Ayunda Syaharani

Ayunda Syaharani
Walimatul Ursy


__ADS_3

Tanpa terasa seminggu sudah Ayunda menghabiskan hari-harinya bersama Raffa di kota kelahiran Ayunda.


Tibalah hari ini, hari dimana Ayunda harus berpisah dengan keluarganya.


Berat memang bagi Ayunda tapi ia harus belajar untuk ikhlas jauh dari orang tuanya.


Karena nantinya di sana Ayunda juga akan mendapat sosok orang tua kembali.


Setelah makan pagi bersama Raffa dan Ayunda beserta beranjak untuk ke kota M.


Ummi Hannah begitu berat melepas kepergian putri kesayangannya. Tapi bagaimana pun kini Ayunda menjadi tanggungjawab Raffa sebagai suami. Abah Ridho dan Reyhan mereka juga cukup berat melepas putri rumah itu. Tapi kembali lagi bahwa kini putri rumah itu sudah semakin beranjak dewasa sehingga layak untuk menempuh hidup baru.


~ Di kota M, di kediaman Raffa ~


Para Art rumah itu sudah berbaris menyambut kedatangan Raffa bersama istrinya.


Pak Fahri bersama istrinya juga ikut menyambut seraya mempersilahkan masuk dan beristirahat. Salah satu Art menunjukkan kamar di mana Ayunda dapat beristirahat.


"Silakan beristirahat dulu nyonya muda!" Ucap salah satu Art.


"Terimakasih Bibi."


Ayunda membuka kamar itu, dalam benaknya bayangan Raffa bersama Azzalia yang pernah menghabiskan berbagai waktu dan kebersamaan bersama menghantui fikirannya begitu saja.


Karenanya Ayunda membatalkan niatnya untuk beristirahat di kamar itu.


Raffa yang mengetahui tingkah Ayunda sempat khawatir dengan apa yang dilakukannya.


"Kenapa? Kamu enggak capek? Beristirahatlah sayang!"


"Emm, Mas kalau aku tanya sesuatu jangan marah atau semacamnya. Aku cuma mau tau, apakah ini dulunya kamar kamu sama Mommynya Murad?"


"Tidak sayang. Dia belum pernah menghabiskan waktu di rumah Mama, karena dulu Oma tidak pernah bisa kami tinggal walau hanya untuk sekedar menginap sehari semalam di rumah Mama." Raffa menjelaskan kemudian bertanya lagi pada Ayunda, "Kamu kenapa? Enggak nyaman di kamar ini?"


"Maaf Mas" Ayunda meminta maaf seraya menatap ke netra Raffa.


"Tidak mengapa sayang, Mas memaklumi perasaan kamu."


Raffa memaklumi apa yang dirasakan Ayunda karena bagaimanapun Ayunda wanita yang berperasaan. Tak mau mempermasalahkan itu, Raffa menyuruh Ayunda agar segera beristirahat.


"Sudah, lebih baik kamu beristirahat dulu sayang!"


Ayunda mengangguk mengiyakan perintah Raffa.


Raffa yang begitu gemas saat Ayunda mengangguk patuh begitu, ia pun langsung mengelus-elus kepala Ayunda dengan begitu gemasnya.


...****************...


Keesokan paginya ...


Ayunda bersama Raffa dan Murad pergi ke pusara Mommy Murad. Dalam hati Ayunda mendoakan yang terbaik untuk Mommy Murad dan juga meminta restu untuk menjaga dan merawat Murad dan Raffa. Selanjutnya mereka disibukkan dengan persiapan acara tasyakuran Walimatul Ursy yang akan diadakan pada malam harinya. Sesuai kesepakatan Raffa dan Ayunda, kalau mereka ingin acara pernikahan mereka diadakan secara sederhana namun berkesan yaitu dengan diadakan pengajian didalamnya.


Malam harinya ...


Di kediaman Raffa para tamu undangan sudah berdatangan hadir. Acara tasyakuran Walimatul Ursy Raffa dan Ayunda pun segera dibuka dan dilaksanakan. Tapi Ustadz yang mengisi tausyiah belum juga datang. Papa Raffa menghubungi kembali Pak Kyai Ali karena rencananya acara pengajian tasyakuran itu akan diisi oleh Pak Kyai Ali. Namun mendadak saat ditelfon, tangan kanan Pak kyai Ali menginformasikan kalau Pak Kyai Ali berhalangan hadir. Tapi akan ada Ustadz yang menggantikan Pak Kyai Ali kata kanan tangan Pak Kyai Ali tersebut.


