Ayah Untuk Anak Kembarku

Ayah Untuk Anak Kembarku
#73


__ADS_3

Sepulang belanja Silvira segera meletakkan belanjaannya di kamar bayi, lalu membersihkan diri dengan mencuci muka dan menggosok gigi. Sedangkan Azam masih menemani si kembar belajar di kamarnya.


"Belajar apa sayang? Kok belum selesai?" tanya Azam sambil berjongkok agar sejajar dengan si kembar yang duduk di depan meja belajar mereka masing-masing.


"Besok ulangan harian fikih ibadah abati," sahut Farhan.


"Ehm, kalian belajar sendiri-sendiri gitu? Gini abang, kakak, lebih cepat masuk kalau saling membacakan soal-soalnya, abang baca soal untuk kakak, kakak yang jawab pertanyaannya, dan juga sebaliknya gantian, kakak yang bacakan soal untuk abang, abang jawab pertanyaannya," ucap Azam memberi masukan.


"Oh iya abati," sahut Farhan.


"Kami akan coba," imbuh Fahri.


"Ma syaa Allah, anak-anak sholih abati, semoga besok Allah mudahkan kalian mengerjakan ulangan harian ya," ucap Azam, sambil mengelus dua kepala anak-anak dan menciuminya bergantian. Azam memang sangat menyayangi keduanya, dan kehamilan Silvira pun sama sekali tidak merubah rasa sayang itu.


"Sekolah kalian memang berat ya, ada pelajaran umum dan diniyah juga, tapi memang itu kewajiban kita setiap muslim kan?"


"Menuntut ilmu agama itu kewajiban bagi setiap muslim," imbuh Farhan.


"Iya, benar ma syaa Allah, semangat belajar ya anak-anak kesayangan abati, abati kembali ke kamar dulu, Umma gak ada temannya," ucap Azam hendak pergi.


"Iya Abati," sahut mereka berdua.


"Eh 'Iya, jangan malam-malam tidurnya, biar besok bisa bangun sebelum subuh, dan besok pagi sebelum sarapan in syaa Allah abati yang akan bacakan soalnya, kalian yang jawab ya," ucap Azam.


"Baik Abati," ucap Fahri dan Farhan kompak, membuat Azam tersenyum dan lega meninggalkan kamar mereka.


'Anak-anak yang manis,' batinnya sambil berjalan menuju kamarnya.


"Ceklek," Azam membuka pintu dan menutupnya pelan ketika tahu Silvira tidur memunggungi pintu. Kemudian dia berjalan mengendap-endap ke kamar mandi.

__ADS_1


Kemudian Azam mencuci muka dan menggosok gigi, lalu menanggalkan pakaiannya dan memakai celana pendek selutut yang disiapkan Silvira di samping wastafel.


Ketika keluar kamar mandi, dia baru sadar Silvira hanya menggunakan daster tipis di atas lutut, tanpa lengan dan bertali satu di bahunya, sehingga memperlihatkan sebagian besar tubuhnya yang bertambah chubby.


"Oh no, Beib... kenapa kamu begitu menggodaku," gumam Azam.


Azam lalu naik ke atas kasur, sebelum berbaring, dia tutup tubuh Silvira dengan selimut. Lalu ikut berbaring di sampingnya. Azam mencoba memejamkan matanya.


"Ck," Azam berdecak dan bangun untuk duduk lagi, hasratnya untuk menerkam Silvira telah bangkit, namun ia tidak tega karena Silvi tengah hamil besar.


Kemudian ia menyibakkan selimutnya dan bangkit keluar kamar, dia pergi ke mini gym untuk berolah raga. Mulai dari squat, plank, push up, sit up, sampai berlari di atas treadmill ia lakukan agar capek dan meredakan hasratnya.


Di dalam kamar, Silvira merasa kegerahan karena selimut yang diberikan Azam. Walaupun pendingin ruangan menyala, namun ia masih kegerahan, dan itu menjadi alasan ia memakai pakaian mini dan tipis. Silvira menyibakkan selimutnya, kemudian dia mencari Azam yang tidak ada di sampingnya.


