Ayunda Syaharani

Ayunda Syaharani
Teringat Kembali-1


__ADS_3

Dalam hatinya ia benar-benar merasa bersyukur atas pertolongan yang Allah berikan padanya melalui Raffa.


“Alhamdulillah Ya Allah, terima kasih atas Pertolongan-Mu Ya Allah, terimakasih.” Ucapnya sambil menengadah wajahnya ke atas.


Kemudian duduk di kursi yang tersedia didepan ruangan tersebut. Lalu ia pun mengeluarkan handphone dan mengechat Hanum, “Assalamu’alaikum Hanum kalian sekarang dimana? Aku tunggu di depan ruang dosen.”


“Mau diskusi dulu sekitar 10 menitan, kamu tunggu aja di situ Ayunda kemungkinan kita enggak akan lama kok!” Balas Hanum yang kebetulan juga online.


“Heem ... Jangan lama-lama Hanum! ” Balas Ayunda.


“Siap Boskuuu!😉” Balas Hanum.


Beberapa menit kemudian setelah cukup bosan menunggu Ayunda berinisiatif untuk memurojaah surat Ar-rahman. Kenapa surat Ar-rahman? karena dalam surat tersebut terdapat perintah untuk manusia bersyukur dan menyebut akan nikmat-nikmat yang telah Allah berikan. Namun pada pertengahan ayat Ayunda tidak bisa fokus karena teringat akan seorang pria yang tanpa sengaja telah menolongnya dan pria itu adalah Raffa Abimanyu al-Ghifari.


"Astagfirullah apa yaa lanjutannya??? Ayo!


Ayunda ingat! ingat kembali!" Sambil memejamkan matanya.


"Duh kok malah ingat Kak Raffa sih? Ups!" Sambil menutup mulutnya.


"Eh, kok ingat namanya segala sih? Buat apa coba? Oh yaa buat bilang makasih lagi kali yaa?"


Masih berusaha mengingat-ingat kembali lanjutannya.


"Astagfirullah apa lanjutannya?" sambil memejamkan matanya,"ayo! Ayunda ingat! Ingat kembali! Astagfirullah kenapa dengan otakku? Kok malah tergiang-ngiang dengan wajah pria tadi sih?" Ucapnya cukup kesal sendiri.


Kini Ayunda membuka kembali matanya. Merasa gelisah dalam hatinya karena teringat akan sesuatu.


"Ya Allah melihat pria tadi sungguh membuat hamba teringat dengan Ustadz---"


~ 𝓕𝓵𝓪𝓼𝓱𝓫𝓪𝓬𝓴 𝓞𝓷~

__ADS_1


Hari itu aku dan Yuna ....


Yuna adalah teman yang sering ke Majlis Taklim bersamaku di tempat tinggal kami.


Malam itu kami sudah hendak pergi dari masjid setelah pengajian namun langkah kaki kami terhenti saat seseorang memanggil namaku.


"Ayunda Syaharani, tunggu!"


Panggil seorang pria berwajah tampan dengan wajahnya yang cerah dan bersih, senyum yang senantiasa terukir bagai bulan sabit seperti tanda penduduk surga yang senantiasa tersenyum, dan berewok tipis disekitar pelipis dan dagu bawahnya serta badan tegap dengan tinggi yang semampai.


Aku dan Yuna pun berhenti dan menoleh ke sumber suara yang memanggilku tersebut.


" Iya, Ustadz memanggil saya?" Tanyaku agak ragu, tapi didalam masjid para jamaah sudah berhamburan pergi.


"Iya saya memang memanggilmu!" Tegasnya kembali.


"Kalau begitu, apa mungkin ada yang bisa saya bantu Ustadz?" Tanyaku kemudian.


"Saya ingin mengatakan sesuatu padamu, Ayunda."


Dia menarik nafas begitu dalam sebelum mengatakan apa yang ingin ia katakan. Dan itu membuat aku dan Yuna bertanya-tanya tentang apa yang ingin Ustadz sampaikan.


Dan ternyata, "Ayunda Syaharani Ana uhibbuki! Ana uhibbuki!" Suatu pernyataan yang begitu jelas masuk kedalam telingaku dan Yuna saat itu.


"Ustadz serius?" Tanyaku tak percaya.