Raffa yang juga cukup cemas menunggu kehadiran Ustadz yang telah di undang oleh Papanya pun menanyakan bagaimana dengan kepastian Ustadz yang akan mengisi ceramah acara tasyakuran pernikahannya.


"Pa bagaimana? Ini sudah waktunya untuk dimulai loh Pa"


"Duh, Raffa ini diluar dugaan Papa, Nak. Pak Kyai Ali yang sudah Papa undang tiba-tiba beliau berhalangan untuk hadir."


Mendengar pernyataan Papanya itu Raffa begitu kaget dan terkejut. Terus bagaimana dengan acara tasyakuran pernikahannya. Fikir Raffa.


"Apa pa?"


"Raffa kamu tenang dulu, tangan kanan Pak Kyai Ali sudah bilang kalau ada Ustadz yang akan menggantikan ceramahnya Pak Kyai Ali. Kita tunggu saja ya Nak!"


Deringan telfon pun terdengar dihandphone Papa Raffa. Papa Raffa tanpa tunggu lama langsung mengangkat nya.


"Assalamu'alaikum Pak Rafiq, saya sekedar menginformasikan bahwa Ustadz yang akan menggantikan Pak Kyai Ali dalam perjalanan ke kediaman Bapak."


"Oh baik-baik, terimakasih."


"Saya mewakili Pak Kyai Ali dan Ma'had memohon maaf yang sebesar-besarnya Pak, ini semua sungguh diluar kendali kami. Pak Kyai tiba-tiba sakit."


"Iya tidak mengapa Ustadz, kami memakluminya."


"Terimakasih Pak Rafiq dan Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Raffa masih standby di samping Papanya. Menanyakan info terbaru apa yang didapat dari Pak Kyai Ali.


"Alhamdulillah sudah ada Ustadz yang akan menggantikan Pak Kyai Ali, dan beliau dalam perjalanan ke sini."


Raffa begitu lega mendengar informasi tersebut.


Saat diujung sana Raffa merasa lega, saat ini ada seorang laki-laki berpakaian seperti seorang ustadz tengah merasa cemas sendiri dengan didampingi seorang wanita berwajah teduh berparas manis khas pesantren yang dimiliki sang wanita. Wanita itu berusaha membuat laki-laki itu tidak cemas.


"Ustadz mari kita keluar! Keluarga dari kedua belah pihak pengantin pasti sudah menunggu sedari tadi."


"Tidak Aysha, tidak semudah itu. Ini terasa lebih berat daripada mengucapkan ijab qobul ketika saya setuju menikahimu Aysha."


"Maaf Ustadz kalau saya harus mengatakan ini, Ustadz mungkin ini adalah cara Allah menunjukkan pada Ustadz agar Ustadz memenuhi hak Ustadz terhadap saya sebagai istri sah Ustadz. Sedari awal kita menikah, Ustadz hanya berbicara bahwa "Saya akan belajar mencintaimu Aysha" Tapi apa yang Ustadz lakukan? Ustadz tak pernah mau belajar mencintai saya. Ustadz hanya menyapa saya pada pagi dan malam hari. Dan Ustadz hanya berbicara kepada saya saat Ustadz memerlukan sesuatu. Ustadz tidak pernah menyentuh saya ataupun berkata romantis pada saya. Lantas, bagaimana Ustadz akan belajar mencintai saya kalau untuk memulai berkata romantis saja Ustadz enggan?"


Aysha Almahyra adalah keponakan Pak Kyai Ali. Sekarang ini Aysha telah sah menjadi istri Ustadz Habib semenjak Ustadz Habib menyetujui untuk dinikahkan dengan wanita pilihan Ibundanya. Aysha sedari kecil tinggal bersama Pak Kyai Ali karena itu Aysha kental dengan kehidupan pesantren.


