Ayah Untuk Anak Kembarku

Ayah Untuk Anak Kembarku
#91


__ADS_3

Malam harinya, Azam mengajak Silvira dan si kembar berjalan-jalan, juga Ammar dan ketiga anaknya. Sedangkan Arum serta ketiga balitanya juga pengasuhnya beristirahat di villa milik ayah Azam. Fatimah juga tidak diajak, karena udara di luar malam hari sangat dingin, juga bayi itu belum bisa menikmati keindahan pemandangan malam, maka Ibu dengan senang hati menjaganya.


Mereka pergi dengan mobil Azam, Amir juga ikut menyetir di depan bersama Ammar. Azam dan Silvira bersama si cantik Hanna duduk di bangku tengah, sedangkan empat bocah laki-laki duduk di bangku belakang.


"Aku ikut sekalian, mau ketemu temanku, dia pemilik taman spektakuler itu, sekaligus ketua himpunan pengusaha muslim kota ini," ucap Amir.


"Iya Mas," sahut Azam.


"Nanti aku kenalin ya, kamu kan juga pengusaha muda,"


"Oke," sahut Azam lagi.


Tak sampai tiga puluh menit, mereka sampai di taman hiburan spektakuler. Malam itu sangat ramai karena musim liburan sekolah dan juga itu menjadi satu-satunya tempat hiburan anak outdoor yang buka sore hingga malam hari di kota apel.


Mereka semua turun setelah Amir memarkir kendaraanya. Kemudian dia menelpon seseorang.


"Yuk, kita ke sana, itu dia yang melambaikan tangan," ucap Amir seraya menunjuk ke arah sebelah loket masuk. Dan di sana memang ada seseorang yang dimaksud Amir.


"Assalamualaikum," sapa Amir.


"Waalaikumusalam, Mas Amir, apa kabar?" tanya orang itu.


"Alhamdulillah baik, eh iya kenalkan ini adik saya Azam," ucap Amir. Namun Azam malah tersenyum lebar hingga terlihat barisan gigi putihnya.


"Azam, oh Khoirul Azam kan? SMA 3?" tanya lelaki itu.


"Luqman Fatoni, ah ternyata kamu," sahut Azam, kemudian mereka bersalaman dan berpelukan.


"Kalian sudah kenal rupanya," tukas Amir.


"Iya Amir ini Mas ku, eh iya kenalkan, Ammar temanku dari kota tahu, ini istriku, dan si kembar ini anak-anakku, kalau yang tiga itu anaknya Ammar," Azam memperkenalkan mereka semua.


"Ah iya, sebentar ya," Luqman pergi menuju pegawainya di dekat loket lalu membisikkan sesuatu, kemudian kembali lagi mengobrol dengan teman lamanya itu.


"Jadi kalian liburan di sini?" tanya Luqman.


"Iya, ngantar anak-anak ini, ma syaa Allah sudah sukses kamu Luqman," sahut Azam.


"Rizki Minallah Zam," ucap Luqman.


"Ini Pak," ucap seorang pegawai sambil menyerahkan beberapa gelang tiket masuk terusan.

__ADS_1


"Oh iya, tolong pasangkan ke mereka semua," perintah Luqman.


"Baik Pak," pegawai itu kemudian memasangkan gelang ke masing-masing anak, juga pada Azam, Silvira, Amir, dan Ammar.


"Mas Amir, aku pengen ngobrol dulu dengan Azam dan istrinya, pumpung ketemu, boleh ya," ucap Luqman meminta izin kepada Amir.


"Iya silakan Mas Luqman, biar anak-anak saya sama Ammar yang jagain, kalian santai saja," sahut Amir. Kemudian mereka diantar masuk oleh pegawai tadi.


"Yuk ke kantorku, ada istriku juga di atas, kita bisa ngobrol sama-sama," ajak Luqman. Azam dan Silvira mengikuti Luqman ke kantornya di lantai dua.


Di ruangan itu ada Imelda istrinya Luqman, mereka berkenalan, dan berbincang, mengenang masa-masa sekolah Azam dan Luqman. Setelah sekitar tiga puluh menit merka berbincang, Azam dan Silvira berpamitan, karena ingin menemani putra kembar mereka bermain. Tak lupa sebelum pergi, Silvira memberikan beberapa lembar voucher klinik kecantikannya.


"Kami pamit dulu, kalau ke kota tahu, silakan mampir ke rumah kami," ucap Azam berpamitan.


