
"Mas mau ngapain di sini? Ini masih siang lho, Mas juga pakai baju PDH ASN, nanti kalau ada yang motret bisa gawat,"
"Apa sih kamu, diam dan nurut kenapa, aku sudah gak tahan,"
"Mas, jangan sekarang dong, aku malu," Silvira merengek.
"Emang kamu pikir kita mau ngapain?" tanya Azam.
"Hah.." Silvira ternganga, jangan-jangan dia salah paham.
"Hey, pikiran kamu mesum ya, hayo," goda Azam.
"Lah Mas mau apa ke sini?" tanya Silvira yang masih belum mengerti.
"Mau apa, ya mau makan Beib, salmon di restoran hotel ini enak, aku pengen kamu nyobain juga," ucap Azam, Silvira langsung tertunduk malu mendengar jawaban Azam.
"Apa kamu mau yang lain? Kita check in gitu.."
"Mas, jangan gitu, aku malu," Silvira menutup muka dengan kedua tangannya.
"Hahahaha, Baby... tadi pagi kita sudah berapa kali.. masa iya, siang ini juga, lagian jam istirahat gak sampai dua jam, mana cukup buat aku, dah turun yuk, aku udah reservasi di restoran hotel ini," ucap Azam. Silvira hanya turun dan mengikuti Azam yang menggandeng tangannya.
'Duh, malu deh, kok bisa aku mikir ke arah sana,' batin Silvira.
Mereka makan Roasted salmon di sana, iya rasanya memang benar-benar enak, namun Silvira tetap terdiam karena masih malu. Azam yang menyadarinya mulai buka suara.
"Enak Beib?" tanya Azam.
"Enak," jawab Silvira singkat.
"Pantesan mau lagi, ternyata yang tadi pagi memang enak," goda Azam.
"Mas," Silvira membelalakkan matanya.
"Iya iya sayang maaf, harusnya aku cerita dulu kalau mau ngajak kamu makan ke sini, biar kamu gak salah paham, afwan ya," ucap Azam mencoba meraih hati Silvira kembali.
"La ba' sa (tidak mengapa)" jawab Silvira datar.
"Jangan marah ya, in saya Allah lain kali kita kemari dengan niat yang lain, tunggu aja,"
"Mas, kok itu lagi," Silvira merengek.
"Kita ke sini sama anak-anak, makan salmon yang enak ini dengan mereka," ucap Azam.
"Iya Mas," ucap Silvira yang perlahan merekah senyumnya.
Setelah makan siang, Silvira mengantar Azam kembali ke kantornya.
"Fii amanillaah Beib," ucap Azam.
__ADS_1
"Aamiin, assalamualaikum," ucap Silvira.
"Waalaikumusalam," jawab Azam sambil melambaikan tangannya. Setelah mobil Silvira tidak terlihat, Azam segera masuk ke dalam.
Silvira sampai di rumahnya, dia memarkir mobilnya di halaman. Lalu segera masuk ke dalam.
"Assalamualaikum," ucap Silvira.
"Waalaikumusalam," jawab bu Wati dan Yuni yang ada di dapur.
"Bentar ya Yuni, aku ganti baju dulu," ucap Silvira.
"Oh, iya Bu,"
Silvira segera ke atas untuk mencuci tangan dan berganti pakaian, lalu kembali ke bawah untuk menyusui Fatimah.
"Sini sama Ummah sini," ucap Silvira sambil mengambil Fatimah dari gendongan Yuni.
"Kamu istirahat dulu, nanti sore kamu yang pegang lagi ya, kamu sudah makan?"
"Belum Bu," sahut Yuni.
"Makan gih, sama bu Wati, makan sekalian Bu, saya sudah makan tadi sama Pak Azam,"
"Iya Mba," sahut bu Wati.
Silvira segera membawa baby F ke kamar bayi. Dia menyusuinya sambil tiduran, dan tertidur.
Azam sampai di rumah sekitar pukul empat sore.
"Assalamualaikum," sapa Azam.
"Waalaikumusalam," jawab bu Wati dan Yuni yang ada di halaman.
"Silvi mana Bu?" tanya Azam.
"Di kamar mba Fatimah, tidur barangkali Pak, dari tadi kok, saya pamit pulang sekalian Pak," jawab Bu Wati.
