
"Mas Azam," ucap Silvira sambil ternganga melihat suaminya. Rupanya ketika Silvira dan Ibu pergi ke masjid, Amir telah membantu adik semata wayangnya mencukur kumis dan merapikan jenggot.
"Nih, Sil, suami kamu sudah ganteng, dia takut ditinggalin sama kamu katanya," celetuk Amir, Silvira hanya tersenyum mendengarnya. Dan memang jujur saja dia tidak pernah melihat Azam tidak rapi atau bersih sebelum kecelakaan. Dan ia benar-benar melihat Azam yang tampan seperti biasa, ma syaa Allah.
"Assalamualaikum," sapa dua orang yang baru datang.
"Waalaikumussalam," jawab yang di dalam.
Kemudian semuanya terdiam, membiarkan Azam memindai siapa yang datang itu, dan menunggu apa yang diucapkan Azam.
"Ammar, Hendra," ucap Azam pelan. Seketika semua tersenyum penuh syukur, Azam berhasil mengenali dan memanggil nama dua sahabatnya itu. Dan di belakang kedua sahabatnya itu muncul dua anak kembarnya.
"Fahri, Farhan," lirih Azam.
"Abati...!!" seru kedua anak kembar itu sambil berhambur memeluk Azam. Azam menyambut mereka dengan suka cita.
Mereka yang melihatnya terharu, dengan pertemuan Azam dengan kedua anak kembarnya.
"Sayangnya Abati," ucap Azam sambil mengelus kepala kedua anak itu.
Setelah puas berpelukan, ganti Hendra dan Ammar menyalami Azam.
"Ndra," sapa Azam kepada Hendra.
"Mar, makasih, jazaakallaahu khayran," ucap Azam yang masih sedikit kesulitan bicara.
"Wa jazaakallaahu khayran. Sudah, kamu fokus dengan kesembuhan mu, mereka berdua percayakan padaku, mereka sudah aku anggap anakku sendiri, kamu tenang saja ya," ucap Ammar seakan tahu apa yang ingin dibicarakan Azam, Azam hanya tersenyum dan mengangguk. 'Iya Mar, aku sangat mempercayai mu' batin Azam.
Setelah mereka berbincang dan merasa lega melihat Azam sudah sadar kembali, mereka pulang semua, tinggal Silvira yang menemani Azam.
Sebenarnya Amir sudah menawarkan diri untuk tinggal bersama mereka, karena khawatir jika Azam mau ke kamar mandi, sedangkan Azam belum bisa lancar berjalan, pasti Silvira juga kesulitan membantu Azam dengan perut sebesar itu.
"Nanti aku panggil perawat kalau kesulitan, sekarang aku mau berdua dengan suamiku yang baru kembali," ucapnya kepada Amir.
Azam baru terbangun setelah siang tadi tidur hampir tiga jam, mungkin merasa lelah setelah menemui banyak orang.
"Beib," panggilnya kepada Silvira yang sedang merapikan kopernya yang tadi diambil dari home stay.
"Iya sayang," sahut Silvira dengan segera ia mendekat pada suaminya.
"Aku mau mandi, panggil perawat," ucap Azam perlahan.
"Hmm no no, biar aku yang bantuin Mas mandi, aku bisa kok," ucap Silvira seraya mendekatkan kursi roda ke dekat tempat tidur Azam.
__ADS_1
"Jangan Beib aku malu," ucap Azam. Mendengar penolakan Azam ia mengernyitkan dahinya, lalu duduk di tepi tempat tidur Azam.
"Kenapa malu coba? Bukankah aku sudah lihat semuanya," tanya Silvira. Azam tertunduk, meraba perutnya yang sedikit membuncit. Koma selama tiga bulan membuat metabolismenya terhambat, dan hanya tidur selama itu membuat lemak di perutnya terlihat lagi menutupi otot-otot yang berhasil dia bentuk dulu.
"Aku sudah gak sexy seperti dulu," lirihnya. Silvira tertawa lebar.
"Aih ma syaa Allah suamiku lucu sekali sih, kaya gitu aja dah minder, coba lihat nih perut aku segede gini Mas, ga ada sexy sexy nya lagi, nanti setelah aku lahiran, kita bikin sama-sama roti sobek enam biji di perutmu dan perutku, oke?!" ucap Silvira.
"Yuk, aku bantuin ya mau mandi di kamar mandi atau di seka aja di sini?" tanya Silvira kemudian.
"Tapi Beib," Azam tetap bersikukuh menolak bantuan Silvira.
