Ayunda Syaharani

Ayunda Syaharani
Pameran Buku di Kota M


__ADS_3

Sidang skripsi telah selesai yang ditunggu Mahasiswa semester akhir itu, kini adalah momentum wisuda yang masih terselenggara dalam kurun waktu lumayan lama. Sambil menunggu waktu untuk wisuda yang masih lumayan itu, Ayunda mendapat berita bahwa ada pameran buku besar-besaran di kota M.


Maka esok lusa Ayunda dan kelima sabahatnya yang sedang tidak sibuk pergi menemani Ayunda dalam pameran buku itu. Karena buku karya Ayunda ikut dipamerkan dalam pameran buku yang besar-besaran itu. Sekaligus sebagai ajang liburan bersama mereka.


Mereka menginap di hotel dengan masing-masing satu hotel ditempati dua orang karena terdapat dua kamar.


Ayunda bersama Hanum, Lidya bersama Raya


dan Mala bersama Stevi.


Keesokan harinya ...


Pagi-pagi sekali mereka pergi ke tempat pameran buku diselenggarakan. Menata buku karya Ayunda ada juga beberapa karya Lidya dan Hanum karena mereka pernah mengikuti UKM kepenulisan, jadi mereka ada beberapa karya dan ternyata boleh diikut sertakan.


Pagi itu juga, Raffa dan kedua orang tuanya bersama Murad mereka berencana pergi jalan-jalan bersama sekaligus ingin melihat pameran buku yang menjadi berita utama di kota M saat ini. Raffa dan Papanya yang memiliki hobi membaca sangat tertarik pergi ke pameran buku itu.


Tak mau ketinggalan seorang Ustadz yang baru saja mengantarkan Ibundanya kembali pulang setelah dirawat di rumah sakit, juga sangat tertarik dengan acara pameran buku itu. Karena ada berbagai macam pilihan buku yang bisa dilihat dan dibelinya. Bahkan sejenis kitab kuning pun pasti ada.


Mobil putih Ustadz Habib sudah terparkir, kini ia memasuki area pameran buku itu. Melihat buku dan juga kitab-kitab. Setelah menemukan kitab yang dicari ia membeli kitab itu dan dari kejauhan dia melihat seorang wanita yang cukup dikenalnya. Ia pun mendekat kepadanya memastikan kembali, dan memang benar itu Ayunda.


Spontan Ustadz Habib langsung memanggilnya tanpa berfikir lebih dulu.


"Ayunda Syaharani?"


Ayunda yang masih ramah kepada para pengunjung pun tidak terlalu memikirkan siapa yang memanggilnya tapi lantas ia berbalik dan menatap ke seseorang yang memanggilnya tersebut.


"Iya, saya Ayunda. Ada yang bisa saya---bantu?"


cukup kaget dengan laki-laki yang berada di hadapannya saat ini.


"Ustadz?"


"Ayunda, bagaimana kabarmu?" tanya Ustadz Habib dengan begitu bahagia tak menyangka akan bertemu dengan Ayunda di kota M, hari ini.


"Alhamdulillah seperti yang Ustadz lihat, saya baik Ustadz" jawab Ayunda meyakinkan bahwa ia baik-baik saja.


"Kalau boleh tau, kamu di sini---" belum selesai mengucapkan kalimat Ayunda sudah menyahut lebih dulu.


"Saya ikut pameran buku ini Ustadz, beberapa buku saya dan buku teman-teman saya, ikut kami pamerkan"


"MasyaAllah ... kamu sekarang sudah semakin hebat, Ayunda. Sudah jadi seorang penulis." puji Ustadz Habib,


"Eemm, Ayunda boleh saya minta waktu kamu sebentar saja, lagi!"


"Ada apa lagi Ustadz? Silakan langsung disampaikan saja di sini."


"Saya masih mencintaimu Ayunda, tapi saya memang tidak ditakdirkan untukmu. Saya fikir saya bisa memperbaiki kesalahan saya. Tapi, Tuhan mempunyai kehendak lain. Tapi tidak mengapa, setidaknya saya bisa mendo'akanmu karena do'a adalah perwujudan cinta yang terbaik, jadi Ayunda semoga kamu segera mendapatkan kebahagiaanmu."


