
Satu minggu telah berlalu dari hari ia mengatakan perasaannya padaku.
Satu minggu telah berlalu namun ia tak kunjung datang juga. Aku tak mau menagihnya karena jika dia serius pasti sudah dari jauh-jauh hari ia datang. Lalu, tibalah malam untuk ia mengisi pengajian di masjid seperti biasanya.
Dan sama seperti kemarin ia memanggilku lagi, "Ayunda Syaharani!" Panggilnya padaku waktu itu dengan suara yang begitu purau.
"Iya Ustadz." Aku menjawabnya dengan tetap tenang.
"Aku ingin menyampaikan sesuatu kepada kamu, Ayunda!"
"Silakan disampaikan saja Ustadz!" Ucapku padanya dan sama seperti kemarin ia menarik nafasnya dalam-dalam sebelum mengatakan sesuatu.
Dan benar saja ia kembali mengungkapkan sesuatu setelah sesi pemanasan tersebut. Namun tanpa pernah ku sangka dan ku duga sebelumnya kalau, ungkapan hatinya kali ini cukup menggetarkan hatiku dengan sembalut pilu yang akan tertorehkan.
"Ayunda Syaharani, sebelumnya saya mohon maaf sebanyak-banyaknya padamu."
"Loh, kenapa Ustadz? Ustadz enggak ada salah sama saya kalau memang selama satu minggu ini Ustadz belum bisa datang menemui kedua orang tua saya tidak apa Ustadz. Masih ada hari esok atau lusanya." Jawabku dengan tetap berusaha tetap tenang walaupun tak dapat dipungkiri hatiku bergejolak ingin meminta penjelasan akan kata-katanya dimalam itu.
"Iya ... saya juga ingin meminta maaf atas ketidak pastian saya kepadamu. Sudah berjalan satu minggu dan saya belum datang menemui kedua orang tuamu."
"Iya tidak apa Ustadz, lalu sebelumnya Ustadz minta maaf. Kenapa?"
"Emm ... jadi begini Ayunda, Ibu saya menyuruh saya untuk lebih memantapkan ilmu saya lagi dengan berkhidmah di Ma'had teman Abah saya. Beliau belum ingin saya menikah apalagi diusia saya yang masih tergolong muda. Jadi, maafkan saya Ayunda! Maafkan saya! Maafkan saya!" Ucapnya dengan banyak jeda sebab merasa tak enak hati disertai hati yang tengah terluka.
"Untuk saat ini saya belum bisa mengkhitbahmu, tapi InsyaAllah setelah selesai khidmah di Ma'had, saya akan menemuimu dan mengkhitbahmu. Saya akan membujuk Ibu saya untuk bisa menerimamu dengan baik."
"Tapi untuk saat ini maafkan saya, karena saya benar-benar belum bisa memperjuangkanmu. Saya mohon percayalah bahwa saya benar-benar mencintaimu Ayunda Syaharani! Saya benar-benar mencintaimu!Saya tau ini sungguh menyakitkan untukmu namun percayalah saya juga merasakan sakit seperti yang kamu rasakan, bahkan lebih." Ucapnya dengan penuh rasa bersalah serta mata yang berkaca-kaca dan kulihat sesekali ia menghapus bulir air mata yang akan menetes di pipinya.
Seketika itu hatiku yang dipenuhi bunga-bunga cinta terasa layu sudah bunga itu dan jantungku berdetak begitu kencang dengan rasa yang begitu perih di ulu hatiku.
Aku mencoba untuk tetap kuat dan tegar dan tidak menumpahkan air mataku didepannya karena itu pasti akan sangat menyakitinya.
Kutarik nafasku dalam-dalam supaya aku bisa rilexs dan berfikir jernih.
Kuhapus air mata yang sudah mengenang dipelupuk mataku lekas aku berkata kepadanya, "Ustadz, saya tidak apa dan saya akan baik-baik saja. Ustadz turutilah apa yang diperintahkan Ibu Ustadz pada Ustadz! Di sini saya juga akan fokus pada dunia pendidikan yang sejak awal telah keluarga saya pilihkan. Mungkin kita belum berjodoh untuk saat ini, tapi tidak tau untuk beberapa tahun kedepan. Mungkin kita bisa berjodoh kembali atau mungkin akan ada orang yang lebih baik untuk masing-masing dari kita." Ucapku menahan kekecewaan serta bersikap tetap tenang.
