
Siang itu Raffa bergegas menemui Pak Fahri dosen sekaligus Om nya sendiri di Universitas Islam tempat ia menempuh S2 nya.
Langkah kaki cepatnya membawa Raffa dengan cepatnya akan sampai diruangan Pak Fahri.
Bisa Raffa lihat dari arah yang tidak terlalu jauh nampak Pak Fahri yang baru saja akan memasuki ruangannya.
Dengan secepat kilat Raffa yang mengetahui hal itu, ia segera mempercepat langkah untuk menghampiri Pak Fahri.
“Assalamu’alaikum! Selamat siang Pak Fahri Abidzar!”
Sapa Raffa yang kini sudah berhadapan dengan Pak Fahri.
“Wa’alaikumussalam! Selamat siang juga Raffa Abimanyu al-Ghifari." Pak Fahri menyapa balik Raffa.
Karena merasa kebetulan mereka bisa sampai disuatu tempat secara bersama-sama seperti saat ini, Pak Fahri pun dengan senang hati menyambut dan mempersilahkan Raffa untuk masuk bersamanya,
"Wah! Kebetulan sekali kita sampai sama-sama seperti ini, mari kita langsung masuk!” Ajak Pak Fahri kepada Raffa.
Raffa pun mengikuti Pak Fahri dari belakang.
Sesudah sama-sama memasuki ruangan tersebut tak lupa untuk Pak Fahri mempersilakan Raffa duduk di kursi yang berada tepat dihadapannya.
"Silakan duduk!” Pinta Pak Fahri ke Raffa yang masih berdiri.
“Terimakasih Pak Fahri.” Raffa membalas ucapan Pak Fahri yang sudah mempersilahkan dirinya untuk turut duduk.
“Bagaimana Raffa? Kamu sudah siap?” Tanya Pak Fahri cukup menginterogasi Raffa saat itu.
Raffa seorang laki-laki yang bijaksana dan tidak sembrono dalam mengambil keputusan itupun menjawab pertanyaan dari Pak Fahri dengan begitu tenang dan yakin.
“InsyaAllah Pak Fahri.” Jawab Raffa dengan tenang dan yakinnya.
Merasa masih dilingkup kampus, Raffa pun memanggil Pak Fahri dengan sebutan Pak walaupun sebenarnya Pak Fahri adalah Omnya sendiri yang hampir seumuran dengannya dengan selisih hanya 3 tahun.
Mendengar jawaban tenang dan yakin dari Raffa, membuat Pak Fahri teramat bangga dan bahagia.
“Bagus! Memang sudah seharusnya kamu siap. Tanpa saya tanya kamu siap atau tidak? Saya yakin bahwa sebenarnya kamu sudah sangat siap. Karena apa? Karena kamu sangat bertanggung jawab, disiplin dan beretika baik. Selain itu, kecerdasanmu tidak perlu diragukan lagi Raffa!” Puji Pak Fahri pada keponakannya tersebut.
“Alhamdulillah, saya bisa seperti ini hari ini, tidak lepas dari bimbingan sekaligus arahan dari Anda, Pak Fahri.” Imbuh Raffa dengan berbalik bangga atas kepedulian Pak Fahri padanya.
”Tapi," Raffa menjeda sejenak perkataannya dan itu membuat Pak Fahri was-was kembali.
"Tapi kenapa Raffa?" Pak Fahri.
"Entahlah Pak, rasanya ini seperti salah, karena ini tidak adil bukan Pak?" Raffa menyampaikan unek-unek dalam hatinya. Sebenarnya ia siap untuk mengemban amanat tersebut hanya saja ada sebuah ketidakadilan kalau dia menjalankannya menurutnya.
“Maksud kamu Raffa?” Pak Fahri kembali mempertanyakan perkataan Raffa barusan.
“Maksud saya begini Pak. Bagaimana bisa dengan mudahnya saya mendapatkan tanggung jawab ini sementara diluaran sana banyak sekali orang yang bekerja keras menginginkan posisi ini!” Tegas Raffa.
