Ayah Untuk Anak Kembarku

Ayah Untuk Anak Kembarku
#27


__ADS_3

Tak lama kemudian dokter Harris keluar dari pintu ruang operasi. Semuanya segera berdiri menghampiri dokter itu ingin mengetahui keadaan Azam.


"Bagaimana keadaan adik saya Dok?" tanya Amir.


"Iya Alhamdulillah operasinya lancar dan berhasil, sekarang pasien masih menjalani operasi yang kedua yaitu pemasangan plat untuk betisnya yang patah, saya harap kalian tetap berdoa," ucap Dokter Harris.


"Terima kasih Dokter," ucap Silvira. Dokter itu mengangguk dan meninggalkan mereka.


"Alhamdulillah, operasi pertama sudah berhasil, semoga Allah beri kelancaran pada yang kedua, kami pamit sebentar mau menengok Hilmy rekan yang bersama Azam waktu kecelakaan," pamit Ammar.


"Oh iya terima kasih Nak sudah menemani Silvira," ucap Ayah. Ammar dan Hendra kemudian pergi menuju kamar Hilmy.


"Nduk, kamu sudah makan?" tanya Ibu. Silvira menggeleng, sudah hampir jam tiga sore, Ibu juga mencemaskan Silvira.


"Kita makan yuk, Ibu juga belum makan siang, Ibu ada sakit maag, yuk temani ibu, Azam biar ditemani Ayah sama Mas Amir," bujuk Ibu Azam.


"Baik Bu," ucap Silvira. Silvira menuruti Ibu mertuanya. Mereka kemudian pergi ke kantin rumah sakit untuk makan.


"Memang gak pengen makan ya, tapi kalau kamu gak makan, bisa sakit, kalau kamu sakit yang jagain Azam siapa, kita harus kuat, demi Azam dan anak-anak kalian," ucap Ibu Azam.


"Iya Bu," ucap Silvira sambil menyendok makanannya walaupun tidak ada selera sama sekali.


"Ini anak-anak di rumah?" tanya Ibu Azam.


"Tidak Bu, si kembar di rumah oma opanya dari papanya, hari Ahad kemarin saya dan mas Azam ngantar mereka ke sana," jawab Silvira.


Setelah makan mereka kembali, namun Amir memberi pesan bahwa Azam sudah keluar dari ruang operasi dan dipindahkan ke ruang ICU.


"Gimana Mas Azam Yah?" tanya Silvira kepada ayah mertuanya yang duduk di depan ruang ICU.


"Tadi masih belum sadar, Amir ada di dalam," jawab ayah.


Silvira mengangguk, dan duduk di samping ayahnya.


"Sudah Ashar, saya ke masjid dulu ya," pamit Silvira.


"Biar Ibu antar Nduk," sahut ibu mertuanya. Kemudian mereka berdua menuju masjid.


Di dalam ruang ICU, Amir duduk di samping Azam yang terbaring lemah, kaki kirinya di gips, dan kepalanya terbungkus perban.


"Silvi, beib, silvi.." lirih Azam setelah perlahan membuka matanya.


"Zam, kamu sudah bangun, Suster adik saya sudah bangun," ucap Amir memanggil perawat.


"Baik Pak, bapak tunggu di luar sebentar ya, biar kami periksa," ucap perawat itu. Amir keluar dari sana.


Perawat kemudian mengecek tanda-tanda vital tubuh Azam.

__ADS_1


"Bapak sudah sadar?" tanya perawat itu.


"Iya, Mba saya pengen lihat istri saya," ucap Azam.


"Iya Pak baiklah, saya panggilkan ya,"


Silvira segera masuk dan memakai baju khusus untuk pengunjung ICU.


"Mas," ucapnya sambil memegang tangan suaminya.


"Beib, aku gak papa, kamu jangan sedih ya," ucap Azam.


"Iya Alhamdulillah, terimakasih untuk tetap bersamaku Mas," ucap Silvira.


"Ini jam berapa?" tanya Azam.


"Jam setengah lima sore,"


"Berarti aku melewatkan sholat dhuhur tadi, bantu aku bertayamum, aku mau sholat Dhuhur jama takhir dengan Ashar," ucap Azam masih terbata karena menahan sakit di tubuhnya.


Silvira membantu Azam bertayamum, dan pergi menemui perawat sementara Azam sholat.


"Mba bisa saya bertanya?" tanya Silvira.


