun dari koma, dan sadar aku udah biarin kamu sendiri dalam keadaan hamil selama seratus hari, aku banyak browsing di internet, baca berbagai artikel, juga nyari barang-barang itu semua, aku cuma pengen kamu mudah, santai, rileks, gak stress, kalau stress bisa kena baby blues syndrom, dan yang lainnya," Ucap Azam.
"Iya dah, apapun itu, aku senang, aku masih speechless dengan ini semua, makasih sayang, Jazaakallaahu khairan Mas," Ucap Silvira.
"Wa jazaakillaahu khairan," sahut Azam.
"Ini makanan enak banget, ma syaa Allah, siapa yang masak?" tanya Silvira.
"Pesan catering Beib," sahut Azam.
"Catering mana?" tanya Silvira penasaran.
"Karina," sahut Azam singkat.
__ADS_1
"Hah? Apa? Karina? Sang mantan?"