Ayah Untuk Anak Kembarku

Ayah Untuk Anak Kembarku
#57


__ADS_3

Azam dan Silvira sampai di klinik kecantikan, karena weekend maka banyak pengunjung dan klien.


Azam ke lantai atas dimana petugas rekanan sedang me - maintenance alat. Sedangkan Silvira memeriksa laporan di ruangannya.


Setelah selesai, Azam turun ke bawah, di ruang tunggu, ada seseorang yang memanggilnya.


"Pak Azam," panggil wanita itu. Azam menoleh ke sumber suara, dan wajahnya seperti tidak asing.


"Iya, Mba siapa ya?" tanya Azam karena memang tidak bisa mengingatnya.


"Saya Disha, putrinya pak Gunawan yang punya toko alat pertanian langganan kantornya Pak Azam, saya pernah melihat Bapak beberapa kali," ucap wanita itu yang ternyata bernama Disha.


"Oh, iya pantas saja, saya merasa tidak asing, tapi sudah cukup lama saya tidak menangani pembelian alat lagi, kamu sedang perawatan di sini?" tanya Azam.


"Iya Pak, sudah lama saya jadi member di sini, Bapak perawatan juga?" tanya Disha balik.


"Oh, nggak, saya lagi ngecek maintenance alat," sahut Azam.


"Bapak kerja di sini juga?" tanya Disha.


"Ehm, bisa dibilang begitu," jawab Azam sekenanya.


"Ini hari libur kan, setelah saya perawatan, apakah bisa kita ngopi atau ngeteh bersama? Ada yang mau saya bicarakan dengan Bapak," tanya Disha. Azam terkejut mendengar ajakan Disha.


"Ehm, kita ngobrol di sini aja ya, sambil nunggu giliran perawatan kamu, kamu mau ngomong apa? Masalah alat pertanian ya, nanti bisa saya sampaikan teman saya yang menangani itu," ucap Azam yang masih menganggap Disha rekanan dari kantornya.


"Baiklah, silakan duduk di sini Pak," ucap Disha sambil duduk. Azam kemudian duduk selang satu kursi kosong dari Disha, pikirnya tak masalah karena itu tempat terbuka dan banyak orang di sana.


"Mba Disha," panggil petugas klinik.


"Iya," sahut Disha.


"Silakan masuk Mba, sudah giliran Mba sekarang," ucap petugas itu.


"Waduh sayang sekali, padahal kita belum ngobrol, atau saya bisa minta kontak Bapak biar saya bisa hubungi nanti," ucap Disha. Merekapun bertukar nomor ponsel.


Silvira yang dari tadi mengamati mereka dari kejauhan merasa cemburu melihat suaminya tampak akrab dengan perempuan yang tidak dia kenal. Azam yang baru menyadari keberadaan Silvira langsung menghampirinya.


"Beib," ucap Azam.


"Kita ke ruangan aku," ucap Silvira sambil berlalu pergi diikuti Azam di belakangnya.

__ADS_1


Di dalam ruangannya, Silvira melepas cadarnya dan menaruhnya di atas meja, kemudian dia duduk di sofa. Azam yang tidak mengerti duduk di sampingnya, merangkul bahunya.


"Kenapa Beib? Kamu kelihatan kesal banget?" tanya Azam.


"Aku gak tau Mas, aku jadi ngrasa posesif sama kamu, kemarin Andini ngajakin nikah, trus di warung es kelapa muda Mas diliatin cewek-cewek itu, ini tadi Mas ngobrol sama perempuan yang aku gak kenal, rasanya hatiku, aduuuuh, dan dulu masih banyak lagi hal serupa, dan mungkin ke depannya akan sering kejadian seperti ini," ucap Silvira yang bucin banget sama Azam.


"Hahahaha, kamu ini ada-ada saja Beib, kamu cemburu?"


Silvira mengangguk, Azam semakin lebar senyumnya.


"Berarti kamu sangat mencintaiku," ucap Azam.


"Kamu itu Mas, ma syaa Allah, apa setampan itu di mata mereka?" ucap Silvira.


"Hahahaahaha," Azam terus tertawa.


"Makan hati punya suami tampan," ucap Silvira.


"Itu tadi siapa?" tanya Silvira.


"Itu anaknya yang punya toko alat pertanian langganan kantor," sahut Azam.


