
Azam memasuki kamarnya, terlihat pintu kamar mandi tertutup, Silvira sedang di kamar mandi pikirnya. Kemudian ia meletakkan cangkir teh ke atas nakas seperti semalam. Sambil menunggu Silvira selesai, Azam memeriksa tabletnya, ia melihat beberapa laporan dari klinik kecantikan Silvira, semenjak memiliki bayi, Silvira banyak mengurangi kegiatannya untuk klinik, dan Azam yang mengurus semua itu.
"Ceklek," pintu kamar mandi terbuka.
"Beib, dibikinin ibu teh, kamu minum ya," ucap Azam yang masih sibuk dengan tabletnya.
"Iya," sahut Silvira singkat kemudian duduk di tepi ranjang dan segera meminum teh buatan ibu mertuanya. Kemudian meraih tissue dan menyeka ingus dari hidungnya.
"Srrrt,"
Azam mendengarnya. "Kamu pilek Beib?" tanya Azam yang akhirnya melihat ke arah Silvira, namun Silvira tengah duduk tertunduk memunggunginya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Azam sambil mendekati Silvira, dan kemudian berjongkok menghadap wajah Silvira.
"Kamu nangis?" tanya Azam yang melihat mata Silvira yang sembab dan hidungnya yang merah dan berair.
Silvira memandang Azam, namun dia masih terdiam, air matanya mengalir lagi.
"Kamu kenapa sayang? Gak nyaman di sini? Mau pulang?" tanya Azam sembari kedua tangannya menghapus air mata di pipi Silvira.
Silvira menggeleng. " Gak Mas, ibu dan ayah sangat baik, aku nyaman kok di sini,"
"Terus kenapa nangis?" desak Azam.
"Aku... aku..." Silvira terputus-putus mencoba man jawab pertanyaan Azam.
"Aku apa? Kenapa Beib?"
"Aku hamil Mas,"
"Ha..." Azam ternganga tidak percaya.
"Iya kah?" Azam memastikan lagi.
Silvira mengangguk, dan membuka genggaman tangannya berisi tiga buah stik tes kehamilan, dan menunjukkannya kepada Azam.
Azam melihatnya dan memang ada dua garis warna pink di setiap stik kehamilan itu.
__ADS_1
"Allahu akbar," ucapnya seraya memeluk Silvira.
"Ini berita bahagia sayang, ini rezeki besar dari Allah, kenapa nangis?" tanya Azam yang masih memeluk Silvira, dan matanya berkaca-kaca.
"Iya, aku tahu ini rezeki, tapi ini Fatimah belum satu tahun, gimana nantinya? Aku takut," Silvira kembali terisak.
"Hey, Beib, ini sudah takdir Allah, Allah kasih kita kepercayaan lagi dalam waktu singkat, kita berdoa sama Allah, percaya sama Allah, in syaa Allah semua baik-baik saja," ucap Azam mencoba menenangkan Silvira.
"Sekarang tarik nafas, buang nafas, tarik nafas lagi, buang, tarik nafas, buang nafas, bismillah in syaa Allah kita bisa," ucap Azam.
"Bismillah, in syaa Allah kita bisa," ucap Silvira menirukan Azam.
"Sudah, yuk ke bawah, kita kasih tahu ibu dan ayah, juga Fahri Farhan, mereka pasti sangat bahagia," ucap Azam setelah Silvira lebih tenang.
"Aku malu," ucap Silvira.
"Kenapa malu? Orang kamu hamil ada aku suaminya, iya kalau gak ada suami gitu," bujuk Azam agar istrinya bisa lebih percaya diri.
Kemudian mereka berdua turun ke ruang keluarga. Di sana sudah ada ibu, ayah, Fahri, Farhan dan Fatimah.
Azam berjongkok di depan ibunya kemudian membenamkan kepalanya ke pangkuan ibunya, dia menangis sesenggukan di sana. Silvira terheran, 'lah tadi aku nangis ditenangin suruh diem jangan nangis, ini dia sendirinya nangis ke ibuknya,' batin Silvira.
"Lho apa ini? Ada apa kok nangis?" tanya Ibu.
"Iya kenapa Zam?" ayah juga terheran.
Azam berhenti menangis dan menatap ibunya.
"Ibu, aku senang Bu, Silvira hamil lagi," ucap Azam.
"Apa??" Ibu masih belum percaya.
"Serius kamu?" Tukas Ayah.
"Iya Yah, Bu, saya hamil lagi," sahut Silvira.
"Udah ibu kira, dari kemarin ibu lihat wajahmu lebih bersinar dari biasanya, ibu tanya dalam hati, apa iya hamil lagi, eh iya bener, alhamdulillah ma syaa Allah, belum setahun sudah dikasih rezeki lagi," ucap ibu ikut bahagia.
__ADS_1
"Alhamdulillah, ma syaa Allah," ucap Ayah.
"Iya Umma? Kita mau punya adik lagi?" tanya Farhan.
Silvira mengangguk dan duduk di tengah kedua anak kembar itu.
"Yee kita punya adik banyak seperti Salman dan Rayhan," seru Fahri.
"Assalamualaikum, ada apa ini kok seru banget?" tanya Amir yang datang dengan anak dan istrinya membawa makanan untuk mereka sarapan, bersamaan dengan Ammar sekeluarga untuk sarapan bersama.
"Waalaikumusalam," jawab Ibu dan yang lainnya.
"Ini, kamu mau dapat ponakan lagi," sahut Ayah.
"Ha, iya kah?"
"Iya Om, kita mau punya adik lagi," sahut Fahri.
"Alhamdulillah, selamat Zam, Sil," ucap Ammar.
"Tahniah Mba," ucap Arum.
"Alhamdulillah, alhamdulillah,"
Kebahagiaan telah memenuhi keluarga mereka, setelah semua suka duka silih berganti menyapa mereka. Dari perceraian Azam dengan Karina, hingga kecelakaan yang membuatnya koma selama hampir seratus hari, dan kini Silvira mengandung buah cinta mereka yang kedua.
Tak henti-hentinya mereka mengucap syukur, alhamdulillah, alhamdulillah...
Seperti firman Allah dalam surat Ibrahim ayat 7..
“Jika kalian mau bersyukur, maka Aku sungguh akan menambah nikmat bagi kalian.”
Azam dan Silvira kembali ke kota tempat merantau nya, bersama teman rasa saudara yaitu Ammar. Keluarga mereka berteman, saling membantu, saling mendukung, dan saling mendoakan.
Tamat
Baarokallaahu fiikum 💜💜💜
__ADS_1