Ayah Untuk Anak Kembarku

Ayah Untuk Anak Kembarku
#74


__ADS_3

Pagi itu Azam dan si kembar sudah siap di meja makan, sembari menunggu Silvira yang dibantu bu Wati menyiapkan sarapan, Azam membacakan soal-soal untuk latihan ulangan harian anak-anak nanti.


Silvira memasak semur kentang dan daging untuk suami dan kedua anaknya, dan membuat gado-gado untuk bekal Azam dan untuk makan siangnya. Tak lupa ia juga menyiapkan infused water untuk Azam, dan susu kotak untuk si kembar.


"Sarapan siap," ucap Silvira yang menyajikan nasi dan semangkuk besar semur kentang daging kesukaan Azam.


"Hmm wangi banget Umma," seru Fahri.


"Yes, ada nasi putih," Farhan tak kalah senang. Benar saja, karena tidak setiap hari mereka makan nasi putih, biasanya diganti nasi merah, atau kentang tumbuk. Dan lama-kelamaan semua menyukai makanan sehat seperti Azam.


"Bismillah," ucap Azam sambil menyendok sarapan yang disajikan Silvira, yakni semangkuk kecil semur dengan ekstra kentang di dalamnya.


"Hmm, enak Beib, ma syaa Allah, mirip masakan ibu," ucap Azam. Silvira tersenyum mendengar Azam menyukai masakannya.


"Alhamdulillah, enakan mana coba, semur aku apa semur Ibu,"


Azam mengerutkan keningnya, dia bingung menjawab apa, kalau bilang enak punya ibu, nanti Silvira kecewa, kalau dibilang enak punya Silvira, ah keduanya hampir sama sih.


"Hmm, gak bisa dibandingin Beib, masakan Ibu, masakan kamu, atau masakan bu Wati, semuanya enak, dan punya ciri tersendiri, gak tahu apa itu, tapi pas aku rasain ada yang beda, semuanya enak, namun aku tahu ini masakan siapa ketika aku memakannya," sahut Azam.


"Ehm gitu," ucap Silvira yang ikut sarapan juga.


Azam sudah selesai duluan, karena makan tanpa nasi, ia kemudian berdiri membawa mangkuknya ke dapur dan mencucinya.


"Biarin aja sayang, nanti aku cuci mangkuknya," teriak Silvira yang melihat Azam mencuci piring.


"Gak papa, cuma satu ini aja," sahut Azam, kemudian ia beralih ke meja dapur dan membuatkan susu hangat untuk Silvira.


"Ini Beib, diminum, dihabiskan," ucap Azam sambil meletakkan segelas susu di hadapan Silvira.


"Hmm, jazaakallaahu khayran," ucap Silvira, sambil mengunyah sarapannya.


"Waiyyaki, kalian jangan buru-buru makannya, abati mau ngecek mobil sama Pak Budi," ucap Azam sambil pergi ke depan, sementara si kembar mengangguk dan melanjutkan makan paginya.


"Assalamualaikum Pak Budi," sapa Azam kepada sopir barunya itu.

__ADS_1


"Waalaikumussalam, Pak Azam, sudah siap berangkat?" tanya Pak Budi yang masih memanaskan mobil dan mengelap kacanya.


"Oh, belum Pak, anak-anak masih sarapan di dalam," sahut Azam.


Hari itu hari pertama Azam mulai bekerja kembali setelah empat bulan lamanya ia cuti sakit. Masih belum berani menyetir kembali, maka Azam mempekerjakan pak Budi sebagai sopir keluarga mereka, pak Budi adalah sepupu Ammar, ia baru saja terdampak pengurangan pegawai dari pabrik tempat ia bekerja sebagai sopir.


Untuk sementara waktu, mereka memakai mercy milik Silvira, karena mobil Azam yang dipakai kecelakaan rusak, sudah diperbaiki Amir dan dijual, dia masih memesan mobil baru dengan nama sama namun tipe berbeda, land rover range rover terbaru, yang akan dikirim dari ibukota pekan depan.


"Pak Budi, kalau pas gak ngantar saya atau anak-anak, tolong bantu bersihin halaman ya, biasanya saya sendiri sama anak-anak yang bersih-bersih, tapi karena empat bulan ini kami gak di rumah, jadi sangat tidak terawat," ucap Azam.