Tampak Ayunda yang tidak terlalu bisa mendengarkan ucapan Ustadz Habib karena banyak pengunjung yang harus ia layani dengan baik dan ramah. Ayunda hanya sempat mendengar do'a yang diucapkan Ustadz Habib. Hingga saat Ustadz Habib kembali memanggilnya Ayunda baru sadar.


"Iya Ustadz. Terimakasih atas do'anya untuk saya," tuturnya,


"Semoga do'a yang baik kembali kepada yang mendo'akan."


Tanpa mereka sadari dari jarak yang tidak cukup jauh seorang laki-laki tengah menyorot dua insan manusia yang terlihat tengah berbicara dan diakhiri dengan saling melempar senyum itu. Laki-laki itu adalah Raffa. Alhasil ia membatalkan niat untuk pergi ke pameran buku di mana ada Ayunda bersama teman-temannya. Padahal saat ini di tangannya tergenggam buku karya Ayunda yang berjudul "Cerita Satu Cinta". Laki-laki itu berputar arah. Ia menyangka Ayunda sudah menemukan teman sejati dalam hidupnya.


Padahal melupakan seorang Raffa itupun Ayunda masih sulit dan belajar kalau saja Raffa tau.

__ADS_1


Laki-laki yang berputar arah itu pun menghampiri keluarganya kembali. Karena mereka sudah selesai melihat dan membeli bermacam buku mulai dari buku yang membahas tentang isu politik, agama tak tertinggal buku karya dari Ayunda Syahrani.


Saat akan pulang si kecil kebelet untuk buang air. Alhasil sebagai Daddy yang sigap Raffa langsung mengantarkan Murad ke kamar kecil yang ada di sana. Selesai itu mereka kembali menuju parkiran mobil, dalam perjalanan Raffa asyik menggendong Murat dan berbicara juga menggodanya. Sehingga sesuatu hal pun terjadi tanpa pernah ada yang tau.


Brugg ... Brugg ...


"Maaf ya dek ... saya tidak tau kalau ada kamu. Kamu enggak papa?" tanya Ayunda khawatir.


Anak kecil yang ditabrak Ayunda saat digendong oleh Deddynya itupun menggeleng-ngelengkan kepalanya, tersenyum begitu manis dan terlihat sangat tampan. Bagi Ayunda itu mirip sekali dengan ... Raffa.


"Ah sudahlah, Ayunda ... jangan mulai lagi! Astaghfirullah" berusaha menyangkal isi hatinya sendiri.


"Syukurlah adek ganteng ini ... enggak papa" tutur Ayunda gemas pada anak tampan yang berada di depannya.


Sepersekian detik kemudian pandangan Ayunda dengan Daddy anak itu pun bertemu. Bagaikan waktu yang berhenti seketika itu juga saat mereka bisa saling memandang setelah sekian lama. Cukup saling terpesona dan tak percaya akan seseorang yang ada


di hadapan masing-masing dari mereka.


"Pak ... Raffa" ucap Ayunda dengan terbata.


Raffa yang berada di posisi yang sama dengan Ayunda, juga sama-sama tak menyangka. Kini, ia menyebutkan nama Ayunda dan tak dapat dipungkiri itu sangat membuat Ayunda terbang melayang kalau boleh jujur.


Tapi ia kembali ingat dengan anak laki-laki kecil dihadapannya yang begitu akrab dengan Raffa.


"Ini pasti anak pak Raffa yang pernah diceritakan Audri"


Ayunda membatin.


"Emm, ini anaknya Pak? MasyaAllah sudah besar, namanya siapa sayang?" tanya Ayunda karena Murad sudah beranjak turun dari gendongan sang Deddy.


"Murad tante Bidadari"


"Iya karena wajah tante sepelti bidadari, makanya Murad manggil "Tante Bidadari". "


Ayunda pun mengelus-elus pipi halus Murad yang begitu lucu dan menggemaskan bagi Ayunda.


"Pak Raffa sendiri saja? Ibundanya Murad?"


"Bunda sudah di surga, Tante Bidadari"


"Bunda di surga? Maksudnya?"


"Istri saya harus pergi meninggalkan kami saat Murad lahir di dunia ini."


"Maafkan saya Pak, saya tidak tau kalau ... "


"Tidak apa-apa"


"Ayunda sini!" dari jarak yang tidak cukup jauh


Hanum melambaikan tangannya kepada Ayunda yang dilihatnya tengah berbicara dengan seseorang.


"Emm, Pak Raffa saya permisi ke sana dulu!"


