Ayah Untuk Anak Kembarku

Ayah Untuk Anak Kembarku
#80


__ADS_3

"Kalian lagi ngapain?"


Kompak Azam dan Silvira menengok ke arah pintu sumber suara itu. Ternyata Amir dan ayah juga ibu.


"Kasih reward istri baru lahiran," ucap Azam seraya berdiri menyambut mereka.


Ia bergantian memeluk ayah dan ibu, ketika memeluk ibu kembali lolos lah air matanya, seperti anak kecil yang mengadu pada ibunya.


"Ibu... aku punya anak Bu, aku bukan lelaki mandul seperti yang mereka bilang," lirih Azam sambil menyeka kedua pipinya.


"Iya Le, Ibu ikut senang dan bangga padamu, sekian lama kamu bersabar, Allah angkat derajat mu bersama kelahiran anak ini, kamu lelaki sempurna Le, ma syaa Allah," ucap Ibu.


"Ini cucu kakung, uh ma syaa Allah mancung nak, mirip abati ya," ucap ayah sambil memegang box bayi di samping Silvira. Azam serta ibu pun ikut mendekat, Amir tak ketinggalan.


"Itu Bu, menantunya disapa," ucap Amir.


"Eh iya, sampai lupa, saking senangnya Ibu, duh maafin ibu nduk, sayang, makasih ya sudah lahirkan cucu ibu, kamu kuat, kamu hebat ma syaa Allah," ucap Ibu sambil memeluk dan menciumi Silvira.


Silvira tersenyum melihat Ibu dan ayah juga mas Amir.


"Mba Sofia mana Bu?" tanya Silvira.


"Udah di rumah kamu, dia bilang gak enak bawa bayi ke rumah sakit, jadi kita turunin dulu di rumah sama Dhana dan adiknya," sahut Ibu.


"Pantesan lama, tadi katanya sepuluh menitan mau nyampe, kok sampai setengah jam lebih baru nyampe," ucap Azam.


"Ah kamu lama apa kurang lama, tadi aja kamu udah asyik berduaan, keciduk kan, puasa Zam puasa, ingat istri masih nifas," goda Amir.


"Hehehehe iya Mas, hampir aja khilaf tadi," celetuk Azam, Silvira jadi merah pipinya.


"Nduk, makasih ya, ayah akan minta Azam terus menjagamu dan anak-anakmu," ucap ayah sambil membelai kepala Silvira yang terbalut kerudung. Silvira tersenyum, dia sangat senang, disayangi seperti anak kandung sendiri oleh mertuanya.


"Namanya siapa ini? Sudah diberi nama?" tanya Ayah.


"Fatimah Yah," sahut Azam.


"Nama yang cantik, putri kesayangan Rasulullah," sahut Ayah.


"Mas, laper nih, beliin makan dong," ucap Azam yang ternyata bisa manja kepada abangnya.

__ADS_1


"Eh tadi ibu masak, sebentar ibu ambil in," sahut Ibu seraya membuka tas besar berlapis kain alumunium sehingga tetap hangat makanan yang ada di dalamnya. Ibu mengambil satu kotak bekal berisi semur ayam kampung dengan kentang kukus kesukaan Azam. Ibu juga mengambilkan Silvira tapi dengan nasi putih dan urap-urap.


"Yang ini buat kalian makan di rumah Azam, minta Sofia panaskan, nanti bisa dipakai makan malam sama si kembar juga," ucap Ibu sambil menunjuk kotak bekal kedap udara yang lebih besar.


"Iya Bu, kalau gitu aku ke sana dulu sama Ayah, biar ayah bisa istirahat," ucap Amir seraya mengambil tas berisi semur itu. Ayah dan Amir berpamitan pulang ke rumah Azam.


Azam dan Silvira makan makanan yang dibawa Ibu. Lahap tak tersisa.


Si bayi terlelap tidurnya.


"Sudah berapa lama tidur ini? Gak disusuin?" tanya Ibu setelah Silvira dan Azam selesai makan.


"Iya Bu, coba saya susu in, tadi sih belum keluar Asinya," ucap Silvira sambil membuka kancing bajunya. Terlihat dadanya lebih berisi dari sebelumnya.


Ibu kemudian mengambil Fatimah dari box bayi kemudian memberikannya pangkuan Silvira. Silvira menggendongnya dan tersenyum pada bayinya.