"Iya Azam, in syaa Allah," sahut Luqman.


"Assalamualaikum," ucap Azam dan Silvira sebelum pergi.


"Waalaikumusalam," sahut Luqman dan Imelda.


Azam kemudian menuju wahana bianglala, di sana si kembar dan semuanya menunggu mereka.


"Mas, aku juga pengen naik," ucap Silvira.


Mereka semua naik bianglala berpasang-pasangan. Setelah beberapa putaran mereka turun.


"Mas, kok aku pusing ya, hoougg," ucap Silvira sambil menahan rasa ingin muntah.


"Kamu sakit Beib?" tanya Azam.


"Masuk angin kayanya Mas," sahut Silvira yang terlihat pucat.


"Ya uda kita pulang ya," kata Azam sambil merangkul pundak Silvira. Silvira hanya mengangguk.


"Anak-anak, kita udahan yuk, Umma kurang enak badan," ucap Azam.


Amir melihat jam di tangannya, jam 20 lebih 30 menit.


"Iya sudah malam juga, besok in syaa Allah om Amir ajakin jalan-jalan lagi, di sini banyak sekali tempat wisata, besok mau kemana? Museum satwa? Museum mobil? Banyak mainannya juga di sana," Amir membujuk anak-anak.


"Iya Om, baik," mereka menurut.

__ADS_1


Azam dan Ammar berpisah di sana, Ammar dan anak-anaknya menuju villa, sedangkan Azam dan anak istrinya,serta Amir kembali ke rumah orang tua mereka.


.


.


Malam itu begitu dingin, Azam menyalakan penghangat ruangan di kamarnya. Kemudian turun ke dapur membuat sesuatu untuk diminum Silvira. Silvira menidurkan Fatimah sambil menyusuinya. Tak lama kemudian setelah uprek di dapur, Azam kembali ke kamar membawa secangkir air jahe.


"Beib, minum dulu ini, biar mual nya berkurang," ucap Azam seraya menaruh cangkir itu ke atas nakas.


"Iya, bentar Mas," bisik Silvira tak ingin membangunkan Fatimah yang mulai terlelap. Keduanya di kasur sebelah, yang baru dibelikan ibu tadi pagi, ibu sengaja menambah kasur lagi untuk kamar Azam agar mereka nyaman tidur bertiga.


Setelah Fatimah terlelap, Silvira ke kasur sebelahnya, karena Azam sudah menunggunya di sana, dia segera menyeruput jahe hangat yang dibuatkan suaminya.


"Gimana?" tanya Azam.


"Hmm, enak ma syaa Allah, manis dan pedasnya pas, buatnya dikasih cinta sih," sahut Silvira sambil tersenyum, Azam ikut tersenyum lebar mendengarnya.


"Ya udah kamu miring kanan sana, aku pijit punggungmu biar anginnya keluar," pinta Azam.


Dengan ragu-ragu Silvira mengikuti pinta Azam.


"Pijit aja kan Mas?" tanya Silvira sambil bergetar, pasalnya dia tahu pasti Azam lagi modus.


"Hahaha, iyalah, istri lagi sakit masa iya mau dihajar, nanti aja kalau sudah sehat lagi lihat aja," ucap Azam seraya tangannya mulai memijat bahu dan punggung Silvira, sampai akhirnya perempuan itu terlelap.


.


.


.


Selepas sholat Subuh, Silvira menitipkan Fatimah kepada ibu, dia minta izin ke kamar untuk istirahat lagi karena masih merasa pusing. Ibu mengizinkannya namun ibu melihat ada yang aneh, ada perubahan di raut wajah menantu bungsunya itu.


Azam dan ayah, juga si kembar pulang dari sholat subuh berjamaah di masjid.


"Silvi mana Bu? Kok ibu yang gendong Fatimah," tanya Azam yang melihat ibu menggendong Fatimah.


"Istirahat di kamar, kurang enak badan katanya, itu ibu bikinkan teh hangat, kamu bawain ke atas buat istrimu," sahut Ibu.


"Iya Bu, tapi ibu gak capek gendong Fatimah, berat lho," Azam mengkhawatirkan ibunya.

__ADS_1


"Ibu masih kuat, dia selama ini kita nantikan, biar ibu menggendongnya, selagi masih bisa," sahut ibu sambil tersenyum. Azam lega mendengarnya, kemudian bergegas ke atas mencari istrinya.


__ADS_2