__ADS_1
"Saya tau ini memanglah sangat menyakitkan untuk saya dan tak terkecuali Ustadz sendiri dan seperti yang Ustadz katakan tadi, bahkan Ustadz lebih sakit dari saya tetapi bagaimanapun ini sudah jadi kehendak Allah. Mungkin akan lebih baik kita fokus dalam mencari ilmu dan bersabar dalam suka dan dukanya hidup ini karena kita tak mungkin melangkah tanpa ridho dari kedua orang tua kita. Terutama tanpa ridho dari seorang Ibu apalagi seorang anak laki-laki itu sangat dekat dengan Ibunya. Setiap langkah dan keberhasilannya terukir atas do'a sang Ibu untuk putranya tersebut."
Ucapku membelakanginya kemudian berhadapan dengannya seraya mencoba tersenyum padanya agar ia tak merasa bersalah karena ini bukan sepenuhnya kesalahan Ustadz Habib.
Ini merupakan takdir dari Allah, kita hanya perlu ikhlas dan bersabar. Dikatakan sabar itu adalah ketika mendapat pukulan yang pertama.
Ustadz menatapku sekilas dengan penuh rasa bersalah dan kembali mengusap bulir air matanya yang sudah menetes.
Sementara aku tak mampu membendung air mataku lagi, aku menangis membalikkan tubuhku dan pergi darinya.
Aku menemui Yuna yang berada tak jauh dari aku dan Ustadz, kemudian aku memeluk Yuna menumpahkan isi hatiku dalam bulir-bulir air mataku.
"Yun, Ustadz! Yun, Ustadz!" Dengan tangis sesenggukan aku berusaha menceritakan pada Yuna.
"Iya Ayunda aku mendengarnya. Kamu gadis yang kuat, kamu enggak boleh menyerah! Kamu harus tetap semangat! Kalau kamu mau menangis, menangislah dan tumpahkalah kesedihanmu dalam tangisanmu! " Ucapnya menenangkanku dengan memelukku dan mengusap-usap punggungku.
Beberapa menit kemudian...
Setelah tangisku mulai reda, Yuna meminta izin pergi menemui Ustadz Habib yang masih berada di Masjid juga saat itu.
"Apa yang Anda lakukan Ustadz? Ustadz pasti tau kata-kata Sayyidina Ali tentang, " *seorang laki-laki yang membuat wanita menangis maka setiap langkah dari laki-laki itu akan dikutuk* lantas, kenapa Ustadz melakukan ini pada sahabat saya Ustadz? Kenapa?" Tanya Yuna dengan cukup emosi dan menahan kekecewaannya.
"Saya, saya tidak mungkin melawan keinginan Ibu saya, Yuna. Ibu saya menyuruh saya untuk memantapkan ilmu saya dengan berkhidmah di Ma'had." Jawab Ustadz Habib dengan tangis penyesalannya seraya duduk di lantai menekuk kedua lututnya dan tangannya yang tak berhenti memukul lututnya sendiri dan lantai masjid itu.
"Hanya karena itu Ustadz? Lalu kenapa tadi Ustadz bilang bahwa suatu saat Ustadz akan meyakinkan Ibu Ustadz supaya menerima Ayunda dengan baik? Apa kurangnya Ayunda Ustadz? Ayunda cantik, pintar, dia juga dari kalangan berada tapi dia tidak pernah menyombongkan itu semua, dan yang paling mengesankan dari Ayunda ia adalah wanita sholihah yang baik akhlaknya bahkan Abahnya adalah teman Abah Ustadz kan? Terus kenapa Ustadz lakukan ini padanya Ustadz?Kenapa?" Yuna mengucapkan semua yang ingin ia ucapkan saat itu juga.
"Abah saya alhamdulillah setuju, tetapi untuk menyakinkan dan membujuk Ibu saya itu hal yang sangat sulit bagi saya dan Abah. Ibu selain menginginkan saya fokus pada mondok dan khidmah saya di Ma'had sebenarnya beliau menginginkan menantu dari trah pesantren."
"Hah? Apa Ustadz? asal Ustadz tau, meskipun sahabat saya Ayunda bukan dari trah (keturunan) pesantren, agama, ilmu dan akhlaknya serta keshalihanya sebagai wanita tidak perlu diragukan lagi Ustadz!" Yuna membelaku atas kepeduliannya padaku sebagai sahabatnya.
"Iya saya tau itu! Saya tekankan padamu bahwa saya tidak mempermasalahkannya, tapi Ibu saya?"Ucap Ustadz Habib sambil mengusap kasar wajahnya,"saya tak mungkin melawan Ibu saya, Yuna!"
"Ustadz Anda bilang Anda serius kepada Ayunda bahwa Anda mencintainya, tapi Anda tak bisa memperjuangkannya! Apakah itu yang dinamakan cinta Ustadz?" Ucap Yuna dengan pertanyaan menggebu-gebu karena masih cukup kesal, "begitu banyak orang yang rela melakukan banyak hal bahkan berkorban untuk yang ia cintai tapi bagaimana dengan Anda, Ustadz? Saya enggak habis pikir Anda akan memperlakukan sahabat saya seperti ini." Yuna ikut kecewa dan sedih atas perihal yang harus aku terima.
