Ayah Untuk Anak Kembarku

Ayah Untuk Anak Kembarku
#51


__ADS_3

Jam istirahat makan siang tiba, setelah sholat Dhuhur, Azam segera melajukan mobilnya menuju klinik kecantikan Silvira. Tak lupa dia membeli makan siang untuknya dan Silvira.


"Assalamualaikum," sapa Azam ketika memasuki pintu klinik.


"Waalaikumusalam," jawab resepsionis yang tentunya sudah mengenal Azam.


"Ibu ada?" tanya Azam.


"Masih sholat di atas Pak, silakan ditunggu sebentar,"


"Azam," sapa Bu Ana yang baru selesai perawatan.


"Lho Bu Ana, habis perawatan Bu?" tanya Azam.


"Iya, kamu jemput istri kamu ya?" tanya Bu Ana kembali.


"Iya Bu, mau lihat renovasi rumah," jawab Azam.


"Zam, Ibu malu ketemu istri kamu, sampaikan permintaan maaf Ibu ya," ucap Bu Ana. Azam terheran mendengar perkataan Bu Ana, sebenarnya ada apa...


"Lho memang ada apa Bu dengan istri saya?" tanya Azam.


"Uda ah Ibu gak mau ngomongin itu lagi, yang jelas ibu lakukan itu karena ibu menyayangimu, dan sudah ibu anggap anak sendiri, pokoknya ibu minta maaf sama istrimu, udah ya, ojol ibu dah datang," ucap Bu Ana sambil berlalu pergi meninggalkan klinik kecantikan itu.


Azam masih terbengong dan bingung dengan kejadiannya.


"Mas, sudah datang," sapa Silvira.


"Ehm, iya, makan dulu yuk," ucap Azam sambil menunjukkan plastik berisi dua box makanan.


"Iya, yuk ke ruanganku," ucap Silvira sambil menggandeng tangan Azam dan mengajaknya berjalan menuju ruang kerjanya.


Silvira membuka box makanan yang diberikan Azam, isinya nasi merah, ayam lada hitam, dan cah brokoli. Itu adalah makanan keseharian Azam, yang lebih suka makan makanan sehat. Sebenarnya sebelum menikah dengan Azam, Silvira tidak terbiasa dengan menu seperti itu, namun dia tidak keberatan memasak dan makan makanan sehat seperti Azam.


Mereka makan setelah membaca basmallah. Silvira memang agak terlihat muram, yang biasanya bergelayut manja dengan Azam kini hanya memakan makanannya dengan khidmat. Apa ini yang dimaksud bu Ana tadi... batin Azam.


"Beib, kamu kenapa?" tanya Azam.

__ADS_1


"Hmm, aku? Nothing, I'm okay," sahut Silvira. Dia mencoba tenang menyembunyikan kesedihan dari pagi tadi.


"No no, kelihatan sekali sayang, kamu menyembunyikan sesuatu, ada masalah pagi ini?" tanya Azam memaksa Silvira bercerita.


"Nanti aja Mas, pulang kerja aku cerita, kita makan dulu, kan mau lihat rumah, keburu habis jam istirahat kamu," sahut Silvira menolak.


"Mas minta kamu cerita sekarang, Mas gak mungkin bisa fokus kerja nanti kalau belum mendengar masalahmu, soal lihat rumah bisa nanti sore atau besok masih ada hari," ucap Azam.


Silvira terdiam sejenak. Kemudian mulai menatap manik Azam.


"Mas...." Air mata Silvira menetes tak tertahankan. Azam kemudian duduk mendekati Silvira dan merangkulnya, menepuk pundaknya untuk menenangkannya.


Setelah agak tenang kemudian Silvira menjelaskan kejadian yang dialaminya tadi pagi. Azam tersenyum mendengarnya. Oh ternyata begitu...


"Aku tahu yang dibilangnya tentang aku itu gak benar, tapi tetap saja menyakitkan mendengarnya," ucap Silvira kemudian.


"Sudah Beib, yang penting sekarang aku milikmu kan, bukan milik ponakannya bu Ana,"


"Ya sebel aja Mas, masa aku dibilang ngabisin uangmu sampai rumah kita terjual," ucap Silvira yang masih manyun.


"Iya sudah dong, aku tadi ketemu Bu Ana di depan, beliau minta aku sampaikan permintaan maafnya buat kamu," ucap Azam kemudian.


"Aduh, siapa yang bohong Beib, berbohong itu dosa walau cuma bercanda,"


"Emang iya bu Ana minta maaf? Kok aneh? Kenapa bisa gitu?"


