Ayunda Syaharani

Ayunda Syaharani
Semua atas Izin Allah


__ADS_3

Berbeda dengan Ayunda yang akan ke perpustakaan. Tujuan Raffa ialah kembali menemui Bu Yeni untuk mengambil berkasnya yang tertukar dengan berkas makalah milik Ayunda.


Sesampainya Raffa ditempat yang ia tuju, ia tak langsung mendapati keberadaan Bu Yeni. Meskipun begitu, ia tetap mengucapkan salamnya,


"Assalamu'alaikum Bu Yeni!"


Dari satu arah Bu Yeni muncul. Menjawab salam Raffa sekaligus meminta maaf atas kesalahannya memberikan berkas.


"Wa'alaikumussalam, tolong maafkan saya atas apa yang terjadi hari ini ya, Nak Raffa! " Bu Yeni merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Raffa hari ini.


Anggukan penuh ketenangan dari Raffa didapatkan Bu Yeni sebagai jawaban permintaan maafnya atas apa yang telah terjadi beberapa menit yang lalu.


"Iya Bu, tidak apa-apa. Alhamdulillah semua ada hikmahnya." Raffa.


"Maksud Nak Raffa?" Bu Yeni masih belum begitu mengerti inti dari perkataan Raffa.


"Semua atas izin Allah, Bu! Berkas makalah yang tertukar dengan berkas lamaran saya, ternyata berkas makalah tersebut mau dikumpulkan ke Pak Fahri."


"Pada awalnya saya juga merasa tidak enak pada Pak Fahri. Kenapa saya tidak memeriksanya kembali? Tetapi, alhamdulillah, beliau memakluminya dan setelah beliau lihat-lihat kembali, ternyata benar, kalau itu adalah tugas yang beliau berikan kepada mahasiswanya tadi pagi."


"Karena beliau meminta agar tugas makalah mahasiswanya itu diserahkan dalam bentuk hard file plus dikumpulkan kepada beliau tepat setelah shalat jamaah dzuhur di kampus selesai. Namun, sayangnya sudah lewat beberapa menit dari waktu tersebut, mahasiswa itu baru sampai di ruangan Pak Fahri." Raffa menjelaskan dengan mendetail.


Dan masih terus menjelaskan,


"Bu Yeni, tau sendiri kan pak Fahri orangnya sangat disiplin. Beliau tidak suka dengan keterlambatan," Raffa antara salut dan tak tau harus berkata apa untuk kedisiplinan Om Fahrinya itu.


"Terus, apa yang terjadi? Apakah Pak Fahri tetap marah?" Bu Yeni mendadak cemas sendiri.


Raffa tersenyum manis ke arah Bu Yeni. Tetapi Bu Yeni malah semakin takut dibuatnya.


"Karena tugas tersebut sudah berada ditangan beliau tepat pada waktunya, pada akhirnya beliau berbesar hati memaafkan dan mentolerir mahasiswa itu."


Rasa bahagia dan lega pun dirasakan oleh Bu Yeni. Meskipun Bu Yeni hanya menjadi pendengar akan apa yang Raffa ceritakan padanya.


Raffa pun menyimpulkan akan apa yang telah dialaminya hari ini, "Kita memang tak pernah tau akan rencana terbaik yang sudah Allah atur dengan begitu rincinya."


"Emm ... jangan-jangan ada sesuatu pula yang akan Allah hadirkan untuk kalian berdua!" Bu Yeni langsung menutup mulutnya merasa tak seharusnya berkata seperti pada Raffa yang sudah punya kekasih meskipun jauh darinya.


Raffa hanya diam dan itu membuat Bu Yeni merasa cukup tak enak hati. Lantas tanpa fikir panjang Bu Yeni langsung meminta maaf pada Raffa.


"Maaf ... maaf Nak Raffa!"


Raffa tersenyum dan sesekali mengecek kembali semua berkasnya.


Hening sejenak ...


Namun tak lama kemudian, Bu Yeni teringat kalau nanti sore harus mengambil pesanan kuenya. Sekaligus ia mau silaturahmi ke rumah sahabatnya.


Bu Yeni yang cuma mempunyai satu anak laki-laki dan karena anak laki-lakinya itu sedang sibuk apalagi juga sudah berumahtangga, mau tak mau Bu Yeni meminta tolong kepada Raffa. Raffa yang baginya sudah seperti anaknya sendiri begitu juga dengan Raffa menganggap Bu Yeni. Meskipun mereka tidak ada ikatan darah tapi mereka memiliki ikatan hati yang kuat.


