Ayunda Syaharani

Ayunda Syaharani
Bukan KEKASIH, tetapi....!


__ADS_3

Di ruangan bernuansa putih dengan kaca transparan menampilkan pemandangan alam yang indah dari luar ruangan lantai dua ruangan dosen (Raffa). Dua laki-laki tengah bercengkrama sambil menunggu pesanan kopi yang mereka pesan diantarkan kepada mereka. Satu laki-laki itu tengah serius dengan laptopnya sedangkan yang satu tengah asik berbicara dengan mengajukan berbagai pertanyaan kepada kawan bicaranya yang masih saja serius.


"Raffa bagaimana istikharahnya? Sudah dapat jawaban?" tanya laki-laki itu kepada Raffa dan Raffa pun langsung menanggapi pertanyaan dari teman karibnya itu


"Alhamdulillah sudah Dam" melihat ke arah Adam Miqdad Hanafie


"Jadi siapa yang terbaik untuk pak dosen tampan dan penuh wibawa ini?" tanya Adam kembali


"Kamu tebak sendiri sajalah Dam! Kamu tau sendiri 'kan Raffa itu seperti apa?" kata Raffa menyebut dirinya sendiri dengan tersenyum payah yang menunjukkan dia bukanlah apa-apa. Ia bisa mendapatkan segalanya atas Kuasa dan Rahmat-Nya.


Adam menyilangkan tangan kanannya, menganggat tangan kirinya dengan jari jempol dan telunjuk memegang dagunya, mengerutkan dahinya dan menyatukan alis. Adam benar-benar berfikir keras menebaknya.


"Sudah ... sudah Adam Miqdad Hanafie! Tak perlu sebegitunya akan saya beri tau" Raffa yang tak tega melihat teman karibnya itu berfikir keras begitu


"Please wait Raffa Abimanyu!" Adam menghentikan Raffa yang akan mengatakan apa yang ingin ia ketahui, "begini Raffa, Allah tau kamu adalah laki-laki yang baik hati dan berkomitmen tinggi. Meskipun banyak cobaan kamu akan berusaha tetap kembali pada komitmenmu. Jadi saya yakin Allah menunjukkan kamu untuk kamu setia pada kekasihmu"


"Bukan KEKASIH!" terang Raffa terdengar begitu jelas di telinga Adam. Sementara Adam semakin tak percaya dan fikiran-fikiran aneh masuk ke kepalanya.


Raffa hanya tersenyum mengerti apa yang sedang difikirkan Adam. Ia pun meneruskan ucapannya,


"Tetapi calon tunangan sekaligus calon istri"


Dengan mata berbinar dan rasa bahagia Adam berkata, "MasyaAllah selamat Pak Raffa! Selamat! Anda akan melangkah lebih dulu daripada saya" mengulurkan tangan ke Raffa dan bersalaman


"Terimakasih Adam semoga setelah ini kamu menyusul"


Adam hanya tersenyum kaku dan menggaruk-ngaruk pelipisnya yang tak gatal.


Beberapa menit kemudian kopi pesanan mereka telah datang diantarkan oleh seorang pegawai di kedai kopi yang berada di area kampus/universitas itu. Mereka berdua menyeduh kopi panas yang telah mereka tunggu sedari tadi.

__ADS_1


Setelah meminumnya Raffa kembali menatap layar laptop dan jari-jarinya masih saja asik mengetik namun laki-laki yang sejak tadi menemui Raffa di ruangan itu dengan mengajukan sederet pertanyaan, kini laki-laki itu menggedarkan pandangannya dan tampaklah dua potong sandwich dalam kotak berwarna putih transparan. Adam pun berfikir dalam hatinya "Teman yang cocok ini ada kopi ada sandwich"


Adam pun segera menanyakan perihal sandwich itu kepada Raffa, "Raffa?"


Raffa melihat ke arah Adam dan mengangkat dagunya sebagai tanda kepada Adam. Adam menjawabnya dengan isyarat mata yang mengarahkan kedua matanya pada kotak putih transparan di meja minimalis di ruangan tersebut.