"Dan kamu anak baik dan pemberani. Tante pergi dulu yaa, Tante senang sekali bisa bertemu dengan Murad."


"Assalamu'alaikum Murad."

__ADS_1


"Wa'alaikumussam Tante Bidadari."


Murad dan Ayunda saling melambaikan tangannya.


Daddy Murad hanya bisa melihat keakraban putranya dengan Ayunda. Tak mau berharap lebih. Karena lebih baik ia sandarkan pada Allah yang Maha Mengetahui yang terbaik untuk setiap Hamba-Nya.


Ayunda pun menghampiri Hanum dengan langkah sangat ingin tau. Ada apakah sebenarnya? Saat sampai di tempat itu seseorang menjerit menyebutkan namanya.


"Ayunda" ucap seseorang itu dengan histeris kebahagiaannya.


Hanum dan Lidya mengarahkan dagu mereka ke arah yang memanggilnya.


"MasyaAllah, kak Bella?"


Mereka langsung berpelukan setelah lama tidak bertemu.


"Ayunda kamu hebat banget tau, MasyaAllah ..."


"Udah cantik, shalihah, ramah dan sekarang jadi penulis lagi."


"Kak Bella, di sini enggak cuma bukuku, ada buku mereka juga. " menunjuk ke arah Hanum dan Lidya, Bella semakin tak percaya dengan apa yang dilihatnya hari ini.


"MasyaAllah ... tabarakallah untuk kalian semua."


Bella begitu senang melihat kesuksesan mereka dalam mengenalkan dan meluaskan dunia literasi. Tak hanya itu, Bella juga menyatakan sebuah berita kepada Ayunda dan sahabatnya di situ.


"Ayunda alhamdulillah aku bulan depan akan menikah, kamu dan teman-temanmu jangan lupa datang yaa. Nanti undangannya pasti sampai kok di rumah kalian masing-masing."


"Alhamdulillah, semoga dipermudah dan diperlancar sampai hari pernikahan, Kak Bell"


"Aamiin, terimakasih"


"Sama-sama Kak"


Bella kembali bercakap-cakap dengan mereka,


"Kamu tau enggak aku nikah sama siapa? Aku nikah sama Kak Adam Miqdad Hanafie."


"Kak Adam? Temennya pak Raffa?"


Bella mengangguk dengan penuh kebahagiaan terpancar diwajahnya. Itulah yang dapat Ayunda lihat dari manik mata Bella. Bella sudah menemukan teman sejati yang Allah gariskan untuk hidup bersamanya. Mereka ikut bahagia atas kebahagiaan Bella. Mereka juga berharap kebahagiaan yang Bella rasakan akan menular ke mereka.


~


Raffa melihat buku yang dibelinya salah satu buku itu adalah karya dari Ayunda. Mahasiswa teladan, baik, lembut nan shalihah seperti itulah Raffa memberi predikat untuk Ayunda.


Dibacanya buku itu dari halaman pertama betapa besar setiap makna yang Ayunda tuliskan di dalam buku itu, terutama masalah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya yang harus lebih diutamakan. Berikutnya tentang sikap ketawakkalan pecinta itu bagaimana? Saat cinta yang kamu inginkan tidak ada dipihakmu maka saat itulah bentuk ketawakkalan sang pecinta dipertanyakan? Mampukah ia menjadi pecinta yang baik yang tetap ikhlas dan qonaah akan takdir cinta nya sehingga mampu yakin akan kebesaran Allah dan akan ada yang lebih baik yang telah Allah siapkan bagi hamba Allah yang mau sabar dan ikhlas.


Saat itu pulalah akhlak/adab kita kepada Allah diuji. Kalau kita mampu ikhlas berarti kita insyaAllah termasuk dalam golongan yang baik dan beriman. Namun kalau sebaliknya, jangan sampai ya!


Raffa dibuat tertegun akan kalimat dibuku tersebut. Tanpa disadari air mata penyesalan akan dosa-dosanya mengalir di sudut matanya.


Mama Raffa yang melihat itu, cemas dan khawatir.


"Raffa kamu menangis?"


"Ini air mata penyesalan atas dosa-dosa Raffa, Ma."

__ADS_1


Kemudian Raffa menunjukkan buku yang dibacanya kepada Mamanya di bab yang begitu membuatnya terenyuh. Mama Raffa yang melihat dan membacanya pun ikut terenyuh dan langsung berisigfar.


__ADS_2