Seperti anak sendiri Bu Yeni meminta bantuan ke Raffa untuk mengantarkannya mengambil kue, tapi dengan tetap mempertimbangkan kesibukan Raffa, "Emm, sebentar Nak Raffa! Nanti sore kamu sibuk tidak?" Bu Yeni memastikan,"saya mau minta tolong sama kamu."


"InsyaAllah tidak Ibu. Kenapa memangnya Bu?" Cukup penasaran gerangan apa yang membuat Bu Yeni harus bertanya dulu padanya saat ia ingin dibantu.


"Ibu mau minta tolong ke kamu untuk mengantar Ibu mengambil pesanan kue di rumah temen Ibu. Soalnya Ibu sudah terlanjur bilang, kalau kuenya Ibu sendiri yang mengambil sekalian silaturahmi ke sana. Eh ... ternyata Mas Putra anak Ibu belum bisa pulang ke rumah Ibu sore ini. Sementara pengajian di rumah Ibu mulainya habis Isya." Memperjelas alasannya meminta tolong.

__ADS_1


"Dengan senang hati saya akan mengantar Bu Yeni sampai tujuan!" Balas Raffa dengan seulas senyum diwajahnya yang sangat memukau jika saja ada yang melihatnya saat itu selain Bu Yeni.


Kebahagiaan dan kelegaan begitu dirasa oleh Bu Yeni saat mendapat jawaban tersebut, "Terimakasih Nak Raffa! Kamu baik sekali!"


"Sama-sama Bu! Saya malah senang kalau bisa membantu Ibu."


Apa yang lebih menyenangkan dan membahagiakan saat bisa membuat orang lain juga bahagia. Melihat senyum ketenangan tanpa rasa cemas yang nampak di raut wajah Bu Yeni adalah hal yang membahagiakan bagi Raffa yang sudah menganggap Bu Yeni sebagai Ibu keduanya setelah ia berada jauh dari sang Mama.


Mode getar dalam Handphone Raffa mengalihkan pandangan dan kefokusannya untuk menganggat telfon dari ID kontak bernama Uncle Fahri.


Sejenak Raffa menjauh untuk menerima panggilannya. Beberapa pembicaraan penting telah selesai keduanya bicarakan dalam telfon tersebut, ia pun kembali menghampiri Bu Yeni kembali.


"Bu, saya pamit pergi dulu. Saya harus segera menemui Om Fahri, beliau sudah menunggu saya karena beliau harus segera pergi ke kota L" Raffa merasa cukup tak enak, karena biasanya ia sering mengajak Bu Yeni untuk pulang bersamanya saja. Alasannya karena ia tidak tega wanita yang sudah ia anggap seperti Ibunya sendiri pulang sendirian.


Namun kembali lagi bahwa seseorang tak pernah tau bagaimana hari esoknya ataupun bagaimana hari yang akan dihadapinya disetiap jamnya. Siang itupun Raffa pamit lebih dulu untuk melepas kepergian Om Fahri/Pak Fahri. Karena kemungkinan mereka akan jarang bisa bertemu lagi.


"Iya Nak Raffa, nanti Ibu bisa naik ojol." Tutur Bu Yeni agar Raffa tak perlu risau.


"Dan nanti sore, kalau Ibu mau mengambil pesanan kue, Ibu akan langsung ke kontrakan kamu aja ya minta anterin kamu, biar kamu perlu menunggu Ibu!" Tegas Bu Yeni yang rumahnya memang bersebelahan dengan rumah yang di kontrak Raffa dengan Pak Fahri.


Dengan sengaja Raffa menggoda Bu Yeni,


"Siap Bu Bos!" Sambil mengedipkan mata.


....


~ Di Warung Bakso dan Mie Ayam ~


Kelima sahabat yang terdiri dari Ayunda, Raya dan Stevi mereka memesan pilihan mereka masing-masing.


Selain karena itu itu semua juga sebagai filosofi jika suatu saat mereka tidak lagi akrab seperti momen saat ini, mereka harus selalu ingat kalau ada hati mereka yang selalu terikat dan sehati.


Disela-sela menunggu pesanan mereka datang, Raya pun membuka perbincangan, “Emm .. Ayunda, tadi katanya kamu kan mau cerita sesuatu ke kita?” Raya mengingatkan Ayunda akan perkataannya tadi,"iyakan temen-temen?"


"Oh ... iya, makasih ya sudah kamu ingatkan. Jadi, tadi itu ..."


Drtt ... Drrtt ... Drrtt.


Layar handphone Ayunda menyala mendapatkan panggilan masuk.