"Oh, iya," Azam segera masuk ke dalam dan masuk ke kamar Fatimah, benar saja Silvira tertidur dengan bagian dada terbuka karena habis menyusui, sedangkan si bayi melek sendiri di samping ummanya.
Azam segera melepas baju atasannya dan mencuci tangannya, lalu mengambil Fatimah dari sisi Ummanya.
"Apa sayang, sayangnya abati, ditinggal umma tidur nak, iya jangan sedih ya, umma capek nak, sama abati ya sekarang,"
Silvira terbangun dan terkejut Fatimah tidak ada di sampingnya.
"Fatimah!!"
"Hey, Fatimah di sini Beib," ucap Azam, Silvira bernafas lega melihat Azam membelai bayinya di sofa. Silvira bangkit dan mengikat rambutnya, lalu duduk di samping Azam.
__ADS_1
"Fatimah sudah mandi?" tanya Azam.
"Sudah Mas, tadi jam tiga, eh jam berapa sekarang? Waktunya jemput si kembar," Silvira baru sadar sudah hampir tiba waktunya pulang sekolah Fahri dan Farhan.
"Tenang aja, tadi Ammar bilang mau jemput mereka sekalian, Ammar bawa mobil," ucap Azam.
"Oh, Mas mau mandi?"
"Iya, gerah,"
"Sini, biar aku kasihkan Yuni, Mas ke atas aja," ucap Silvira sambil mengambil Fatimah dari pelukan Azam dan membawanya kepada Yuni.
"Titip sebentar ya Yun, pak Azam mau mandi," ucap Silvira.
"Iya Bu," ucap Yuni sambil menerima Fatimah, namun pandangannya tertuju pada Azam yang hanya mengenakan kaos singlet, terlihat lengan berotot dan dada juga punggung Azam yang atletis, Yuni tidak mengedipkan matanya sekalipun. Silvira yang menyadarinya menjadi sebal dibuatnya. Dia lalu mengambil selimut di kereta Fatimah, dan berlari mengejar Azam dan menutupi tubuh suaminya itu dengan selimut bayi.
"Apa sih Beib, kok aku diselimuti," Azam terheran.
"Ada yang mandang Mas tanpa berkedip," bisik Silvira. Mereka berdua masuk ke dalam kamar.
"Hah, siapa?" tanya Azam.
"Yuni," sahut Silvira.
"Memang susah juga punya suami ganteng bin atletis, bingung nyembunyiin," gumam Silvira.
"Lalu gimana solusinya? Aku gendutin aja badan aku?" tanya Azam.
"Solusinya, Mas tetap setia aja sama aku, mereka boleh memandang, tapi cuma aku yang memiliki Mas,"
"Oh kamu so sweet juga Beib, aku mandi ya, eh iya maghrib nanti aku ke kajian ya di sekolah si kembar, mau ngajakin Hilmy, dia kan belum begitu paham sunnah, ya dia pengen belajar katanya, sama Ammar, Hendra, juga Beny,"
"Iya Mas," ucap Silvira sambil menyiapkan pakaian ganti untuk Azam. Azam segera mandi, tak lama kemudian ganti Silvira yang mandi, dan Azam ke kamar si kembar yang baru datang.
Azam menyapa keduanya, menanyakan bagaimana hari mereka di sekolah, dan memberikan semangat.
"Lebih baik bersusah-susah belajar sekarang, daripada bodoh di waktu tua nanti," ucap Azam.
Setelah itu Azam kembali ke kamarnya, membantu Silvira yang sedang mengeringkan rambutnya. Dengan telaten dan terlihat mahir karena Azam sering membantu Silvira menggunakan hair dryer.
"Nanti malam pulang jam berapa?" tanya Silvira.
"Kenapa? Mau siap-siap?" tanya Azam.
"Iya, kalau Mas mau, kalau gak ya aku mau tidur aja,"
"Nanti Fatimah bawa ke sini saja sama box bayinya yang kecil, biar kita bisa tidur nyaman di sini," ucap Azam.
"Baik Mas, jadinya pulang jam berapa? Biar aku siapin piyama Mas,"
__ADS_1
"Jangan hanya piyama, siapkan juga dirimu, aku pulang habis Isya in syaa Allah," ucap Azam.