Tidak mau menafik pendapat dari Raffa karena memang itulah kenyataannya. Dengan kepala dingin Pak Fahri menjawab persepsi Raffa tersebut.
“Saya mengerti maksud kamu Raffa, namun kamu tau sendiri bahwa bukan maksud saya membuat semuanya menjadi seperti ini? Kamu tau sendiri keluarga kecil saya membutuhkan kehadiran saya untuk selalu dekat dan bersama mereka. Terlebih dari pihak istri saya yang tidak memiliki keluarga dekat, keluarga istri saya hanyalah ibunya seorang. Bagaimanapun saya harus mendampingi istri dan anak saya, apalagi jagoan kecil saya dia sangat membutuhkan pendampingan saya dalam pertumbuhan dan perkembangannya karena itu dari pihak keluarga istri saya menginginkan agar saya tidak menunda-nunda lagi untuk risen dari sini."
Kata Pak Fahri dengan berat hati karena keadaan yang memaksanya untuk memilih.
__ADS_1
"Dan untuk itu saya akan mengajar di Universitas yang ada di sana, sekaligus agar saya bisa lebih dekat dan leluasa menjaga istri dan anak saya.” Lanjut Pak Fahri yang sebenarnya tidak ingin risen dulu karena ia masih mempunyai tanggung jawab 1 semester ke depan dengan para mahasiswanya namun sekali lagi, istri dan buah hatinya juga tanggung jawab yang tak kalah penting untuknya. Apalagi mengingat sang istri hanya tinggal dengan sang Ibu (mertua Pak Fahri).
Dan sekali lagi, keadaan lah yang membuat Pak Fahri yang dikenal dengan seorang dosen yang cukup killer itu memberikan tanggung jawab mengajarnya kepada Raffa. Bukan karena Raffa adalah keponakannya sendiri melainkan karena Raffa banyak menuai prestasi dalam bidang akademik maupun non akademik. Kemampuannya untuk public speaking, berbahasa asing juga tak perlu diragukan lagi dan masih banyak prestasi dan pengalaman yang pernah Raffa dapat. Selain itu Raffa juga proses dalam menempuh S2 jadi itu akan menambah pengalaman Raffa.
Mendengar penjelasan dari Pak Fahri menjadikan Raffa untuk kembali bersuara,
“Baiklah Pak Fahri, tetapi saya melakukan ini semata-mata karena menggantikan tanggung jawab Anda, dan itu pun hanya selama 1 semester.” Jawab Raffa cukup tegas.
“Iya Raffa. Kamu cukup menggantikan saya selama 1 semester yang ada 16 pertemuan dan 2 pertemuan sudah saya isi kamu tinggal mengisi 14 pertemuan selanjutnya.” Ujar Pak Fahri melanjutkan.
“Asal kamu tau saja Raffa bahwa sekarang itu sudah bukan waktunya untuk mencari seorang dosen baru karena saat ini perkuliahan sudah dimulai. Jadi tidak mungkin dari pihak kampus membuka lowongan baru itu akan sangat kurang efisien. Kemudian atas usul dari Pak Dekan yang berkata, "Mengapa tak meminta kamu saja untuk menggantikan tanggung jawab saya selama 1 semester ini?" Saya jadi berasumsi hal yang sama dengan beliau. Itu semua karena kami tau akan kecerdasan, kemampuan dan prestasi yang kamu miliki selama ini.”
Mengerti dengan hal tersebut Raffa Bismillah menerima dan memulainya serta memberikan berkas-berkas untuk formalitas. Dan tanpa Raffa ketahui ternyata berkasnya sudah keliru dengan tugas makalah seorang mahasiswa.
Secara perlahan namun pasti Pak Fahri membuka map berisi berkas-berkas tersebut.
Tetapi ternyata, "Maaf Raffa, tapi sepertinya kamu salah memberikan sesuatu pada saya”
“Maksud Anda Pak?” Raffa tak percaya.