Cerita yang baru saja akan diceritakan tanpa disengaja menjadi tertunda begitu saja. Apalagi melihat ID kontak yang menelfon Ayunda saat itu.


Tanpa berfikir panjang, Ayunda langsung mengangkat panggilan dari Umminya.


“Assalamu’alaikum Ayunda!“ Sapa Ummi Hannah lebih dulu.


“Wa’alaikumussalam, ada apa Ummi? Ummi dan Abah baik-baik saja 'kan?" Ayunda khawatir mengingat bahwa Umminya jarang akan menelfon Ayunda, kalau tidak mengenai hal yang sangat penting.


“Alhamdulillah kami baik-baik saja. Cuma, Ummi lagi kuwalahan bikin pesanan kue, soalnya tadi tiba-tiba Bu Yeni yang pesan kue kemarin minta kuenya ditambah 100 kue lagi!”


"Jadi, apa kamu bisa kan pulang secepatnya?"


Hening sesaat ...


Ayunda kini tengah berfikir apa dia harus pulang duluan saja? Tapi bagaimana dengan temannya yang sudah menunggu sedari tadi siang? Mereka rela menunggunya hanya untuk bisa menghabiskan waktu bersamanya untuk bisa makan siang bersama.

__ADS_1


"Emm, jadi gini Ummi, Ayunda sekarang ini sudah terlanjur pesan makanan sama temen-temen Ayunda."


"Emm, Ayunda habiskan makanannya dulu terus langsung pulang. Enggak kelamaan 'kan Ummi?"


Sebisa mungkin Ayunda tetap memprioritaskan keduanya dan berusaha bersikap sama-sama adilnya.


“Iya Ayunda, habiskan saja makanan kalian terlebih dahulu, tetapi setelah itu langsung pulang yaa!" Ummi mengingatkan.


“Siap Ummi! ”


“Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wbarakatuh!"


Panggilan pun selesai.


Keempat sahabat Ayunda yang tentu mendengar sedikit banyak percakapan Ayunda ditelfon, serasa cemas dengan yang terjadi pada Ayunda.


“Kenapa Ayunda?" Raya.


“Alhamdulillah hari ini ada yang minta nambah pesanan kuenya ke Ummiku. Dan karena itu, Ummi menyuruh aku pulang secepatnya. Soalnya Ummi sedikit kuwalahan karena enggak ada yang bantu. Yang biasanya bantuin Ummi lagi cuti beberapa hari.


"Terus gimana Ayunda?" Hanum.


"Aku sudah bilang sama Ummi, kalau aku terlanjur pesan makanan, jadi aku akan menghabiskannya dulu sama kalian. Enggak baik juga kalau dibatalin, apalagi kalian, juga kan udah telat makan siang gara-gara nunggu aku!” Ayunda tengah dilema sendiri.


Sementara Ayunda masih hanyut dalam dilemanya, sementara itu pula Hanum, Mala, Raya dan Stevi, mereka saling menatap satu sama lain dan merencanakan bahwa mereka akan ikut ke rumah Ayunda untuk membantu Umminya.


“It's okay!" Ucap Raya,"kamu tenang saja Ayunda!"


"Ada kita berempat di sini!"


"Kita akan bantuin kamu sama Ummi kamu!"


Mereka berempat saling berganti menyahut.


“Beneran?"Ayunda yang merasa tak enak kalau merepotkan mereka,"kalian enggak sibuk?"


Dengan kompaknya mereka berempat menggelengkan kepala satu sama lain.


"Kita akan ke rumah kamu untuk silaturahmi sekalian bantuin kamu dan Ummi."


“Terus, kalau kita berempat ikut bantuin pasti akan semakin cepet selesainya."


"That's right!" Stevi dengan wajah yang sumringah, menaikkan alisnya dan memetik kedua jarinya.


"Siip bener banget!" Mala membenarkan perkataan Hanum dan akhirnya mereka ber-4 sepakat silaturahmi ke rumah Ayunda.


“Makasih banyak ya temen-temen!” Ayunda merasa sangat bahagia dan bersyukur mendapat teman yang baik dan selalu ada untuknya.


Setelah menyelesaikan kesepakatannya, mereka pun kembali teringat akan makanan yang sudah mereka pesan.


"Sekarang ayo kita makan!" Ajak Stevy melihat makanan yang sudah ditunggu-tunggu akhirnya datang juga.


Mereka pun mengangguk dan menampakkan senyum tulusnya kemudian tak lupa untuk melahap makanannya.

__ADS_1


𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...


__ADS_2