Ayah Untuk Anak Kembarku

Ayah Untuk Anak Kembarku
#34


__ADS_3

"Bagaimana keadaan istri saya Dok?"


Dokter Rina menghela napas panjang, kemudian menyeka keringat di dahinya.


"Alhamdulillah operasinya berhasil, tadi pasien sempat kehilangan banyak darah dan membuat pasien kritis, namun setelah mendapat transfusi darah, alhamdulillah pasien bisa tertolong," ucap Dokter Rina.


"Alhamdulillah," ucap Azam dan Ammar.


"Sekarang pasien masih diobservasi di ruang nifas, nanti kalau sudah stabil bisa kita pindah ke ruang rawat inap biasa," lanjut dokter Rina.


"Baik dokter, terima kasih," ucap Azam.


Azam dan Ammar segera menuju ruang nifas, dimana tempat Silvira berada. Sesampainya di depan ruang nifas, Ammar berpamitan kepada Azam.


"Bro, aku senang operasi Silvira sudah berhasil, semoga dia semakin membaik ya, sekarang aku pulang dulu ya, si kembar pasti cemas menunggu kabar Ummanya," ucap Ammar.


"Iya bro, makasih banget, kamu ada buat aku, jazaakallahu khayran," ucap Azam.


"Waiyyaka," balas Ammar.


Azam menunggu di luar karena Silvira masih dibersihkan dan diganti pakaiannya oleh para Bidan.


"Assalamualaikum," seseorang menyapa Azam. Azam segera menoleh ke sumber suara itu.


"Waalaikumusalam, Ibu... Ayah.." Azam segera memeluk mereka, bersama mas Amir di belakangnya.


"Bagaimana istrimu?" tanya Ibu.


"Itu masih di dalam, baru keluar dari ruang operasi," jawab Azam.


"Sabar ya Le, Allah pasti telah memberikan yang terbaik untuk kalian, dengan ini kalian bisa lebih bersabar," ucap Ayah. Azam hanya mengangguk.


Setelah diizinkan masuk, Azam segera menemui Silvira. Dia melihat istrinya masih terkulai lemah.


"Mas," lirih Silvira sambil berusaha tersenyum. Dia bahagia melihat Azam. Azam segera memeluknya. Silvira menghirup bau badan Azam yang selalu menjadi favoritnya.


"Sakit?" tanya Azam sambil menunjuk bagian bawah perut Silvira. Silvira menggeleng.


"Jam berapa sekarang?" tanya Silvira. Azam segera melihat arloji di tangannya.


"Jam sepuluh, kenapa?"


"Mas pasti lelah, jam segini masih pake baju kantor," ucap Silvira. Azam lalu memandangi dirinya, dia baru sadar masih memakai kemeja batik yang dipakainya bekerja tadi, dia belum mandi, hanya ke masjid untuk sholat.

__ADS_1


"Mas pulang dulu gih, mandi, makan, aku gak papa," ucap Silvira.


"Hmm, di luar ada ayah, ibu, sama mas Amir, aku panggil mereka dulu ya,"


"Tunggu Mas, Fahri sama Farhan gimana?"


"Kamu tenang aja, mereka baik-baik saja, di rumah Ammar," sahut Azam sambil keluar.


"Oh," ucap Silvira.


Ayah dan Ibu Azam, juga mas Amir memasuki ruangan Silvira.


Setelah menyapa Silvira, Amir pamit keluar.


"Le, kamu pulang dulu, biar istrimu sama Ibu, kamu dari tadi belum istirahat," ucap Ibu.


"Iya Bu, Beib gak papa kan aku tinggal sebentar sama ibu? Nanti aku kembali lagi," ucap Azam.


Silvira tersenyum dan mengangguk. "It's okay,"


Azam kemudian pulang ke rumah bersama ayah dan mas Amir.


Sesampainya di rumah, Azam segera mandi dan makan makanan yang dibawakan ibunya, ibu membawakan makanan kesukaannya waktu kecil, semur ayam dan kentang. Dia makam bersama Ayah dan kakaknya.


"Iya Yah, temani Azam dulu, tuh kakinya masih belum pulih benar, istrinya juga baru operasi, paling gak kalau ada ayah dan ibu, ada yang bantu mereka ngurus si kembar," ucap Amir.


"Baiklah, kalau ibumu setuju, ayah akan temani di sini," ucap ayah.


