Ayah Untuk Anak Kembarku

Ayah Untuk Anak Kembarku
#83


__ADS_3

Maghrib tiba, Azam pergi ke masjid bersama Ayah dan si kembar untuk sholat berjamaah. Silvira yang telah mandi dan sudah rapi turun ke bawah hendak menggantikan ibu menemani Fatimah, agar ibu bisa sholat juga. Sebelum keluar kamar, Silvira mengaca kembali merapikan jilbabnya dan mengalungkan cadar karetnya di lehernya agar sewaktu tamu datang dia bisa segera memakai cadarnya. Azam bilang ada tamu istimewa selepas maghrib nanti.


Namun ketika tengah menuruni tangga, Silvira terkejut karena Fatimah digendong seorang wanita di ruang tamu. Mungkin Ibu sedang sholat. Siapa itu....


Setelah agak mendekat barulah ia tahu kalau Fatimah digendong oleh Karina, iya Karina mantan istri Azam yang tadi siang mereka bicarakan dan membuat mereka sedikit bertengkar.


'Dia kah tamu istimewa yang dibilang Mas Azam, Ya Allah kenapa aku jadi sedih ya...' batin Silvira melihat Karina tengah membelai bayinya.


"Assalamualaikum Mba," ucap Silvira menyapa Karina.


"Waalaikumusalam, eh Mba Silvira, apa kabar?" sahut Karina.


"Baik, alhamdulillah, Ibu mana?" tanya Silvira.


"Tadi aku minta Ibu ikut sholat ke masjid, jadi aku yang jagain Fatimah, iya Fatimah kan namanya?"


"Iya, Fatimah.. Mba mau sholat juga? Biar aku gendong Fatimah, biar Mba Karin bisa sholat," ucap Silvira menawarkan diri, agar dia bisa mengambil Fatimah kembali, entah mengapa Silvira seperti tak rela Fatimah dalam pangkuan mantan istri suaminya itu.


"Gak perlu, aku lagi haid," sahut Karin, yang kini memberikan botol susu kepada Fatimah.


"Oh, iya.. Mba Karin mau minum apa? Biar aku buatin," ucap Silvira.


"Gak usah repot-repot, aku udah minum tadi, itu aja, tadi Mas Azam pesan beberapa masakan buat makan malam, kamu bukain aja, itu di tas di atas meja, semuanya kesukaan Mas Azam itu," ujar Karina yang tak menoleh ke Silvira karena menyusui Fatimah.


'Ha.. dia nyuruh aku??' batin Silvira, namun tanpa berkata lagi dia pergi ke meja makan melakukan apa yang dikatakan Karina tadi, dia gondok banget rasanya namun tak ingin sampai buat kegaduhan..


"Hmmmh Astaghfirullah..." lirihnya sembari membuang nafas berat.


Satu persatu lauk dan masakan ia pindah ke piring saji miliknya, ada ayam goreng lengkuas, rendang daging, acar timun, sambel goreng kentang, urap-urap, sambel terasi, dan perkedel kentang.


Silvira kemudian pergi ke dapur untuk membuat minuman. Dia memeras jeruk baby hingga satu teko, kemudian membuat teh hangat juga.


"Assalamualaikum,"


Rupanya yang dari masjid pada datang. Silvira tak menoleh, namun tetap menjawab salam.

__ADS_1


"Waalaikumusalam," lirihnya sambil terus sibuk membuat minuman.


"Rewel gak tadi?" tanya Ibu kepada Karina. Dan Silvira juga mendengar itu.


"Enggak kok Bu pinter, ini lagi nyusu," sahut Karina.


Si kembar melihat sebentar adik bayinya, kemudian ke kamar mereka bersama ayah.


Azam melihat sekeliling, mencari sang istri tentunya. Hingga matanya tertuju pada bidadari cantik yang terlihat sibuk di dapur. Azam hendak menghampirinya. Namun langkahnya terhenti karena Karina mengajaknya bicara.


"Mas, baby Fatimah ini lucu banget, gemesin, pinter lagi, gak rewel sama aku dari tadi, jadi pengen... Aku bawa pulang ya, sehariii aja, ya, ya Mas ya," ucap Karina dengan manja ke Azam. Silvira yang mendengarnya dari dapur tentu saja mendidih, namun ia tahan.


