
Enam bulan kemudian...
Hari ini Fahri dan Farhan mulai liburan kenaikan kelas, Azam mengajak mereka ke kota apel, namun kali ini Ammar sekeluarga ikut berlibur dan menginap di villa ayah Azam.
"Sudah siap semuanya?" tanya Azam.
"Siap Abati, ini kopernya," sahut Fahri.
"Kalian jadi kan nginap di rumah uti selama sepekan?" tanya Azam.
"Iya, in syaa Allah kami nginap di sana, Umma mana kok belum siap?" tanya Farhan balik.
"Biasa, perempuan itu dandannya lama," sahut Azam.
"Itu Umma," ucap Fahri yang melihat Ummanya turun dari lantai atas.
"Sini Yun biar aku gendong Fatimah, beneran kamu gak ikut?" tanya Silvira seraya mengambil Fatimah dari gendongan Yuni.
"Ndak Bu, saya di rumah saja,"
"Kalau gitu, titip rumahnya ya, baik-baik di rumah, ya," pesan Silvira.
"Tenang aja Mba Silvi, saya bakalan tetap kemari kok kalau pagi," ucap Bu Wati, karena Azam dan Silvira akan menginap dua malam di rumah orang tua Azam.
"Iya,"
"Tuh Ammar dah di depan, yuk berangkat," ajak Azam.
"Abati, bisakah kita semobil dengan Salman dan Rayhan?" pinta Farhan.
"Oh, kalian mau satu mobil dengan teman kalian?" Fahri dan Farhan mengangguk.
"Sebentar, abati tanyakan Om Ammar ya,"
Azam segera menghampiri mobil Ammar, Azam melihat mobil Innova itu sudah penuh dengan Ammar dan Arum serta keenam anaknya.
"Gimana bro?" tanya Ammar dari balik kemudi.
"Fahri sama Farhan pengen semobil sama Rayhan dan Salman, tapi udah penuh ya," ucap Azam.
Ammar menengok ke belakang.
"Itu di belakang masih bisa, tapi ada tasnya Salman dan Rayhan,"
__ADS_1
"Apa tas mereka biar di mobilku, apa Salman dan Rayhan mau naik mobil Om Azam?" tanya Azam.
"Di sini aja Om sama adik-adik, Fahri sama Farhan yang ke sini aja," sahut Rayhan dari belakang.
"Baiklah, tas kalian kemari kan biar Om taruh mobil Om," Salman menyerahkan tas mereka kepada Azam, dan Azam membawanya ke mobilnya.
"Oke Boys, kalian kalau mau bareng Salman dan Rayhan naik mobil Om Ammar ya,"ucap Azam kepada kedua anak kembar itu.
" Baik Abati," sahut keduanya.
"Ini susunya dibawa, sama keripik kentangnya, nanti dibagikan sama Salman, Rayhan, dan adik-adiknya ya," pesan Silvira sambil menyerahkan tas kecil berisi susu UHT dan snack.
"Iya Umma," kemudian mereka masuk mobil Ammar.
Azam dan Silvira segera masuk mobilnya, dan meletakkan Fatimah yang masih delapan bulan ke car seat, mereka diantar Pak Budi, bagaimanapun juga mereka masih takut bila Azam menyetir sendiri ke kota apel, karena dulu pernah kecelakaan yang menyebabkan Azam koma selama tiga bulan lebih.
Azam bersama Silvira di tengah, di samping mereka baby F yang sudah pulas tertidur. Mereka berdoa dan berdzikir sepanjang perjalanan.
Sekitar dua jam perjalanan mereka tiba di parkiran kebun apel. Masih nampak sepi karena saat itu masih jam delapan pagi lebih sedikit. Ayah dan Mas Amir baru saja akan masuk ke kebun, namun langkah mereka terhenti saat melihat mobil Azam dan Ammar datang.
"Assalamualaikum," sapa Azam.
"Waalaikumusalam," jawab Ayah dan Amir. Mereka bersalaman, begitu juga Ammar ikut menyapa.
"Alhamdulillah baik," sahut ayah.
"Mau persiapan buka Mas?" tanya Azam.
"Iya, mau briefing dulu, kamu ikut yuk, banyak anak baru, biar kenal sama kamu, yuk," ajak ayah.
"Lha ini anak istriku gimana?" tanya Azam.