"Apa iya dari tadi dia belum kembali?" tanyanya sendiri.


"Tapi kenapa aku jadi pakai selimut? Pasti tadi dia yang menyelimutiku, tapi kemana perginya dia?" tanyanya lagi sambil bangkit mengambil kuncir rambut di atas nakas dan mengikat rambutnya, lalu ke kamar mandi mencari Azam.


Ia kembali ke kamar dan mengambil handuk dan botol air minum, lalu menyusul suaminya ke mini gym sambil membawakan handuk dan minum untuk Azam.


"Mas, malam-malam kok latihan, perasaan tadi makan malam gak begitu berat deh," ucap Silvira ketika sudah berada di dekat suaminya itu.


Azam segera memelankan treadmill itu kemudian membuatnya berhenti. Lalu turun sambil terengah-engah mengatur nafasnya.


Azam kemudian meraih botol minum yang disodorkan Silvira. Lalu berjongkok untuk minum. Setelah lebih teratur nafasnya ia kembali berdiri menghadap Silvira.


"Biar roti sobek enam biji kesukaanmu cepat kembali," ucap Azam beralasan.


Silvira kemudian mengelap keringat Azam dengan handuk di tangannya. Tubuh Azam benar-benar seperti mandi keringat, dari ujung rambut sampai ujung kaki.

__ADS_1


"Kamu kenapa keluar kamar pakai baju seperti ini? Nanti kalau dilihat anak-anak gimana? Mereka bertambah besar Beib, kamu hanya boleh memakai pakaian seperti itu di depanku," ucap Azam kemudian.


"Oh, maaf sayang, aku kegerahan, dan buru-buru ke sini untuk mencarimu," sahut Silvira.


"Ayo kita kembali ke kamar," lanjut Silvira.


"Sebentar lagi, kamu duluan, aku sedang menahan diri," sahut Azam.


"Menahan diri bagaimana Mas maksudnya?" tanya Silvira yang tidak paham.


"Silvi sayangku, maaf, tapi melihatmu berpakaian minim seperti ini, aku tidak bisa tidur, aku ingin menerkam mu, makanya aku kemari, aku lakukan apapun agar capek dan bisa tidur nanti," sahut Azam.


"Menerkam??" Silvira bertanya lagi, "Oh.." dia akhirnya tersadar sendiri apa yang dimaksud Azam, kemudian terkekeh.


"Kenapa ditahan Mas? Kenapa gak bangunin aku?" tanya Silvira sambil tersenyum.


"Beib, kamu hamil besar, aku takut kenapa-napa kalau aku lakuin itu," sahut Azam memberi alasan.


Silvira tersenyum lagi, merasa gemas dengan suaminya.


"Maaf Mas, tadi aku lupa bilang ya, kalau kontrol yang terakhir kali, aku udah tanya dokter mengenai hal itu, itu boleh kok, tapi durasinya gak boleh lama, paling lama tiga puluh menit saja," ucap Silvira sambil menyeka rambut dan wajah Azam yang penuh keringat. Sedangkan mata Azam membulat mendengarnya.


"Tapi Mas pasti udah capek, kita tidur yuk," lanjut Silvira.


Azam menghentikan tangan Silvira dan menariknya pelan untuk membawanya kembali ke kamar.


"Kamu buktikan sendiri, aku capek apa nggak, tiga puluh menit saja kok," ucap Azam sambil tersenyum lebar seperti mendapat hadiah utama.


"Kamu tunggu di sini Beib, jangan tidur dulu ya, aku bersihkan diri dulu, kamu tahu kan aku benci bau keringat," ucap Azam sambil mendudukkan Silvira di atas tempat tidur. Silvira mengangguk dan menurut.

__ADS_1


Azam masuk ke kamar mandi, ditungguinya keringatnya sampai benar-benar kering, dan baru mengguyur tubuhnya di bawah pancuran air shower. Ia membersihkan diri dengan cepat, karena tidak ingin membuat Silvira ketiduran karena menunggu lama.


"Silvi Silvi, kenapa tadi pakai lupa cerita segala sih," gumamnya sendiri.


__ADS_2