
Tak terasa bulan berganti, renovasi rumah dimulai, sehingga Azam membawa Silvira serta Fahri dan Farhan ke tempat kos nya yang dulu, karena rumah Arum ternyata kurang luas halamannya untuk di tempati dua mobil mereka. Sedangkan tempat kos ini halamannya sangat luas untuk tempat parkir para penghuni kos.
Barang-barang Azam juga masih ada di kamarnya, dan membayar sewa tiap bulannya, karena di rumah memang belum ada tempat untuk barang-barangnya. Si kembar menempati kamar Azam yang lama, sedangkan Azam dan Silvira menempati kamar kosong di sebelah kamar mereka.
Subuh itu, Azam bersama si kembar sholat berjamaah ke masjid, sedangkan Silvira sholat sendiri di kamar. Selepas sholat, Silvira membaca dzikir pagi kemudian bersiap memasak untuk sarapan. Sambil memasak, Silvira memasukkan baju kotor ke dalam mesin cuci dan mencucinya.
"Masak apa Beib?" tanya Azam sambil memeluk Silvira dari belakang. Dia dan anak-anak sudah pulang dari masjid.
"Ehm, ini omelet sama tumis jamur kancing, terus kentang tumbuk, kesukaan Mas, malu Mas ada anak-anak," sahut Silvira yang menghindari pelukan Azam. Karena dia memasak di kamar anak-anak, memakai peralatan masak Azam yang lama.
"Okay, pasti enak," ucap Azam.
"Boys, kalian mandi duluan ya," ucap Azam.
"Iya Abati," sahut si kembar. Fahri mandi duluan, sedangkan Farhan mengunggu dengan duduk di karpet.
Silvira segera menyelesaikan masaknya, dan menatanya di piring-piring. Kemudian mengambil seragam sekolah anak-anak dam menyiapkannya di atas tempat tidur.
"Mas mau ganti baju sekarang?" tanya Silvira sambil melepas celemek masaknya.
"Yup," sahut Azam.
"Kakak, Umma mau siapkan baju abati dulu ya, bilang sama abang Fahri ini bajunya, trus kakak ganti yang mandi," pesan Silvira kepada Farhan.
"Baik Umma," sahut Farhan.
Kemudian Silvira dan Azam pindah ke kamar sebelah. Silvira mengambilkan pakaian kerja Azam dari lemari, dan pakaian ganti juga untuk dirinya agar tidak bau kompor lagi.
"Mas," panggil Silvira manja sambil mengancingkan baju Azam.
"Hmm, apa Beib, pengen sesuatu? Bilang saja nanti Mas belikan," ucap Azam sambil memandangi istrinya itu.
"Bukan itu, nanti aku boleh keluar?" tanya Silvira.
"Kemana?"
"Ke klinik sebentar, sama nengok rumah," jawab Silvira.
"Ehm, kamu ke klinik dulu, nanti aku jemput kita lihat rumah sama-sama," ucap Azam sambil menangkup kedua pipi Silvira dengan kedua tangannya.
"Baik Mas," sahut Silvira senang.
__ADS_1
"Yuk, sarapan, sudah ditunggu anak-anak," ajak Azam.
"Sebentar, Mas," ucap Silvira seraya memeluk Azam erat-erat. Azam terperangah melihat kelakuan istrinya itu, kenapa dia.. pikir Azam, kemudian membelai rambut Silvira.
"Kenapa Beib?" tanya Azam.
"Hmm, aku bucin, gak pengen lepasin kamu Mas," ucap Silvira.
"Hahahaha.. ada aja kamu Beib, apa aku bolos aja," ucap Azam sambil terkekeh.
"No no no, yuk sarapan yuk," ucap Silvira setelah melepaskan pelukannya dan menggandeng Azam ke kamar sebelah.
Anak-anak sudah menunggu duduk bersila di karpet, Azam dan Silvira mengambil masing-masing dua piring menu sarapan lalu memberikannya juga kepada si kembar.
"Bismillah," ucap mereka ketika menyendok suapan pertama.
"Umma, abang besok boleh minta sarapan nasi putih?" tanya Fahri.
"Iya, in syaa Allah Umma masak nasi putih, kalau kak Farhan mau apa?" tanya Silvira.
"Hmm, mau adik baru," sahut Farhan.