"Silakan kamu cek sendiri!" Menyerahkan map yang berisi makalah itu kepada Raffa.
Raffa pun langsung membuka dan memeriksa kembali. Seketika itu juga, ia heran sendiri, bagaimana bisa berkasnya keliru dengan tugas makalah?
"Saya mohon maaf Pak atas kejadian ini. Pasti ini karena saya keasikan mengombrol sama Bu Yeni. Sehingga baik Bu Yeni maupun saya tidak memeriksanya kembali. ” Raffa menjelaskan alasannya kepada Pak Fahri.
“Sekali lagi saya mohon maaf Pak! Saya akan memberikan berkas lagi yang benar secepatnya!”
“It’s okay Raffa!" Ucap Pak Fahri sambil menepuk bahu Raffa dan sadar bahwa sepertinya ia tak asing dengan tema dan nama yang tertera pada makalah yang tertukar dengan berkas milik Raffa.
"Tapi sepertinya makalah itu adalah tugas yang saya berikan kepada mahasiswa saya tadi pagi!”
Pak Fahri mengecek dan menelitinya kembali dengan seksama.
“Ternyata benar Raffa ini adalah tugas salah satu mahasiswa saya! Saya masih ingat betul nama mahasiswa yang presentasi hari ini karena saya langsung memberi penilaian pada saat mereka mempresentasikan materinya. Dan hard file makalah ini, jadi nilai tambahan untuk mereka nantinya." Selesai mengecek dan menelitinya ternyata benar adanya Pak Fahri meletakkan berkas berisikan hard file makalah tersebut ke atas mejanya dan menutupnya. Kemudian ia beranjak beralih kearah jam tangannya.
"Namun sepertinya mereka telat memberikan tugasnya kepada saya.” Ujar Pak Fahri begitu melihat waktu pukul berapa sekarang.
Sementara itu, Raffa yang sedari awal merasa tidak enak, akhirnya bisa sedikit lega karena setidaknya tertukarnya berkas lamarannya dengan hard file makalah itu bisa menjadi keberuntungan untuk orang lain.
“Kalau begitu alhamdulillah setidaknya ini menjadi keberuntungan untuk orang lain” Ucap Raffa secara spontanitas.
“Iya memang sepertinya ini akan menjadi keberuntungan untuk mereka. Jadi tidak saya hitung telat dan tidak perlu saya berikan tugas tambahan atas ketidakdisiplinan mereka.”
Mendengar pernyataan luar biasa dari Pak Fahri membuat Raffa mengajukan sebuah pertanyaan lagi kepada Pak Fahri.
“Apakah tidak ada toleransi Pak? Maksud saya mereka telat hanya beberapa menit saja!” Raffa berusaha mencari pembelaan untuk mereka yang telat.
“Tidak untuk saya Raffa, kecuali kalau kamu sudah menggantikan saya itu menjadi urusanmu dan tanggung jawabmu.” Raffa mengganguk sebagai tanda bahwa ia paham betul apa yang diharapkan Omnya tersebut kepadanya.
Dalam perjalanan menuju ruangan Pak Fahri, Ayunda benar-benar terburu-buru karena ia sudah telat dan ia tidak ingin telat lebih lama lagi.
“Duh kok enggak sampai-sampai sih?" Ayunda cukup mengeluh.
“Ayo! Ayunda Syaharani kamu enggak boleh menyerah! Semangat!” Menyemangati dirinya sendiri.
__ADS_1
Setelah cukup terengah-engah dan terburu-buru karena mempercepat langkahnya sampailah ia di ruangan Pak Fahri.
Ayunda berniat untuk mengetuk dan masuk ke dalam ruangan yang pintunya sudah sedikit terbuka tersebut.
Begitu hendak mengetuk, dilihatnya ada seorang laki-laki sedang berbicara cukup serius dengan Pak Fahri. Merasa tidak baik menggangu pembicaraan itu akhirnya ia memutuskan untuk tidak jadi masuk.