"Sayang Umma Nak, minum dulu ya Mba Fatimah, Bismillah," ucap Silvira. Ketika mulut bayi menghisap ****** ibu pertama kali pasti sakit, Silvira sudah berusaha menahan, namun lolos juga seringainya.


"Sakit Beib?" tanya Azam.


"Menurutmu? Ya sakit Le, lidah bayi itu masih kasar apalagi menghisapnya kuat, ya pasti sakit," sahut Ibu.


"Sudah keluar Asinya?" tanya Azam.


"Sepertinya sudah, alhamdulillah," sahut Silvira.


"Perempuan itu hamil kesusahan, hamil muda mual muntah, hamil tua tidur gak enak, kaki bengkak, melahirkan sakitnya setara dengan sepuluh tulang patah bersamaan," ucap Ibu, Azam meringis mendengarnya.


"Menyusui sakit, nanti gak disusukan bisa penuh Asinya, kalau sudah gitu bisa demam ibunya, makanya kamu yang baik sama istrimu, dia dengan ikhlas mengandung dan melahirkan anakmu, dia itu gak minta macam-macam, yang penting kamu setia di sampingnya, dengerin dia waktu cerita, itu saja, ya Nduk?"


Silvira hanya tersenyum mendengar nasihat ibu yang panjang lebar kepada Suaminya.


"Iya Bu, aku pasti akan menjaga istriku dengan baik, begitu pula ibu, yang pasti sudah susah payah mengandung, melahirkan, dan membesarkan ku," ucap Azam memeluk Ibunya.


Baby Fatimah minum dengan perlahan dan teratur, kemudian tertidur. Ibu mengambil dan menyendawakannya dengan menggendong di bahunya dan menepuk-nepuk punggung bayi mungil itu.


"Mas aku mau pipis," ucap Silvira yang mencoba turun dari tempat tidur. Azam segera membantunya ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi Silvira duduk di kloset, sejenak kemudian meringis menahan perih.

__ADS_1


"Sakit?" tanya Azam.


"Menurut Mas? Ya sakit lah Mas,"


"Apa habis ini kita ga usah punya anak lagi Beib? Kasihan kamu kesakitan terus," ucap Azam dengan berwajah sendu.


"Tapi senang kan punya anak, katanya mau punya banyak anak?" goda Silvira.


"Lihat kamu melahirkan, aku jadi gak tega minta kamu punya banyak anak Beib,"


"Uda Mas, bantu aku berdiri," ucap Silvira seraya meraih bahu Azam sebagai pegangan kemudian ia berdiri.


"Ini yang namanya kapok lombok," ucap Silvira sambil berjalan keluar kamar mandi dengan berpegangan lengan Azam.


"Kapok lombok? Apa itu?" tanya Azam.


"Kapok lombok itu, seperti orang makan pake sambel, huh hah kepedesan, pengen berhenti gak makan sambel lagi, eh tetap aja kalau ada sambel dimakan, begitu juga orang melahirkan, kapok lombok, bilang sakit-sakit, tapi mau juga melahirkan lagi," sahut ibu yang mendengar Azam bertanya.


"Gak papa Le, seiring berjalannya waktu, pasti bisa normal lagi semuanya, itu bagian bawah satu pekan saja sudah kembali lagi, tinggal nunggu nifasnya," ucap Ibu sambil menaruh kembali baby Fatimah di box bayinya.


"Sudah sendawa Bu?" tanya Silvira.


"Sudah, tidur lagi dia," ucap ibu.


"Mas, sini," ucap Silvira yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi, dia membuka kancing kemeja Azam.


"Beib kamu ngapain? Ada ibu lho," ucap Azam. Ibu hanya tersenyum melihat mereka berdua.


"Gak ngapa-ngapain, emang Mas pikir aku mau ngapain? Aku cuma buka baju Mas, Mas mandi gih, gerah banget kelihatannya," ucap Silvira.


"Oh, iya," sahut Azam.


"Iya apa?"


"Iya, aku mandi sayangku, Silvira Rosalina, baju gantinya mana?" tanya Azam.


"Udah aku siapin di koper, ambil sendiri ya, aku belum bisa jongkok, tuh kopernya di bawah,"


Azam kemudian mengambil baju ganti dari koper lalu masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2