"Alhamdulillah," ucap Azam.


Menjelang tengah malam, Azam kembali ke rumah sakit, namun Silvira sudah dipindahkan ke kamar VVIP.


Azam masuk ke kamar rawat Silvira, dia melihat istrinya terlelap dan ibunya tidur di tempat tidur pengunggu pasien. Azam meletakkan bawaannya, kemudian menghampiri istrinya.


Adzan subuh berkumandang Silvira perlahan membuka matanya, tercium aroma tubuh yang sangat dikenalnya. Ternyata Azam sedang terlelap sambil duduk di sampingnya.


"Mas, Mas Azam, sudah subuh," ucap Silvira.


Azam kemudian terbangun, menegakkan punggungnya, dan menggeliat.


"Hoaam," Azam menguap seraya menutup mulutnya dengan tangan kirirnya.


"Sudah bangun kamu sayang?" tanya Azam. Silvira mengangguk, Ibu yang mendengar mereka juga ikut terbangun.

__ADS_1


"Kamu sudah di sini Le," ucap Ibunya yang tidak sadar semalam anaknya datang.


"Iya Bu, jam dua belas kurang aku nyampe sini, aku ke masjid dulu ya," ucap Azam seraya meninggalkan ruangan itu.


Ibu juga segera sholat Subuh. Tak lama kemudian datang perawat memeriksa tanda-tanda vital pasien dan membagikan air untuk seka. Ibu mulai menyeka badan Silvira.


"Maaf ya Bu," ucap Silvira.


"Kenapa minta maaf?" tanya Ibu sambil memeras handuk kecil yang telah ia celupkan ke air hangat itu kemudian dia sapukan ke wajah menantunya.


"Saya.. saya sungkan Bu," ucap Silvira.


"Aku juga Ibumu," ucap Ibu. Silvira meneteskan air mata. Dia sangat sedih teringat ibu dan ayahnya yang telah tiada. Ibu tersenyum pada Silvira.


"Ibu itu sangat beruntung, ibu gak punya anak perempuan, tapi Allah berikan kamu dan Sofia sebagai menantu, terlebih kamu yang mau menikahi Azam, hidupnya begitu sulit setahun lalu, tapi sekarang ibu perhatikan dia makin harum dan ganteng,"


"Siapa Bu yang makin harum dan ganteng? Anak Ibu ya?" tanya Azam tiba-tiba masuk.


Silvira jadi tertawa, sedangkan ibu hanya tersenyum.


"Iyalah anak ibu, masak anak orang lain," ucap Ibu.


"Sini Bu biar aku saja yang nyeka, ibu sarapan ini aku belikan nasi kuning di depan," ucap Azam sambil meletakkan bungkusan nasi kuning di atas meja.


"Sudah, sudah mau selesai, tinggal ganti baju dalaman saja," ucap Ibu. Azam kemudian membuka koper dan mengambil baju Silvira dan menaruhnya di tepi ranjang Silvira. Fia memperhatikan cara ibunya memakaikan baju dalaman agar dia bisa membantu Silvira selanjutnya.


"Kamu tahu Beib, semua baju dan keperluan kamu, aku bisa gampang nemuinnya. Tapi semalam aku cari ****** ***** sama kaos singlet punyaku, gak ketemu satupun di lemari,"


"Terus gak ganti?" tanya Ibu.


"Ya ganti, ambil di jemuran balkon masih ada tiga di sana, kamu nyimpannya dimana sih beib?"


Silvira tersenyum lebar melihat Azam kebingungan tanpa dirinya.


"Rahasia Mas, selama aku di sini Mas pakai yang di jemuran saja," sahut Silvira.


"Itu trik istrimu Le, biar kamu ketergantungan sama Dia," sahut ibu menimpali.


p"Iyakah," Azam melihat ke arah Silvira. Silvira hanya tersenyum.


"Okelah, pokoknya kamu harus semangat biar cepat pulang dan melayaniku lagi," ucap Azam.


"Iya, Mas, aku kangen sama rumah dan anak-anak," ucap Silvira.

__ADS_1


"Iya, oh iya Bu, semalam aku sudah bicara sama Ayah, kalau Ibu tidak keberatan, untuk sementara Ayah dan Ibu tinggal sama kami ya, ya dek, biar Ibu dan Ayah temani kamu pas Mas tinggal kerja,"


__ADS_2