Silvira membuang nafas pelan, dia harus bersabar dimana suaminya sekarang sedang insecure.
"Mas, dengerin aku, kalau kamu tanya aku mencintai fisikmu, iya aku cinta, tapi bukankah kita nanti juga semakin menua? Dan Mas dulu juga bilangkan kalau aku nanti jadi gendut setelah melahirkan, Mas juga akan tetap mencintaiku, begitu pula sekarang, apapun keadaanmu, aku ingin selalu di samping Mas, Mas memberiku banyak cinta, juga untuk si kembar, maka dari itu, izinkan aku merawat mu, izinkan aku menjadikanmu ladang pahalaku, hmm ya," ucap Silvira.
"Hmm baik," ucap Azam akhirnya.
"Mau mandi seka apa mandi di kamar mandi?"
"Kamar mandi,"
"Mas pusing gak?"
"Kalau pusing bilang ya,"
"Hm,"
Silvira membantu Azam pindah ke kursi roda, dia sebenarnya tidak lumpuh, namun masih sulit bergerak cepat, jadi pelan dan perlahan dia bisa melangkahkan kakinya untuk pindah ke kursi roda. Silvira mendorongnya ke kamar mandi, dan membantu Azam melepas pakaiannya. Azam kemudian duduk di atas kloset, dan Silvira memandikannya.
Selesai mandi, Silvira memakaikan baju ganti dan membawa Azam kembali ke tempat tidur.
"Beib,"
"Iya Mas,"
"Jazaakillaahu khayran," ucap Azam.
"Wa jazaakallaahu khayran," sahut Silvira.
"Kamu istirahat ya, pasti capek," ucap Azam.
"Iya," sahut Silvira. Namun tentu saja ia tidak langsung duduk begitu saja, ia harus merapikan baju kotor Azam dan membersihkan dirinya juga.
__ADS_1
Azam selesai sholat ketika Silvira keluar dari kamar mandi. Azam melihat istrinya itu masih tetap memakai jilbabnya, karena khawatir seseorang tiba-tiba saja masuk.
"Beib,"
"Iya Mas," sahut Silvira sambil mendekati Azam.
"Kamu mau sholat?"
"Iya, Mas butuh apa aku ambilkan dulu,"
"Kamu sholat dulu,"
"Mau apa aku ambilkan,"
"Aku maunya kamu, jadi kamu sholat dulu," ucap Azam.
Silvira membulatkan matanya, rupanya Azam berhasil membuat pipinya bersemu merah. Dia kemudian segera sholat dan mendoakan Azam. Setelah itu dia duduk mendekati Azam yang ternyata sudah tertidur lagi.
Tak ingin membangunkan suaminya, Silvira merapikan selimut Azam dengan perlahan, lalu beranjak untuk pindah ke sofa, dia juga hendak beristirahat sejenak, menyandarkan pinggangnya yang mulai pegal.
Sekitar satu jam kemudian, Azam terbangun karena Amir dan Sofia datang. Mereka datang membawa makan malam untuk Silvira.
"Ssst," ucap Azam sambil menaruh jari telunjuk di bibirnya, lalu menunjuk ke arah sofa, dimana Silvira sedang tidur.
"Oh, iya," sahut Sofia juga Amir. Sepuluh menit kemudian Silvira terbangun.
"Oh, Mba Sofi, Mas Amir, uda dari tadi? Kok gak bangunin aku," tanya Silvira yang sedikit terkejut.
"Aku yang larang, karena kamu pasti capek banget ngurusin aku," ucap Azam dengan perlahan.
"Kamu sudah bangun yuk makan, tadi ibu masakin soto daging buat kalian, sama perkedel kentang, dimakan gih pumpung masih anget," kata Sofia sambil mengambilkan nasi beserta soto dan perkedelnya. Silvira langsung berbinar mencium bau kuah soto yang hampir setiap hari ingin dimakannya.
"Jadi Zam, Silvi itu hampir setiap hari makan soto, entah soto ayam, atau daging sapi, dia suka banget, jadi kadang ibu suka masakin, biar dia gak beli terus," lanjut Sofia.
"Iya Mas, aku jadi seneng banget sama soto, ngidam soto kali ya," ucap Silvira.
"Jadi udah keturutan semua?" tanya Azam.
Silvira tersenyum tipis, dan matanya berkaca-kaca.
"Ada satu lagi yang belum," sahut Silvira.
"Apa itu Beib?"
__ADS_1