
"Selain teman kuliah, apa hubunganmu dengan Ammar?"
"Ehm, owh, jadi karena itu, Mas jadi aneh," lirih Silvira.
"Kamu bilang apa?" tanya Azam, berusaha tetap merendahkan suaranya, ia tidak ingin marah karena setan menungganginya.
"Memangnya yang Mas dengar seperti apa?" tanya Silvira.
"Kamu adalah mantan pacar Ammar," sahut Azam.
"Iya terus kenapa? Itukan sudah belasan tahun yang lalu Mas, kami sudah sama-sama menikah dengan orang lain, kami masing-masing punya anak, anak dia ada enam, bahkan waktu ketemu Ammar pertama setelah sekian lama istrinya ada dua Mas, itu berarti kami sudah tidak ada perasaan apapun," ucap Silvira mencoba menjelaskan.
"Tapi kalian pernah punya hubungan asmara Silvi," ucap Azam mulai kesal.
"Mas aku gak cerita karena aku anggap itu sudah tidak penting di hidup aku, yang aku pentingin sekarang itu kamu Mas, lalu anak-anak,"
"Aku cuma gak bisa terima denger itu dari orang lain, bukan dari istri aku sendiri," ucap Azam sambil membuka baju atasannya, lalu membuangnya di sembarang tempat meluapkan emosinya, kemudian dia keluar kamar agar tidak bertambah marah lagi.
Azam berlari ke mini gym, kemudian lari di atas treadmill, berlari sambil terus beristighfar agar amarah dalam dadanya menghilang..
"Astaghfirullah wa atubu ilaik... astaghfirullah wa atubu ilaik..." ucapnya tak henti-henti.
Silvira melihat Azam dari depan pintu kamarnya, rupanya Azam sedang meluapkan kekesalannya di sana. Silvira takut Azam bertambah marah bila dia mendekatinya, maka dari itu dia putuskan kembali ke kamar.
Silvira hanya bisa menunggu, dia sangat takut kahilangan suami yang Maa syaa Allah sangat sempurna baginya. Hingga pecah tangisannya...
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan... Aku pasrahkan padaMu semua ini," lirihnya.
Lima belas menit berlalu, Azam belum juga kembali. Dia kemudian menengok lagi dari depan kamarnya, rupanya Azam sedang angkat beban untuk melatih otot lengannya.
Silvira kembali ke dalam mengambil handuk kecil, lalu turun ke dapur mengambil infused water di dalam kulkas. Kemudian ia beranikan diri mengantarkannya ke Azam.
"Mas, ini minumannya," ucap Silvira dengan bergetar, terlihat sekali dia baru menangis.
"Taruh di situ saja," ucap Azam tanpa melihat wajah istrinya itu.
Silvira kemudian meletakkan botol minum dan handuk itu di meja kecil dekat Azam, kemudian dia kembali ke kamar. Azam meminum minuman yang diberikan Silvira, kemudian menyeka keringatnya dengan handuk kecil yang dibawakan Silvira tadi, lalu dia kembali ke kamar. Dia melihat istrinya duduk tertunduk di tepi ranjang. Dia kemudian berjalan melewatinya dan masuk kamar mandi.
Mendengar suara gemercik air dari kamar mandi, Silvira kemudian menyiapkan pakaian Azam lalu duduk kembali. Azam yang sudah selesai mandi, keluar dan memakai pakaian yang telah Silvi siapkan.
__ADS_1
Azam berdiri di depan Silvira yang tertunduk, dia mengangkat dagu Silvira agar istrinya itu memandangnya. Terlihat mata Silvira yang sembab, dan hidungnya yang memerah sehabis menangis. Silvira juga ketakutan melihat Azam, takut Azam melakukan sesuatu yang buruk.
"Sini berdiri," pinta Azam. Silvira berdiri mengikuti perintah Azam. Kemudian Azam memeluk Silvira.
"Maafin Mas, sudah membuatmu menangis, Mas cuma kesal tadi," ucap Azam sambil mendekap tubuh Silvira di pelukannya. Silvira sesenggukan menangis.
"Semuanya udah terjadi Mas, aku gak tau musti bagaimana, aku takut Mas meninggalkanku," ucap Silvira.
"Mana mungkin karena hal sekecil ini Mas meninggalkanmu," sahut Azam.
"Kamu sudah minum obat?" tanya Azam, Silvira menggeleng.