Pak Fahri yang dapat melihat kedatangan Ayunda dan niat Ayunda yang ingin masuk tetapi dibatalkan. Ia dengan sigap menyuruh Ayunda untuk masuk saja.
"Kamu, silakan masuk!”
Ayunda yang mendengar perintah itu langsung memberi salam dan perlahan-lahan masuk ke ruangan tersebut.
“Assalamu’alaikum! Selamat siang Pak Fahri Abidzar!”
“Wa’alaikumussalam, silakan duduk! “ perintah Pak Fahri menyuruh Ayunda untuk duduk di kursi di hadapannya tepat disebelah Raffa.
“Terima kasih Pak, saya berdiri saja!” Jawab Ayunda menolak karena dia kurang suka kalau harus duduk bersanding dengan laki-laki yang belum ia kenal meskipun dengan kursi terpisah. 🤭🙏🏻
"Langsung saja pada maksud kedatangan saya Pak. Saya ingin memberikan tugas yang Anda suruh tadi pagi!"
“Oke! Mana tugasmu?”
“Ini Pak! Tugas makalah yang Anda suruh tadi pagi dan maaf atas ketidakdisiplinan saya.” Ucapnya karena merasa telat mengumpulkan tugas
“Kamu sudah tau, kalau saya paling tidak suka dengan yang namanya TELAT apalagi untuk mahasiswa baru.”
“Maafkan saya Pak! Tadi ada sedikit kesalahan karenanya saya telat." Memberi alasan serasional mungkin.
“Baiklah kali ini saya mentolerir kesalahan kamu."
“Alhamdulillah, terimakasih Pak atas kebaikan hati Anda!” Ayunda merasa begitu bersyukur.
“Berterima kasihlah juga padanya!" Ucap Pak Fahri menunjuk ke Raffa.
“Mohon maaf sebelumnya, Pak! Tapi kenapa saya harus berterima kasih juga pada dia?” tanya Ayunda masih belum mengerti.
“Karena dia sudah membawa tugas kamu ke sini tepat pada waktunya.”
“Tapi dia siapa Pak? saya tidak mengenalnya dia juga bukan patner kelompok saya dan sepertinya juga bukan teman sefakultas saya.” Jawab Ayunda yang masih mengelak dan ingin mendapat penjelasan secara penuh.
“Jadi begini---“ Pak Fahri hendak menjelaskan namun, Raffa berinisiatif untuk menjelaskannya sendiri karena ini juga kesalahan atas kekurangtelitiannya.
“Mohon maaf Pak biarkan saya saja yang menjelaskan karena ini juga kesalahan saya yang sejak awal kurang teliti!”
“Baiklah, silakan Raffa!” Pak Fahri dengan senang hati mempersilahkan Raffa untuk menjelaskan apa yang telah terjadi.
Tanpa basa basi Raffa langsung berdiri. Membalikkan tubuhnya dan menjelaskan pada Ayunda secara detail, “Jadi begini, saya tadi ngeprint di tempat yang sama dengan kamu, tanpa saya sadari ternyata berkas saya tertukar dengan makalah mu. Tapi, ini sepertinya cara Allah menolong kamu melalui saya." Raffa tersenyum melihat ke wajah Ayunda sekilas.
Tak lama kemudian melanjutkan perkataannya lagi, "Atas apa yang telah terjadi hari ini, itu menjadi keberuntungan untuk kamu. Kamu tidak dimarahi juga tidak mendapat tugas tambahan. Karena apa? Karena hard file makalah mu sudah sampai ditangan Pak Fahri tepat pada waktunya bahkan tidak telat sedikitpun." Raffa memberikan penjelasan sedetail mungkin.
“Jadi begitu, baiklah saya ucapkan terimakasih banyak!” Ayunda.
“Sama-sama!” Jawab Raffa hendak duduk kembali.
“Kalau begitu saya permisi Pak! Assalamu’alaikum.” ucap Ayunda berpamitan hendak pergi dari ruangan itu.
__ADS_1
“Wa’alaikumussalam ...” balas Pak Fahri dan Raffa bersamaan.
𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...!