"Iya Ayunda saya serius dan InsyaAllah saya juga akan mengkhitbahmu secepatnya."


Aku hanya terdiam tak mampu berkata-kata lagi karena sangking bahagianya.


Laki-laki yang sebenarnya aku cintai dalam diam kini menyatakan cintanya tepat didepanku dan bahkan akan mengkhitbahku.

__ADS_1


"MasyaAllah, Ustadz ini berita yang sangat baik. Ayunda pasti akan menunggu kedatangan Ustadz untuk menemui kedua orang tuanya apalagi dengan niat menjadikan Ayunda sebagai bidadari surga dunia dan akhiratnya Ustadz!" Jawab Yuna sambil merangkul pundakku.


"Iyakan Ayunda?" Tanya Yuna padaku tetapi aku masih diam dan rasanya tubuhku benar-benar kaku seketika itu bersamaan dengan detak jantungku yang berdetak begitu cepat tak seperti biasanya.


"Bagaimana Ayunda?" Tanya Ustadz Habib padaku dan seketika itu membuatku mau menjawabnya.


"Ii---yaa Ustadz, saya akan menunggu kedatangan Ustadz ke rumah saya untuk menemui kedua orang tua saya sebagai tanda keseriusan Ustadz."


"Alhamdulillah." Senyum indah pun terpancar diwajah tampannya.


"Emm, lalu bagaimana dengan perasaanmu pada saya Ayunda?" Tanyanya lagi kepadaku.


Ditanya seperti itu membuat aku semakin bungkam karena aku merasa begitu malu untuk mengatakannya, walaupun dia sudah menyatakan perasaannya padaku.


"Ayunda ayo jawab!" Yuna menyenggol lenganku dan apa yang aku lakukan? Aku tetap tak mengatakan apa-apa namun aku hanya tersenyum dan sekilas menatapnya lalu menundukkan pandanganku lagi. Sebagai tanda bahwa aku juga memiliki perasaan yang sama padanya. Setelah itu aku langsung menggandeng tangan Yuna dan beranjak pergi dari dalam masjid itu.


"Mari Ustadz, assalamu'alaikum!" Ucap Yuna sambil membalikkan tubuhnya karena tengahku gandeng.


"Ayunda kok langsung nyelonong pergi sih?" Kata Yuna padaku, "Enggak sopan Ayunda!"


"Enggak apa ini darurat Yuna!" Kataku memberi alasan pada Yuna.


"Darurat apa? Darurat apa? Orang bahagia banget gitu!"


Kini aku berhenti di samping jalan dan berbicara empat mata dengan Yuna.


"Yuna Anastasia dengarkan aku baik-baik! Ini yang ku inginkan selama ini, dicintai oleh seseorang yang ku cintai apalagi sampai bisa hidup bersamanya dalam kehalalan. Itu adalah salah satu mimpiku Yuna dan kini ia menyatakan bahwa ia mencintaiku dan akan mengkhitbahku. MasyaAllah, alhamdulillah ... aku bahagia sekali, aku bahagia Yuna, aku bahagia!" Dan aku pun memeluk Yuna sangking bahagianya.


Tak berhenti disitu karena aku masih saja asik menceritakan perihal rasa bahagiaku pada Yuna, "Kamu tau Yuna, Kenapa tadi aku diam saat Ustadz menanyakan bagaimana perasaanku padanya? Hatiku rasanya tak bisa berkata apa-apa Yuna selain memperbanyak mengucap syukur, dan aku ngajak kamu cepat-cepat pergi karena aku gak sanggup terus berdekatan sama ustadz Habib. Kamu tau? jantung ku enggak karuan, dia berpacu dengan sangat cepat dan belum ada kata SAH untuk kami. Jadi tidak baik rasanya kalau terlalu lama berdekatan. Meskipun ada kamu juga di sana."


"Iya, iyaa bener tuh belum ada lebel halal." Balas Yuna dengan tertawa kecil.

__ADS_1


"Itu tau sendiri?" Jawabku menggodanya dan tak lupa meminta agar ia mendo'akanku,"do'akan aku Yuna! Semoga semuanya dipermudah oleh Allah."


"Iya pasti aku do'ain" ucap Yuna padaku dengan rasa bahagia melihatku bahagia.


__ADS_2