"Sengaja ya biar lukanya gak sembuh-sembuh, biar gak Mas kerjain kamu, hmm?" tanya Azam sambil mengambil obat dan air untuk Silvira.
"Gak kok, tadi gak kepikiran sama obat, cuma mikirin kamu.. iya kamu Mas," ucap Silvira sambil menerima obat dari tangan Azam dan meminumnya.
"Kita tidur sebentar yuk, pumpung belum Dhuhur, ini sunnah lho, tidur walau sebentar sebelum Dhuhur," ucap Azam. Silvira menurut, mereka berbaring di tempat tidur, Silvira tiduran di lengan Azam.
"Sekarang aku tanya lagi ya," ucap Azam.
"Hmm, tapi gak boleh marah lagi ya, itu sudah berlalu, masa lalu, oke," ucap Silvira.
"Oke,"
"Satu sampai dua tahun mungkin, aku lupa," jawab Silvi.
"Kenapa kalian putus?" tanya Azam lagi.
"Masing-masing sibuk dengan skripsi, terus gak pernah saling menghubungi, terus waktu lulus, aku menikah dengan Mas Adam," jawab Silvira.
"Hmm jadi kamu meninggalkannya, kalian ngapain aja selama itu?" tanya Azam lagi.
"Aku gak macam-macam kok Mas, cuma makan bareng, dan pulang kampung bareng karena kita dari kota yang sama, kalau aku macam-macam sama dia, aku pasti tidak akan jadi mahasiswa terbaik jurusanku," ucap Silvira, dia menunggu pertanyaan Azam berikutnya, namun hanya nafas Azam yang terdengar, rupanya dia sudah tertidur, Silvira memutar tubuhnya menghadap Azam dan ikut memejamkan matanya.
**
Silvira perlahan membuka matanya, dia melihat Azam masih terlelap. Kemudian melihat jam di dinding menunjukkan pukul dua kurang dua puluh menit. Dia segera bangkit dan membangunkan Azam.
"Mas, sudah jam dua kurang, bangun Mas, kita tadi gak dengar Adzan Dhuhur," ucap Silvira sambil menggoncang pelan tubuh Azam.
__ADS_1
Azam mengeriyip, kemudian menggeliat. Dan terbangun.
"Kita sholat dulu beib," ucap Azam, dengan langkah gontai menuju kamar mandi untuk menyegarkan wajahnya dengan air wudhu. Silvira menunggu Azam sambil merapikan tempat tidur mereka. Kemudian mereka sholat bersama.
"Mas lapar, makan yuk, kamu juga pasti lapar," ucap Azam.
"Iya Mas," sahut Silvira. Mereka kemudian turun ke bawah.
Tampak si kembar sedang bermain bersama eyang kakungnya, dan ibu sedang membereskan dapur.
"Ibu dan ayah sudah makan?" tanya Silvira.
"Sudah, kalian makan gih," ucap Ibu.
Silvira segera menyiapkan makan siang untuknya dan Azam, ketika Silvira sedang menata meja makan, Azam menghampiri ibunya.
"Ibu,"
"Hmm, lho mana bajumu? Nanti masuk angin lho," tanya ibunya yang melihat Azam bertelanjang dada.
"Kebiasaanku kalau siang-siang di rumah gak pake baju Bu, gerah," sahut Azam.
"Sudah beres ya?" tanya Ibunya yang menyadari melihat wajah anaknya berseri-seri.
"Heem," sahut Azam.
"Ayo makan Mas, katanya lapar," panggil Silvira.
Azam segera menuju meja makan untuk makan siang dengan istrinya.
"Kalian ketiduran apa gimana? Sampai telat makan siang," tanya Ibu sambil mengelap piring yang baru beliau cuci.
"Iya Bu," jawab Azam.
"Tadi mau Ibu bangunin, tapi sama Fahri dan Farhan dilarang, katanya kalau gak ada yang boleh masuk kamar kalian," ucap Ibu.
"Iya Bu, masak pas kita lagi on fire ada yang ketuk pintu, kan gak enak jadinya," sahut Azam.
"Apa sih Mas," ucap Silvira sambil melotot.
__ADS_1
"Hehehe, makanya itu kalau tidak ada hal darurat, gak boleh ganggu kami di dalam," ucap Azam.
"Kalau gitu Ibu targetin ya, tiga bulan lagi Ibu dapat calon cucu baru," ucap Ibunya.