
Alhamdulillah hari ini Silvira sudah diperbolehkan pulang, Azam yang mendapat kabar itu langsung izin sebentar dari kantor untuk menjemput istrinya itu. Ia langsung mengendarai Range rover nya menuju Rumah Sakit.
"Sudah siap semua?" tanya Azam.
"Iya, sudah, aku bantuin masukkan barang ke mobilmu ya," ucap Amir. Azam mengangguk dan membawa koper Silvira bersama Amir menuju mobilnya.
"Maaf ya Zam, aku gak bisa antar sampai rumah, ini tadi Sofia telepon, katanya kebun pas ramai, anak-anak kewalahan melayani," ucap Amir.
"Iya Mas, aku minta maaf dan terima kasih sekali, kalian sudah repot ke sini membantuku," ucap Azam.
"Gak usah gitu, aku senang kamu telepon aku pas kamu butuh, itu tandanya kamu masih nganggap aku kakakmu,"
"Lah ya emang Mas Amir kakakku kan,"
"Hahaha iya ya, au ah pokoknya kalau ada sesuatu kamu bilang aja sama Mas, oke?" ucap Amir.
"Baik Mas,"
Merekapun berpisah di sana, Azam membawa Silvira dan kedua orangtuanya pulang, sedangkan Amir kembali ke kotanya.
Azam menyetir mobilnya ditemani Ayah di sampingnya, sedangkan Silvira bersama Ibu di belakang.
Sesampainya di rumah, Azam menurunkan mereka bertiga di rumah, kemudian dia kembali ke kantor, sepulang kerja dia sempatkan melihat klinik kecantikan menggantikan Silvira.
***
Malam itu selepas maghrib, Azam dan keluarganya makan bersama, malam itu Ibu yang memasak makan malam untuk mereka semua. Ibu memasak sup ayam dan perkedel oven.
"Ibu, ini bikinnya bagaimana?" tanya Silvira sambil menunjukkan perkedel di sendok nya.
"Iya, besok kalau kamu sudah sehat Ibu ajarin," ucap Ibu.
Azam makan dengan lahap, begitu juga ayah dan si kembar.
"Ini juga termasuk makanan kesukaan Azam selain semur ayam dan kentang, Azam itu dari kecil kalau sama kentang hmmh jangan ditanya pasti lahap makannya," ucap Ayah.
"Iya, dulu waktu kecil ibu ngukus kentang mau dibikin donat, dihabisin semuanya se dandang, gak jadi deh bikin donat," imbuh Ibu.
"Iyakah? Sesuka itu Mas sama kentang?" tanya Silvira tidak menyangka.
Azam hanya tersenyum, kemudian melanjutkan makannya. Selesai makan, Azam membawa Silvira ke kamar mereka di atas. Azam mendudukkan Silvira di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Aku ke masjid dulu ya," pamit Azam kepada Silvira.
"Iya sayang," ucap Silvira.
Azam pun pergi ke masjid bersama ayah dan si kembar.
Silvira merasa ada yang aneh dari sikap Azam, pikirnya mungkin Azam kecapekan karena harus merawatnya, maka dari itu dia berusaha untuk pulih lebih cepat, agar Azam tidak perlu capek-capek merawatnya lagi.
Silvira mengangkat jemuran di balkon dan segera melipat lalu merapikannya di dalam dresser. Rupanya selama dia di rumah sakit Azam mencuci pakaiannya sendiri.
"Mas, maa syaa Allah, kenapa Allah begitu membuatmu sempurna untukku, kamu bisa segalanya walau tanpa aku," ucapnya sendiri.
Ada satu hal yang mengganggu pikiran Silvira, yaitu hubungannya dengan Ammar waktu dulu, baik Silvira maupun Ammar memilih tidak membicarakan hal itu dengan Azam, karena mereka pikir itu sudah masa lalu. Silvira merasa, melayani Azam dengan baik di masa sekarang dan masa depan adalah lebih penting.
***
Hari itu hari Ahad, Azam bersama si kembar dan Ayah berenang di kolam renang belakang rumah. Sedangkan Silvira membantu Ibu membuat camilan dan jus jeruk untuk mereka.
Silvira membawa camilan dan jus itu ke meja dekat kolam renang, dan dia duduk di kursi santai dekat meja itu. Dia tak berhenti memandangi Azam yang berenang dari ujung ke ujung.