Selama hampir berminggu-minggu menikah, Ustadz Habib tak pernah mau mengelakkan kehadirannya. Padahal kata-kata "Saya akan belajar mencintaimu Aysha" itu terucap begitu manis olehnya. Dan sudah cukup rasanya Aysha menahan kesedihan dan kesepian yang dialaminya. Ia ada bersama Ustadz


Habib, ia mencintai Ustadz Habib semenjak mengetahui kalau Ustadz Habib setiap malam menemui Pak Kyai Ali (Pak leknya) untuk sekedar memijat. Tapi Ustadz Habib sepertinya tak pernah mau move on dari masa lalunya. Lalu bagaimana dengan status pernikahan mereka? Itulah yang dipertanyakan Aysha dalam hatinya. Hingga malam ini, seperti ada jalan untuk ia mengutarakan kekesalan yang ia pendam sebagai pengantin baru. Mungkin ini adalah jawaban dari do'anya agar Ustadz Habib mau merealisasikan ucapannya yang mau belajar mencintainya.


Ustadz Habib pun sadar seharusnya ia tidak berkata seperti itu pada Aysha.

__ADS_1


~𝓕𝓵𝓪𝓼𝓫𝓪𝓬𝓴 𝓞𝓷~


Beberapa minggu lalu sesudah Ustadz Habib setuju untuk dinikahkan dengan wanita pilihan Ibundanya.


"قبلت نكحها و تزوىجها بالمهر المذکور"


ucap Ustadz Habib dengan lantang dan lancar sekali nafas.


Semua yang hadir memanjatkan doa terbaik untuk pasangan Ustadz Habib dan istrinya. Do'a dari para Kyai -Kyai yang turut hadir menambah kesakralan momentum pernikahan kedua insan trah pesantren tersebut.


Serangkaian acara sudah terlewati dan selesai. Masuklah pada acara untuk kedua pengantin memadu kasih menunaikan hak dan kewajiban masing-masing di malam pertama mereka.


Namun, disebuah kamar yang sudah dihias dengan begitu indah....


"Aysha. Maafkan saya, saya butuh waktu untuk saya bisa menerima ini semua. Beri saya waktu untuk saya bisa mencintaimu, baru saat itu saya bisa menunaikan hak saya sebagai seorang suami."


Terlihat dari wajah Aysha meragukan perkataannya, Ustadz Habib pun meyakinkannya kembali,


"Saya akan belajar untuk mencintaimu Aysha."


.....


~𝓕𝓵𝓪𝓼𝓱𝓫𝓪𝓬𝓴 𝓞𝓯𝓯~


Ustadz Habib memejamkan netranya dan memberanikan diri mengenggam tangan Aysha, tangan keponakan Pak Kyai Ali ini begitu dingin. Itulah yang dirasakan Ustadz Habib saat menyentuh tangan yang selalu sigap menyiapkan kebutuhannya.


"Maafkan saya Aysha. Saya benar-benar minta maaf padamu."


Aysha masih berpaling dan enggan menatapnya.


"Aysha tatap mata saya! Hari ini saya mohon kamu untuk selalu bersama saya, menguatkan saya dan membersamai saya, agar saya bisa kuat menerima kenyataan di depan pelupuk mata saya."


"Baiklah Ustadz, perintah Ustadz harus saya taati selama itu tidak bertentangan dengan syariat."


Aysha pun memegang tangan Ustadz Habib balik, ia reflek melakukan itu karena niatnya sebagai bentuk support agar Ustadz Habib tak perlu cemas dan khawatir. Karena ada Aysha yang selalu bersamanya.


Mereka pun keluar dari mobil, suasana rumah mewah kediaman suami Ayunda itu begitu meriah dan tenteram dengan berselimut kebahagiaan.


Ustadz Habib menarik nafasnya. Mencoba menenangkan hati dan fikirannya. Menatap langit malam bertabur gemerlap bintang dan berucap حسبنا الله و نعم الوکل نعم المولا ونعم النصىر.


Ustadz Habib melangkah lebih dulu diiringi oleh Aysha.


Raffa membersamai Ayunda dan Murad di tempat yang telah disiapkan untuk mereka. Ustadz Habib disambut Papa Raffa dan beberapa kerabat Papa Raffa. Dengan langkah pelan dan tetap tenang ia memasuki ruangan itu hingga ia melihat sepasang pengantin dengan seorang anak laki-laki dipangku oleh wanitanya, mereka lebih terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia bagi Ustadz Habib. Melihat wanita itu begitu bahagia rasanya akan lebih baik kalau ia bahagia dengan apa yang ada didepannya.


