Ayah Untuk Anak Kembarku

Ayah Untuk Anak Kembarku
#31


__ADS_3

Azam dan Silvira perjalanan pulang kembali ke kotanya, karena kaki Azam masih agak sakit, maka Silvira yang menyetir. Fahri dan Farhan duduk di bangku belakang.


"Mas kalau ngantuk tidur saja, nanti aku bangunin," ucap Silvira.


"Bagaimana bisa begitu sayang, aku sudah sangat merasa bersalah tidak bisa menyetir untukmu, mana bisa aku tidur?" ucap Azam sambil membelai tangan Silvira.


"Aku sudah biasa Mas menyetir sendiri," sahut Silvira.


"Iya, percaya deh, kamu itu wanita yang mandiri beib," ucap Azam.


Silvira hanya tersenyum mendengarnya.


"Mas,"


"Hmm,"


"Sayang,"


"Apa?"


"Itu, maafkan aku sebelumnya," ucap Silvira.


"Memangnya kamu ngapain?" tanya Azam.


"Aku sebenarnya... sebenarnya semalam itu aku mendengar pembicaraan Mas sama Ayah dan mas Amir,"


"Iyakah? Apa yang kamu dengar beib?" tanya Azam.


"Masalah Mas mau membantuku mengelola klinik,"


"Ehm, lalu menurut kamu bagaimana?" tanya Azam.


"Aku sangat senang Mas, Mas dan keluarga Mas begitu memperhatikan aku. Aku juga mau begitu Mas, Mas saja yang mengelola klinik, biar aku di rumah mengurus keperluanku dan anak-anak," jawab Silvira.


"Jadi kamu setuju aku re sign dari kantorku?" tanya Azam.


"Kalau itu bisa kita pikirkan lagi," sahut Silvira.


"Maksudnya bagaimana?" Azam mendadak bingung, tadi katanya setuju Azam mengelola klinik, tapi untuk re sign masih dipikirkan lagi.


"Mas, pekerjaan itu sudah seperti bagian dari hidup kita, apalagi Mas sebagai pegawai negeri sipil, pasti tidak mudah mencapainya, prosesnya juga lama, dan tidak semua orang bisa mendapat kesempatan itu,"


"Terus.." sahut Azam.


"Mas, pekerjaanku di klinik sebenarnya tidak butuh waktu banyak, cuma mengawasi karyawan saja, memastikan mereka bekerja dengan baik. Misal Mas mau ngecek omset, datang sore sepulang kantor gak masalah, cuma pastikan mereka transfer omset setiap hari, dan pekerjaan lainnya bisa dikerjakan akhir pekan,"

__ADS_1


"Hmm begitu, cobalah nanti pelan-pelan ya," ucap Azam.


"Iya Mas, pelan-pelan saja, kalau sekarang sih aku lebih menikmati peran sebagai istrimu," ucap Silvira.


"Alhamdulillah, kamu menyadari kewajibanmu, di luar sana banyak istri dan ibu yang mementingkan pekerjaannya, sementara tugasnya di rumah terbengkalai. Bukannya Islam melarang wanita bekerja, wanita boleh bekerja kalau tugasnya di rumah tetap menjadi prioritasnya. Maa syaa Allah, Mas bangga kamu lebih menikmati peranmu sebagai istri dan ibu, love u baby," ucap Azam. Silvira tersenyum lebar mendengarnya.


🌹🌹🌹🌹🌹


Mereka telah sampai di rumah. Silvira membangunkan Fahri dan Farhan. Alhamdulillah mereka mau bangun dan berjalan sendiri, karena biasanya Azam yang menggendong mereka. Selanjutnya Silvira membantu Azam berjalan dan dibantu bu Wati membawa tasnya.


"Bu Wati tolong siapkan makan siang ya, ini tadi dibawain kuah soto sama Ibunya Mas Azam, tolong dipanaskan ya," pinta Silvi.


"Iya Mba," sahut bu Wati.


"Mas, kita duduk di ruang tv dulu yuk, nemani anak-anak main," ajak Silvira sambil menggandeng Azam ke arah ruang tv.


Farhan dan Fahri bermain lego, sementara Azam meluruskan kakinya yang terasa pegal.


"Pegal Mas?" tanya Silvira. Azam mengangguk.