"Ya mana Mas tahu, mungkin beliaunya sudah sadar kalau kata-katanya menyakitimu, beliau juga bilang kalau melakukan itu karena sudah nganggap aku anaknya sendiri, dan takut aku salah pilih istri, kan aku sudah setahunan lebih kenal beliau," ucap Azam kemudian.


"Hmm... Semoga ke depannya aku bisa lebih dewasa ya Mas, kalau ada hal semacam ini, ga perlu nangis lagi,"


"Aamiin, iya Beib,"


Setelah makan, Azam membantu Silvira memeriksa laporan dan sebagainya. Selesai itu, Azam kembali ke kantornya karena jam istirahat telah habis.


Sementara Silvira kembali berkutat dengan pekerjaannya. Hingga tak terasa jam menunjukkan pukul tiga sore, Silvira merasa badannya kurang sehat, mungkin kecapekan pikirnya. Silvira kemudian pamit pulang duluan kepada karyawannya, dan langsung menuju tempat kos.


Sesampainya di tempat kos, Silvira memarkir mobilnya dan segera turun, kemudian mengangkat jemuran sekalian sebelum masuk kamar. Setelah membersihkan diri dan sholat Ashar, Silvira melipat jemuran dan menaruhnya dalam keranjang baju untuk disetrika nanti malam. Setelah itu dia berbaring sejenak di atas kasur.

__ADS_1


"Assalamualaikum.." ucap Azam sambil membuka pintu, namun tidak ada jawaban, eh ternyata istrinya tidur.


Azam sengaja membiarkan Silvira tidur, mungkin Silvira juga butuh istirahat.. pikirnya. Lalu Azam mandi dan berganti pakaian.


Silvira masih pulas di atas kasur. Azam yang gemas melihat istri kesayangannya itu. Kemudian dia mendekat, dan membelai kepala Silvira.


Silvira mengeriyip merasakan seseorang membelainya.


"Mas uda pulang? Lho uda mandi, gak bangunin aku dari tadi Mas?" tanya Silvira seraya duduk.


"Kamu kelihatan capek sekali, aku gak tega tadi mau bangunin, ini barusan aku bangunin karena sudah mau maghrib sayang, aku juga kangen kamu," jawab Azam.


"Hmm Iya kah.. hari ini aku gak enak badan Mas, maaf ya sampai ketiduran dan gak tau Mas sudah pulang," ucap Silvira.


" Gak papa, pasti kamu kecapekan ya ngurusin kami, biasanya ada bu Wati, sekarang semua kamu kerjakan sendirian, gak enak badannya gimana? Apa yang dirasain? Biar aku belikan vitamin atau obat? Atau mau dipijitin?" tanya Azam.


"Gak papa Mas, paling bangun tidur besok pagi sudah baikan lagi, seperti kata Mas tadi, mungkin aku kecapean," sahut Silvira.


"Eh ini sudah tanggal segini, biasanya kamu sudah haid, jangan-jangan kamu..." ucap Azam.


"Hmm iya ya, coba lah besok pagi aku tes, Mas tolong belikan ya, alat tes kehamilannya," ucap Silvira.


"Iya sekalian beli makan malam, kamu gak usah masak malam ini, kita beli aja, kamu pengen makan apa?" tanya Azam.


"Kita tanya anak-anak aja yuk Mas, bolehlah sekali kali kita yang ikuti mereka, jenuh juga mereka dikasih menu sangat sehat kita setiap hari," sahut Silvira.


"Oke aku tanya anak-anak dulu ya mau apa, sekalian ke masjid, kamu juga sholat, sudah azan itu," ucap Azam sambil ke kamar sebelah mengajak anak-anak sholat ke masjid.


"Assalamualaikum," ucap Azam sambil membuka pintu.


"Waalaikumusalam warahmatullahi wabarokatuh," jawab Silvira.


"Beib, yuk makan, sudah ditunggu anak-anak," ucap Azam.


"Baik Mas," sahut Silvira sambil menyambar jilbab dan cadar yang dia gantungkan di depan kamar mandi kemudian memakainya.


****

__ADS_1


Keesokan paginya, Silvira bangun terlebih dulu, dia segera mengetes apakah dia hamil atau tidak. Setelah mencelupkan stik ke dalam urinnya, dia menunggu hasilnya, dan..


"Alhamdulillah a la kulli haal ( Alhamdulillah dalam setiap keadaan)," ucap Silvira.


__ADS_2