Ayah Untuk Anak Kembarku

Ayah Untuk Anak Kembarku
#87


__ADS_3

Bu Wati tiba di rumah Silvira, ia langsung menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Bu Wati melihat bahan-bahan sudah siap dimasak.


"Tadi Mba Silvi yang siapkan ini?" tanya bu Wati pada Yuni. Yuni mendekat dan duduk di kursi bar agar bisa berbincang dengan bibinya.


"Iya, tadi bu Silvi bilang mau siapin sarapan, tapi pak Azam pulang dari masjid langsung manggil bu Silvi, trus mereka ke atas, belum keluar sampai sekarang, mereka ngapain Bu?" Yuni memanggil Bu Wati dengan sebutan ibu, karena ibunya sudah meninggal ketika dia masih SMP. Ayahnya merantau ke Kalimantan, makanya dia ikut bu Wati dan memanggilnya Ibu.


"Kamu itu, sudah gede masa ga tau, biasa kaya gitu, bu Silvi sama Pak Azam itu mesra sekali, jadi kalau pas ada kamu mereka tiba-tiba mesra, kamu langsung pergi aja," pesan bu Wati.


"Ehmm... jadi gimanaa gitu, pak Azam cakep banget sih, aku jadi sakit hati melihat mereka," ucap Yuni.


"Hush, jangan macam-macam kamu, mereka orang baik, kamu juga gadis baik, jangan berpikiran merusak rumah tangga mereka," ucap Bu Wati sambil menoyor hidung Yuni.


"Nggak Bu, ngefans aja, aku gak mau jadi orang jahat," ucap Yuni.


Pukul enam pagi si kembar sudah bersiap di meja makan. Tak lama kemudian Azam dan Silvira turun ke bawah. Keduanya tampak sumringah, Silvira dengan rambut setengah basah, tangannya digenggam erat oleh Azam. Mereka terlihat seperti pengantin baru.


"Oh iya, Pak Budi izin hari ini, katanya mengantar ibunya kontrol ke rumah sakit," ucap Azam seraya duduk bersama Silvira dan si kembar.


"Aku aja yang antar anak-anak Mas, jenuh lama gak keluar rumah," pinta Silvira.


"Iya, boleh, aku naik motor aja," ucap Azam sambil menikmati sarapan paginya.


"Eh iya, itu Mas, aku belum siapkan bekal, tadi belum sempat bikin," ucap Silvira.


"Gapapa sayang, aku bisa beli dekat kantor, atau kamu mau jemput aku ke kantor buat makan siang bareng?" tanya Azam.


"Boleh, in syaa Allah aku jemput Mas," ucap Silvira yang segera menyelesaikan sarapannya karena harus mengantar si kembar ke sekolah.


"Mas aku duluan ya, nanti anak-anak telat kalau gak berangkat sekarang," pamit Silvira.


"Iya, hati-hati menyetir," ucap Azam kemudian menciumi dan memeluk si kembar bergantian.


"Anak-anak sholih abati, belajar yang rajin di sekolah, dengarkan kata Ustadz, dan berbuat baik pada teman-teman,"


"Baik Abati," sahut mereka bersamaan, mereka segera ke depan untuk memakai sepatu.


Silvira memakai jilbabnya dan meraih tasnya.


"Mas, aku mau dipeluk juga," kata Silvira yang sedang manja.


"Hmm, sini," Azam seraya berdiri memeluk erat istri kesayangannya itu.

__ADS_1


"Udah gak takut lagi kan?" tanya Azam sambil mengelus punggung Silvira.


Bu Wati dan Yuni yang ada di dapur segera keluar lewat pintu belakang, bersama baby F tentunya.


Silvira merenggangkan pelukannya, kedua tangannya berada di dada Azam, telunjuk kirinya memainkan papan nama di dada kanan Azam.


"Mas itu paling bisa memperlakukan aku dengan istimewa, lalu membuat aku jadi kecanduan," ucap Silvira lalu menyandarkan kepalanya di dada Azam dan menghirup aroma parfum maskulin dari ceruk leher Azam.


"Beib, kamu tahu, kamu itu kaya narkoba buat aku, kalau sama kamu rasanya nge fly, dan sakaw kalau gak ketemu kamu," Silvira hening mendengar Azam sambil terus menghirup dan menghembuskan napas, dan hembusan napas itu yang membangkitkan sesuatu di dalam sana.