"Oh iya Ibu, silakan duduk di sini," ucap perawat sambil menunjuk kursi di depan meja kerja perawat itu.


"Tadi sudah saya laporkan kepada dokter Harris, kalau malam ini perlu observasi dulu di sini, jadi kalau nanti tidak ada masalah, besok pagi Pak Azam bisa dipindah ke ruang rawat biasa,"


"Kalau begitu, apakah bisa kami booking kamar dahulu agar keluarga kami bisa istirahat di sana,"


"Oh bisa Bu, nanti kami beri pengantar untuk memesan kamar,"


"Satu lagi Mba, bisakah kalau memungkinkan suami saya dirawat atau ditangani oleh perawat laki-laki saja, bukannya kami meremehkan perawat perempuan, tapi suami saya akan tidak nyaman dengan perempuan yang bukan mahramnya, saya mohon maaf ya Mba," ucap Silvira.


"Baik Bu, akan kami usahakan, ada lagi Bu?"


"Tidak Mba, terima kasih banyak ya atas bantuannya," ucap Silvira kemudian kembali di samping Azam yang baru selesai sholat juga.


"Beib," ucap Azam.


"Iya Mas, Mas mau apa?" tanya Silvira.


"Kamu istirahat, aku gak papa," ucap Azam.


"Iya, Mas istirahat juga, aku keluar sebentar ya, mau pesankan kamar buat Mas besok, dan biar malam ini ayah ibu bisa istirahat di sana,"


"Iya," sahut Azam.

__ADS_1


🩺🩺🩺🩺🩺


Esok paginya selepas Subuh bu Wati datang membawa koper kecil berisi pakaian Silvira dan Azam, ia juga membawa kotak makan susun empat untuk sarapan keluarga Azam.


Silvira segera mandi dan berganti pakaian, rasanya badannya sudah lengket dari kemarin belum mandi.


Setelah mandi dia sarapan bekal dari bu Wati bersama keluarga Azam. Dia sangat bersemangat karena hari ini Azam sudah bisa pindah ke kamar rawat inap biasa.


Silvira mengunjungi Azam sebentar.


"Beib, kamu cantik sekali," ucap Azam ketika melihat Silvira.


"Wah sudah sembuh ini, sudah bisa gombalin istrinya," ucap dokter Harris yang kebetulan melakukan visite. Azam tersenyum lebar, dan Silvira tersipu malu.


Dokter memeriksa Azam dengan seksama dan teliti.


"Maa syaa Allah, pak Azam ini orangnya sangat sehat ya sebelumnya, ini sangat banyak kemajuan, tapi tetap harus dirawat selama sepekan di rumah sakit ya, dan sekarang sudah boleh pindah ke kamar biasa," ucap Dokyer Harris.


"Alhamdulillah," ucap Azam dan Silvira. Mereka kemudian memindahkan Azam ke kamar VVIP yang dipesan Silvira.


Karena Azam terlihat lebih baik, ayah, ibu, dan Amir pamit pulang kembali ke kota apel. Ini musim liburan sekolah, jadi tempat wisata mereka pasti sangat ramai, jadi Amir harus segera kembali ke sana.


Tinggallah Azam dan Silvira di kamar itu. Silvira membuka cadarnya dan duduk di samping Azam.


"Mas, gimana sekarang? Apa yang dirasain?"


"Hmm, senang bisa lihat istri cantikku lagi, maa syaa Allah," ucap Azam.


"Mas, aku serius,"


"Aku juga serius beib,"


"Ya sudahlah, kalau kesakitan bilang ya," ucap Silvira sambil merapikan selimut Azam. Tiba-tiba tercium bau yang kurang sedap.


"Bau apa ya ini Mas?"


"Sorry, aku kentut," ucap Azam sambil menunduk. Silvira terkekeh mendengar jawaban Azam, dan baru kali ini dia mencium bau kentut Azam.


"Baby, sayangku, bisa panggilkan perawat?" tanya Azam.


"Mas mau apa?" tanya Silvira.


"Aku sangat malu di depanmu dengan keadaanku saat ini sayang,"


"Kenapa?" tanya Silvira.


"Aku pengen poop," ucap Azam sambil menunduk.

__ADS_1


"Mas, aku istrimu, izinkan aku merawatmu, izinkan aku meraup pahala sebanyak-banyaknya dari merawatmu,"


__ADS_2