Ayah Untuk Anak Kembarku

Ayah Untuk Anak Kembarku
#65


__ADS_3

"Mas Azam... Mas Azam..." lirih Silvira. Perlahan Silvira membuka matanya.


"Silvi, kamu sudah bangun Nak?" tanya Ibu.


"Mas Azam.. Mas Azam dimana Bu? Saya dimana?" tanya Silvira yang masih bingung.


"Kamu di Rumah Sakit, tenang dulu sayang," ucap Ibunya sambil membantu Silvira duduk.


"Tadi aku lihat Mas Azam kepalanya berdarah, dimana Bu Mas Azam sekarang? Fahri, Farhan bagaimana?" ucap Silvira sambil terisak.


"Tenang sayang, Fahri dan Farhan ada di depan, Azam sekarang ada di ruang operasi," jawab Ibu.


.


( Flash back on )


"Halo.." sapa Amir, sembari mengawasi monitor cctv di kebun apel.


"Iya halo ini dengan saudara Amir?" tanya lelaki yang di seberang.


"Iya betul Pak, ini dari mana?" tanya Amir.


"Saya Andri dari polresta, apa anda mengenal saudara Azam?"


"Iya Pak, Azam adik saya, ada apa ya Pak?"


"Ini saudara Azam sekeluarga mengalami kecelakaan, dan sekarang ada di rumah sakit pusat, untuk lebih jelasnya dan mengenai keadaannya, silakan datang ke rumah sakit saja," kata Pak polisi itu.


"Baik Pak," ucap Amir seraya menutup sambungan telpon di ponsel nya itu. Memang tadi pagi Azam menelponnya. Dia segera bangkit dan mencari ayahnya di dalam kebun.


"Pak Min, ayah mana?" tanya Amir kepada pak Min sopir keluarga mereka.


"Tadi sepertinya pulang Mas," jawab pak Min.


"Oh iya, Pak Min titip kebun ya, saya sama ayah mau ke rumah sakit," pesan Amir kepada pak Min yang seperti keluarga sendiri.


"Siapa yang sakit Mas?" tanya Pak Min.


"Azam, Azam kecelakaan Pak, kami masih belum tahu bagaimana keadaannya juga ceritanya, karena itu kami mau ke sana,"


"Inalillahi wa ina ilaihi roojiun.." ucap Pak Min.


Amir segera pergi ke seberang jalan menuju rumah ayah dan ibunya.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Ayah.. Ibu..." panggil Amir dari depan, dia langsung ke dalam karena tidak mendapati ayah atau ibunya di depan.


"Waalaikumusalam, kamu kok kemari, ayah cuma ambil termos kopi," sahut ayah.


"Ayo ikut saya Yah, Ibu mana?" tanya Amir.


"Ada apa sih, mau ngajak kemana? Kebun lagi rame," tanya Ibu yang baru dari dapur.


"Ke rumah sakit," jawab Amir.


"Rumah Sakit?" tanya Ayah heran.


"Iya ayah, tadi ada polisi nelpon aku, katanya Azam sekeluarga kecelakaan..."


"Hah kecelakaan?? Inalillahi wa innailaihi roojiun," ucap Ibu.


"Belum pasti Bu, makanya kita ke sana duluan, aku takutnya telpon iseng tadi," ucap Amir.


"Ya udah kita berangkat," ucap Ayah.


"Mau kemana ini?" tanya Sofia istri Amir yang menggandeng Dhana anaknya.


"Mau ke rumah sakit, tadi ada telpon katanya Azam kecelakaan, aku sama ayah ibu mau ngecek ke sana pastinya bagaimana," sahut Amir.


"Ya Allah, kok bisa, mana Mba Silvi lagi hamil," ucap Sofia yang tiba-tiba sedih.


"Baik Ayah," sahut Sofia.


Amir bersama ayah dan ibunya segera ke rumah sakit.


.


.


Sesampainya di rumah sakit Amir langsung berlari ke IGD, diikuti ayah dan ibunya.


"Maaf Mba, apakah ada pasien kecelakaan atas nama Khoirul Azam?" tanya Amir kepada perawat jaga.


"Oh iya ada, ini silakan bicara dengan dokternya, mari ikuti saya," jawab perawat itu sambil berjalan ke sudut ruangan yang tertutup tirai.


"Utii...."


Mereka segera menoleh ke arah suara itu..

__ADS_1


"Ya Allah cucuku," ibu segera menghampiri dan memeluk kedua bocah kembar yang duduk di sudut ruangan itu.