"Sandwich?" tanya Raffa ke Adam


Adam mengganguk dengan senyum cukup manis bagi seorang wanita apabila melihat senyuman Adam saat ini, tapi sayang tak ada wanita di ruangan tersebut berhubung Raffalah yang melihatnya jadi itu bukanlah hal yang istimewa bagi Raffa. Bagaimanapun senyum wanita lebih baik karena ia adalah laki-laki normal. (yang cewek merapat yuk buat Adam baper!😂)


Adam bangkit mengambil kotak putih transparan itu kemudian membuka dan memakannya,


"Masih enak?" tanya Raffa karena ia lupa kalau itu roti sandwich tadi pagi


"Masih lah" jawab Adam yang terus melahap sandwich itu,"


"Mungkin Itulah berkah yang namanya membuat dari hati"


"Oh ya bukankah kamu bilang kalau kamu akan telat dan mungkin akan membeli sarapan?" tanya Adam teringat sesuatu,"yaa meskipun kamu paling tidak suka kalau harus membeli makan untuk sarapan" sambung Adam tau apa kesukaan dan ketidaksukaan Raffa


Mendengar pernyataan Adam Raffa menjawab dan menjelaskannya, "Sandwich itu bukan buatan saya tetapi...Ayunda yang memberikan sebagai tanda terimakasih sudah meminjamkan sapu tangan"


Adam pun hampir tersedak mendengarnya karena ia tengah menyeruput kopinya kembali setelah memakan sandwich itu.


"Hati-hati Adam!" kata Raffa mengingatkan


"Iya iya Raff tapi bagaimana kamu menyikapi ini semua?"


"Bagaimana? Ini itu rezeki anak sholih. Adam!" jelas Raffa pada Adam teman karibnya

__ADS_1


"Iya Raffa tetapi 'kan?" Adam yang masih saja berusaha mengelak bahwa bisa aja itu merupakan suatu pertanda kembali


Raffa bangkit dari tempat duduknya menghadapkan dirinya ke arah pemandangan hijau yang menyejukkan mata seraya berkata,


"Bagaimana yaa Dam? Saya tidak tau pasti tapi dari sorot mata Ayunda dia seperti memiliki perasaan pada saya"


Adam pun bangkit menghampiri Raffa,"Benarkah Raffa? Lantas apa yang akan kamu lakukan?"


"Apa yang akan saya lakukan? Saya akan memilih yang pasti lah Adam!"


"Maksud kamu Raff?"


"Iya yang pasti adalah petunjuk istikharah itu, kalau masalah perasaannya Ayunda, saya 'kan tidak tau pasti. Bisa aja itu cuma saya yang ke GR an dan lagian sekarang hati saya juga sudah mantap pada calon tunangan sekaligus calon istri saya!"


"Ah iya bener juga sih!" Adam setuju,"semoga semua di permudah oleh Allah"


Raffa mengaaminkan dengan penuh harap.


Adam sudah duduk kembali sementara Raffa masih saja berdiri memandangi alam sekitar. Adam berusaha mencairkan suasana untuk menghibur Raffa.


"Raff, jadi bagaimana apa kamu tidak mengajak saya ke acara lamaran sekaligus pertunanganmu itu?


"Saya rasa itu tidak diperlukan Adam" jawab Raffa disertai tawa kecilnya


"Ah! Sudah saya duga kamu akan menjawabnya demikian" ucap Adam dengan raut wajah kesal dan cuek


Raffa malah semakin tertawa saat tak sengaja melihat ekspresi Adam, "Adam Miqdad Hanafie saya tak tega jika kamu harus terbawa suasana nanti saat melihat moment yang mengesankan itu" jawab Raffa kembali ke tempat duduknya menghampiri Adam


Adam menatap Raffa dengan tatapan yang cukup tajam dan berucap,"Baiklah Anda menang dan saya mengaku kalah" menepuk bahu Raffa

__ADS_1


Tak lama kemudian suara tawa keduanya memecahkan ketegangan rekayasa yang mereka buat sendiri.


__ADS_2