Ayah Untuk Anak Kembarku

Ayah Untuk Anak Kembarku
#49


__ADS_3

"Astaga... Kalian ngapain?" tanya Ibu yang masuk kamar tamu. Azam dan Silvira terkekeh, ini nih kenapa kamar mereka di lantai atas tidak boleh dimasuki siapapun.


"Silvira perutnya sakit Bu, lagi datang bulan," jawab Azam yang mukanya masih merah seperti ketahuan mencuri.


"Oh, itu dicari bude Harti sama Mba Dita baru datang," kata Ibu.


"Minta Bude sama Mba Dita kemari saja Bu," sahut Silvira sambil meringis menahan sakit.


"Biar aku temui mereka dulu sambil memanggil bu Wati, Ibu temani dik Silvira dulu," ucap Azam kemudian keluar dari kamar tamu.


"Apa setiap datang bulan seperti ini Nduk?" tanya Ibu sambil duduk di samping menantunya itu.


"Nggak Bu, baru kali ini, mungkin masih ada efek pasca operasi kemarin, atau bisa juga karena stress menyiapkan khitanan ini," sahut Silvira.


"Coba kamu tidur miring," pinta Ibu, Silvira mematuhi Ibu dan miring membelakangi Ibu. Kemudian Ibu mulai mengoleskan minyak zaitun dan menggosok-gosok pinggang Silvira.


Tak berselang lama, Bu Wati masuk membawa segelas susu jahe hangat pesanan Silvira. Kemudian satu persatu saudara masuk melihat keadaan tuan rumah, Silvira merasa tidak enak kepada mereka, sudah jauh-jauh datang dari luar kota, tapi Silvira malah tergolek di kasur seperti ini.


"Sudah, jangan bangun kamu istirahat saja," ucap Mami yang melihat Silvira mencoba bangkit. Bude Harti juga ada di kamar itu.


"Dia dulu juga menantu saya, setelah anak saya tiada, maka dia jadi anak saya," ucap Mami sambil tersenyum kepada Ibu dan Bude Harti.


Bude Harti terharu, mendengar kata-kata Mami dan juga melihat Ibu dengan sabar menggosok-gosok pinggang belakang Silvira.


Silvira masih meringis menahan sakit.


"Rasanya seperti mau melahirkan ya?" tanya Ibu.


"Belum tahu Bu, dulu melahirkan si kembar operasi, karena posisi mereka kurang bagus di dalam perut," sahut Silvira.


"Ehm, itu belum seberapa dibanding sakit melahirkan normal," ucap Bude Harti.


"Mami doakan kamu segera hamil ya sayang," ucap Mami.


"Aamiin, saya senang sekali Mi, ibu kandung saya sudah diambil Allah waktu saya masih kecil, tapi sekarang Allah ganti bukan hanya satu ibu, tapi tiga sekaligus, maa syaa Allah," ucap Silvira. Ibu, Mami, dan Bude Harti ikut terharu mendengarnya. Mami dan bude Harti kemudian keluar kamar agar Silvira bisa istirahat.


Setelah menghabiskan setengah gelas susu jahe dan digosok pinggangnya, Silvira tertidur. Ibu menyelimutinya dan keluar kamar juga.

__ADS_1


Azam yang sedang duduk bersama Indra, Aditya, Amir, Ayah, dan Papi spontan melihat ke arah Ibu, dari raut wajahnya Ibu sudah bisa membaca kalau Azam penasaran dengan keadaan istrinya.


"Dia sedang tidur," ucap Ibu. Azam hanya mengangguk dan melanjutkan percakapannya dengan lelaki keluarga mereka.


Ibu juga segera berbaur dengan para perempuan yang duduk di ruang tengah bersama kedua bocah yang dikhitan itu.


Sekitar satu jam kemudian, Silvira terbangun, merasa sedikit lebih baik. Dia segera memakai jilbabnya dan merapikan gamisnya. Silvira keluar dari kamar tamu, Azam yang melihat segera menghampirinya.


"Beib, gimana masih sakit perutnya?" tanya Azam.


"Alhamdulillah sudah mendingan Mas," jawab Silvira.


"Alhamdulillah kalau begitu, makan yuk, kamu belum makan kan," ajak Azam.


"Hmm, iya, Mas belum makan?" tanya Silvira.