"Saya butuh waktu untuk memperjuangkan Ayunda Yuna. Saya butuh waktu. Maaf karena untuk sekarang saya belum bisa, tetapi mungkin setelah saya pulang dari khidmah saya di Ma'had saya akan memperjuangkannya kembali, pasti!"
__ADS_1
"Iya, kalau Ayunda masih sendiri Ustadz kalau dia sudah jadi milik orang lain?"
"Saya yakin Allah akan memberi saya jalan untuk bersatu dengan Ayunda dengan barokah mondok dan khidmah pada kyai saya di sana, saya juga yakin kami InsyaAllah bisa bersama dalam kehalalan mungkin untuk saat ini kami harus banyak bersabar dulu. Kalaupun sesudah kami melewati semua itu kami tindak dipersatukan insyaallah Ayunda akan mendapat yang lebih baik dari saya. Karena Allah pasti memberikan yang terbaik."
Hatiku rasanya sudah tak kuat, hatiku semakin sakit dan hancur mendengar semua penjelasannya dengan Yuna. Aku pun mengajak Yuna untuk segera pergi, "Yuna sudah, ayo kita pergi!" Kataku mengajak Yuna pergi sebelum sebelum masalah menjadi semakin panjang.
"Mari Ustadz, assalamu'alaikum."
Hatiku memang sakit, tapi mengucapkan salam merupakan kewajiban sesama muslim dan pergi tanpa pamit rasanya tak sopan. Dan tak kusangka ada seseorang yang mendengar pembicaraan kami dengan teganya ia membeberkan pada orang-orang sehingga orang-orang menjadi tau.
.....
Sehingga saat suatu hari aku lewat, tak sengaja aku mendengar mereka mengejek dan merendahkanku, mereka dengan teganya berkata kepadaku dengan perkataan yang sangat menyakiti diriku.
"Benar banget tuh pilihan Ibunya Ustadz Habib secara Abahnya Kyai besar punya asrama pula! Pasti yang mewarisi nantinya kan Ustadz Habib dan istrinya. Makanya enggak salah, kalau Ibunya mengiginkan trah pesantren." Ucap salah satu Ibu-ibu dan meneruskan kata-kata pedasnya lagi.
"Ya emang sih, Abahnya Ayunda juga Kyai tapi kan cuma Kyai biasa dan pekerjaannya juga kan kantoran!" Ucap salah seorang Ibu-Ibu mengompori Ibu-Ibu lainnya.
"Emm, iya yaa, kalau sudah terlanjur banyak harta bisa lupa akhirat, tuh!" Sahut salah satu Ibu-ibu yang lain sementara yang lain ikut menampilkan expresi setuju mereka.
Seorang Ibu-ibu dengan tampilan cukup mencolok yang memperlihatkan perhiasannya yang kebetulan lewat pun ikut menimbrung dan menambahi dengan kata-kata pedasnya,"Eh ... Ibu-ibu dengerin nih!Dengerin! Ustadz Habib itu mondoknya dari kecil, baca kitab kuningnya mantap, hafal Al-Qur'an, jago sholawatan pula!"
"Kalau cantik dan akhlaknya baik sih bagus juga, tapi kalau ada yang lebih bagus kenapa pilih yang standart-standart aja coba? 'Kan gak kayak paket lengkap dari trah pesantren! Ya, paling enggak kalau bukan dari trah pesantren bisa tuh dari yang kalangan pesantren (santri) kayak anak saya Karina, Buk! Cantik, sholihah, akhlaknya bagus dan mondoknya pun bertahun-tahun, loh!"
Kata Ibu itu tanpa menyaring perkataannya.
Dan aku mencoba bersabar dan beristighfar, mengingat kembali nasehat Abah bahwa aku enggak boleh marah-marah kalaupun aku dihina harus yang sabar seperti yang Rasulullah contohkan.
Alhamdulillah banyak juga yang mensuportku. Ibu-ibu yang mensupportku bilang padaku, "Tenang Nak Ayunda! Suatu saat Ibu Ustadz Habib sendiri akan meminta kamu menjadi menantunya" ucap salah seorang Ibu kepadaku.
"Percaya deh sama Ibuk, kalaupun bukan Ibu Ustadz Habib, InsyaAllah, Allah akan kasih sosok Ibu mertua dan suami yang jauh lebih baik dari harapan kita." Beliau Melanjutkan lagi.
Aku hanya tersenyum dan mengaamiinkan dari lubuk hatiku yang terdalam berharap Allah akan mengabulkannya dan menjadikannya kenyataan.
𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...!
__ADS_1
🥺 Masih flashback 😁🙏