"Oh iya, baik Pak," ucap pak Budi. Tak lama kemudian anak-anak keluar bersama Silvira yang membawakan tas dan bekal Azam.


"Sudah siap berangkat?" tanya Azam.


"Sudah Abati," sahut si kembar, setelah mencium tangan Silvira, keduanya masuk mobil.


"Aku pergi dulu Beib," ucap Azam, Silvira segera mencium punggung tangan Azam, kemudian Azam mencium kening Silvira.


"Baik-baik di rumah," ucap Azam, Silvira mengangguk. Kemudian Azam mencium perut Silvira, berpamitan kepada janin mereka.


"Abati pergi kerja dulu sayang, baik-baik di dalam sini, jangan nyusahin Umma ya," ucap Azam, yang di dalam sana pun merespon dengan tendangan kuatnya.


"Assalamualaikum," pamit Azam dan masuk ke mobil.


"Waalaikumussalam, fii amanillah," ucap Silvira, dan ia segera masuk setelah mobilnya menghilang dari pandangan.


"Bu Wati, tolong buatkan saya setup apel ya, saya pengen itu,"


"Iya Mba," sahut bu Wati dengan segera menyiapkan apa yang diminta majikannya itu.


"Tolong nanti diantar ke atas ya Bu, makasih," ucap Silvira, bu Wati mengiyakan dan Silvira segera ke kamarnya.


Silvira segera berganti pakaian kemudian membersihkan kamarnya. Dimulai dari mengganti sprei, menyapu dan mengepel, tak lama kemudian bu Wati mengetuk pintu membawa setup apel yang diminta Silvira tadi.


Silvira langsung menikmatinya hangat-hangat, aroma cengkeh dan kayu manis menambah nikmatnya setup buatan bu Wati itu.

__ADS_1


Setelahnya Silvira beristirahat sebentar dengan bersandar di sofa sambil membaca buku.


...


Saat dhuhur tiba, Azam bersama ketiga rekannya sholat berjamaah di masjid kantor mereka, hari itu mereka nampak bahagia karena Azam sudah kembali bekerja lagi.


Selepas sholat, mereka makan siang di ruangan mereka, Azam membuka bekal yang disiapkan Silvira pagi tadi. Tak lupa ia mengirim pesan kepada Silvira, untuk mengingatkannya makan siang. Namun setelah sepuluh menit berlalu, pesannya tak kunjung dijawab. Azam menjadi gelisah, dan memutuskan untuk menelpon Silvira.


"Bentar ya, aku telpon Silvi dulu, aq sms ga dibuka," ucap Azam seraya bangkit dan menjauh dari riuhnya teman-teman yang sedang makan sambil bercanda.


"Kok gak diangkat," ucap Azam yang masih menggenggam ponselnya. Ia mencoba menelpon bu Wati.


"Halo bu Wati, Silvi dimana?" tanya Azam.


"Tadi sih di atas, di kamar, mungkin tidur Pak, ditelpon gak bisakah?" sahut bu Wati dari seberang.


"Bu Wati coba naik ke atas, tapi jangan dimatikan ya telponnya," pinta Azam.


"Iya Pak, baik," ucap bu Wati seraya naik ke atas ke kamar Silvira.


"Mba, Mba Silvi," panggil bu Wati.


"Iya Bu," sahut Silvira yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Ini Pak Azam telpon, katanya tadi telpon Mba ga dijawab," ucap bu Wati sambil menyerahkan ponselnya.


"Oh iya Bu, makasih, dan minta tolong ambilkan makan siang saya gado-gado yang tadi kita bikin ya, saya capek mau turun," pinta Silvira. Bu Wati mengacungkan jempolnya tanda setuju lalu menutup pintu kamar dan segera turun.


"Iya Mas, ada apa?" tanya Silvira kemudian.


"Kamu gak papa Beib?" tanya Azam.


"Gak papa, maaf tadi aku di kamar mandi, ponselnya di atas sofa itu,"


"Kamu gak perdarahan kan? Aku khawatir, apalagi kamu gak bisa dihubungi,"

__ADS_1


"Alhamdulillah, kami masih kuat kok, walaupun semalam abatinya kelamaan durasi nengok dede bayinya," celetuk Silvira, yang membuat Azam ikut terkekeh.


"Iya, maaf, maaf ya Beib,"


__ADS_2