Ayunda masih belum tau kalau Ustadz Habib lah yang mengisi pengajian tasyakuran walimatul ursynya bersama Raffa. Begitu juga dengan Ummi Hannah, Abah Ridho dan Reyhan mereka juga belum tau perihal itu.


Saat tiba acara pengajian barulah mereka sadar siapa Ustadz yang sedang mengisi acara pengajian Ayunda dan Raffa.


"Ustadz Habib?" Ayunda terkaget dalam hatinya.


"Ustadz Habib?" Ummi Hannah juga kaget tak menyangka.


"Ustadz Habib?" Reyhan dan Abah Ridho pun cukup terkejut.


Ayunda mendengarkan ceramah itu baik-baik dan berusaha mencernanya begitu juga dengan Raffa.


Keluarga Ayunda sebenarnya tak masalah dengan ceramahnya hanya saja mengapa harus Ustadz Habib? Tetapi yang paling penting semua sudah bahagia dengan pendamping hidup yang Allah takdirkan untuk keduanya.


Tak selang berapa lama Mama Raffa yang ikut bergabung dengan orang tua Ayunda meminta maaf dan memberitahu kenapa harus menunggu lama?Karena Pak Kyai Ali berhalangan hadir dan digantikan oleh Ustadz didepannya saat ini. Mendengar itu, Ummi Hannah pun semakin lega.


Acara tausyiah yang berjalan kurang lebih satu jam itu pun sudah selesai.


Dilanjutkan acara yang terakhir yaitu do'a setelah do'a adalah acara makan-makan. Namun sebelum para tamu beranjak berdiri, Raffa berhasil membuat para tamu untuk tetap duduk dan menyaksikan kemesraannya bersama Ayunda.


Raffa menyematkan cincin pernikahan dijari manis kanan Ayunda begitu juga dengan Ayunda menyematkan cicin dijari kanan Raffa.


Sesudah terpasang banyak mata yang mengambil moment mereka berdua. Moment dimana Ayunda mencium tangan Raffa kembali dan Raffa mencium kening Ayunda. Murad yang masih polos hanya diam diantara keduanya. Raffa kembali berulah kembali dan berkata,


"Yang di samping saya ini adalah wanita yang kini telah sah menjadi istri saya. Dia bukanlah pengganti tapi dia adalah pelengkap dalam kehidupan saya dan Murad.


" I love you so much "Raffa


" I love you more " Ayunda


Ustadz Habib yang menyaksikan itu, mencoba ikut bahagia meskipun ada rasa sakit di hatinya.


"Ustadz, la tahzan innallaha ma'ana." Aysha menenangkan Ustadz Habib.


Ustadz Habib mengangguk setuju pada perkataan Aysha.


Sesaat Ustadz Habib menatap Aysha begitu dalam. Dalam hatinya ia memuji kecantikan Aysha dan sikap sabar dan lembutnya Aysha padanya. Tanpa disadari Ustadz Habib pun berkata pada Aysha kalau,


"Aysha sepertinya saya mulai mencintaimu."


Saat Ustadz Habib mengungkapkan itu sayangnya Aysha bergidik tak percaya.


"Kamu tidak percaya padaku?"


Aysha menggelengkan kepalanya.


"Baiklah mari kita temui mereka berdua"


Ajak Ustadz Habib meletakkan tangan Aysha dibahu tangannya.


Ustadz Habib bersama Aysha wanita yang telah sah menjadi istrinya semenjak Ummi Habib meminta untuk Ustadz Habib menikah, mereka berjalan beriringan menemui Ayunda dan Raffa.


"Pak Raffa dan Bu Raffa saya ucapkan selamat atas pernikahannya semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan warohmah" Menjabat tangan Raffa. Raffa yang masih belum tau kalau itu adalah laki-laki yang pernah membatalkan khitbah pada Ayunda pun tersenyum ramah dan menerima uluran tangan pria itu.


"Terimakasih Ustadz.".


Kemudian Aysha menyatukan kedua tangan ke arah Raffa dengan mengucapkan selamat juga kemudian berlanjut ke Ayunda.