"Beib, geli leher aku, apa enaknya hari ini aku cuti aja ya, aku mau seharian kunci kamu di dalam kamar," goda Azam. Silvira tersadar dia telah membangunkan singa tidur. Dan segera menjauhi Azam, lalu berlari ke garasi.


"Gak usah Mas, kerja aja, aku berangkat duluan," teriaknya.


Azam tersenyum lebar sambil menggelengkan kepalanya.


"Silvi, Silvi gemesin banget kamu," gumamnya.


"Bu, Bu Wati," panggil Azam.


"Iya Pak," bu Wati segera mendekat.


"Iya Pak, tapi kok tumben ngopi?" tanya Bu Wati sambil memasak air di panci kecil untuk kopi Azam.


"Pengen aja Bu," sahut Azam sambil tersenyum. Azam memeriksa ponselnya, karena ada pesan masuk, rupanya pemberitahuan bahwa Amir telah mentransfer pendapatan kebun bagiannya.


"Alhamdulillah," ucapnya.


"Seneng banget Pak, kaya habis dapat hadiah," ucap Bu Wati sambil membawa secangkir kapucino.


"Iya Bu Alhamdulillah, uang kebun masuk," sahut Azam sambil menyeruput kopinya.


"Bukan sekarang, dari turun tadi ibu perhatikan Pak Azam sumringah banget," kata bu Wati sambil membereskan bekas sarapan majikannya.


"Oh itu, taulah Bu saya habis buka puasa, emang kelihatan se senang itu saya?" tanya Azam.


"Iya," sahut bu Wati sambil kembali ke dapur hendak mencuci piring.


"Ah jadi malu, saya berangkat dulu Bu, makasih kopinya, assalamualaikum," ucap Azam selesai menikmati kopinya.


"Waalaikumusalam," jawab Bu Wati.

__ADS_1


Azam berangkat ke kantor mengendarai vespa matic warna silver miliknya. Setibanya di kantor, Azam berusaha setenang mungkin, jangan senyum-senyum sendiri, dan sampai ketahuan kalau habis buka puasa, bisa habis diketawain teman-temannya nanti.


"Assalamualaikum Zam," sapa Ammar yang keluar dari mobilnya.


"Waalaikumusalam," jawab Azam.


"Kok tumben naik motor," tanya Azam.


"Iya, sopirku lagi izin gak masuk, trus anak-anak diantar Silvira, jadi aku naik motor aja,"


"Ehm, apa ya aku lihat ada yang beda dari kamu, apa ya?" Ammar menerka-nerka.


"Apa sih, baju lama, sepatu juga, tas masih sama, aku gak potong rambut, apa karena habis naik motor ya, bau ya? Tadi di belakang truk ayam soalnya," ujar Azam mencari alasan.


"Gak, gak bau, tau ah, yuk kita absen," ucap Ammar. Azam bernafas lega.


Mereka bekerja di ruangan seperti biasa, hingga Azam pun lupa kekhawatirannya. Hingga adzan dhuhur berkumandang.


"Eh ayo sholat duluan yuk," Ammar mengajak teman seruangannya ke masjid. Semuanya menghentikan pekerjaannya dan memenuhi panggilan untuk sholat dhuhur.


Selepas sholat dhuhur Azam melihat mobil Silvira sudah ada di parkiran kantornya. Dia pun berpamitan kepada teman-temannya untuk makan di luar bersama istrinya.


"Aku pergi dulu ya, Assalamualaikum,"


"Waalaikumusalam,"


Azam segera berlari ke parkiran. Mengetuk jendela mobil Silvira. Silvira segera membuka kaca mobilnya.


"Assalamualaikum Beib," sapa Azam.


"Waalaikumusalam," jawab Silvira.


"Yuk, aku yang nyetir Beib," ucap Azam sambil membuka pintu, Silvira segera pindah ke sisi kiri.


"Mau kemana kita Mas?" tanya Silvira.


"Mau ke suatu tempat, aku sudah lama menginginkan hal ini," ucap Azam sambil terus menyetir, hingga mereka tiba di parkiran sebuah hotel. Tentu saja Silvira terkejut.


"Mas mau ngapain di sini? Ini masih siang lho, Mas juga pakai baju PDH ASN, nanti kalau ada yang motret bisa gawat,"


"Apa sih kamu, diam dan nurut kenapa, aku sudah gak tahan,"

__ADS_1


__ADS_2