"Uti... abati sama umma gak bangun-bangun," ucap Farhan sambil terisak. Kedua bocah itu memprihatikan, Fahri terluka di pelipis kanannya, sedangkan Farhan hanya lecet di tangan kirinya.


Ibu terisak melihat anaknya yang tampan dan gagah itu terbaring pucat, kepalanya diperban penuh darah, dan memakai penyangga leher. Sedangkan di tempat tidur sebelahnya, Silvira yang masih pingsan karena syok.


"Bapak dan Ibu keluarga Pak Azam?" tanya dokter yang baru saja selesai memeriksa Azam.


"Iya, saya kakaknya, dan ini ayah dan ibu kami," jawab Amir.


"Keadaan anak dan menantu saya bagaimana Dokter?" tanya Ayah yang sangat khawatir.


"Begini, untuk Ibu Silvira, nanti akan dijelaskan dokter jaga, dan saya dokter Radit, dokter spesialis bedah syaraf, ini mengenai Pak Azam, dari hasil CT scan beliau mengalami cedera otak berat, jadi mengalami pendarahan yang cukup banyak di dalam kepalanya, dan ini harus segera dioperasi untuk mengejar golden time, dan kami butuh persetujuan keluarga," kata dokter Radit menjelaskan.


"Ehm, untuk masalah prosedur apa dan bagaimana, kami ikut saja Dok, kami percaya Dokter dan tim pasti akan melakukan yang terbaik untuk adik saya, namun seberapa besarkah keberhasilan operasi adik saya nanti?" tanya Amir.


"Prosentase keberhasilannya ya cukup banyak, namun kalaupun berhasil, untuk kembali seratus persen butuh waktu yang cukup lama, tapi paling tidak kita sudah berusaha, dan kalau pasien dibiarkan seperti ini, saya tidak menjamin keselamatannya lagi," dokter itu menjelaskan.


"Bagaimana Yah, Bu, Silvira juga masih pingsan, kita harus bagaimana?" tanya Amir.


"Baiklah, kita ikuti kata dokter untuk operasi, Ayah yang akan tanda tangan lembar persetujuannya, kita berusaha saja, selanjutnya kita serahkan semuanya pada Allah," ucap Ayah.


"Baik Bapak, silakan ikut saya ke meja perawat untuk tanda tangan lembar persetujuan operasi," sahut perawat yang mengantar mereka tadi. Kemudian menuju meja perawat diikuti Ayah.


"Baiklah, saya siap-siap dahulu, dan pasien akan disiapkan untuk cyto operasi trepanasi," ucap dokter Radit kemudian pergi menuju ruangannya.


Perawat laki-laki mengganti pakaian Azam dengan baju operasi, kemudian membawa Azam menuju ruang operasi.


"Amir, dampingi adikmu dulu, ibu tunggu Silvi siuman dulu, dan menjaga keponakanmu, mereka masih ketakutan," ucap Ibu.


"Baik Bu, Ayah juga di sini saja dulu," sahut Amir sambil mengikuti bed adiknya dibawa ke mana.


"Maaf Bu, tadi saya masih periksa pasien lain, saya Mayang dokter jaga IGD yang menangani Ibu Silvira," ucap seorang dokter yang menghampiri ibu.


"Oh iya, bagaimana keadaan menantu saya itu?" tanya Ibu.


"Begini Bu, ibu Silvira sedang hamil ya, tadi kami sudah melakukan USG, dan hasilnya janinnya masih sehat, detak jantungnya juga kuat, dan saat ini Ibu Silvira masih pingsan karena syok, mungkin sebentar lagi beliau siuman,"


"Oh alhamdulillah, baik Dok, terima kasih, kami akan menunggu sampai dia bangun," ucap Ibu.


Kemudian dokter jaga itu mohon diri karena harus memeriksa pasien lain.


Ayah terlihat berbincang dengan anggota polisi yang menangani kecelakaan itu.

__ADS_1


"Sebenarnya bagaimana kejadian kecelakaan itu?" tanya Ayah.


"Oh tadi pagi di jalur tanjakan ada truk yang tidak kuat menanjak sehingga mundur menabrak sedan di belakangnya, nah posisi mobil pak Azam ada di belakang sedan itu, sedan itu dengan cepat ikut mundur juga dan serong ke kanan pas menabrak kanan depan mobil pak Azam, ya tepat ke Pak Azam yang sedang mengemudi, mungkin saking keras dan cepatnya kejadian itu, sampai keadaan pak Azam seperti itu, bahkan sedan yang di depan mobil pak Azam itu ringsek sek," ucap pak Polisi yang bertuliskan nama Andri di dadanya.


__ADS_2