"Aku sangat mempercayaimu Mas," ucap Silvira.


"Iya Beib, kalau mungkin aku ada di posisimu, aku mungkin lebih posesif darimu, bersabarlah, yakinlah bahwa aku milikmu seutuhnya," ucap Azam.


"Baiklah, sudah Ashar, Mas ke Masjid gih, habis itu kita ke mall ya," ucap Silvira.


"Siap, aku ke masjid dulu sayang," pamit Azam seraya mengecup kening Silvira.


Azam segera pergi ke masjid yang tidak jauh dari klinik itu. Sedangkan Silvira sholat di mushola klinik bersama karyawannya. Silvira selalu berpesan kepada karyawannya untuk segera sholat bergantian ketika masuk waktu sholat.


Setelah selesai sholat, Azam segera kembali ke klinik, rupanya Silvira sudah menunggu di ruang tunggu sambil melihat tv.


"Beib, sudah siap ayo berangkat," ucap Azam.


"Iya Mas," sahut Silvira seraya berdiri.


"Aku ambil kunci mobil di ruanganmu dulu ya," ucap Azam.


"Ey.. Mas gak usah," ucap Silvira sambil menarik lengan Azam.

__ADS_1


"Kenapa? Gak jadi pergi?" tanya Azam.


"Kita jalan kaki aja yuk, lumayan dekat kan,"


"Okelah," Azam menyetujuinya.


Mereka berjalan ke arah Mall yang jaraknya sekitar sepuluh menit ditempuh dengan jalan kaki dari klinik kecantikan.


"Mas," panggil Silvira sambil sedikit terengah-engah.


"Ya Beib, kamu capek?" tanya Azam yang sedari tadi tidak melepaskan tangan Silvira.


"Sedikit, gerah aja, pakai baju seperti ini jelas kepanasan," sahut Silvira. Benar saja Silvira memakai gamis longgar, dan jilbabnya selutut, seakan memakai pakaian dobel, belum celana dalaman gamisnya, dan kaos kaki membungkus kakinya, serta cadar yang hanya memperlihatkan matanya saja membuat dia kegerahan berjalan di tengah hari.


"Hmm, kamu tahu Beib, kalau kamu bersabar dengan ini, kamu pakai pakaian sesuai syari'at, baju yang tebal, longgar, tidak memperlihatkan lekuk tubuh, jilbab yang panjang menutupi dada, menutupi kakimu yang jelas adalah aurat, serta menyembunyikan kecantikanmu dari lelaki ajnabi -- bukan mahram, Allah pasti berikan pahala yang luar biasa," ucap Azam.


"Iya Mas.. Tapi ada juga yang ngomongin aku, gak panas gitu pake baju seperti itu.." ucap Silvira.


"Mungkin mereka belum tahu kalau neraka lebih panas sayang," sahut Azam.


"Iya, aah alhamdulillah segerrrr," ucap Silvira ketika memasuki mall yang dingin karena AC itu. Azam terkekeh mendengarnya.


"Mau eskrim Beib?" tanya Azam sambil menunjuk ke outlet eskrim.


"Hmm, gak Mas, aku mau es teh manis aja," sahut Silvira.


"Baiklah, kita ke situ aja ya, Mas pengen makan dimsumnya," ucap Azam seraya mengajak Silvira ke outlet dimsum.


"Mas, kayaknya dari awal kita kenal dulu kita gak pernah ya jalan-jalan berdua," ucap Silvira sambil menyeruput es teh manisnya, aahh segerrr.


"Hmm, iya, kangen dan ngrasa sepi gak ada si kembar, tapi ini juga kesempatan buat kita honeymoon di rumah, hahaha," sahut Azam.


"Hmm, mulai deh... Habis ini kita kemana?" tanya Silvira.


"Kok tanya Mas, kan yang ngajak ngemall kamu Beib," sahut Azam sambil menikmati dimsum yang dia pesan.


"Okelah kita ke tempat perabot aja, nyari jam dinding buat ruangan baru," ucap Silvira.


"Hmm baik, nyonya," sahut Azam sambil tersenyum kepada istrinya, sedapat mungkin Azam memanfaatkan kesempatan berdua agar Silvira merasa nyaman dan tidak stres, agar istrinya itu bahagia.


"Azam, iya ini Azam kan?" ucap seorang wanita yang menghampiri mereka.

__ADS_1


__ADS_2