'Awas saja kalau sampai dibolehin' batin Silvira.


"Janganlah, dia masih terlalu kecil untuk jauh dari ibunya, lagian dia juga butuh asi," ucap Azam.


"Kan bisa pakai susu formula, kalian bikin lagi aja, biar Fatimah aku yang rawat," ucap Karina memaksa. Azam bingung harus berkata apa, namun ia tahu Silvira tidak akan mengizinkannya.


Mendengar hal itu, Silvira makin meradang hingga memerah wajahnya.


Sadar dirinya akan marah, Silvira segera duduk dan minum air.


"Audzubillaahiminassyaitonirojim, sabar.. sabar.. jangan marah, nanti bisa stres, nanti kalau stres Asinya gak keluar," gumamnya sendiri.


"Jangan Rin, jangan main-main kamu," ucap Azam.


"Iya, jangan begitu, bayi Fatimah masih sangat kecil, kasihan kalau terpisah dengan orang tuanya," ucap Ibu.


"Yaah, padahal aku sayang banget, pengen peluk terus, pengen rawat dia," Ucap Karina dengan sedih.


"Ya adik Fatimah ya, sama mama Karin ya, kamu lucu banget sih, cantik, mirip banget sama kamu Mas," ucap Karina.


'Apalagi itu... mama Karin..' Silvira terus membatin. Silvira sengaja diam saja hendak tahu bagaimana Azam menyikapi mantan istrinya itu.


"Jangan, aneh-aneh aja kamu," ucap Azam.

__ADS_1


"Kalau gitu, aku akan sering-sering ke sini ya, rasanya aku udah jatuh cinta sama baby Fatimah, eh aku nginap sini aja ya malam ini, ya Bu ya, bolehkan?" ucap Karina yang terus memaksa untuk bersama baby Fatimah.


'Nginap? becanda apa gimana sih?' Silvira lagi-lagi membatin.


"Karina," ucap Azam.


"Iya Mas, kenapa? Boleh kan aku nginap di sini?" tanya Karina.


Ibu pun dibuat geram dengan tingkah Karina. Namun diam saja karena malas meladeninya, namun beliau tetap di situ, tidak membiarkan Karina berdua dengan Azam di ruang tamu sendirian.


"Kamu jangan bercanda," ucap Azam.


"Siapa yang bercanda? Aku serius kok, kalau dibolehin aku mau nginap di sini," ucap Karina.


"Gak, gak dibolehin," tegas Azam.


"Kenapa? Katanya kalian anggap aku teman, kenapa teman gak boleh nginap di sini?" tanya Karina.


"Iya memang kami anggap kamu teman, tapi kamu itu mantan istri aku, jadi gak pantas kamu nginap di sini," ucap Azam kemudian.


"Iya kita kan sudah mantan, gak ada apa-apa lagi diantara kita, kecuali kamu masih sayang aku Mas, emang kamu masih cinta sama aku?"


"Kok kamu makin ngawur sih?"


"Iya kali aja, kenapa gak dibolehin coba kalau kita emang temenan?"


"Kamu itu ya, dikasih hati minta jantung, kamu gak mikir apa, gimana perasaan istri aku kalau kamu nginap di sini," ucap Azam sedikit berteriak, namun cukup mengagetkan semuanya, termasuk Silvira di dapur, karena tidak pernah Azam mengangkat suara. Dan membuat Fatimah menangis.


"Ibu, bawa Fatimah ke kamar," pinta Azam. Ibu mengambil Fatimah dari pelukan Karina dan bergegas masuk ke kamar.


"Kita kan sudah selesai Mas, kita cuma berteman, kenapa aku gak boleh nginap di sini?" Karina tetap tidak menyadari posisinya.


"Justru itu, kita sudah selesai sejak kamu mengkhianati aku, dan sedikitpun aku sudah gak ada rasa sama kamu, tapi aku juga harus menjaga perasaan istriku Silvira,"


"Dari tadi dia juga diam aja kok di sana, harusnya dia bisa percaya diri, bahwa dia lebih baik dari aku," ucap Karina.

__ADS_1


"Kita tanya aja, Mba Silvira, boleh gak aku nginap di sini, pengen lebih lama sama baby Fatimah," tanya Karina kepada Silvira


__ADS_2