"Selamat Pak Raffa!"

__ADS_1


"Selamat Bu Ayunda!"


"Ini adalah istri saya Pak, kami juga baru saja melangsungkan pernikahan beberapa minggu yang lalu." Ustadz Habib memperkenalkan wanita yang butuh bukti dari ungkapan hatinya barusan.


"Wah! Kalau begitu selamat Ustadz semoga pernikahannya sakinah mawadah dan warohmah." Jawab Raffa ramah.


"Aamiin ..."Ucap Ayunda dan Raffa bersamaan. Kemudian Ayunda juga turut mengucapkan selamat kepada keduanya.


"Selamat ya Ustadz dan Ustadzah!" Ayunda.


Mereka mengangguk tersenyum pada Ayunda yang mengatakan itu pada mereka.


Murad yang semenjak tadi masih berdiri di depan orang tuanya mulai capek dan ingin makan sesuatu. Murad pun Menggoyang-ngoyangkan gaun yang Ayunda kenakan.


"Bunda ... Murad laper."


"Oh jagoan Bunda sama Daddy lapar yaa? Oke tunggu bentar ya sayang!"


"Mas aku ambilin Murad makanan dulu yaa!"


"Ustadz dan Ustadzah kami permisi dulu."


Sebelum beranjak pergi Ayunda menghimbau kepada Murad agar menghormati yang lebih tua salah satunya dengan bersalaman lebih dulu dengan mereka.


"Ayo sayang salim dulu sama Ustadz dan Ustadzah nya!"


"Siap Bunda."


"Anak pintar."


Murad pun menyalami Ustadz Habib dan Aysha. Dalam hati Aysha semakin terkagum pada wanita yang ada dihadapannya ini, ia kini tau kenapa Ustadz Habib begitu mencintainya. Tapi disisi lain ia juga berharap malaikat kecil seperti Murad akan melengkapi kehidupan pernikahannya dengan Ustadz Habib.


Sementara Ustadz Habib menatap pada wajah Aysha. Ia mengerti apa yang diharapkan Aysha saat melihat Murad kecil itu. Sosok pelengkap seperti Murad dalam pernikahan mereka berdua.


"Itu adalah Murad anak saya dengan almarhum istri saya. Dan saya merasa beruntung dan bersyukur Allah menghadirkan Ayunda berparas bidadari berhati malaikat dalam kehidupan saya dan Murad." Raffa mengucap itu sambil melihat keakraban Ayunda dengan Murad. Dan tampak sekali ketulusan Ayunda dalam menyayangi Murad."


Ustadz Habib hanya tersenyum saat Raffa mengatakan itu. Sesaat perkataan Raffa membuatnya sadar mengapa Ayunda tak ditakdirkan bersamanya? Karena ada yang lebih baik dan pantas untuk bersanding dengan Ayunda. Mereka lebih pantas untuk Ayunda bersamai bukan dia. Dan yang pantas membersamai nya kini ataupun nanti adalah Aysha Al-Mahyra.


"Aysha Al- Mahyra anita yang telah Allah sandingkan namanya dengan namaku semenjak aku belum lahir di dunia ini." Ustadz Habib berkata dalam hati.


"Saya juga merasa sangat bersyukur Allah menghadirkan Aysha dalam hidup saya. Darinya saya belajar akan arti cinta yang sebenarnya." Menatap Aysha kagum.


Raffa tersenyum bahagia mendengar pujian Ustadz Habib untuk istrinya. Sementara Aysha terasa tak percaya lagi dengan pujian manis Ustadz Habib.


"Silakan Ustadz dinikmati dulu hidangan nya!" Raffa menawarkan.


Mereka pun memakan hidangan yang telah disiapkan.


Usai sudah acara tasyakuran walimatul Ursy tersebut, semua tamu undangan sudah kembali pulang. Begitu juga dengan Ustadz Habib dan Aysha. Namun sebelum mereka pergi Ustadz Habib kembali berbicara serius kepada Raffa.


