
Hari Jumat sore, Ayah dan Ibu Azam datang karena besok si kembar akan khitan. Ayah dan ibu diantar oleh Pak Min sopir mereka, karena Amir kakaknya Azam berencana datang besok bersama Sofia istrinya, dan Dhana anak mereka.
"Pak, Bu, saya pamit dulu ya," ucap Pak Min setelah beristirahat sejenak memutuskan untuk kembali ke kota apel.
"Iya Pak Min, hati-hati," ucap Ayah.
"Jangan ngebut, kalau capek atau ngantuk, berhenti dulu," kata Ibu.
"Iya Pak Min, terima kasih sudah mengantar ayah ibu," ucap Azam.
"Iya Mas Azam, semoga acaranya lancar besok," ucap Pak Min seraya pergi.
Setelah mengantar kepergian Pak Min, Azam serta Ayah Ibu kembali ke dalam rumah.
Di ruang keluarga, Fahri dan Farhan sedang bermanja-manja meletakkan kepala mereka di pangkuan Silvira yang duduk di karpet.
"Anak-anak Abati kenapa sore ini manja sekali dengan Ummanya?" tanya Azam seraya duduk di samping mereka diikuti ayah dan ibunya.
"Abang takut sakit karena dikhitan besok," ucap Fahri.
"Kakak juga takut, Abati dulu takut gak?" tanya Farhan yang beralih ke pelukan Azam.
"Hmm takut itu wajar, karena belum pernah, tapi Abati dan Umma sudah carikan dokter bedah yang terbaik dengan metode khitan yang terbaik juga, jadi in syaa Allah kita bisa, besok in syaa Allah Abati akan temani kalian sampai selesai dikhitan," ucap Azam.
"Iya Abati," sahut Fahri dan Farhan yang merasa lebih tenang mendengar penjelasan Azam.
"Dan lagi, hari ini hari Jumat, ada waktu dikabulkannya doa, yaitu setelah Ashar sampai menjelang Maghrib, itu sekarang kan, nah Abang sama Kakak berdoa ya, biar Allah berikan kelancaran dan kemudahan besok khitannya," ucap Azam.
"Dan biar tidak sakit," ucap Fahri.
"Iya yuk berdoa," ucap Azam. Mereka pun berdoa bersama untuk kelancaran acara besok.
Azan Maghrib berkumandang, Azam mengajak ayah dan si kembar sholat berjamaah di masjid, sedangkan Silvira sholat bersama Ibu di rumah.
Bada Maghrib, utusan dari katering datang untuk menyiapkan meja dan tempat makanan.
"Oh iya Mas, nanti di sini prasmanan nya," ucap Silvira sambil menunjukkan meja makan kepada petugas katering itu. Ibu masih di dalam kamar tamu ketika orang katering datang.
__ADS_1
"Assalamualaikum," sapa Karina pemilik katering yang dipesan Silvira.
"Waalaikumusalam Mba, silakan masuk," ucap Silvira. Mereka pun bersalaman.
"Ini aku datang mau menata meja dan peralatannya," ucap Karina.
"Iya Mba, silakan, ini di sini tempatnya," ucap Silvira sambil menunjukkan tempatnya.
Karin dan dua orang karyawannya mulai memasang taplak meja dan menata tempat-tempat makanan. Ibu yang keluar dari kamar terkejut melihat Karina di ruang makan.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya ibu setengah berteriak. Karina terdiam dan hanya bisa menunduk, air matanya menetes. Azam yang baru datang, meminta ayah membawa si kembar ke atas, dam dia segera merangkul ibunya dan membawanya ke dalam kamar tamu lagi.
Karina yang masih berdiri tertunduk mulai terisak, dia tak tahu harus bagaimana, dia sangat tahu ibu Azam sangat membencinya.
"Mba Karin, Mba gak papa? Maaf, aku tidak bermaksud apapun dengan memesan katering Mba, ini murni karena aku memang butuh katering," ucap Silvira.
"Iya, aku ngerti, tapi seharusnya aku lebih menyiapkan hatiku bertemu dengan orang tua mas Azam," ucap Karina.