"Lihat apa kamu Nduk?" tanya Ibu mengejutkannya. Silvira tersenyum lebar dan memerah pipinya, dia merasa malu seperti ketahuan mencuri, ia mencuri hati anak Ibu.
"Sesuka itukah kamu sama anak Ibu?" tanya Ibu yang ikut tersenyum melihat tingkah Silvira.
"Iya Nduk, kamu jaga dia baik-baik biar tidak diambil orang," sahut ibunya.
Silvira baru sadar setelah mendengar ucapan ibu mertuanya itu, dia menyimpulkan bahwa dia harus menjaga Azam agar tidak tergoda wanita lain, dalam artian dia juga harus lebih memperbaiki diri lagi.
"Lho kok jadi bengong, kenapa?" tanya Ibu yang melihat Silvira melamun.
"Eh enggak Bu, baru menyadari, kalau lelaki seperti Mas Azam itu dambaan setiap wanita, jadi saya harus memperbaiki diri, agar selalu jadi wanita yang didambakan Mas Azam," ucap Silvira.
Anak-anak rupanya sudah bosan, kemudian mereka naik untuk makan camilan dan jus jeruk buatan Silvira dan Ibu.
"Abati, kapan kita jalan-jalan lagi?" tanya Fahri.
"Iya, pengen jalan-jalan sama kakung dan uti," imbuh Farhan.
"Iya habis ini kita jalan-jalan ya," ucap Azam.
"Yeay!!" seru si kembar.
__ADS_1
"Tapi Umma gak ikut duluan ya, kalian saja yang jalan-jalan," ucap Silvira.
"Yaaah," lenguh si kembar.
"Gini aja, kalian jalan-jalan sama Kakung dan Uti, Abati biar temani Umma di rumah," sahut Ibu.
"Okelah, yuk berangkat yuk," ucap Fahri.
Si kembar kemudian bersama kakungnya membilas tubuh di kamar mandi dekat dapur.
Silvira kemudian pergi ke dalam rumah untuk mengambilkan baju si kembar dan juga baju ganti untuk Azam. Tinggallah Azam bersama ibunya di tepi kolam.
"Le, kamu kenapa? Sepertinya ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Ibu.
"Apa terlihat begitu aku Bu?" tanya Azam balik.
"Kalau orang lain mungkin gak tahu, tapi aku ibumu Le, Ibu merasa ada yang mengganjal hatimu," ucap Ibu.
"Iya sih Bu, tapi maaf aku gak bisa cerita sama Ibu, tapi nanti aku akan coba selesaikan masalah ini, biar tidak ada yang mengganjal lagi,"
"Apa ada hubungannya dengan istrimu?" tanya Ibu. Azam mengangguk.
"Ya sudah, Ibu tidak akan tanya lebih jauh lagi, Ibu harap kalian bisa menyelesaikan dengan baik," ucap Ibu.
"Dan lagi, Ibu lihat dari matanya kalau dia sangat mencintaimu Le, dia sangat takut kehilanganmu," lanjut Ibunya.
"Iya Bu, aku juga sangat mencintainya," sahut Azam.
"Kami sudah siap Uti, ayo berangkat," seru Farhan.
"Iya baiklah, Le Ibu pergi dulu ya," ucap Ibu. Mereka berempat pun pergi jalan-jalan menaiki mobil Silvira.
Azam memakai handuk kimono di sampingnya, dan berjalan menuju kamarnya. Silvira mengikutinya, lalu duduk di tepi tempat tidur sambil menunggu Azam mandi.
Azam selesai mandi, seperti biasa dia memakai pakaian yang telah disiapkan Silvira. Kemudian memakai parfum dan menyisir rambutnya di depan cermin. Silvira memeluknya dari belakang, namun secara spontan Azam menepis tangan Silvira, rupanya dia sudah tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya.
"Mas kenapa?" tanya Silvira.
"Hmmh," Azam masih enggan menjawab.
"Aku salah apa?" tanya Silvira yang mulai sendu.
__ADS_1
"Aku pengen tanya sama kamu, tolong jawab dengan jujur," ucap Azam, Silvira mengangguk.
"Selain teman kuliah, apa hubunganmu dengan Ammar?"