"Pak Raffa, sebelumnya saya mohon maaf karena lancang mengatakan ini. Sebenarnya dulu saya pernah menaruh hati pada istri Anda. Tapi itu sudah tiga tahun yang lalu pak. Kini saya sudah mempunyai istri. Jadi Anda tak perlu khawatir! Sekarang Ayunda adalah milik Anda seutuhnya. Saya hanya mau mengucapkan jagalah istri Pak Raffa baik-baik! Dan saya juga akan menjaga istri saya baik-baik."


"Tunggu! Jadi ... Anda adalah orang itu."


Ustadz Habib mengerti apa yang dimaksud Raffa.


Berat hati Ustadz Habib mengangguk namun itu yang terbaik. Allah tak kan pernah salah dalam menuliskan skenario terbaik untuk hamba-Nya.


"Yang berlalu biarlah berlalu Pak. Mari kita fokus ke masa depan kita sekarang! Masa depan yang penuh berkah. InsyaAllah."


Raffa mengangguk seraya mengucapkan insyaAllah dengan harapan begitu dalam untuk pernikahannya dan Ustadz Habib agar selalu diRidhoi-Nya.


Tak lama kemudian mobil Ustadz Habib dan istrinya pergi dari halaman rumah Raffa.


Sementara itu keluarga Ayunda yang sempat bertemu Ustadz Habib dan tak segan untuk bertegur sapa, mereka tak lagi mengingat masa lalu. Karena yang berlalu biarlah berlalu. Lebih baik mengambil pelajaran dan hikmahnya saja. Itulah prinsip mereka. Toh keduanya sudah sama-sama memiliki masa depan yang lebih baik dan berarti.


Kini moment berat berpisah dengan putri kesayangannya akan terulang kembali.


"Ayunda, jadilah istri yang baik untuk suamimu, Ibu yang baik untuk Murad dan menantu yang baik untuk Ibu mertua mu." Pesan Ummi Hannah.


"Ayunda, kamu harus elalu menyayangi Murad. Jangan pernah membedakannya. Dia anak yang baik. Kehadiran Murad adalah jalan yang Allah hadirkan untuk mempersatukan kamu dan Raffa." Ummi Hannah terus berpesan kepada putrinya yang kini sudah berstatus sebagai istri dan Ibu.


"Kemudian anggaplah Ibu mertuamu itu seperti Ibumu juga, Nak. Anggaplah mereka sebagai keluargamu sendiri, anggaplah mereka sebagai keluarga keduamu.


Pak Kyai Majlis Ummi pernah bilang: 3 orang yang harus kita hormati dalam pola tingkah laku kita:



Kedua orang tua kita


Guru kita


Mertua kita."



"Dan jadilah istri yang taat pada suamimu. Buatlah dia selalu bahagia dan tentram. Sebagai istri harus 3 M" Dengan menahan air matanya yang akan segera lolos.


"Dan sebagai istri kamu juga harus memberikan yang terbaik dalam memenuhi kebutuhan biologisnya, fisiknya, dan bati nya juga."


Kali ini air mata benar-benar mengalir di sudut mata Ummi Hannah.


Ayunda mengangguk faham, ia pun berganti mendekat kepada Abah dan Mas Reyhan.


Kedua laki-laki itu pun memeluk dan menyemangati Ayunda agar yakin dapat menjalankan apa yang Ummi nasehatkan padanya.


Ummi Hannah, Abah Ridho dan Reyhan juga menitipkan Ayunda pada keluarga Raffa terutama Raffa . Agar Raffa mampu menjaga, melindungi dan memaklumi segala yang kurang dari Ayunda. Abah Ridho juga menasehati mereka


"Salinglah melengkapi dan mendukung! Jangan mengedepankan keegoisan karena saat sudah menikah adalah saat dimana kedua insan memutuskan untuk hidup bersama artinya mereka mau berbagi tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, jadi tidak bisa egois lagi karena ada perasaan pihak lain yang kita jaga pula."


"Yang paling penting untuk kalian berdua jangan sampai kata pantangan dalam hubungan pernikahan keluar dari kalian terutama Raffa. Menikah adalah ibadah, yang tentunya didalam menjalankannya pasti ada saatnya kita perlu bersabar dalam menjauhi larangan Allah. Nah, seperti itu pulalah saat mungkin ada sedikit gesekan dalam rumah tangga, kalian harus bisa bersabar dan saling mengingatkan."


Abah menambah nasehatnya.

__ADS_1


__ADS_2