"Antarkan dulu ke rumah, kan ada Ammar juga, nanti kamu nyusul ke dalam ya, kami tunggu," ucap Amir.
"Baik, yuk semua, kita ke rumah dulu," ajak Azam.
Kemudian mereka semua menyeberang jalan untuk ke rumah orang tua Azam.
Ibu menyambut mereka dengan sukacita. Mereka langsung diajak ke ruang tengah yang berhadapan langsung dengan halaman samping yang terhampar rumput jepang yang hijau, ma syaa Allah sejuk di mata. Anak-anak bermain dengan gembira, tiga balita anak Ammar pun juga senang berlarian ke sana kemari, sedangkan Ammar, Arum dan Silvira duduk di teras samping rumah.
"Aku tinggal dulu ya Mar, Bu, Beib," pamit Azam.
"Sebentar Mas, aku mau ngomong sebentar, Bu titip Fatimah sebentar," ucap Silvira sambil menyerahkan Fatimah pada pangkuan Ibu.
__ADS_1
Kemudian Silvira mengikuti Azam ke depan rumah.
"Ada apa Beib?" tanya Azam.
"Masih berat aja melepas mau, di sana banyak gadis cantik pegawai mu," ucap Silvira.
"Apa aku gak usah pergi?" tanya Azam lagi.
"Ya udah pergi aja, tapi jangan macam-macam ya," pesan Silvira.
"Oke, nih aku pake kacamata hitam, biar kelihatan hitam semuanya," ucap Azam sambil memakai kacamata hitam Rayban nya. Kemudian mengecup kening Silvira dan pergi menyeberang jalan menuju kebun lagi.
Silvira merasa berat melepas Azam, bagaimana tidak, Azam hari itu memakai polo shirt warna burgundi, dipadu dengan sirwal jogger warna mocca, topi gucci, kacamata hitam, pasti klepek-klepek gadis-gadis yang melihatnya. Tapi harus professional, Azam adalah salah satu pemilik kebun itu, jadi dia juga harus ikut mengurusnya selama di sini. Itu yang Silvira pikirkan, dengan begitu dia bisa kembali masuk tanpa memikirkan yang tidak-tidak.
"Maaf Pak, kami belum buka," kata seorang pemuda, yang memakai seragam kebun, mungkin pegawai baru yang belum mengenal Azam. Azam pun bingung harus berkata apa, mau bilang dia juga pemilik kebun ini, apa akan dipercaya..
"Oh iya Mas, saya mau minta tolong, antarkan saya bertemu Pak Azhar dan Pak Amir," ucap Azam.
"Baik Pak silakan, mari saya antarkan," ucap pemuda itu kemudian membawa Azam ke tempat Ayah dan Amir.
"Ini Pak beliau masih briefing," ucap pemuda itu.
"Iya makasih, saya tunggu di sini," ucap Azam. Pemuda yang tadi ikut masuk ke barisan teman-temannya yang sedang berkumpul. Dan di depan mereka ada Amir dan Ayah yang sedang memberi arahan juga semangat untuk pegawainya. Amir yang menyadari Azam sudah datang segera memanggil Azam.
"Nah kalian mungkin banyak yang belum kenal, ini adalah Pak Azam, Pak Azam ini adalah juga pemilik kebun ini, sama seperti saya, karena dia adalah adik saya, putra kedua dari Pak Azhar ayah saya," ucap Amir. Selanjutnya Azam memperkenalkan dirinya kepada pegawainya.
"Assalamualaikum semuanya," sapa Azam.
"Waalaikumusalam," jawab semuanya, namun terdengar juga bisik-bisik kecil di antara pegawai perempuan di sana.
"Wah keren ya,"
"Ganteng banget sih,"
Maklumlah gaya Azam sangat berbeda dengan Amir, Amir juga tampan dan tinggi, namun begitu cuek dengan penampilannya, sering memakai kemeja kotak-kotak dan celana jins bolong lututnya, rambutnya juga dibiarkan gondrong dan diikat ke belakang.
"Perkenalkan saya Azam, putra kedua Pak Azhar, jadi adiknya Pak Amir, sekarang saya tinggal di kota tahu,"
"Status Pak, status," teriak salah satu pegawai wanita.
"Hah status? Status, alhamdulillah saya sudah menikah, dengan tiga anak,"
"Yaah..." para pegawai ber yaah ria, kecewa karena Azam sudah menikah.
__ADS_1