Ayah Untuk Anak Kembarku

Ayah Untuk Anak Kembarku
#45


__ADS_3

"Beib..!" panggil Azam dari atas, Silvira segera mencuci tangannya dan ke atas memenuhi panggilan suaminya.


"Iya Mas," ucap Silvira sesampainya di kamar.


"Aku mau mandi," sahut Azam yang masih menyeka badannya yang berkeringat dengan handuk. Silvira segera menyiapkan pakaian Azam dan menaruhnya di tepi ranjang.


"Salah sendiri membuatku tergantung padamu, dimana pun kamu, kalau aku mau mandi pasti aku panggil," ucap Azam sambil berjalan menuju kamar mandi.


"Dengan senang hati Tuan," sahut Silvira, dia kemudian merebahkan badannya di atas kasur dengan kaki yang masih di bawah. Meregangkan pinggangnya yang terasa kaku.


"Capek ya naik turun tangga?" tanya Azam yang sudah keluar dari kamar mandi.


"Hmmh gak juga sih Mas, paling aku mau haid, pinggangnya agak pegel," sahut Silvi.


Azam duduk di tepi ranjang,kemudian memiringkan badan Silvira dan mengelus pinggangnya.


"Hmm maa syaa Allah, nyaman banget Mas," ucap Silvira.


"Mas buruan pakai baju, aku mau mandi juga," ucap Silvira, kemudian Azam berganti baju.


"Beib, gimana kalau kita renovasi rumah, atau kalau kamu mau kita beli rumah baru," ucap Azam.


"Memang kenapa Mas?" tanya Silvira.


"Ini kalau anak kita nanti lahir, pasti butuh kamar lagi, dan kalau ada keluarga yang menginap juga tidak perlu bingung tidur dimana," ucap Azam.


"Iya sih Mas, kita perlu nambah kamar, dulu aku gak kepikiran sampai situ, pikirku aku akan selamanya tinggal bertiga dengan si kembar, gak taunya Allah berikan jodoh buat aku," ucap Silvira sambil menangkupkan tangannya ke pipi Azam. Azam juga ikut tersenyum.


"Sudah, kamu mandi dulu gih, Mas turun dulu, nanti coba kita bicarakan lagi ya," ucap Azam.


Silvira mengangguk dan segera ke kamar mandi. Di bawah, Silvia sedang menata meja makan bersama bu Wati, Aditya duduk di ruang tamu tengah fokus dengan gawainya.


"Lagi sibuk Mas?" tanya Azam pada Aditya.


"Nggak, ini cuma lihat laporan anak buah saja," sahut Aditya, kemudian mematikan ponselnya.


"Ini rencananya aku dan Silvira mau renovasi rumah, jadi kita mau nambah kamar tidur lagi, tapi belum tahu mau seperti apa, Mas punya ide?" tanya Azam pada Aditya.

__ADS_1


"Ehm.. ini di sebelah kan masih ada tanah sisa, bangun saja di situ dua lantai, terhubung dengan ruang makan ini, nanti di sana buat ruang keluarga di lantai bawah, dan gym kalian di atasnya, lalu ruang keluarga yang di sini, ditutup saja dijadikan kamar, gym yang sekarang juga bisa dikasih dinding dijadikan kamar, itu sih ide aku Mas," ucap Aditya.


"Hmm okelah nanti bisa buat opsi kami, makasih ya," ucap Azam.


Tak lama kemudian Silvira turun, ia melihat Azam sedang berbincang dengan Aditya.


"Ngobrolin apa nih, yuk sarapan, kalian gak laper?" tanya Silvira.


"Iya Mba, kami tuh nungguin Mba, Mba sih mandi pake lama banget," ucap Aditya.


"Hehehe maaf ya, yuk ke ruang makan," sahut Silvira. Mereka berempat pun sarapan bersama. Selesai sarapan Azam ke pekarangan yang ditumbuhi rumput jepang yang hijau subur, Azam memandangi rumah Silvira dan membayangkan bagaimana renovasinya.


"Mas, lagi ngapain?" tanya Silvira yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya.


"Ini, melihat-lihat bagaimana kita nambah bangunan di sini,"


"Hmm aku terserah Mas saja, baik bahan, model bangunan, dan dana aku serahkan pada Mas saja," ucap Silvira. Azam pun merangkul bahu Silvira.