"Belum, Mas nungguin kamu," sahut Azam.


"Maafin aku Mas, gara-gara aku Mas jadi terlambat makan," ucap Silvira merasa bersalah.


"Lho Ammar sama Mba Arum datang juga?" tanya Silvira.


"Iya, anak mereka kan teman Farhan Fahri, sebentar aku panggil mereka," ucap Azam.


Ammar dan Arum kemudian ikut makan bersama mereka. Silvira melihat Azam yang biasa saja, seperti tidak pernah ada masalah lagi, dia merasa lega, mungkin Azam sudah melupakan masalah Silvira dan mantan pacarnya itu.


"Mar, jadi aku rencananya mau renovasi rumah, sebelum kami punya bayi, nah karena pasti rumah yang renovasi itu pasti penuh debu dan berantakan, maka dari itu aku pengen sewa rumah untuk sementara kami tinggal, kira-kira kamu ada kenalan gak yang punya rumah yang disewakan?" tanya Azam kepada Ammar.


"Hmm, rencana kapan kamu mulai renovasinya?" tanya Ammar.


"Secepatnya sih," sahut Azam.


"Ini ada rumahnya Dik Arum, tapi masih disewa orang, nah akhir bulan ini habis kontraknya, kalau kalian mau pakai saja setelah orangnya pindah, ya Dik ya," ucap Ammar.


"Iya dipakai saja, kalau kalian mau, tapi ya itu, rumahnya kecil," ucap Arum.


"Aku maunya juga kecil gitu, karena rencananya gak pakai ART, bu wati aku tinggal di sini buat ngawasi tukang yang kerja," sahut Silvira.

__ADS_1


"Iya deh kalau gitu, nanti kita lihat dulu ya, kita tanya juga Fahri dan Farhan mau atau tidak, kalau aku sih gampang, yang penting anak istri nyaman aja," kata Azam. Silvira tersenyum di balik cadarnya, hatinya ter uwuuu mendengar kata-kata Azam yang lebih mementingkan dia dan anak-anak.


**


Hari semakin sore para saudara dan kerabat sudah pulang, tinggal Ibu dan ayah yang masih tinggal untuk membantu mengurus kedua anak yang baru dikhitan itu. Ibu dengan sabar menemani mereka. Silvira sangat senang ada ayah dan ibu mertuanya di rumah ini, dia ingin membantu Azam juga untuk berbakti kepada ayah da ibunya.


"Beib," ucap Azam di pembaringan ketika akan tidur.


"Iya Mas," sahut Silvira sambil memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Azam.


"Kamu gak risih tinggal dengan mertua kamu?" tanya Azam.


"Kenapa risih? Bukankah ini memudahkan tugasku sebagai istrimu untuk mendukungmu berbakti kepada orang tuamu," jawab Silvira.


"Hmm maa syaa Allah, jadi kamu sudah tahu Beib, kalau ada wanita yang menghormati lelaki itu disebut istri, dan kalau ada wanita yang dihormati lelaki itu adalah ibu, memang seperti itu yang dicontohkan Rasulullah, urutannya kalau anak laki-laki yang lebih didahulukan orang tua, baru istri, dan kalau anak perempuan, dahulukan suami baru orang tua," kata Azam sambil membelai rambut Silvira.


"Iya Mas, jadi nanti juga begitu ya, kalau si kembar sudah punya istri, aku yang didahulukan, aku baik-baik juga sama Ibu, semoga si kembar juga bisa menasihati istri mereka agar baik juga denganku, hihihi," ucap Silvira.


"Jauh banget pikiranmu, dua bocil juga baru disunat tadi pagi," keduanya pun jadi terkekeh.


"Beib," ucap Azam.


"Iya," sahut Silvira.


"Kamu sudah ngantuk?" tanya Azam.


"Lumayan sih," jawab Silvira.


"Kalau begitu kamu tidur duluan ya," ucap Azam.


"Mas mau kemana?" tanya Silvira.


"Tadi siang, kita makan menu prasmanan lengkap, aku gak enak hati mau langsung tidur, gimana kalau besok pagi roti sobek di perut aku hilang, kamu rela?"


"Aku sih masih mau kok Mas yang seperti apa, tapi kalau roti itu masih ada, aku lebih senang,"


"Okelah, aku tinggal dulu ya,"

__ADS_1


__ADS_2