"Rasanya di dalam gips ada yang gatal, aku bingung mau garuk tidak bisa," ujar Azam sambil meringis. Silvira melihat di kiri dan kanan, lalu berdiri dan berjalan menuju belakang. Sekejap kemudian dia kembali membawa lidi dari penebah yang ada di musholanya.


"Coba garuk pakai ini Mas,"


"Bisa juga kamu beib," ucap Azam.


"Sini duduk bawah sini," pinta Azam kepada Silvira, Silvira kemudian duduk di karpet di bawah tempat duduk Azam.


"Aku pijitin ya sayang, kamu pasti capek menyetir, dan sekarang harus mengurus kami," ucap Azam sambil memijat-mijat pundak Silvira.


"Oh... Maa syaa Allah, enak Mas pijatannya," ucap Silvira.


"Hmm iyakah, ini pijatan mahal lho, kira-kira sanggup bayar gak nanti malam?" goda Azam.


"Hmm, apapun bayarannya akan aku tunaikan, tapi setelah tamu bulananku pergi Mas" ucap Silvira sambil menikmati bahunya yang mendapat pijatan.


"Oh iya, masih belum bisa," ucap Azam sedikit kecewa.


"Boys, kalian juga bisa mijat Umma seperti ini?" tanya Azam mengalihkan perhatian si kembar sejenak.


"Belum tahu Abati," sahut Fahri.


"Iya, kami belum pernah memijat Umma," imbuh Farhan.


"Sini cobain Farhan pijat bahu kanan, Fahri pijat bahu kiri Umma," ucap Azam, mereka berdua pun menurutinya.

__ADS_1


"Enak Umma?" tanya Fahri.


"Iya sayang, enak, Umma sangat bahagia dipijat anak-anak Umma seperti ini," sahut Silvira.


"Kalian tahu gak, kalau berbuat baik kepada orang tua itu kewajiban, jadi kalian sering-seringlah memijat Umma kalian. Kalian perlu tahu bahwa dunia seisinya pun tidak akan mampu membayar rasa sakit yang Umma kalian rasakan waktu melahirkan kalian," ucap Azam. Kedua anak kembar itu, mendengar dengan seksama dan mulai mengerti.


"Umma, sakit ya waktu melahirkan kami?" tanya Fahri.


"Hmm iya sayang, sangat sakit, tapi Umma rela mengalami itu semua untuk melahirkan kalian," ucap Silvira.


"Ummaaa," ucap si kembar sambil memeluk Silvira di kiri dan kanannya. Silvira tersenyum bahagia, begitu juga Azam bahagia melihat istri dan anaknya.


"Abati," panggil Fahri.


"Iya sayang," sahut Azam.


"Kami juga sayang Abati," ucap Farhan, kemudian mereka berdua beralih memeluk Azam.


"Abati, kalau Abati sudah sembuh, kita boleh main gim di mall lagi?" tanya Fahri.


"Iya in syaa Allah," jawab Azam.


"Mba Silvi, Pak Azam, makan siang sudah siap," ucap bu Wati.


"Baik bu Wati," ucap Silvira.


"Kita makan siang yuk Mas, Boys," ajak Silvira. Mereka berempat berjalan menuju meja makan. Mereka menikmati soto ayam yang dibawakan ibunya Azam.


"Maa syaa Allah, soto Ibu enak banget Mas," ucap Silvira.


"Iya, masakan Ibu itu masakan yang paling aku rindukan, tapi sekarang, aku sudah punya istri, jadi masakan istriku juga masakan favoritku," ucap Azam.


"Hmm, iya Mas," sahut Silvira sambil menikmati makan siangnya itu.


"Sayang, kalau suatu saat aku lebih mementingkan Ibu Ayahku dari pada kamu, jangan marah ya, sebab istri memang diwajibkan mementingkan suami daripada orangtua, tapi suami harus lebih mendahulukan orang tua daripada istri. Bantulah suamimu ini agar jadi anak yang sholih untuk Ayah dan Ibunya Ya.


"Hmm, baik Mas," sahut Silvira.


"Aku sangat senang berada di rumah ayah ibu, aku merasa disayangi seperti putri mereka sendiri," lanjutnya.


"Itu karena kamu anak yang baik, maa syaa Allah," ucap Azam.


"Kalian juga senang dengan kakek dan nenek apel?" tanya Azam kepada si kembar.


"Tentu saja Abati, kakek sama nenek sangat baik kepada kami," jawab Farhan, sementara Fahri mengangguk membenarkan saudaranya.

__ADS_1


__ADS_2