"Iya sayang," ucap Azam.


"Mas, aku mau nanya," ucap Silvira.


"Aku dekat dengan keluarga papanya Fahri Farhan, Mas gak cemburu?"


"Hahahaha, kamu ini bertanya apa sih, kalau ada keluargaku di sini, kamu kan juga pasti dekat dengan mereka, lagian kenapa cemburu dengan orang yang sudah meninggal, kamu tetap boleh mendoakannya, bagaimanapun juga dia adalah ayah dari anak-anakmu," ucap Azam.


"Terima kasih Mas, jazaakallahu khayr," ucap Silvira.


"Tin tin.." suara klakson mengagetkan mereka. Rupanya mas Indra dan mba Adistia datang bersama anak-anak.


"Ummaaa... Abatiii!!!" seru si kembar turun dari mobil dan berlari memeluk Azam dan Silvira.


"Abang... Kakak.. Umma kangen," ucap Silvira. Mereka berempat berpelukan.


"Berapa hari Abati gak ketemu kalian, sudah tambah besar, coba Abati gendong," kemudian Azam menggendong si kembar di kiri dan kanan lengannya.


Aditya dan Silvia ikut menyambut mereka, Salma dan si kecil Salman juga rindu orang tuanya.

__ADS_1


"Assalamualaikum Mas Azam, Rosa," sapa Indra dan Adistia.


"Waalaikumusalam," jawab Silvira dan Azam. Azam kemudian menurunkan si kembar dan menyalami Indra.


"Maaf Mas, aku sangat kangen dengan anak-anak sampai lupa menyapa kalian dahulu," ucap Azam.


"Yuk masuk yuk, Mami sama Papi gak diajak sekalian Mba?" tanya Silvira sambil menggiring tamunya ke dalam rumah.


"Mobilnya gak cukup Ros, cucunya mami banyak," sahut Adistia. Mereka duduk di ruang tamu dan anak-anak bermain di ruang keluarga.


Bu Wati ikut menyapa tamu dan menyajikan minuman juga kue untuk tamu.


"Mama katanya kita mau berenang? Kapan berenangnya?" tanya Rafli.


"Oh kalian mau berenang, yuk ke belakang sama Umma," ucap Silvira yang mengajak anak-anak ke kolam renang di belakang rumah.


"Tuh bapak-bapak ikut berenang gih, gak ada yang ngawasin anak-anak di dalam kolam loh, tuh kasian Rosa sendirian," ucap Adistia.


"Oh Iyakah, baiklah, kita berenang yuk Mas," ucap Azam mengajak Aditya dan Indra berenang.


Azam mengambilkan kaos tanpa lengan dan celana pendek di bawah lutut untuk Aditya dan Indra agar dipakai ketika berenang.


Setelah anak-anak diambil alih para hot daddy, Silvira bersama Adistia dan bu Wati menyiapkan barbeque di dekat kolam. Sedangkan Silvia sibuk dengan Salman.


"Sil, boleh aku coba gendong?" tanya Silvira.


"Iya Mba, ini," ucap Silvia sambil menyerahkan Salman kepada Silvira. Salman dengan menurut digendong Silvira, dia tersenyum kepada Silvira.


"Maa syaa Allah, gantengnya adik Salman," ucap Silvira.


"Buruan bikin Ros," ucap Adistia.


"Bikinnya sudah hampir tiap hari Mba, tapi sama dokter belum boleh hamil dulu sampai tiga bulan, jadi ditunda dulu hamilnya," sahut Silvira.


"Mas," Silvira memanggil Azam, Azam menoleh ke arah Silvira dan memandang istrinya itu dengan senyuman lalu berdiri di dekat Silvira dan berbisik padanya..


"Iya nanti kita bikin yang banyak ya, bayi-bayi lucu," kemudian Azam kembali ke kolam, berenang bersama yang lain.

__ADS_1


"Beruntung kamu Ros, dapat suami yang menyayangimu dan anak-anak, semoga kalian bahagia ya, dan semoga dimudahkan dalam kehamilanmu selanjutnya," ucap Adistia.


"Aamiin yaa mujibas saailiin, terima kasih Mba," ucap Silvira, kemudian Adistia memeluknya, tidak ada yang berubah baginya Silvira tetap dia anggap seperti adiknya.


__ADS_2