"Iya, Mba tenang saja, Mas Azam pasti bisa membujuk Ibu, sekarang silakan dilanjutkan pekerjaannya, be profesional ya," ucap Silvira sambil tersenyum pada Karina.
Di dalam kamar tamu, Azam duduk di tepi ranjang bersama ibunya.
"Ibu, untuk apa menyimpan dendam di hati, jika itu malah membuat hati kita semakin sakit, memang yang aku alami dulu sangat menyakitkan bagi kita, tapi itu semua sudah takdir dari Allah, dan aku bersyukur, karena aku diceraikan oleh Karina maka aku dipertemukan dengan Silvira, wanita yang sangat baik, yang sangat mencintaiku dan keluargaku, yang merawatku dengan sangat baik," ucap Azam.
Ibu menghela nafas, mencoba memahami anaknya, memang benar Silvira adalah menantu yang sangat baik, dia merawat Azam dengan baik. Itu lebih penting dari pada dendamnya di masa lalu.
"Sudah ya Bu, ikhlaskan semuanya, Karina dan mamanya juga sudah meminta maaf padaku, dan tolong jangan diungkit masalah katering, karena Silvira yang memintanya, dia akan merasa bersalah jika ibu mengungkitnya, dia hanya ingin membantu Karina, itu saja," lanjut Azam.
Ibu mengangguk-angguk mencoba mengerti iktikad baik anak dan menantunya.
"Ibu di sini dulu, kalau sudah tenang kita keluar," ucap Azam sambil mengelus punggung Ibunya.
Karin dan karyawannya telah selesai menata tempat prasmanan. Dia berpamitan kepada Silvira.
"Mba kami pamit duluan ya, besok in syaa Allah jam tujuh pagi kami sudah siap di sini," ucap Karina.
"Iya Mba, terima kasih," ucap Silvira.
__ADS_1
Azam keluar dari kamar tamu, dia juga bertemu Karina.
"Eh Mas, kami pamit dulu," ucap Karina.
"Iya," sahut Azam.
Karina dan kedua anak buahnya meninggalkan rumah Azam.
"Gimana Ibu Mas?" tanya Silvira. Azam menghampiri Silvira dan memeluknya.
"Lho Mas kenapa?" tanya Silvira heran. Azam kemudian melepaskan pelukannya.
"Iya alhamdulillah ibu sudah tenang, aku cuma bersyukur memilikimu saat ini," ucap Azam sambil menangkup kedua pipi Silvira hendak menciumnya. Namun azan Isya berkumandang.
"Sudah dipanggil Allah Mas," ucap Silvira sambil tersenyum lebar.
"Baiklah, nanti malam di kamar awas ya," ucap Azam sambil pergi ke lantai atas memanggil anak-anak dan ayahnya untuk diajak sholat Isya ke masjid.
Silvira hendak masuk ke kamar tamu menemui Ibu mertuanya, namun masih ragu, takut suasana hati Ibu masih belum baik, dia berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar tamu.
"Masuk, gak, masuk, gak, masuk gak ya??" gumamnya sendiri.
"Masuk," ucap Azam di belakangnya yang membuatnya terkejut.
"Mas ngagetin aja," ucap Silvira.
"Habisnya kamu mondar-mandir aja, gak papa masuk aja, bilang kalau kamu mau ajak sholat Isya, gak papa kok," ucap Azam meyakinkan Silvira.
Silvira kemudian masuk ke dalam kamar tamu, terlihat Ibu mertuanya sedang terisak.
"Ibu, Ibu kenapa?" tanya Silvira.
"Ibu cuma sedih mengingat masa-masa sulit Azam," jawab Ibu. Silvira duduk di samping Ibu mertuanya dan mengelus tangan beliau.
"Ibu, jangan sedih lagi ya, Silvira janji in syaa Allah akan membahagiakan Mas Azam," ucap Silvira. Ibu kemudian memeluknya.
"Terima kasih Nak, terima kasih," ucap Ibu.
__ADS_1
"Sekarang kita sholat Isya dulu Bu, nanti selepas sholat, katanya Mas Azam mau mengajak kita semua makan di luar, yuk Bu," ucap Silvira kepada Ibu mertuanya.