"Hah? Iya, kami juga sedang berusaha sayang, kalian berdoa ya biar Allah berikan adik bayi buat kita," ucap Azam.
"Kalian nanti sayang gak sama adik bayi?" tanya Silvira.
"Iya, Umma," jawab Si kembar.
Setelah sarapan, Silvira melepas keberangkatan suami dan anak-anaknya. Kemudian dia menjemur cucian di depan kamarnya. Seorang wanita paruh baya menghampirinya, rupanya pemilik toko kelontong depan tempat kost mereka.
"Assalamualaikum," sapa Bu Ana.
"Waalaikumusalam Bu," jawab Silvira.
"Kamu istrinya Azam ya?" tanya Bu Ana.
"Iya Bu," jawab Silvira singkat, dia menahan untuk tidak banyak bicara, karena sakit salah bicara, di sini dia harus menjaga nama baik Azam.
"Kalian kok tiba-tiba pindah kemari?" tanya Bi Ana.
"Iya Bu, rumah kami sedang direnovasi," jawab Silvira.
__ADS_1
"Katanya Ibu-ibu sini, rumah kalian dijual karena kamu suka menghamburkan uang, tuh mobil kamu aja mercy, pasti Azam yang belikan kan?" ucap Bu Ana.
Silvira hanya terkekeh. Dia hanya memilih diam dulu, karena percuma juga menjelaskan kalau si ibu ini tidak percaya.
"Dulu sih, saya mau jodohkan Azam sama ponakan saya, dosen di kampus kesehatan, gajinya gede, masih gadis lagi, tapi ternyata Azam tiba-tiba nikahin kamu, janda, ada anak dua lagi," ucap Bu Ana tanpa disaring sama sekali, ya jelas membuat telinga Silvira panas mendengarnya. Tapi Silvira tetap menahan diri.
"Ibu gak tanya sama Mas Azam kenapa memilih menikahi saya?" tanya Silvira.
"Iya, ibu tanyain, dia cuma senyum aja, padahal ponakan ibu itu cantik, itu ikut perawatan di klinik kecantikan mahal itu apa namanya yang di deket mall itu, da Silva iya di situ dia perawatan," ucap Bu Ana.
"Kebetulan saya ada voucher bu dari klinik itu, ibu mau?" ucap Silvira sambil masuk ke dalam kamar dan keluar membawa tiga lembar voucher.
"Ini Bu, mungkin Ibu sama keponakan ibu mau ke sana saya ada voucher diskon," ucap Silvira sambil menyerahkan kupon itu.
"Wah lumayan nih, makasih ya, kamu dapat dari mana?" tanya Bu Ana.
"Saya pemilik kliniknya Bu," ucap Silvira.
"Kamu ini kalau bercanda jangan kelewatan, pakai ngakuin kalo punya klinik kecantikan segala, pasti ini voucher dari kenalannya Azam," ucap Bu Ana tidak percaya.
Tuh kan... gak percaya.. batin Silvira.
"Udah ah, saya pulang dulu mau siap-siap perawatan di klinik da Silva, mau perawatan, makasih ya," ucap Bu Ana sambil pergi meninggalkan Silvira.
Silvira menghela napas, jadi seperti itu yang dipikirkan orang-orang di sini tentang dia. Silvira kemudian melanjutkan menjemur cucian.
Setelah selesai dia kembali ke kamar, merebahkan badannya di kasur. Kemudian bersiap ke klinik.
Silvira dengan semangat memasuki klinik dan menyapa karyawannya.
"Assalamualaikum," sapa Silvira.
"Waalaikumusalam Bu," jawab karyawannya. Kemudian salah satu dari mereka mengikuti Silvira sambil memperlihatkan sebuah buku besar berisi laporan, kemudian mereka masuk ke ruangan CEO.
Sepasang mata yang dari tadi memperhatikan terkejut melihatnya, dan segera berlari menuju resepsionis. Dia adalah Bu Ana tetangga kost Azam tadi.
"Mbak, mau tanya, wanita bercadar itu siapa? Kerja di sini juga?" tanya Bu Ana memastikan.
"Oh itu Ibu Silvira, pemilik klinik kecantikan da Silva,"
"Hah, apa??"
__ADS_1
"Ibu Silvira pemilik klinik kecantikan da Silva,"